hey gadis keibuan!

Malam mulai larut. Tapi para gadis gadis cantik yang sedang berkumpul, masih saja susah untuk memulai tidur. Padahal besok ada agenda panjang yang harus diselesaikan. Gadis gadis cantik itu adalah aku, shinta, lely. Untungnya ada gadis cantik keibuaan yang mengingatkan mereka untuk segera tidur. Dia adalah maulida alias momo.

“tidur terus hai. Besok kita harus gerak cepat”, kata momo.

“oke mo”. Jawab ku setelah lelah hahahihihi.

“iya, besok kalau bisa jam 8 teng kita udah mulai gerak ya. Biar gk lama di jalan”, tambah maisa. Oh ya, sekarang kami sedang liburan dan menginap di rumah maisa, teman karib momo.

“iyes”, jawab sinta. Akhirnya pembicaraan di tutup dan gadis gadis pergi tidur.

xxxx

Azan subuh berkumandang. Momo segera bangun, dia langsung salat. Setelah itu dia membereskan keperluan untuk jalan jalan hari ini. Setelah nya dia duduk cantik di depan tv sambil makan pagi.

“mut, lely, sinta, bangun”, katanya dari luar. Sebenarnya sebelum panggilan itu, aku tidak tau persis apa yang sudah di lakukan momo. Yang diatas hanya perkiraan ku saja. Tapi nyaris 80% aku yakin.

“iya mo”. Jawabku.

“sin, qe aja dulu bangun. Siap itu aku ya”, kataku.

“jangan mut, qe aja dulu”, balas sinta.

“hahahahaha, apa kalian ini. Gitu gitu aja terus sampek subuh habis. Bangun hai. Salat terus satu satu. Sambil tunggu yang lain salat, sebagian mandi dan makan. Kamar mandi juga ada dua”, jelas momo.

“lik, bangun lik”, ajak sinta.

“udah hai, mut bangun mut, salat terus qe, sinta mandi terus. Siap mutia salat leli salat, habis tu mandi. Baru Makan”, jelas momo.

“iya, gerak terus”, sambung maisa.

Kami akhirnya bangkit. Melaksanakan perintah momo. Hihihihihihihi.

Itulah momo! Ibu ibu. Kalau kemana mana dengan momo itu, harus tepat waktu. Dia paling ngak suka yang telat telat. semua yang dia lakukan sudah bisa dia ukur sendiri! Misalnya, dia udah tau persis berapa lama dia mandi, pakek baju, mematut diri di kaca, keluarin honda, dll. Hingga ukuran menitnya. Kira kira sekian menit. Makanya jauh sebelum itu dia udah siap2 terus. Tapi sayang, karena semua temannya doyan telat termasuk kami kami ini, jadi kalau janjian selalu gini, “aku ngak lama siap siap, yang lama itu tunggu kalian, jadi kalau udah mau gerak ke rumah aku bilang ya, biar aku mandi”. Beuuuuuh. Tape begitulah adanya.janji jam 8 dengan momo, maka jam 8 lah waktunya.

Selain itu, kalau mau kemana mana juga harus jelas. “kita jangan berputar, putar. Selesai dari sini kita kemari, jadi ngak disitu situ aja. Banyak kali habis waktu. Atau, jangan lama kali mikir makan dimana, kita ke kfc aja”, katanya.

Dia juga yang paling sering mengurus masalah pesan makanan dan bayar makan jika kami pergi pergi. Ahli sekali. Wajar sih, masih ingat cerita tentang FLASH? Nah, untuk acara seakbar itu, momo berhasil jadi ketua seksi konsumsi. Kemampuannya dalam urusan mengkoordinir itu tidak kacang kacang. Ibu ibu sekali.

Dengan mendengar cerita diatas, pasti semua akan membayangkan maulida adalah sosok yang mengerikan kan? Tidaaaaak, dia adalah wanita yang juga suka hura hura. Hura huranya memang sedikit saja sebagai bumbu penyedap atau seperti daun sop di dalam kuah daging. Sedikit tapi berasa. Ibu-ibu lah pokoknya.

Makanya, Allah segerakan momo menyalurkan sikap ibu ibu nya, karena berselang 4 bulan dari hari itu. Ditengah siang bolong aku mendapat berita bahagia.

“mut, datangnya ke tunangan aku nanti malam”. Isi bbmnya.

Hihihihihi. “alhamdulillah mo. Tapi ngak main main kan?”, balasku.

“insyaallah ngak mut”, blasnya.

Wajarkan aku bertanya, tanpa angin tanpa hujan hanya terik matahari siang bolong tiba tiba momo mau tunangan. Banyak yang akhirnya konfirmasi ke aku.

“betol mut?”

“untuk orang yang amanah, fatanah, tabliq dan siddiq seperti momo, seperti nya dia ngak mungkin berbohong. Hinihihi. Jadi pergi kita nanti malam kan?” jawab ku.

XXXXXXX

dan alhamdulillah, tanggal 30 oktober kemarin ijab kabul sudah dilaksanakan. Momo sah menjadi seorang istri dari bang haikal sekarang dan semakin bebas menyalurkan bakat keibuanya. Semoga bang haikal ngak batat kayak kami ya mo, jadi qe ngak harus cerewet tiap pagi. Hihihi.

Barakallah momo, semoga sakinah, mawaddah dan warrahmah ya keluarganya. Semoga kalian juga bisa berumah dalam cinta, bersama menapaki tangga menunuju surga. Amin

Barakallah juga untuk maisa atas penyempurnaan setengah agamanya. Semoga sakinah mawaddah warrahmah ya. Amin.

Sekali kali kalau jalan jalan, bolehlah kami culik kalian. Karena we always need both of you to be our mom  Hihihihihihi. Banda aceh, 15/11/15

Barakallah ya mo. Jodoh memang sering jaraknya kurang 6 dari 60 meter dari rumah mo. Hihihi
Barakallah ya mo. Jodoh memang sering jaraknya kurang dari 60 meter dari rumah mo. Jadi kalau bertamu ngak susah. 
Barakallah maisa.... sakinah, mawaddah, warrahmah ya
Barakallah maisa…. sakinah, mawaddah, warrahmah ya
Advertisements

alun alun bandung

Hari pertama di bandung, kami di bawa adit put ke mesjid raya kota bandung. Dan begitu sampai “oh, ini rumput” yang sedang terkenal itu. Hijau mirip rumput asli. Kesannya? Cantik dan ingin langsung menjadi remaja kekinian dengan foto narsis. Tapi karena sudah masuk waktu salat, kami salat dulu.

