menulis!

Kelas 2 SD aku belum bisa membaca, tidak bisa membaca maka otomatis aku tidak bisa menulis. bagaimana aku bisa naik kelas, aku tidak tau. Mungkin karena nilai pelajaran lain bagus atau ada anak yang kemampuannya lebih kurang dari aku atau si guru kasian melihat aku yang imu imut ini, entahlah. Tapi yang pasti, naik kelas dua aku baru bisa melafalkan abjad.

Jadi, ada seorang guru agama. Yang kalau masuk mengajar agama, pasti sebelum pulang akan mengecek kemampuan menulis muridnya. Beliau akan memanggil kami secara acak maju kepapan tulis dan menuliskan kata yang beliau ucapkan.

Beberapa kali aku lolos. Tapi siang itu, aku terjerat jebakan maut.

“mutia, coba maju”. Kata ibu agama.

Anak SD kelas 2, apakah sudah punya rasa takut? Aku tidak ingat pasti. Tapi aku yakin saat itu aku merasakan yang namanya kengerian

Berlahan aku maju.

“coba tulis, menyenangkan”, kata guru agamaku.

Hihihihi. Aku galau saat itu. Celingak celinguk sana sini, persis seperti menunggu ilham datang. Aku mematung di depan, memang menunggu ilham.

Dua teman disisi kiri sudah berganti 2 kali, tapi aku masih disana.

“mutia, tulis terus. Apa lagi yang kamu pikir”, kata buk guru.

Andai beliau tau, anak kelas 2 SD yang namanya mutia itu sedang memikirkan bagaimana bentuk menyenangkan itu.

Aku memulai dengan meye lalu mati suri.

“ayo mutia, selesaikan terus”, kata guru agama lagi. Lagi dan lagi aku berusaha mencari ilham. Tapi, entah dari mana ilham datang, beberapa detik kemudian. Bismillah “meyenangkan”, tulisku.

“sudah mutia?”, tanya ibu guru kesekian kalinya.

Aku mengangguk takzim. Beliau bangkit dari kursinya dan melihat tulisanku.

“oh, udah betul ya. Tinggal tambah N jadi yang betol menyenangkan”, koreksi bu guru sambil tersenyum lalu mempersilahkan aku untuk duduk.

Alhamdulillah. Lega. Entah berapa banyak keringat bercucuran saat itu, entahlah. Yang pasti selesai kelas agama, tekad ku cuma 1. Bagaimanapun caranya, aku harus bisa membaca dan menulis secepat mungkin. Harus!

 

xxxxx

 

Pulang dari sekolah, aku menghebohkan rumah. Memastikan setiap penghuni rumah mau megajarkan aku membaca. Sebenarnya, urusan ini adalah urusan umum. Seluruh isi rumah tau aku belum bisa membaca dan sudah lelah membujukku belajar. Tapi, hari ini tanpa di bujuk, aku datang. Datang untuk belajar. Aku harus bisa.

Sayang, seperti kebanyakan kejadian malam malam sebelumnya. Aku tidak kunjung padam bagaimana cara membaca ala keluaga ku.

Anak kelas 2 SD yang namanya mutia itu, akhirnya menyeberang kerumah tetangga.

“bang birin, ajarin dek nong membaca”, kataku sambil membawa buku bahasa indonesia kelas 2.

“sini”, katanya. Kami mulai belajar dari mengenal huruf, mengeja dan membaca. Sayang, lagi lagi ketika proses membaca tiba, aku gagal paham.

“baiklah, mari kita buat sederhana”, pikirku. Pikiran anak kelas 2 SD.

 

“ini bacaannya apa?” tanya ku.

 

“B-U-D-I”, jawab birin.

 

“ini”, kataku,

 

“A-D-A-L-A-H”, jawab birin lagi.

 

Oh, iyaiya. B-U-D-I dan A-D-A-L-A-H kataku dalam hati. Kalau gini tulisannya bacaanya budi, kalau ini adalah! Okeoke.

Sepanjang hari hanya itu yang aku hafal, hanya pola abjad itu yang aku ingat. Hingga berlahan sisa abjad lainnya mampu aku rangkai menjadi kata dan berlahan aku bisa membaca. Alhamdulillah. Bagaimana proses menghapal pola bisa berubah menjadi bacaan aku juga tidak paham. Yang penting aku bisa membaca kurang dari 7 hari setelah kejadian itu. Alhamdulillah.

