hey gadis keibuan!

Malam mulai larut. Tapi para gadis gadis cantik yang sedang berkumpul, masih saja susah untuk memulai tidur. Padahal besok ada agenda panjang yang harus diselesaikan. Gadis gadis cantik itu adalah aku, shinta, lely. Untungnya ada gadis cantik keibuaan yang mengingatkan mereka untuk segera tidur. Dia adalah maulida alias momo.

“tidur terus hai. Besok kita harus gerak cepat”, kata momo.

“oke mo”. Jawab ku setelah lelah hahahihihi.

“iya, besok kalau bisa jam 8 teng kita udah mulai gerak ya. Biar gk lama di jalan”, tambah maisa. Oh ya, sekarang kami sedang liburan dan menginap di rumah maisa, teman karib momo.

“iyes”, jawab sinta. Akhirnya pembicaraan di tutup dan gadis gadis pergi tidur.

xxxx

Azan subuh berkumandang. Momo segera bangun, dia langsung salat. Setelah itu dia membereskan keperluan untuk jalan jalan hari ini. Setelah nya dia duduk cantik di depan tv sambil makan pagi.

“mut, lely, sinta, bangun”, katanya dari luar. Sebenarnya sebelum panggilan itu, aku tidak tau persis apa yang sudah di lakukan momo. Yang diatas hanya perkiraan ku saja. Tapi nyaris 80% aku yakin.

“iya mo”. Jawabku.

“sin, qe aja dulu bangun. Siap itu aku ya”, kataku.

“jangan mut, qe aja dulu”, balas sinta.

“hahahahaha, apa kalian ini. Gitu gitu aja terus sampek subuh habis. Bangun hai. Salat terus satu satu. Sambil tunggu yang lain salat, sebagian mandi dan makan. Kamar mandi juga ada dua”, jelas momo.

“lik, bangun lik”, ajak sinta.

“udah hai, mut bangun mut, salat terus qe, sinta mandi terus. Siap mutia salat leli salat, habis tu mandi. Baru Makan”, jelas momo.

“iya, gerak terus”, sambung maisa.

Kami akhirnya bangkit. Melaksanakan perintah momo. Hihihihihihihi.

Itulah momo! Ibu ibu. Kalau kemana mana dengan momo itu, harus tepat waktu. Dia paling ngak suka yang telat telat. semua yang dia lakukan sudah bisa dia ukur sendiri! Misalnya, dia udah tau persis berapa lama dia mandi, pakek baju, mematut diri di kaca, keluarin honda, dll. Hingga ukuran menitnya. Kira kira sekian menit. Makanya jauh sebelum itu dia udah siap2 terus. Tapi sayang, karena semua temannya doyan telat termasuk kami kami ini, jadi kalau janjian selalu gini, “aku ngak lama siap siap, yang lama itu tunggu kalian, jadi kalau udah mau gerak ke rumah aku bilang ya, biar aku mandi”. Beuuuuuh. Tape begitulah adanya.janji jam 8 dengan momo, maka jam 8 lah waktunya.

Selain itu, kalau mau kemana mana juga harus jelas. “kita jangan berputar, putar. Selesai dari sini kita kemari, jadi ngak disitu situ aja. Banyak kali habis waktu. Atau, jangan lama kali mikir makan dimana, kita ke kfc aja”, katanya.

Dia juga yang paling sering mengurus masalah pesan makanan dan bayar makan jika kami pergi pergi. Ahli sekali. Wajar sih, masih ingat cerita tentang FLASH? Nah, untuk acara seakbar itu, momo berhasil jadi ketua seksi konsumsi. Kemampuannya dalam urusan mengkoordinir itu tidak kacang kacang. Ibu ibu sekali.

Dengan mendengar cerita diatas, pasti semua akan membayangkan maulida adalah sosok yang mengerikan kan? Tidaaaaak, dia adalah wanita yang juga suka hura hura. Hura huranya memang sedikit saja sebagai bumbu penyedap atau seperti daun sop di dalam kuah daging. Sedikit tapi berasa. Ibu-ibu lah pokoknya.

Makanya, Allah segerakan momo menyalurkan sikap ibu ibu nya, karena berselang 4 bulan dari hari itu. Ditengah siang bolong aku mendapat berita bahagia.

“mut, datangnya ke tunangan aku nanti malam”. Isi bbmnya.