Sambil menunggu adit dan put salat, aku duduk sejenak di teras mesjid. Pemandangan di depan mata masih rumput hijau tadi dan orang yang berlalu lalang. Mulai dari anak anak hingga orang tua. Mereka melewati rumput tadi, mencari tempat yang kosong lalu “selfie”. Ngak beberapa orang aja yang gitu, tapi rata rata semua yang lewat akan melakukan hal yang sama.

beberapa menit kemudian, aku melihat segerombolan bapak dan ibu yang berseragam biru lewat. Aku berfikir positif, “mungkin kantornya di seberang mesjid jadi lewat sini biar dekat”, eh ngak taunya mereka malah berbondong bondong masuk ke dalam area rumput sintesis tadi dan foto selfie beberapa kali. lalu beranjak pulang. Hahahahahahahaha! Sungguh fenomena yang luar biasa.

Setelah selesai salat, akhirnya kami bermain sebentar di rumput tadi. Bermain di sini adalah berfoto! Hijau itu memang cantik bukan? iyes, makanya kami juga akhirnya selfie disini. Hahahahahaha Selain berfoto, ternyata banyak juga yang datang sekedar bermain sepak bola dengan anak mereka, bercanda di tengah rumput hijau. Tempat itu punya daya tarik tersendiri. Penuh.

Yah, semoga tidak lupa. Kalau di depan rumput hijau itu ada mesjid indah, jika sudah masuk waktu salat “ayo salat dulu”. Jangan hanya ramaikan rumputnya tapi ramaikan juga mesjidnya. Bandung 20 april 2015.

Selfie di mesjid raya bandung
Selfie di mesjid raya bandung

sedikit tentang dusun bambu

Lanjutan cerita “kota gambar”.

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan mengerikan, alhamdulillah kami sampai ke dusun bambu. Jam di tangan udah nunjukin pukul 06.00 sore. Langit mulai gelap ditambah lagi cuaca yang mendung jadi benar benar kelabu. Gelap abu abu.

Beberapa saat kemudian, dari remang remang muncul mobil. Mirip labi labi dengan motif dinding bunga. Kami diantar ke bagian utama dusun bambu yang jaraknya sekitaran 1 menit. Disisi kanan sepertinya ada deretan persawahan yang padinya mulai menguning. Sayang tidak bisa dinikmati karena seperti tadi, kelabu. Gelap abu abu.

Lembang malam hari
Lembang malam hari, kelabu

Satu menit berlalu, kami sampai ke lahan utama. Kami langsung menuju sisi kanan. Kata vita, banyak spot cantik untuk foto foto salah satunya sebelah kanan bangunan utama tadi. Kami bergerak cepat, berharap masih bisa berfoto cantik dengan view keren sebelum alam benar benar gelap. Alhamdulillah dapat. Lumayan,

Bagian belakang itu restauran utama, kalau lurus lagi ada rumah sarang burung
Bagian belakang itu restauran utama, kalau lurus lagi ada rumah sarang burung

Selanjutnya kami jalan jalan di remang remang. Ada semacam tempat duduk diatas sana yang mirip sarang burung. Di dalamnya ada tempat duduk empuk.

Sarang burung!
Sarang burung!

Kami akhirnya turun dari sana, menuju sebelah kiri. Ada banyak rumah rumah kecil yang langsung menghadap ke danau buatan. Kita bisa keluar dari rumah itu dan sekedar main air. Sepertinya tidur disana akan sangat menyenangkan. Apalagi menikmati matahari pagi dari sana.

Dibelakang ada coutage
Dibelakang ada coutage

Puas dari sana kami menuju bagian belakang banguanan utama. Yeah! Ada sungai buatan yang di dalamnya banyak batu. Sungainya juga dangkal jadi bisa main air lah disana. Udah berkali kali coba foto disana, sayang yang tertangkap kamera cuma hitam. Disebelah sana sedikit ada kebun strawbery yang sayangnya sekali lagi ngak kelihatan.

Selesai dari sana, kami ke bangunan utama. Tempat makan, ada dua. Kiri dan kanan. Kami langsung ke kanan tapi sayang, udah sepi. Tempat udah tutup. Yang ada hanya tempat oleh oleh. Berlanjut ke kiri, tempat makan yang langsung menghadap ke danau buatan tadi dan ke alam bebas. Kalau ingi menenangkan pikiran, tempat ini pas!

CYMERA_20150602_100033
Di depan seharusnya ada sunga kecil

Nah, karena sudah malam akhirnya kami memilih pulang setelah puas disana. alhamdulillah udah sampai kemari.

One day, kalau ada kesempatan, insyaallah kami akan kemari lagi. Dan tidak magrib begini. Oke, vita dan sinta!!!

Beberapa hari dari sana aku buka blog orang yang udah kesana, dan pemandangannya ternyata memang benar benar wow. Kalau ke bandung jangan lupa kesana Tapi jangan malam hari kalau ngak niat nginap.

bermula dari LINE

Sedang tidak ada kerja. Iseng aja buka semua media sosial. Semua! Hahahahahaha. Udah buka terus ngak ada apa apa, tutup lagi. Terus beberapa menit kemudian buka lagi, walaupun tau tidak ada apa apa disana.

Untuk pengecekan yang selanjutnya, alhamdulillah ada sesuatu. Tiba tiba masuk line di grup ahli nujum. Tertulis dari winda madarahmi. Dari situlah cerita ini dimulai.

Xxxxxxx

Beberapa menit setelah ganti display picture alias dp di bbm, ya allah aku lelah! Lelah membalas bbm masuk. Komentarnya sama.

“ih, nikah ngak bilang bilang”.

“diam diam udah acara aja”.

“sombong”

“kapan acaranya?”

“calon orang mana?”

“acara apa?”

“pemilihan apa?”

Beberapa aku jawab “iya”, tapi beberapa aku jawab “doakan saja”, beberapa aku jawab “itu hanya rekayasa”, beberapa aku jawab “itu bukan aku”. Tapi tetap saja kebanyakan mereka tidak percaya jika itu bukan aku. “qe berbohong” katanya.

Bahkan kawan yang baru ketemu 2 hari lalu dan tau pasti aku sedang merantau juga bertanya dan dari semua komentar ini paling menyedihkan.

“seh, agam inong aceh” katanya.

“hahahaha, bukan aku itu”, jawab ku.

“gak percaya. Siapa lagi kalau bukan qe yang udah di make up pun tetap jutek” balasan bbmnya.

Mati kutu. Masuk ke dalam tanah, dalam sekali. Hilang kata kata. Akhir nya aku balas “hahahahahaha” saja. Padahal foto itu cantik sekali menurut ku.