Setelahnya, pelajaran agama adalah pelajaran yang paling aku tunggu. Tapi sayang, hingga naik kelas 3, nama mutia tidak pernah lagi di panggil ibu agama untuk maju ke depan. Hihihi.

Itulah belajar. Selama kita mau, Kita bisa belajar dari siapapun, dari manapun, karena alasan apapun. Jangan lelah untuk belajar ya mut! Semangat! Banda aceh 25 november 2015. Selamat hari guru, salam sayang untuk semua guru terutama guru agama yang sudah menggebleng mutia untuk serius membaca. Dunia dengan bisa membaca luar biasa.

 

Advertisements

mencuri pagi

“nyan singoh bek mayeum”, kata ayah.

Aku mengangguk. Melanjutkan menonton tv. Itu adalah kata kata yang selalu ayah ucapkan sebelum berangkat tidur, jika esoknya aku punya janji dengannya. Janji untuk ikut ayah pergi kerja.

Rumah ku letaknya di loksukon, aceh utara. Kota kecil yang sederhana dan karena kesederhanaan itu, ada beberapa hal yang tidak ada disana. Jadi, Mau tidak mau untuk memenuhi hal yang tidak ada itu, terkadang aku harus ke loksemawe yang jaraknya sekitar 45 menit dari rumah. Kebetulan ayah bekerja disana. Oleh karenanya, jika ingin ke loksemawe aku sering ikut ayah pergi kerja.

Ayah adalah laki laki yang disiplin dan giat dalam urusan pekerjaan. Jarang sekali beliau terlambat ke kantor. Biasanya setelah subuh ayah tidak tidur lagi. beliau akan Duduk cantik di depan tv, menonton berita. Saat matahari mulai muncul, beliau akan keluar. “mencukeh cukeh” sedikit kebun kesayangannya sebentar kemudian masuk dan mandi. Pukul 7 teng, beliau sudah selesai dan siap berangkat ke kantor.

Selalu begitu. 5 hari dalam seminggu. Karena disiplin itulah, jika aku berjanji akan ikut ayah besok ke kantor, pesan beliau cuma satu “bek mayeum mayeum, ayah telat euntek”. beliau tau betul perangai anak gadisnya. Hihihi.

Pagi tiba. Ah! Aku ketiduran lagi setelah subuh. Begitu sadar, aku langsung bangkit dan mandi. Tak tampak dimana ayah. Begitu aku selesai mandi, ternyata ayah sudah siaga di depan pagar. “bek mayeum nong”. Katanya.

“keun kaleuh ayah peugah malam”,

“oke. Siat”. Jawab ku. Yah, aku kalah dengan langkah ayah masalah pergi pagi pagi begini. Akhirnya aku mengenakan baju seadanya, memakai jelbab asal saja, menarik tas dan segera keluar. Nanti kita rapikan.

Sebenarnya ini bukan kali pertama kami berjanji dan bukan kali pertama aku begini. Ini adalah kejadian yang kesekian kali. Hihihi. Pernah aku mau ikut ayah, parahnya saat aku baru bangun dari tidur kedua, ayah sudah stand by di pagar. Jadi, mau tidak mau aku pergi taanpa mandi. Mandinya di rumah abang aja. Atau ya begini, ikut ayah tapi masih belum rapi. Gemana mau rapi, baru selesai kita mandi ayah sudah stand by di pagar. “bek mayeum nong, ayah telat”. sehebat apapun aku berakrobat, tetap saja tidak mampu melangkahi cepatnya gerakan beliau. Huft.

Sebenarnya masalahnya satu, aku susah tidak tidur setelah subuh, beda dengan ayah. Beliau bisa “ON” setelah subuh. Hingga suatu hari aku bertanya pada ayah.

“Yah, ayah kok sanggup bangun pagi cepat. Adek selalu kalah sama ayah kalau pergi pagi pagi?” kataku.

“ooh. coba lihat. Ayah tidur cepat. Jam 9 teng ayah udah mulai tidur. Jadi waktu tidurnya cukup. Besok pagi ayah bangun dengan segar dan ngantuk lagi habis subuh. Ini adek, jam 12 belom tidur. Mana ada cerita. Ayah udah mandi, adek meuteng lam tika eh. Nyan gohlom ka cen cen kenoe keudeh”, jawabnya. Aku terdiam sesaat. Yes, siapa yang paling tau tentang kita? Jawabannya adalah orang tua.