Hihihihihi. “alhamdulillah mo. Tapi ngak main main kan?”, balasku.

“insyaallah ngak mut”, blasnya.

Wajarkan aku bertanya, tanpa angin tanpa hujan hanya terik matahari siang bolong tiba tiba momo mau tunangan. Banyak yang akhirnya konfirmasi ke aku.

“betol mut?”

“untuk orang yang amanah, fatanah, tabliq dan siddiq seperti momo, seperti nya dia ngak mungkin berbohong. Hinihihi. Jadi pergi kita nanti malam kan?” jawab ku.

XXXXXXX

dan alhamdulillah, tanggal 30 oktober kemarin ijab kabul sudah dilaksanakan. Momo sah menjadi seorang istri dari bang haikal sekarang dan semakin bebas menyalurkan bakat keibuanya. Semoga bang haikal ngak batat kayak kami ya mo, jadi qe ngak harus cerewet tiap pagi. Hihihi.

Barakallah momo, semoga sakinah, mawaddah dan warrahmah ya keluarganya. Semoga kalian juga bisa berumah dalam cinta, bersama menapaki tangga menunuju surga. Amin

Barakallah juga untuk maisa atas penyempurnaan setengah agamanya. Semoga sakinah mawaddah warrahmah ya. Amin.

Sekali kali kalau jalan jalan, bolehlah kami culik kalian. Karena we always need both of you to be our mom  Hihihihihihi. Banda aceh, 15/11/15

Barakallah ya mo. Jodoh memang sering jaraknya kurang 6 dari 60 meter dari rumah mo. Hihihi
Barakallah ya mo. Jodoh memang sering jaraknya kurang dari 60 meter dari rumah mo. Jadi kalau bertamu ngak susah. 
Barakallah maisa.... sakinah, mawaddah, warrahmah ya
Barakallah maisa…. sakinah, mawaddah, warrahmah ya
Advertisements

saleh secara sosial

Baik secara sosial

Matahari menyingsing. Berdiri gagah dengan sinar yang menyilaukan. menyapu wajah kami yang sedang berada di tengah lapangan upacara senin ini. Kami semua berbaris di lapangan hijau. Aku berdiri menghadap dinding bertuliskan “ the best preparation for tomorrow is to do today’s work superbly well”. Selama dua tahun berturut-turut membaca tulisan ini aku tetap belum paham. esok lusa aku baru menyadari kalimat ini sungguh sugestif.

Menurut hematku, inti upacara senin itu ada dua. Pertama menaikkan bendera yang membuktikan kita masih merdeka. Kedua penyampaian pesan dari pemimpin upacara. Dari puluhan upacara yang aku ikuti. Maka inilah upacara senin yang sangat menyentuh hati, membuat bulu kuduk berdiri.

Tepat di atas mimbar. Disaksikan oleh 180 siswa dan beberapa guru. Pak ito, guru sosiologi kami berpidato. Beliau amat menggebu-gebu. Padahal awalnya aku hanya mencuri tidur sambil berdiri, begitu mendengar lengkingan suara beliau aku langsung terbelalak. Yap. Beliau mirip seorang orator!.

“From where? where are you? And where you wanna go?”, itu kalimat pembuka pak ito. “pikirkan baik-baik dari mana kita, dimana kita dan hendak kemana kita”. Beliau diam sesaat. “anak-anak bapak, banyak yang kita lakukan sebagai ibadah di dunia ini tidak berpahala. Kalian tau mengapa? Karena kita terlalu sering ria. Tapi, banyak kegiatan yang bukan ukhrawi justru mendapat pahala karena kita melakukannya dengan iklas. Jadi, perbaiki niat kita dalam melakukan apapun untuk menuju tempat yang kita inginkan. Niatkan kebaikan dan niatkan hanya karena Allah.”

Aku hening sesaat. Kalimat pembuka beliau membuatku berfikir banyak. Darimana aku? Dari sebuah kampung kecil di kaki gunung selawah. Dimana aku? Di lapangan upacara SMA tercinta. Hendak kemana aku? Aku belum tau.

Beliau melanjutkan amanatnya pagi itu. “anak-anak bapak, suatu saat nanti kalian akan keluar dari sekolah ini. Jadilah anak yang saleh. Model anak idaman setiap orang tua dan kami juga. Selain itu jadilah orang yang saleh secara sosial. Baik secara sosial. Bukan sendiri. Bukan menutup diri. Bukan merasa paling benar dan paling bisa. Tapi kalian adalah bagian dari yang lainnya. Bekerja sama, toleran, silaturahmi dan ingat! Niatkan semua karena Allah. Insyaallah bermanfaat!”. Kata pak ito. Beliau menutup amanatnya dan turun dari mimbar.