Ah, malam itu aku benar benar lelah balas bbm yang masuk. Selain itu aku juga lelah bolak balik melihat dp sendiri. Kaget, heran dan tidak percaya, itu hantu aku! Hahahahahajaha. Ya allah, foto ini mirip sekali dengan aku, semuanya. Kecuali susunan giginya dan hmmmm, sepertinya kembaranku jauh lebih manis dari aku.

Kalau ada yang bilang di dunia ini kita punya 7 kembaran, yes! Aku sudah mendapatkan satu.

Jadi, beberapa menit sebelum aku kelelahan, winda madarahmi mengirim sebuah foto ke line dengan pertanyaan “ini mutia bukan?”

Aku langsung buka fotonya dan ya allah. Aku melihat hantu. Hantu diriku. Kenapa? Karena aku tidak pernah merasa memakai baju itu tapi udah ada fotonya aja. Hahahaha. Ternyata itu foto orang. Mirip sekali dengan ku.

“dari mana qe dapat win?” tanya ku.

“dari instagram”, kata winda. Aku segera chek. Tapi sayang foto itu di dapat dari yang me make up si kakak tadi. Jadi aku cuma tau namanya tapi ngak dapat akun instagram nya. Padahal kalau tau, pingin kenalan aja. Sama saudara kembar.

Nah, iseng sekali lagi. Sedang tidak ada kerja, tergantilah dp bbm tadi dan mulai lah cerita cerita aneh muncul.

Hmmm, tapi apapun itu, hey kakak salam kenal ya!kapan kapan meet up donk.(sok kenal). Pinjem fotonya untuk dijadikan barang bukti betapa kita mirip ya. Terus selamat menempuh hidup baru semoga sakinah, mawaddah waramah. Doakan kembaran mu segera menyusul ya. Amin. Bogor 28 april 2015

Si kakak, pinjem foto cantiknya ya
Si kakak, pinjem foto cantiknya ya

kota gambar

Malam. Sekitaran pukul 8. Aku sedang di dalam bus menuju bandung. Udah 2 jam di dalam bus tapi susah sekali penjamin mata. Padahal hari ini cukup melelahkan.

 

Karena ngak tau ngapain, aku iseng aja lihat keadaan sekitar melalui jendela bus. Aku tidak tau kami dimana, yang jelas dalam perjalanan menuju bandung, dimana sekarang? Hanya allah yang tau.

 

Dari sekeliling yang terlihat kami sepertinya sedang di jalan tol. Karena tidak ada motor yang lewat, tidak banyak emperan toko. Yang tampak hanya bangunan besar, cahaya dari pabrik, pom bensin, kfc, dan beberapa perumahan dan sesekali gelap. Mungkin itu daerah pepohonan.

 

Masih jam delapan malam, seharusnya jam segini masih banyak yang wara wiri di jalan. Tapi ini tidak. Sepi hingga ketulang. Hingga 15 menit pertama aku melongo ke kaca yang terlihat hanya 2 orang. Sisanya? Mobil dan kerlip lampu. Mungkin mereka lelah.

 

Bus terus melaju. Sesekali dia berhenti entah untuk apa. Hingga akhirnya bus melewati kawasan yang lumayan terang. Entah dimana itu. Pokoknya terang. Tampak jejeran kfc, mc donals, dunkin donut, coffea shop, indomaret hingga pom bensin.

 

“wah, akhirnya aku ketemu manusia juga”, pikir ku dalam hati. Tapi sangat disayangkan. Itu semua hanya harapan palsu. Kehidupan toko toko tadi terus berjalan, tapi tetap tidak ada manusia. Mirip kota gambar. Berbentuk tapi tidak bergerak. Tidak ada manusia disana. Walau hanya sekedar penjual. Ih, mengerikan sekali.

 

“sin, coba qe lihat nanti. Daerah daerah disini seperti kota gambar. Berbentuk tapi ngak bergerak karena ngak ada orang”, kataku.

 

Sinta mengamati. Tapi sayang akhirnya kami malah sibuk berbicara hingga sampai ke bandung. Ah, biarlah kenangan kota gambar yang mengerikan itu aku simpan sendiri.

 

xxxxxxx

 

hari ketiga di bandung, kami memutuskan ke dusun bambu. Aku, sinta dan vita. Sekitaran jam 5 sore kami mulai bergerak ke sana. Walau suasana di luar sedikit mendung dan kadang kadang hujan rintik rintik turun. Tapi karena sudah niat kesana, yasudah bismillah saja.

 

Dusun bambu berada di daerah lembang. Termasuk salah satu dari 16 destinasi wisata yang harus di kunjungi saat kebandung. Di sepanjang jalan kami melewati tanjakan, turunan, tikungan menurun, kadang kadang disekeliling tebing curam, pepohonan besar dan hutan yang suara binatang didalamnya terdengar. Tapi untungnya di sela sela itu masih ada penduduk yang lalu lalang. Namun, karena bukan hari libur dan cuaca seperti tadi mau tidak mau, kadang kadang kami bertemu sepi.

 

Apalagi saat melewati jalan yang kiri dan kanannya menjual pepohonan dan bunga bunga. Semua disusun rapi disepanjang jalan. Tapi bisa dibayangkan ketika malam tiba? Tepat, daerah itu sempurna gelap mengerikan dan pasti akan sepi menggigit. Tidak terbayang kita pulang nanti.

 

Sekali lagi, karena sudah bertekat, akhirnya kami terus melaju.

 

Hingga sampai disuatu tempat yang aku tidak tau namanya apa. Disekeliling tampak gerobak bakso, kios kecil, kios pulsa, indomaret, bengkel, gerobak gorengan. Berderet. Tapi anehnya, jangankan pembeli, penjual pun tidak ada. Bayangan kota gambar yang mengerikan itu muncul lagi. Semua toko toko tadi di biarkan begitu saja.ihhh! Aku mulai merinding. Takut. Kebahagian seperti tersererap. Dingin. Di sekeliling orang orang yang sekedar jalan pun tidak ada, ah! Kota gambar.

 

Kemana mereka? Tidak tau. Mungkin mereka lelah dan bersembunyi. Tapi tetap saja mengerikan.

 

Alhamdulillah ngak jauh dari tempat tadi, mulai tampak pasar kecil dan sedikit keramaian. Akhihrnya aku melihat manusia dan tidak terserap ke dalam kota gambar yang menyedot kebahagiaan. Hahahahahahaha.

 

Ngak beberapa lama dari situ akhirnya kami ketemu juga dusun bambu!begitu sampai disana, beku. Tangan kebas. Entah karena cuaca dingin entah karena takut. Tapi Tempatnya? Jempolan. Tidak rugi bersusah payah berpetualang sampe sampe di serap kebahagian sama dementor di kota gambar dan akhirnya, taraaaaaaaaa! fantastik sekali tempatnya. Dusun bambu kau ku taklukan. Hahahahaha.