Hihihihihi. “udah terbiasa pas kuliah ya”, jawabku.

“apa cerita juga”, jawab ayah. “tidur cepat, bangun cepat! Banyak hal yang bisa yang kita lakukan dengan bangun pagi cepat”, jelasnya lagi.

Aku mengangguk pelan. Insyaallah besok akan coba tidur cepat. Tapi apa daya, anak muda tetap anak muda. Expectasi sering tidak sesuai dengan kenyataan.

Pernah beberapa kali bisa menerapkan nasehat ayah. Dan hasilnya luar biasaaa bisa “mencuri hari”. Tidur cepat dan bangun cepat. Akrobat sedikit, banyak hal selesai di kerjakan. Begitu lihat jam? Wow! Masih sepagi ini dan masih ada cerita “sekarang mau ngapain lagi?”.

Tapi sayang, cuma sesekali. Padahal kalau bisa dilakukan setiap hari, sempurna aku bisa mencuri hari! Oh, pagi ku. ayah!!!!!i miss u. Banda aceh 12 november 2015.

Laki laki pertama yang selalu memastikan
Laki laki pertama yang selalu memastikan tidak ada yang menyakiti anak perempuannya

25!

Waktu SD, aku berangkat sekolah jalan kaki. Jaraknya bisa di tempuh sekitar 15 menit. Rutenya selalu sama. deretan rumah kayu, bengkel mobil, jembatan, warung pa cita, SD 1, kantor polisi, dan kantor telkom. Itu itu saja. Kalau disuruh berjalan sambil tutup mata, aku rasa aku tetap akan sampai ke SD. Sangking hapalnya rute itu. 6 hari dalam seminggu aku melewatinya.Tidak ada hal yang istimewa selain warung pacita. Warung kecil yang penuh jajanan dan mainan.

Tapi, ada yang menarik di setiap perjalanan pagi ini. Aku biasa berangkat sekolah jam 7 pagi, teng!. Waktu dari rumah hingga sampai ke jempatan membutuhkan waktu sekitar 7 menit. Jadi selalu di jam 7. 07 aku akan berpapasan dengan seorang kakak yang membonceng dua anak SD di belakangnya dengan motor merk supra. Selalu, entah itu dia menuju ke sekolah atau dia dari arah sebaliknya. Sampai saat ini, aku tidak tau siapa 2 anak SD itu, apalagi si kakak. Apa yang menarik?

Dimata anak SD seperti ku, kakak itu terlihat keren. Sepagi ini dia sudah bangun, bisa mengendarai motor, dan meringankan tugas orang tua dengan mengantar adik adiknya kesekolah. Keren kan? Selalu tersibak dalam hati, nanti ketika besar, aku ingin seperti dia. Akan kah aku juga akan terlihat keren? Semoga saja ada anak SD yang matanya seperti ku. Hahahahaha.

Saat aku sedikit besar lagi, aku sering duduk disamping kakak kakak saat naik mobil angkutan umum. Wahm keren ya menjadi kakak kakak. Kemana mana sendiri, dengan perlengkapan milik sendiri. Nanti ketika aku besar akan seperti ini tidak?

Dulu, pemikiran ku tentang menjadi besar hanya sesederhana itu. Bangun pagi, bisa mengendarai motor, membantu sedikit pekerjaan rumah orang tua, berpergian kemana mana sendiri dan punya perlengkapan pribadi atas namaku. Selesai. Ternyata? Hahahahahahahahahaha.

Ternyata menjadi besar dengan sendirinya membuat kita bisa melakukan hal diatas tanpa kita sadari. Hey, mut kecil. Kau sudah keren sekarang. Hahahahahaha.

Sedikit besar lagi, saat ada yang cerita “umur dua puluan”, bayangan ku langsung pada sesosok orang yang ” performance menyakinkan, bicara teratur dan sopan, sudah mampu membahagian orang tua, mapan secara finansial, pengambil keputusan yang baik, bertanggung jawab, mampu mengurus rumah, berani, dsiplin dan sesosok kakak yang hebat untuk adik adiknya dan teman terbaik untuk sahabatnya”.

Tapi ternyata, saat kenyataan membawa ku pada angka segitu. Ya Allah. Expectasiku terlalu tinggi tentang angka itu. Hahahahaha. Karena aku masih saja usil, pecicilan, slengean, panikan, sering bimbang, urakan, belum kuat dengan tanggung jawab dan disiplin !!!! Aku ingkar dengan imajinas ku sendiri.