Aku terdiam. Memaknai apa yang beliau katakan sekali lagi. Menjadi saleh secara sosial. Dalam sekali maknanya menurutku. Baik bersama dengan niat yang benar. Saleh secara sosial! Inilah yang akan membuat hal besar bisa terwujud. Karena kita bersama bukan sendiri. Perampok yang kompak saja bisa berhasil melakukan kejahatan bagaimana jika seorang anak-anak baik berbuat kebaikan bersama. Seperti kata pak Ito, insyaallah bermanfaat.

Hari itu, aku hanya punya pemahaman sesederhana itu. beberapa tahun setelahnya aku lebih banyak paham mengenai apa makna “saleh secara sosial”. Ah pak Ito. Terima kasih untuk pagi ini. Dan matahari pagi yang cerah terima kasih.

senam pokarena

Yang tidak terlupakan part II.

“Poco-poco…..”. Lantunan lagu poco-poco mengiringi kami sepanjang siang itu. Sedang apa kami? Latihan vokal? Tidak. Karaoke? Jauh. Nonton? Bukan. Tepatnya kami sedang latihan senam selama pelajaran olahraga buk icha.

Kali ini buk icha mengharapkan kami bisa menghafal gerakan senam terbaru. Dulu ketika kelas satu kami diajarkan senam jantung sehat (SJK 2004). Dan dikelas dua ini kami diajarkan senam ini, senam pokarena namanya. Senam ini diiringi musik poco poco tadi. Sebenarnya bukan murni lagu poco-poco tapi ada campuran lagu dangdut. Kalau didengar sih lucu tapi kalau di pelajari, senam ini menurut ku sedikit rumit.

“Ayo semangat semua”, seru buk icha di tengah aula. “Belajar yang serius, ini akan saya jadikan ujian bulanan”, sambungnya.

Kami semua terbakar. Senam seperti kesetanan. Sesekali salah, sesekali lupa.

“oke, cukup untuk hari ini. Rahmat, jangan lupa ajarkan teman-teman ya. Minggu depan ibu ambil nilai”, kata buk icha lagi. Rahmat alias FM adalah anak kesayangan beliau. Dialah laki-laki yang memenuhi kriteria buk icha. Larinya cepat dan gerakannya juga mantap.

“besok, sakit-sakit ini badan kita”, kata nita saat berganti baju olahraga.

“hahahahahaha, ini lebih rumit ”, jawab uci.

“iya ta, tapi mau gemana lagi”, kata ku. Semua tau tidak ada tawar menawar soal yang satu ini. Sesuatu yang takkan terlupakan. Hingga nanti dan sampai nanti. Senam buk icha. Hal paling lumrah setelah lari keliling mosa.

Xxxxxxx

“anak barak, nanti sore kita latihan senam buk icha ya selesai prosus”, ika teman ku yang di kamar 7 berteriak ditengah barak.

“hahahahahah”. Aku yang sedang berada dikamar hanya tertawa di dalam hati. Urusan buk icha memang bukan urusan sederhana. Butuh usaha extra dan siapa berusaha dia pasti bisa.

Maka tepat setelah prosus dan salat ashar semua berkumpul didepan barak. Tanpa bantah. Tanpa melawan. Semua belajar serius dengan ika mawarni sebagai instruktur pilihan buk icha.

Xxxxxxxxx

“anak kamar 8, kata rahmat, anak IPA 3 selesai makan malam kumpul di depan ruang makan ya, kita latihan senam buk icha”, kata nita dari balik pintu.

“lagi ta? “tanya maya.

“iya may, biar gerakan kita sama dengan orang ne. Gak ada yang beda”, Nita menyakinkan.

“huft”. Kami serentak huft. Hanya uja yang bersemangat mengenai urusan ini.

Sebenarnya kami sering melakukan senam. Setiap selasa dan kamis pagi setelah salat subuh kami selalu senam. Tapi, hanya senam SKJ 2004 dengan gerakan sederhana. Tapi ini gerakannya sulit. Hmm, baiklah. Sekali Tidak ada yang tidak bisa jika diusahakan.