 

Dan alhamdulillah sekali, ketika pulang yang entah salah jalan dimana, kami tidak menemukan lagi jejeran penjual bunga dan kota gambar tadi. Ah, aku senang sekali. Begitu sampai di bandung dan sadar tidak melewati tempat itu, aku rasanya tidak percaya! Ingin berteriak besar besar , yeah! Akhirnya keluar juga dari hutan Tuhan dan sudah sampai ke dusun bambu. alhamdulillah.. Semoga aku tidak bertemu lagi kota gambar itu. Bandung 23 april 2015.

Lembang
Lembang

 

 

google oh google

Tiba tiba aja udah sampe ke bandung sama sinta, puput dan adit. Padahal rencana hari ini mau jalan jalan di bogor, eh ngak taunya malah sampe ke bandung. Makanya kami selalu bilang “jalan jalan yang terlaksana biasanya tanpa rencana”.

 

Sampek di bandung kami nginap di rumah adit. Wah, makasih banyak untuk adit, puput, amel dan oki atas jamuannya.

 

Besoknya kami baru jalan jalan. Naik motor karena kata adit, angkot di bandung susah. Jadi, okelah! Aku dan sinta mengekor adit dan puput di depan.

 

Walaupun adit orang bandung, karena satu dan lain hal adit ngak gitu hapal jalan bandung. Jadi kemana mana kami menggunakan google maps!

 

Hari pertama sih berhasil. Kami alhamdulilah mendarat dengan selamat di mesjid agung bandung setelah 3 jam hara hiri di jalan pakek GPS.

 

Hari ke dua, kami juga nekat. Pakek google maps ke jatinagor square. Berdua. Tanpa adit dan putri. Sepanjang jalan, kami ketemu kampus ITB, UNPAD dan IPDN. Begitu melihat gerbang IPDN, sinta terharu.

 

“banyak kali kenangan disini mut”, kata sinta.

 

“kenapa emank sin?”.

 

“aku ikot pramuka pas SMA disini”, jawabnya. Asik, sinta memang siswa berprestasi dari dulu hingga sekarang.

 

Nah, ngak jauh dari kampus tadi, kami dan google mulai bingung. Mau tidak mau kami menggerakkan mandibula alias bertanya. Ternyata tinggal belok saja ke kanan, dan sampai lah ke jatinangor square itu. Ah, mantap sekali google maps ini. Kepercayaan diri semakin meningkat untuk terus jalan jalan.

 

Agak sore kami janji ketemu dengan adit dan puput di food courtnya jatos. Rencananya kami mau melanjutkan perjalanan ke ciwalk. Mau nonton avenger! Okelah, perjalanan selanjutnya di mulai. Dan sekali lagi kami memgandalkan google maps.

 

Weng…….! Kami mengarungi kota bandung. Pede sekali naik motor di kota besar. Sudah terlanjur percaya dengan google maps.

 

Kota ini hidup sekali tapi tidak rusuh dan tidak begitu macet. Selain itu banyak pepohonan besar, jadi kesannya ramah. Apalagi sebentar lagi akan di gelar KAA ke 60, sempurna kota ini meriah! alau disuruh tinggal disini aku mau.

 

Jarak dari jatos ke bandung lumayan lah, lumayan jauh. Apalagi bagi kami yang tidak tau jalan. Sekitar 1 jam ada. Kalau aku perkirakan, selama itu membawa motor jika di banda aceh aku sudah sampai ke sare. Hahahaha

 

Kami terus setia mengikuti google. Sampai melewati jembatan merah yang kalau tidak salah tampak kampus ITB dari sana dan kota bandung jauh di bawah. Tampak kerli kerlip kota dari sini. Tiba tiba hp sinta berbunyi. Ternyata dari puput.

 

“sin, kita salah jalan”, kata puput,

 

“jadi kemana ini put? “, tanya sinta.

 

“balek lagi. Jalan jembatan itu kan ada, balek lagi dan turun ke bawah ya”. Kata puput. Telpon mati.

 

“kita salah jalan mut, balek katanya.”, jelas sinta.

 

“sin, qe keluarkan juga google maps, jadi kita juga bisa ikutin itu”, kata ku sambil melihat lihat tempat belokan. Dan akhirnya dapat.

 

“oke”.

 

Aku berbelok dan akhirnya ketemu adit dan puput. Kami terus berjalan, mengikuti google maps.

 

“kok aneh ya sin, semacam ngak rame di jalan ne. Padahal seharusnya rame kan?” kata ku. Setelah kami melanjutkan perjalanan.

 

“iya mut”, kata sinta. Benar saja. Beberapa menit kemudian telpon sinta berbunyi lagi. Iyes, kami salah jalan lagi. Karena berdasarkan googl maps, kami sudah melenceng dari jalur.

 

Akhirnya kami berbalik sampai posisi kami sesuai dengan google maps. Pas sekali di depam ada persimpang. Dari pada salah jalan lagi, kami akhirnya bertanya.

 

Berdasarkan penduduk sekitar jika mau ke ciwalk “lurus saja, terus belok ke kanan terus lurus lagi. Jadi seperti liter U”. begitu jelas si bapak.

 

Setelah mengucapkan terima kasih, kami pamitan. Alih alih percaya si bapak, kami malah lebih percaya google maps. Tidak lurus tapi belok kiri. Itu sesuai dengan google maps.

 

Kami terus berjalan. Mengikuti petunjukgoogle maps. Sedikit lega karena sepanjang jalan ini kami tidak keluar arus.

 

“tapi kok perumahan penduduk ya sin?”

 

“iya mut, kecil kecil lagi rumahnya” , sambung sinta.

 

“itulah, ngak salah jalan ini?” aku mulai ragu.

 

“betol ne mut, sesuai google. Mungkin dia kasih jalan tikus untuk kita biar cepat sampek” sinta menenangkan. Aku ikut saja. Adit dan puput juga di depan kami.

 

Tapi pemandangan semakin aneh, rumah penduduk semakin kecil, sepetak sepetak tapi karena daerah pegungungan rumahnya jadi unik di lihat. Jalannya juga semakin sempit, mobil saja sepertinya susah lewat. Tapi, sekali lagi ini sesuai google. Dan kami terus ikut.

 

Hingga di penghujung jalan, adit berhenti. Kenapa? Mentok. Kami bertemu jalan buntu yang ujungnya tembok besar dan di sebelah kanan dan kiri adalah sungai. Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha! Tapi sekali lagi, google maps tidak mau mengakui kesalahan. Jarumnya masih disitu, masih menunjukkan sekitaran 5 menit lagi kami sampai ke ciwalk. Iya, lewat jalan itu. Mungkin dia tidak bisa mendeteksi tembok besar dan tembok itu tidak bisa dilewati, walaupun 5 menit dari situ kami akan sampai tujuan.