Ah, sudah 25 tahun. Padahal baru kemarin aku melewati jembatan ke sekolah, terkagum dengan kakak itu, selalu wow dengan dia yang duduk manis di samping kaca angkutan umum, merasa keren saat bisa naik motor.

Iya, sudah 25 tahun ternyata. Ya Allah, ahamdulillah. Alhamdulillah untuk tahun yang sudah banyak berlalu, untuk begitu banyak cinta di dalamnya, untuk ruahan kasih sayang, untuk begitu banyak kesempatan disana, untuk begitu banyak orang baik yang terus datang dalam hidup. Terima kasih ya Allah.

Maaf belum bisa menjadi hamba yang baik, anak terbaik untuk orang tua terbaik, belum menjadi adik sekaligus kakak terbaik dan belum menjadi teman terbaik. Padahal sudah seperempat abad.

Semoga masih diberikan kesempatan untuk belajar mengejar impian menjadi “sesosok” yang pernah ada dalam banyangan ketika aku sedikit besar itu. Amin. Amin. Amin. dan di beri waktu untuk terus memperbaiki diri untuk menjadi orang terbaik untuk semua yang ada disekitar aku.

Satu hal yang aku pelajari. Bahwa, ingin menjadi seperti apapun kita di umur yang kesekian, kita tetap adalah akumulasi proses dari umur 1 ke 2, 2 ke 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, hingga umur kesekian. Jadi jangan menunda membangun diri menjadi seperti apa yang kita inginkan di umur kesekian itu. Lakukan sekarang karena saat umur kesekian datang, kita cuma bisa melihat dan merasakan tanpa pernah bisa berbuat apa apa.

Bismillah. Semoga dijabah doa. Amin. Banda aceh 7 oktober 2015. Selamat 25 tahun mutia rahmah!

9 tahun lalu. Semoga tidak cuma badan yang tumbuh, tapi si pikir , si sikap dan si tindakan juga tumbuh jadi lebih baik
9 tahun lalu dan sekarang. Semoga tidak cuma badan yang tumbuh, tapi si pikir , si sikap dan si tindakan juga tumbuh jadi lebih baik

secercah harapan untuk rumah kami

Baru pulang jaga malam dan ngak sengaja lewat di depan mesjid raya. Rame! Sepertinya ada zikir akbar. Mau ikutan nimbrung, mata udah terlanjur ngantuk dan akan salah kostum. Mereka putih semua. Sedangkan aku orange menyala!

Ternyata, zikir akbar tadi dalam rangka memperingati 10 tahun perjanjian damai MoU helsinki. Alhamdulillah sudah 10 tahun. Dan untuk sepuluh tahun itu terima kasih ya Allah. Mau nya acaranya lebih besar, zikir nya lebih akbar. Mengapa?

Karena masih teringat jelas kehidupan anak kampung seperti ku 10 tahun silam. Pergi sekolah selalu was-was dan di depan pintu udah diingatin, pulang sekolah jangan kemana mana. Kalau ada kontak senjata jangan lari, tiaarap aja. Maen sepeda jangan jauh jauh. Karena iyes, kontak senjata bisa terjadi kapan saja dan dimana saja.

Tidur malam juga sering was was. Pernah suatu malam, jam 2 pagi kalau ngak salah. Kami angkut angkut barang. Karena rumah gedogan yang letaknya tepat di depan rumah kami yang cuma berdinding kayu lapuk itu, entah terbakar, entah dibakar. Sedikit saja serpihan kebakaran itu terbang kerumah kami, ludes. Rumah kami akan habis seperti daun kering kena api. Sekejap saja. Maka dini hari, mulailah kami angkut angkut barang yang tidak seberapa itu. Tapi alhamdulillah hal terburuk tidak terjadi.

Saat peraturan sekolah berubah, juga sangat menyedihkan. Hari libur minggu di pindah ke jumat. Maka selamat tinggal chibi maruko chan, doraemon, dll. Karena minggu pagi kami sekolah seperti biasanya.

Aku juga kehilangan banyak teman bermain dan sahabat kecil. Diantara mereka siti yang paling berkesan. Dia teman pertama yang aku kenal saat SD dulu. Tapi karena konflik semakin memuncak, keluarganya dan banyak keluarga lain memutuskan pindah dari aceh. Aku kembali sendiri.