Maka setelah makan. Lagi dan lagi kami bergoyang-goyang ditengah malam. Mengikuti rahmat. Dan kelas lain ternyata juga latihan. Penuh disetiap sudut yang ada. Ruang makan, depan rumah bapak asrama, di lapangan tenis. Penuh dan ruah oleh lagi poco-poco dan dangdut. Kami berlatih sepanjang waktu yang kami bisa hingga minggu depan yang buk icha katakan tadi tiba.

Xxxxx

“maju lima-lima orangnya, berdiri melingkar dan saling membelakangi”, kata buk icha. “maju sekarang sesuai abjad”. Beliau berdiri tepat di depan kami. Suasana aula senyap begitu beliau berbicara. Dan masing-masing sudah kalut dengan pikirn sendiri.

Aku dipanggil bersama dengan M. Siddiq, mukti ali, nita irawati, reza nuriman. Berbaris lah kami sesuai instruksi beliau dan musik senam dimainkan.

“poco….poco….”. Irama senam di dendangkan.

“jangan ada yang lihat kiri kanan”, seru buk icha.

Kami bergoyang sesuai latihan tanpa henti sepanjang minggu. Mencoba memberikan yang terbaik yang kami bisa. Harus bisa dan pasti bisa. Bahkan sakit badan pun tidak terasa.

Ditengah senam tiba-tiba, “M. Siddiq keluar”, kata buk icha.

Duennng. Aku degdegan. Takut aku juga tereliminasi seperti sidiq. Alamat remedial. Walau Sedikit sedikit aku lupa. Aku coba kembali sadar. Tetap fokus. Dan Alhamdulillah. Selesai. Banyak yang tidak remedial. Remedial dengan buk icha pun sudah biasa. Jalani saja. Kita kan sudah berusaha. Berusaha bersama. Bergoyang-goyang ditengah malam buta.

“hahahahahaha, akhirnya selesai juga senam-senam ini”, kata irma. Ketika istirahat. Kami berkumpul dalam lingkaran. Tidak saling membelakangi seperti tadi tapi saling berhadapan. Walau lelah kami tetap bahagia. Bahagia dengan arti masing-masing kami.

“iya ma, akhirnya, dan badan aku sakit semua”, jawab pepe.

“hahahahahaha”. Kami semua tertawa.

“masih ada senam sebijik lagi ketika kita kelas tiga”, Ana mengingatkan. Sesaat semua terdiam. Dan kemudia tertawa kembali. “tahun depan kita pikirkan lagi”, kataku.

sebut saja “adam”

Di kelas IPA 3, ada 18 orang anak laki laki dengan bermacam karakter. Rata rata mereka baik walau kadang sering usil.  nah diantara 18 orang itu ada seorang teman yang namanya tidak berani disebut. Sebut saja adam. Dia anak laki laki yang disegani. Kalau mau bercanda dengan adam aku harus pikir pikir lagi. Takut garing. Dia juga lebih pendiam dari yang lain. Kalau sedang tidak ada guru pun dia lebih memilih diam dari pada bercerita panjang lebar.

Tapi Suatu hari di kelas buk syarifah, diamnya keterlaluan.

“adam, adam!” Panggil Bu Syarifah guru Bahasa Arab kami setelah melihat adam yang hanya menatap lurus tanpa kedipan mata.

“Kamu kenapa Nak?”, tanya beliau. Adam hanya menoleh sedikit dan tau apa jawabnnya?

Dia menjawab singkat, “ngak tau mau bilang apa buk”.

Dueng. Seluruh kelas hening. Adam kemasukan jin kah? Biasanya adam selalu reaktif ketika ditanya.

Ada terus begitu hingga pelajaran usai dan bel pulang berbunyi. Tapi, ketika prosus, dia kembali seperti semula. Menjadi adam biasa. Mungkin suasana hatinya kembali baik. Alhamdulillah.

Dari semua teman laki laki, menurut ku selain pendiam adam juga punya sisi bijaknya sendiri.

Waktu itu setelah menyelesaikan ulangan matematika pak laju, kami duduk cantik di meja masing masing, sekedar melepas penat selesai ujian dan menunggu pak laju membereskan kertas ulangan kami.

Oh ya, ada 2 orang guru matematika di kelas kami. Yang pertama pak laju dan kedua buk dar.