 

Ah, secanggih apapun teknologi akan lebih ampuh mandibula manusia. Akhirnya kami sekali lagi bertanya. Dan tepat sekali, bapak di persimpangan jalan tadi tidak berdusta. Kami akhirnya berbalik arah, kembali ke persimpangan lagi dan memilih lurus, sesuai perunjuk bapak. Alhamdulillah beberapa saat kemudian kami akhirnya menemukan bangunan yang bertuliskan ciwalk itu.

 

Tapi sayang, sekarang sudah jam sembilan malam. Hahahaha, tidak terasa sudah 3 jam kami di jalan di temani si google yang sedang bingung. Dia lelah mungkin. Akhirnya kami membatalkan nonton avenger hari itu, sudah terlanjur malam. Dan memilih berkeliling ciwalk! Kebetulan ada semacam pentas seni menyambut KAA ke 60. Anggap saja kami delegasi KAA dari aceh. Hahahahaha.

 

Sekali lagi, jangan terlalu percaya dengan teknologi. Kadang kadang dia juga bisa bingung seperti hari ini. Jangan gengsi menggerakkan mandibula. Apalagi di kota ini, orangnya ramah ramah. Ah, malas bertanya memang sesat di jalan. Google google. Bandung, 20 april, 2015.

Delegasi KAA aceh
Delegasi KAA aceh
Meet and great KAA 60
Meet and great KAA 60

rumbia, i miss u

Rumbia. Buah ini berbentuk bulat dengan kulit yang berlapis lapis padahal tidak. Mirip kulit buaya atau kulit buah srikaya.. Ukurannya sekitar 4×5 cm. tapi tinggi pohonnya bisa mencapai 2 meter. Dengan daun lebat disekitarnya.

Pohon ini termasuk ke dalam rumpun palem. Yang suka hidup di rawa rawa. Rasanya sedikit kelat (sepat) dan kecut. Mirip rasa salak. Buah ini lah, teman masa kecil ku.

Dulu aku sering melihatnya. Kami berburu dari satu rawa ke rawa lainnya untuk mencari buah ini. Biasanya pulang mengaji. Bisa di tempat mengaji atau di jalan pulang mengaji. tepatnya di rawa belakang rumah orang.

Kalau sedang musim, biasanya ketika kami lewat di sekitaran pohonya, ada saja buah yang jatuh. Entah itu 4 atau 6 buah. Dan biasanya buah yang jatuh ini selain memiliki rasa kecut dan sepat, juga ada sedikit rasa manisnya. Mungkin karena yang jatuh kebanyakan buah yang sudah tua yang kadar fruktosanya semakin banyak. Jadi sepatnya sedikit hilang dan muncul rasa manis disana.

Semakin tua, selain warna kulit menjadi lebih coklat, kulitnya juga semakin mudah di buka. Cukup di letakkan di kedua tangan lalu kapit dan kulitnya tercerah sendiri. Tapi, jika yang muda selain rasa sepat yang dominan, membukanya juga sulit. Dulu ketika mendapat yang begini, selalu aku buang. Hana mangat alias tidak enak.

Cara makannya juga mudah, seperti makan salak. Buka kulitnya dan rasakan sensasi rasanya. Kelat kelat meunan. Kadang kadang saat ada pliek u di rumah, aku suka mencampurnya. Resepnya sederhana. Rumbia, pliek ue, cabe rawit, gula, dan sedikit garam. Awalnya ulek cabe rawit lalu tambahkan rumbia dan pliek u, lalu beri gula dan garam sesuai selera. Rasanya? Luar biasa

Aku suka memakannya begitu saja. Di emut emut seperti makan permen. Kalau mamak suka memakannya dengan buah buahan segar seperti jambu. Aku suka sekali makananan ini. Hingga pernah, seharian makanan yang masuk ke perut hanya ini. Keesokan harinya aku tidak bisa BAB. Karena BABnya keras. Terpaksa aku memakan buah pepaya sebanyak yang aku bisa. Mungkin karena tanin yang dimiliki buah ini cukup tinggi. Mirip salak lah. Nah, bagi yang diare, buah ini bisa di pertimbangkan.

Selain di buat demikian, rumbia juga sering di rebus dengan air garam. Aku sering membelinya sepulang sekolah dulu. Dan rasanya? Berbeda.. Sepatnya sedikit hilang dan ditambah sedikit rasa asin. Enak enak enak.

Atau yang paling keren, buah ini dijadikan bumbu rujak aceh. Resepnya sederhana. Hanya cabe rawit, asam jawa, kacang tanah digoreng, manisan dan buah rumbia, garamnya jangan lupa. Awalnya cabe rawit di ulek lalu di masukkan kacang tanah. Lanjutkan ulekan. Setelah itu masukkan asam jawa dan rumbia. Selesai. Tahap terakhir lumuri bumbu tadi dengan manisan atau gula aren cair. Siap menjadi bumbu rujak aceh yang terkenal itu. Rasanya? Sekali lagi, Luar biasa. Apalagi di campur dengan buah segar. Lengkap. Ada asam, manis, sedikit asin, dan kelat.

Tapi seiring waktu berjalan. Buah ini malah menjadi buah langka. Di pasar jarang terlihat, apalagi disekolah. bahkan jika ada harganya cukup wow. Seharga 2x lipat harga sekilogram buah favorit di buku anak anak, alias buah apel.

Kemana dia?

Dulu buah ini terkenal di aceh barat. Namun sejak tsunami melanda aceh, banyak pohon yang mati dan mogok berbuah. Mungkin ini bisa menjadi salah satu penyebabnya. Dan bisa jadi, itu juga alasan memgapa buah ini sekarang jarang aku temukan di banda aceh.

Yah, semoga saja ada yang mau membudidayakan buah ini dan bisa di kirim ke banda aceh sedikit. Iyes, ingin sekali memakan buah ini. Apalagi bisa di campur dengan pliek u tadi. Ah! Ngiler. Yah, semoga saja, rumbia kembali berbuah. Dimana pun dia berada. Karena sebenarnya bukan hanya buahnya yang bermanfaat tapi juga batangnya, daun hingga dahannya. Iyes, pohon yang amat berguna.

Hey rumbia. i miss u. Apalagi setelah makan rujak blang bintang sore tadi. Banda aceh 10/5/15

Buah rumbia
Buah rumbia sumber gambar google.

gagal jadi bandit!