Banyak juga teman teman ku yang kehilangan ayah. Hilang tanpa tau masih hidup atau tidak. Dan hilang tanpa tau dimana kuburan terakhirnya.

Dan banyak luka lain.

Tapi sekarang. Ya Allah, alhamdulillah. Aku bisa sekolah dengan tenang, belajar dengan nyaman, bekerja dengan bebas. Was was ini berlahan memudar. Suara dentuman sudah hilang, kebakaran lenyap dan orang hilang tidak ada lagi. Beribu syukur untuk itu ya Allah. beribu syukur untuk damai ini. Yang tidak hanya menghilangkan was wasm tapi juga air mata.

Jika ada yang bertanya, apa arti damai? Aku akan jawab bahwa damai adalah kita bisa tumbuh besar dan berkembang tanpa rasa takut. Itu dia.

Saat nonton eagle award kemarin, salah satu pesertanya asal aceh. Mereka membawakan tema tentang janda janda konflik. Si juri bertanya, “cerita tentang stunami dan konflik adalah cerita yang terus menerus diulang, mungkin kebanyakan orang akan bosan. Sekarang kembali ke kalian, cerita ini mau di bawa kemana. Mengais luka lama dan terus hidup dalam derita yang mengharu biru, atau bangkit dari keterpurukan dengan segenggam harapan?”

Apa jawaban presentan tidak di tampilkan di acara itu.

Aku setuju sekali dengan pendapat juri. Iya, cerita aceh mau di bawa kemana? Di ulang ulang untuk tetap bertahan dalam kesedihan? Atau kita akan bangkit. Mengeliat dengan segenggam harapan?

Seharusnya wujud syukur kita dengan ada nya damai ini adalah yang ke dua. Menggeliat maju untuk aceh yang lebih baik.

Bukankah kita sudah bisa sekolah dengan aman? Bukan kah kita sudah mudah berpergian? Bukan kah kita sudah bisa bekerja dengan nyaman?

Insyaallah sudah. Apalagi yang ditunggu? Wake up! Jangan memperkaya diri sendiri atau segolongan saja. Karena kita pernah sama sama menderita, seharusnya dengan damai ini kita bangkit bersama untuk pada akhirnya bahagia bersama. Mengukir senyum di banyak wajah orang aceh yang sudah lama penuh takut.

Ah, damai dan secercah harapan baru untuk aceh.

Semoga terus terjaga damai ini dan tidak ada yang mengusiknya lagi. Karena tidak ada tempat paling nyaman untuk ditinggali kecuali rumah sendiri. Dan tidak ada kebahagian terindah selain melihat saudara sendiri juga bahagia. Rumah itu dan saudara itu ada di Aceh. Banda aceh 15 agutus 2015.

si sun (asam sunti)

Langit mulai jingga, suara burung mulai menghilang, suara anak anak gaduh pun berhenti. Diganti dengan angin yang semakin sepoi sepoi, cuaca yang menghangat dan sendu. Iyap, hari sudah sore.

Aku baru pulang ke rumah sore itu. Dan sesampai di rumah, di ujung halaman ada nenek nenek yang sedang jongkok. Nek ngeh namanya. Tetangga kami.

Aku iseng saja mendekat. Penasaran dengan apa yang di lakukan beliau sore sore begini.

“nek ngeh lagoe, lon pike so”, sapa ku. (nek ngeh kok, saya pikir siapa)

“nyeu hai dek nong”, jawabnya

“pu buet nek?” tanyaku lagi. ( lagi apa nek?)

“oh, jak keunoe beu tooe. Nek teungeh peuget asam sunti. Euntuek mise hana leu nek ka jeuet peuget”. Jawabnya. (ayo dekat sini. Nenek lagi buat asam sunti. Lihat cara buatnya, nanti kalau kami udah ngak ada kalian udah bisa buat)

Aku semakin mendekat. Mendengar kata kata asam sunti, aku sangat tertarik. Dan ah selalu “meurunoe, euntek miseu hana le kamo, ka jeut awak kah”. Di ulang ulang dalam setiap moment. Moment buat sie reboh, buat timphan, keumeunyan, dodoi, dll. “belajar, agar bisa saat kami sudah tidak ada”. Itulah nenek nenek kita. Tapi sering kita lupa. Hahahaha. Padahal tradisi aceh luar biasa. Apalagi masakan aceh besar. Selalu merayu rayu dalam diam untuk di makan.

“kiban cara peuget nyoe nek?”(gemana cara buatnya nek?)

“mangat that. Boh limeng, ta adee. Ta boh sira. Oh leuh nyan ban ka supot ta boh sira lom”, jelasnya. (gampang. Belimbing nya tinggal di jemur, terus taburi garam. Kalau udah sore gini, taburi garam lagi).

“lage nyan meunteng?” tanyaku. ( gitu aja?)

“nyeu. Lage nyan meunteng. Miseu uroe get, lam 5 uroe ka jeut pakek. Yang penting bek tuwo boh sira. Karena miseu le sira, asam jih hana bagah brok, hana tho dan kuah akan lagak”. (iya gitu aja. Dalam 5 hari biasanya udah bisa di pakek. Yang penting jangan lupa kasih garam. Karens kalau banyak garam ngak cepat busuk, ngak kering dan kuah kita akan cantik warnanya). Jawabnya sambil menabuh garam pada butiran butiran asam sunti itu lalu memasukkannya ke dalam karung goni.

Aku tetap mengamati. Bagaimana si sunti di buat. Selama ini aku hanya mendengar cerita mamak bagai mana cara asam sunti di buat. Dan baru kali ini punya kesempatan melihat langsung. Live report.

“uroe nyan kak nana, wate jak u kalimantan sithon na di meee asam sunti chit. Hana mangat hana asam sunti di peugah”, cerita nek ngoh. Dan sunti sunti tadi sudah selamat di dalam kardus. Tepat sekali. Ngak enak lidah kalau ngak makan yang asama asam gurih dalam seminggu. Dan asam paling lezat, bersumber dari sunti yang berkualitas mantap.

“ka jeut dek nong, singoh ta ade lom. Nyan miseu na boh limeng di rumoh, bek boh boh. Ka jeutpeuget kan?” tanyanya.

Hahahahaha, aku mengangguk pelan. Dan kami berpisah sore itu.

Oh sunti, begitu cara membuatnya. Hanya butuh modal dijemur, garam dan sabar.

Memasak tanpa asam sunti itu seperti ada yang kurang. Kurang pas. Kurang di warna dan di rasanya. Kalau udah kena masakan yang ada asam sunti nya “chit ka bereh”.

Nek ngeh terima kasih. Insyaallah kalau ada buah belimbing wuluh dirumah, tidak akan kami sia siakan untuk di jadikan asam sunti.

Si hitam yang penuh cita rasa ya cuma si sunti ini. Banda aceh 20 agustus 2015.

Asam sunti yang baru 2 hari di jemur
Asam sunti yang baru 2 hari di jemur

jak u blang

Persawahan di aceh pasti udah jadi pemandangan umum dimana mana. Rasanya ngak ada daerah di aceh yang ngak punya area persawahan. Pasti ada. Kita bisa lihat di sepanjan jalan medan banda aceh aja hampir 1/3nya adalah area penanam padi. Itu masih di jalannya belum lagi masuk ke daerah perkampungannya. Luar biasa hamparan hijau itu membentang.

Dan area persawahan ini tidak akan hilang dari pandangan. Berganti musim dari musim tanam hingga musim panen, berubah warna dari hijau hingga kuning keperakan. Walau kata mamak “adek tau orang apa yang paling capek kerjanya?”, aku menggelang. “yang tanam padi disawah”, jawabnya. “saat menanam padi, apalagi waktu matahari naik dan kehausan. Mau minum air di kaki, rupanya lumpur. Mau lihat keatas biar ngak pegal udah matahari terik”. Sambungnya.

Tapi kenapa dia selalu kembali menghijau di setiap musim hujan? Karena sebagian mata pencaharian orang aceh adalah bertani. Dan di mataku ada banyak harapan yang terpupuk sabar disetiap proses “jak u blang itu”. Maka jadilah, aceh akan terus hijau.

Awalnya pemandangan hijau akan tampak dimana mana, lalu sedikit demi sedikit padi tumbuh, dan hijaunya akan “kebangetan”. berlahan bulir buahnya akan tumbuh. Lalu padi itu akan berubah warna menjadi kuning keperakan, yang ketika terkena sinar matahari dia akan berkilau. Ah! Selalu suka pemandangan di setiap prosesnya. Selalu. Selain suka memandang langit, aku juga suka memandang hamparan ini.