Aku naik angkot bersama diana. Tujuan kami stasiun bojong gede. Sekitaran 15 menit dari klinik. Tujuan ku ke bogor kota sedangkan diana ke bojong lama. Jadi di stasiun kami akan berpisah. Aku naik KRL sedangkan diana tukar angkutan umum.

“udah mut, qe ikutin aja jalan ini. Nanti ketemu stasiunnya”, jelas diana.

“oke din. Akhirnya aku dapat jalan pintas juga”, kata ku.

“hati hati ya mut”. Kata diana. Dan kami berpamitan.

Aku senang menemukan jalan ini. Karena semua angkot yang ke stasiun berhenti tepat di depan lorong ini jadi tidak perlu berjalan sekitaran 5 menit ke gerbang stasiun. Aku tidak tau kenapa angkotnya tidak berhenti di depan stasiun saja. Mungkin memperparah macet menjadi alasan. Entahlah.

Selama ini selalu begitu. Turun dari kereta aku berjalan hingga ke mesin keluar di sebelah kanan. Lalu keluar dari stasiun dan berjalan lagi ke arah kiri untuk mencari angkot. Buang buang energi dan waktu. Hingga akhirnya aku bertemu diana di klinik bojong gede. Dan diana bilang ada jalan pintas keluar dari sana.

“jadi mut, bojong itu ada 3 mesin keluar. Ada di kiri, kanan dan belakang. Qe pasti lewat kanan kan? Capek lewat situ. Lewat belakang yang cepat. Turun kereta qe langsung ke mesin belakang terus keluar stasiun lewat jalan kecil sampek ketemu pasar. Keluar dari situ langsung ketemu angkot”, jelasnya.

“yang betol din?”, tanya ku ragu.

“betol mut. Aku sebenanrnya ngak tau juga. Si imel yang bilang”. Jawabnya.

“oke, besok aku coba ya”. Aku bersemangat. Dan kebetulan arah kami sama. Makanya kami sengaja mengusahakan naik angkot bersama hari ini.

Setelah berpisah dengan diana tadi, aku jalan sesuai petunjuknya. Mengikuti jalan kecil paasar hingga ketemu stasiun. Hanya sekitar 2 menit aku berjalan. tepat sekali stasiun langsung terlihat. Aku langsung berbelok. Dan berjalan di samping rel kereta api.

“extrim juga jalan cepat diana. Kalau ada kereta api lewat bisa habis kita”. Kataku dalam hati. Karena jarak antara tempat ku dan rel kereta api hanya 3 cm. Aku berjalan cepat agar tidak ada kereta lewat. Sesekali aku mencari mesin masuk agar aku bisa menempelkan kartu multi trip pengganti karcis. Tapi hingga aku sampai ke tempat biasa aku menunggu kereta, mesin itu tidak kunjung terlihat.

Aku mulai gundah. Celingak celinguk mencari mesin tempel itu tapi tidak terlihat. Yang ada hanya mesin biasa jika aku keluar dari sebelah kanan. Tapi lucu rasanya aku menempel kartu disitu. Karena sekarang aku sudah di dalam. Hmmmm. Akhirnya aku menghubungi diana. Si juru jalan.

“din, kok gak ada mesin tempel kartu multi trip?” tanya ku via bbm.

“ada mut, qe ada ikut orang jalan tadi kan? Nanti di ujung sana ada dia”. Jelas diana.

“ada din. Tapi tetap aja ngak ada mesin itu”. Jawab ku lagi.

Belum selesai pembicaraan itu, kereta api arah bogor datang. “kereta menuju bogor berhenti di jalur 2”. Terdengar suara kakak petugas kereta.

Aku galau. Sudah menunggu sekitar 10 menit kereta baru datang, jadi daripada menunggu lama kereta selanjutnya aku memilih naik saja. Tanpa menempel kartu di mesin!

“din, aku ngak sanggup pikir. Udah langsung naik aja ke kereta”. Kataku.

“hahahahaha, semoga aman”. Jawabnya,

“aku kok merasa jadi bandit ya?”kataku padanya.

“itulah qe. Yaudah hati hati ya”. Salam perpisahan dari diana.

Aku duduk gundah di kereta. Bagaimana nanti ya? Tapi sepertinya aman atau aku akan di hukum? Entahlah.

Perjalanan yang sekitar 10 menit itu akhirnya usai. Kereta berhenti di stasiun bogor. Aku senang melihat pemandangan disini. Suka saja. Tapi kalau melihat tangga “angina”, kebahagian ku langsung sirna.

Sedikit cerita tentang tangga “angina”. Tangga ini adalah tangga 3 jalur. Satu jalur untuk masuk ke stasiun dua jalur lagi untuk keluar. Jika kita memilih naik tangga berarti kita menghindari mengitari setengah stasiun untuk menuju pintu keluar. Bagi yang buru buru bisa melewati tangga ini. Tapi bagi yang tidak buru buru apalagi orang tua, sebaiknya jangan. Karena tangga dengan 16 anak tangga itu punya kecuraman nyaris 75 derajat. Menanjak sekali. butuh tenaga extra untuk menaikinya. Mirip mendaki. Aku sering ngos ngosan setelah turun dari tangga itu. Makanya tangga ini sering kami sebut “tangga angina”. Padahal kalau di buat sedikit rendah, pasti lebih baik.

Lanjut cerita, setelah turun dari kereta, aku langsung menuju mesin tempel agar bisa keluar. Aku keluarkan kartu multi trip. Dari jauh aku sudah mencari mesin yang di depannya ada pak satpam. Untuk jaga jaga saja. Entah mengapa feeling ku tidak baik kali ini.

Dengan santai aku tempelkan kartu itu. ” tettttt”. Bunyi mesin. Tapi pintu palang tidak terbuka juga. Di layar tertulis ” saldo anda 31.000″ dan di bagian bawahnya tertulis “pinalti”. My god!

Aku coba lagi. Dan kejadiannya sama. Aku mulai panik. Dan bapak satpam langsung menghampiri.

“sini kartunya”, kata pak satpam. Di coba kartu itu dengan cara yang sama.

“oh ini kena pinalti. Tadi di saat masuk ketika tempel kartu ada muncul lampu hijau di layar?”tanya nya.

Aku terdiam begok. Mana ada muncul lampu hijau, kartunya aja ngak di tempel. Kataku dalam hati. Huft. Aku menyesal saat itu.

Aku memilih tersenyum saja.

“yaudah, ini ke loket 1. Kena denda 7 ribu”, jelas pak satpam. Akhirnya palang terbuka setelah pak satpam menempel kartunya di mesin bertuah itu.