Ah, saat padi mulai menguning seperti ini, persawahan akan mulai rame. Rame dengan apa? Rame dengan orang orangan sawah. Semarak! Apalagi daerah persawahan di kandang lhoksemawe. Penuh. Penuh dengan orang orangan sawah aneka bentuk, temali warna warni, di campur kuningnya padi dan sesekali ada kawanan bangau usil. Ah, luar biasa. Semarak!

Di daerah persawahan sekitar lampuuk juga gak jauh beda. Coba perhatikan. Kalau biasanya sawah di aceh besar dibiarkan menguning sendiri dengan orang orangan sawah seadanya, maka di daerah ini sedikit berbeda. Orang orang sawahnya meruah, tali temali bergantungan, potongan plastik warna warni akan wara wiri. Mungkin burung pipitnya terlalu banyak makanya sawahnya di dandan heboh. Tapi justru itu yang buat area ini semakin semarak saat musim menjelang panen.

Bisa di bayangkan kalau daerah persawahan di sepanjang jalan medan banda aceh khususnya di daerah indrapuri yang berlanjut hingga ke sibreh itu juga sesemarak ini. Akan sangat luar biasa pemandangan musim padi di aceh. Akan double indahnya. Semakin betah tinggal disini.

Sebentar lagi akan panen ya? Semoga hasil panennya berlimpah dan selalu ada berkah di setiap bulirnya. Dan semoga kita bisa swasembada beras karena lahan persawahan kita luar biasa luasnya. Dan semoga bisa terus semarak di musim panenya.

“jak hai ta jak, ta jak tob pade”

“pade meu riri meu gunca gunca”……

Banda aceh 19 agustus 2015.

PhotoGrid_1439985853609
Persawahan di aceh timur
PhotoGrid_1439985726080
Persawahan di selimum
IMG_20150816_200439
Persawahan di daerah lampuuk yang semarak. Ngak kebayang kalau di aceh besar dari indrapuri sampek ke simbreh kalau musim mau panen persawahannya sesemarak ini. Luar biasa pasti!

timun masak

Selain makanan, yang selalu di nanti saat berbuka adalah minuman segar. Dan dirumah akan selalu ada yang mengurusi hal ini selama ramadhan kali ini. Dia adalah paman ku. Setiap sore selalu check ke dapur. “air apa sore ini?”.

Pesannya cuma satu, harus dingin dan segar. Saat kami tidak peduli dengan urusan itu, biasanya dia akan turun tangan sendiri. Seperti beberapa hari ini. Dia pergi ke pasar sendiri, membeli semangka sendiri dan berpesan pada cecek ku untuk membuat minuman dingin. yang paling extream hari ini dia ke pasar sendiri membeli buah timun suri lalu si blendernya sendiri, di berikan sirup kurnia dan gula sendiri. Hahahahaha!

Apa yang menarik? Yang menarik adalah minuman dari buah timun suri tadi. Kami menyebutnya boh timon masak. Semua pasti tau buah ini kan? Tapi sejak bulan ramadhan, selain semangka buah ini adalah buah yang paling sering aku lihat. Di rumah, di pasar bahkan di sepanjang jalan menuju ke tempat kerja semua menanam pohon ini. Dia buah primadona saat bulan puasa.

Rasanya seperti gabus dengan bau yang khas. Biasanya buah ini disajikan dengan cara di kupas lalu di hancurkan dan dicampur dengan sirup cap patung yang terkenal itu dan gula sesuai selera. Sangat mengobati dahaga. Segar nya bukan main. paman bisa menhabiskan lima gelas setiap buka puasa dengan minuman ini.

Khasiatnya juga banyak!!!! Searching aja!

Tapi sebaiknya 2 gelas saat berbuka, 2 gelas malam dan 4 gelas sahur. Jangan gegabah minum banyak2 begitu berbuka. Alamat malas! Malas tarawihnya malas tadarusnya dan malas gerakanya.

Selamat puasa ke 6. Selamat berbuka dan semoga berkah. Nanti kalau punya rumah dengan pekarangan luas, sesekali aku akan menanam pohon primadona ini. Kuta baro 23 juni 2015.

Timun masak
Timun masak

alun alun bandung

Hari pertama di bandung, kami di bawa adit put ke mesjid raya kota bandung. Dan begitu sampai “oh, ini rumput” yang sedang terkenal itu. Hijau mirip rumput asli. Kesannya? Cantik dan ingin langsung menjadi remaja kekinian dengan foto narsis. Tapi karena sudah masuk waktu salat, kami salat dulu.