Aku langsung menuju loket. Membayar 7 ribu. Untung si bapak tidak bertanya “kenapa bisa pinalti”. Untung saja

Aku keluar stasiun, memilih berjalan memutar daripada harus naik tangga angina. Sepanjang jalan aku geli sendiri. Hahahahahahaha. Awalnya merasa menjadi bandit, tapi akhirnya bandit itu ketahuan. Ah, konyol sekali. Hahahahahahaha.. Masih terbayang saat masuk ke lorong pasar, merasa aneh dengan jalan dan rel kereta lalu mencari mesin yang tidak ada, tapi memilih langsung naik kereta, dan merasa menjadi bandit. Tapi hanya beberapa menit aku merasa bodoh dan malu sendiri. Ah,hahahahahahahaha

“din aku kena pinalti”, aku mengirim bbm untuk diana. Memasukkan tab ke dalam tas dan naik angkot.

Sepanjang jalan aku masih geli sendiri. Hahahahahaha. Besok besok jika aku harus ke bojong, hay kau mesin menempel kartu multi trip. Akan aku temukan kau dimana. Harus. Harus. Harus. Bogor 15 april 2015.

Stasiun bojong gede
Stasiun bojong gede

mini backpaker

“hari ini jaga dimana mut?”tanya leli padaku. Kami bertukar jaga di bajong gede. Kawasan bogor utara. Dekat perbatasan bogor -jakarta.

“aku mau ke galaxy lik”, jawab ku. Setelah berbicara beberapa menit kami pun berpamitan. Selalu begitu. Disatu kota tapi bertemu jika berjodoh saja saling tukar jaga. beginilah hidup kami disini, dari satu klinik ke klinik lainnya. Malah lebih mirip mengarungi peta.

Aku bergerak bergegas menuju klinik galaxy. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 5 sore. Klinik ini berada di daerah tajur bogor timur. Pusat tas terkenal di bogor. Perjalanan ku lumayan panjang. Dari klinik ke stasiun bojong gede lalu naik KRL sekitar 10 menit ke bogor lalu harus naik 2 kali angkutan kota baru sampai galaxy. Butuh waktu sekitar 1 jam. Jelaslah dari utara aku bergerak ke timur.

Lurus saja dari jalan galaxy ini maka kita akan sampai ke puncak. Jadi, daerah galaxy ini sudah berhawa hawa sedikit dinginlah. Oleh karenanya hal yang paling aku ingat dari klinik ini selain tas adalah “airnya” yang luar biasa dingin. Dinginnya sampai ke tulang bahkan pukul 3 siang. Jangan banyangkan tidur disana! Aku butuh kaos kaki.

Setelah jaga disana tujuan ku selanjutnya adalah klinik pancasan. Letaknya di bogor barat. Butuh tiga kali naik angkutan umum dan waktu sekitar 1 jam juga untuk urusan ini. Sekali lagi aku berpindah dari timur ke barat. Yang aku senang dari klinik ini adalah penduduk disana yang ramah ramah. “teh, mau kemana teh”. Hahahahahaha.

Next, setelah jaga 3×24 jam di klinik pancasanm klinik selanjutnya ada bangbarung. Alamatnya sih di bogor utara. Tapi kalau menurut petaku, daerah bangbarung ini adalah pusatnya bogor. Hahahaha. Karena dekat dengan kebun raya bogor. Kebun raya itu seperti sentral perputaran arus di bogor. Kemana mana kalau naik angkutan umum, pasti kita mengitarinya. Nahm di sepanjang jalan klinik bangbarung ini bnyak jajanan yang menggiurkan. Kesukaan sinta amelia daging bebek sesepan dan jajanan top markotop disini sesudah aku makan adalah “sop durian”. Dijamin tidak mengecewakan.

Destination jaga terjauh selanjutnya adalah sentul. Daerah kecil tersibuk setelah citayam menurutku. Karena banyak pusat hiburan disana. Ada sirkuit sentul, jungle land, floating market, dll. Untuk sampai kesana dari bangbarung butuh waktu sekitar 1 jam juga. Hahahaha. Kalau di peta, letak sentul ini sudah dekat dengan batas bogor bagian selatan. Aku senang jaga disana karena fm nya yang luar biasa. Mereka hobi nonton korea dan jago masak. Yuli, rina dan elin. Perpaduan yang sempurna.

Jadi, tidak salah kalau aku sebut perjalanan hidup selama disini mirip seperti orang yang mengarungi peta. Karena kami bergerak dari utara ke timur, timur ke barat, barat ke pusat, pusat ke selatan. Lengkap. 4 arah mata angin. Hahahaha. Dan selama perjalanan keliling peta ini aku selalu ditemani ransel cantik pink. Berisi beberapa baju, alat tempur dan kain batik kesayangan. Mirip backpaker. Mini backpaker. Awalnya berniat keliling jawa sebagai backpaker tapi keinginan itu ditunda oleh Allah. Dan diberi kesempatan mencicipi bagaimana rasanya menjadi backpaker mini di bogor. Rasanya? Luar biasa.

Memang tidak menerjang angin malam, tidur di jalan atau menjadi pengamen jalanan seperti cerita andrea hirata dalam edensor, tapi setidaknya beginilah kemana mana dengan ransel besar. Bergerak dari satu tempat ketempat lain.

Sambil menyelam minum air. Sudah sampai di bogor alhamdulillah sudah keliling bogor. Lengkap ke 4 penjurunya. Dan seperti melihat perspektif gambar pak martian dulu yang dari depan hingga ke ujung semakin kecil, begitu juga gambaran kota ini. Makin ke ujung kotanya semakin kecil, semakin berantakan dan semakin “bising”.

Jadi, sepanjang jalur utara dan selatan akan tampak makin kesana jalan semakin sempit dan kejam. Kejam karena badan jalan pejalanan kaki hanya 5 cm. Jadi kalau jalan kaki disini harus hati hati. Bisa bisa jarak kita dengan angkot di jalan hanya 1 cm. Goyang sedikit, blusss! Tersenggol kendaraan. Bangunan pun berubah, dari bangunan besar hingga ruko kecil berukuran 3x4cm dengan beragam aktivitas. Disamping warung padang ada bengkel, terus jual hand phone, penjahit, penjual kue, loudry, peternak burung, dll. Kesannya malah jadi kumuh. dan jika malam minggu dua daerah ini sukses membuat telinga pecah. Bisingnya luar biasa! Penduduk di sana juga orang biasa yang kebanyakan bekerja di pabrik atau berdagang.

Kalau daerah barat, makin kesana makin dingin karena dengan pegunungan. Jalan semakin menanjak. Aku pernah kesasar hinga ke cipaku. Jauh sekali ke pedalaman. Dari rumah yang rapat rapat hinggan satu satu jaraknya. Disini lebih manusiawi kondisi tempatnya. Boleh di bilang desa lah.