Sambil menunggu adit dan put salat, aku duduk sejenak di teras mesjid. Pemandangan di depan mata masih rumput hijau tadi dan orang yang berlalu lalang. Mulai dari anak anak hingga orang tua. Mereka melewati rumput tadi, mencari tempat yang kosong lalu “selfie”. Ngak beberapa orang aja yang gitu, tapi rata rata semua yang lewat akan melakukan hal yang sama.

beberapa menit kemudian, aku melihat segerombolan bapak dan ibu yang berseragam biru lewat. Aku berfikir positif, “mungkin kantornya di seberang mesjid jadi lewat sini biar dekat”, eh ngak taunya mereka malah berbondong bondong masuk ke dalam area rumput sintesis tadi dan foto selfie beberapa kali. lalu beranjak pulang. Hahahahahahahaha! Sungguh fenomena yang luar biasa.

Setelah selesai salat, akhirnya kami bermain sebentar di rumput tadi. Bermain di sini adalah berfoto! Hijau itu memang cantik bukan? iyes, makanya kami juga akhirnya selfie disini. Hahahahahaha Selain berfoto, ternyata banyak juga yang datang sekedar bermain sepak bola dengan anak mereka, bercanda di tengah rumput hijau. Tempat itu punya daya tarik tersendiri. Penuh.

Yah, semoga tidak lupa. Kalau di depan rumput hijau itu ada mesjid indah, jika sudah masuk waktu salat “ayo salat dulu”. Jangan hanya ramaikan rumputnya tapi ramaikan juga mesjidnya. Bandung 20 april 2015.

Selfie di mesjid raya bandung
Selfie di mesjid raya bandung

iklan

Semua suka nonton kan? Nonton tv maksud ku. nah, saat kita menonton tv pasti akan ada jeda kan? Iyes, waktunya iklan.

Waktu aku kecil, iklan ini aku sebut “reklame”.

“jangan pintah siaran tv, nonton aja reklame”, begitu contoh nya. Hahahahahahaha.

Terus udah mulai dewasa, entah kenapa reklame jadi iklan. Kalau ngak salah ada yang ketawain.

“ih, reklame! Kampung kali”. Maka reklame berubah menjadi iklan. Sama seperti cerita stip ex yang menjadi stipo gara gara di ledekin.

Kalau dulu aku bilang reklame, maka maya bilangnya “ekstra”. Entah kenapa.

“film apa di rcti may?”

“ngak tau mut, lagi ekstra”. Jawabnya.

“apa tu ekstra may?”

“alah qe, iklan hay”.

Hahahahaha, apa hubungan ekstra dan iklan? Aku tidak tau. Dan tidak sempat bertanya.

Sampe bertahun kemudian aku sudah terbiasa menyebut reklame dengan iklan, dan sudah maklum saat maya sebut iklan dengan extra.

Tapi pagi ini, aku dapat satu pembendaharaan baru dari teman cintani dan fatir. Ghifar namanya.

Kami sedang asyik asyinya nonton barbie. Yah, walau gambarnya sebenarnya menurutku kurang mendidik. Dengan bikini. Sampe sampe cintani berkomentar “jeh, dengan pakaian dalam aja kartunnya”. Sedih sih dengarnya, tapi mau gemana. Yaudah, kita fokus ke ceritnya aja.

Tiba tiba ghifar pindah channel.

“kenapa pindah channel far?” tanya ku,

“teungoh meukat ubat (lagi jualan obat)”, jawabnya.

“apa?”

“teugoh meukat ubat”, jawabnya lagi.

Aku ngak ngerti ” apa?”

“Meukat ubat”, jawabnya lagi.

“iklan hay anda”, fatir memotong kebingungan kami.

“hahahahahahahahahaha, nama lain iklan adalah jualan obat “meukat ubat”.

“pakeun meunan far?”

Dia diam dan tersenyum. Hmmmm, hahahahahahahaha! Yes, hari ini aku dapat satu kata baru untuk iklan. Meukat ubat. Sebenarnya ngak salah sih kalau cuma meukat. Karena esensi iklan kan memang jualan. Tapi ubat nya itu. Tapi, kadang kadang dari pada menonton manusia yang bercita cita jadi manusia aku lebih suka lihat reklame/ iklan/ extra/ meukat ubat aja. Kita baro, 3 june 2015