Kalau di daerah timur yang lurus terus ketemu puncak masih daerah perkotaan. Tapi aku yakin jika kita lurus kesana, kita akan melihat “kota gambar”. seperti tempat biasa. Ada banyak toko kecil. Tapi bedanya adalah ada l toko pulsa tapi yang jualan tidak ada, ada gerobak bakso lengkap yang jualan ngak ada. Ada toko handp phone terbuka, yang jualan ngak ada. Terus begitu. Terbayang bagaimana? Kota itu seperti gambar saja. Ada tapi tidak bergerak. Menyeram kan sekali.

Jika di kotanya? Yeeee! Aku suka. Sejuk sejuk sejuk. Pohon besar dimana mana. Walau kadang kadang macet dan aku sering kehujanan disana, tapi boleh lah.

Yah, begitulah perjalanan mengarungi kota bogor. Menjadi backpaker. Dan satu hal yang aku pelajari dalam perjalanan dari bangbarung ke bojong gede saat melihat begitu drastisnya perubahan gaya hidup dan lingkungan disekitar adalah ” syukuri apapun yang kita miliki. Jangan terus memandang langit untuk urusan dunia karena sesekali saat kita melihat ke bawah, ternyata betapa beruntungnya kita”. Ya, allah terima kasih. 2/5/15

arum jeram

“dunia fantasi”.

Hahahaha. Walau usia sudah segini, mengunjungi tempat tempat bermain seperti ini tetap menyenangkan. Iyes. Bukan hanya bagi ku, momo, leli dan sinta. Tapi, bagi kebanyakan orang dewasa lain diluar sana.juga sama. Buktinya, saat kami menginjakkan kaki di dufan, tidak jarang kami menemukan orang seusia kami, malah lebih tua. Bahkan beberapa diantara mereka justru sedang bulan madu.

Seperti layaknya wahana bermain yang lain. Tempat ini penuh dengan permainan yang merangsang adrenalin. Yang paling aku ingat adalah naik koro koro. Kapal layar yang berayun kekiri kekanan. Wuih, ngilunya sampai ke hati.

Namun, dari semua wahana. Ada satu wahana yang menurutku paling menarik. “arung jeram”. Jangan banyangkan kami sedang berada di sungai dengan alat lengkap, boat dan alat dayung. Hahahaha. Awalnya aku pikir juga begitu. Saat orang terus berlalu lalang melewati wahana yang bertulis ” arum jeram” itu.

Ramai sekali, sepertinya wahana inilah yang tidak pernah sepi pengunjung,

Ternyata saat masuk kesana, kenyataan sering tidak sesuai expektasi. Karena kami hanya di naikkan ke atas ban besar yang diatasnya diletakkan 8 buah bangku melingkar. Alat pengaman hanya sabuk yang diikat di atas paha saat duduk. Selanjutnya kami akan mengikuti arus sungai buatan dengan ban tadi. sekali meliuk, di putar, di siram air dari kiri dan kanan sungai buatan tersebut. Dan ternyata rasanya? Asikkkk.

Serunya saat liukan itu, bisa saja diterjang dan tersiram air. Belum lagi saat tikungan. Beuhh, ngilu. Tapi seru. Air. Air dan air. Itulah yang aku rasakan.

Saat menaiki ban besar itu, kami ditemani 2 orang adik kecil. Namanya bella dan difa. Mereka masih kelas 3 SMP. Sepanjang liukan ban, mereka terus berkomentar.

“awas mbak, disana ntar ada air bah”.

“waduh, aku belum UN”

“ini air kiriman dari bogor mbak”.

Dan ocehan lainnya hingga kami menyelesaikan permainan arum jeram itu sekitar 5 menit dan sepanjang itu pula kami tertawa ditambah celotehan adik adik tadi. selesai dari sana kami basah kuyup. Bagaimana tidak basah, setiap liukan tersiram dan bisa saja ban itu bergoyang kecang dan mencipratkan airnya.

Kami sudah siap dengan resiko basah ini. Karena semua yang keluar dari wahana ini kuyup. Tapi, tetap saja kami berniat “kita harus masuk”.

Selesai dari sana, adik adik tadi malah mengajak kami naik sekali lagi. “mbak, naik lagi yuk”. Ajaknya.

Kami ragu. “ayok lah mbak, biar sekalian basah”. Bujuk mereka.

Tidak pikir 3 kali, kami langsung iyes. Dan mengantri lagi. Ternyata mereka sudah naik wahana ini 4 kali. Ini yang ke 5. Hahahahaha.

Ah air. Selalu menarik. Siapa yang tidak suka air? Semua. Mulai dari anak anak hingga orang dewasa. tampak dari yanh menaiki wahana ini. Mulai dari yang kecil hingga yang sudah tua. Mereka rela berbasah basahan. menjerit sesekali saat tersiram air. Hahahahahaha. Sepertinya ada hormon endorfin yaitu hormon bahagia disana. Hahaha. Buktinya semua bahagia dengan air. Jika dengan porsi sewajarnya.

Saat aku diliukkan oleh ban pertama kali tadi, satu hal yang aku ingat. Masa kecilku. Kegiatan seperti ini bukan hal baru bagi ku. Seperti yang pernah aku ceritakan di “hujan selalu romantis”. Saat hujan kelebihan datang, maka setiap parit akan terisi air susu coklat alias banjir. maka kami tidak akan absen untuk mandi disana ditambah dengan ban besar. Apalagi mandi di parit rumah rina yang airnya deras. Terkadang bahkan hingga terbawa jauh ke depan. Asikk sekali. Mirip dengan wahana arum jeram ini. Tentunya dalam versi berbeda dan lebih baik. Saat itu aku tidak tau kegiaatan kami yang asal main ini, mirip kegiatan arum jeram. Hahahahahaha. Begitulah anak anak kampung. Semoga esok lusa aku bisa merasaka arum jeram sebenarnya.

Selesai naik arum jeram untuk ke 2 kalinya, kami akhirnya menyerah. Sudah basah semua. Dan si adik juga menyudahi berbasah basahan.

“sekarang, kita keringin baju ya mbak”. Kata mereka.

“iyes”, kami iyes saja. Semangat mereka membuat aku iri. Hahahahaha, walau baju basah semua mereka masih punya langkah lebar menuju wahana selanjutnya.

Misi kami selanjutnya adalah mengeringkan baju yang “diiklaskan” basah demi bisa bermain air. Ah, asik sekali bermain air itu. Mungkin benar, ada endorfin disana. Hahahahahaha.