Kalau mengajar tipe pak laju, beliau suka tipe konsep. Mendalam pembahasannya. Jadi yang nyambung dengan beliau adalah anak anak olimpiade matematika seperti irvan, arya, adam, dkk. Tapi alhamdulillahnya kalau ujian, bisalah dijawab sama semua murid.

Berbeda dengan buk dar, mengajar seperti air. Kami mengerti semua. Dari soal mudah yang berangka hingga soal yang jawabnnya huruf pun yes. Atau saat turunan yang hasilnya huruf harus di buktikan kebenarannya, sampai dititik itupun kami mampu. Tapi sayang, aku sering kawalahan saat ujian. Hahahahahaha.

Nah, sembari menyusun kertas ulangan, pak laju bertanya pada teman teman Hari itu.

“iya, irvan bagaimana soal tadi, mudah kan?”

” irvan tersenyum sambil menggangguk”. Teman teman lain juga menjawab dengan gaya yang tidak jauh berbeda. soal matematika hari itu memang alhamdulillah.

Tapi saat pertanyaan itu jatuh kepada adam.

“Bagaimana adam soal ulangan tadi, mudah kan?” Tanya Pak Laju. Seperti yang aku ceritakan adam anak olimpiade. Kalau kami sudah mumang, adam masih on the right track. Tidak ada keraguan untuk itu. Jadi, soal ulangan Pak Laju pasti hanya ujian kecil baginya sama seperti rekannya yang lain.  Tapi, dia diam sejenak lalu menjawab mantap.

“Tidak rumit Pak”. Jawabnya. Hening. Dan aku terpana dengannya. Wow! Bagi telingaku itu humble sekali. Hahahahaha. Itulah dia, bapak bijaksana.

Sangking takjubnya dengan kalimat itu, ketika selesai remedial bahasa indonesia dengan pak sayuti aku menjawab dengan cara yang sama.

“bagaimana soal remedialnya” tanya pak sayuti. Sambil terus memeriksa kertas ujian kami.

Pede sekali aku menjawab “ngak rumit pak”. Biar keren sikit.

“lho, kalau ngak rumit kenapa masih banyak yang tetap ngak lewat SKMB?”kata pak sayuti.

Dueng! Dueng dueng.

Hahahahahahahahaha! Kontennya tidak pas ternyata. Bijaksananya tidak sepas adam.

Yasudahlah, kami ikut remedial sekali lagi langsung saat itu. Huft. Memang bijaksana itu tidak bisa asal ditiru.

Yah, begitulah salah satu teman kelas ku.Tidak banyak bicaranya tapi mantap pemikiriannya. Terus menginspirasi ya adam. “qe pasti bisa”

musalla yang mirip mesjid di zaman andalusia

musalla SMA
Musalla tercinta

Musalla, letaknya di tengah tengah asrama. Itu bagunan kedua yang akan kita jumpai di kompleks ini. Dindingnya bercat putih, berbentuk petak dengan tiga buah pintu masuk. Dua pintu untuk laki laki dan 1 untuk perempuan. Musalla ini mampu menampung kami semua!

Disekeliling musalla disebelah kanan dan depannya banyak di tumbuhi pohon pinus. Sedangkan bagian belakang ada tempat wudhu pria, dan bagian kiri adalah jalan menanjak, menyeberang sedikit kita akan sampai ke barak wanita.

Nah, karena letaknya ditengah dan nyaris dikelilingi dengan pohon ditambah dengan musalla memiliki jendela diseluruh dindingnya, salat zuhur dan asar disini sangat menyenangkan. Apalagi bisa tidur siang. Tapi yang kedua tidak mungkin dilakukan kecuali musim ujian tiba.

Disinilah kami selalu salat. Sehari lima waktu. Jika absen salat, disemester awal kami pernah di razia ke barak oleh petugas asrama. Petugas asrama bertukar, sistem berubah. Tidak ada lagi razia langsung. Tapi sebelum pulang salat kami harus menghadap ketua barak, mengabsenkan diri. Tanda hadir salat. Tidak salat? Alamat di panggil kepala asrama.

Aku punya cerita tentang salat. Nah, waktu itu subuh. Aku masbuk dengan siti maisarah. Sebenarnya tidak telat telat sekali. Tapi tetap saja tidak dapat rukuk dengan imam. Sesampai di musalla aku bertegur sapa dengan siti sebentar sambil menunggu imam bangun. Begitu imam bangun, kami takbir. Siti tepat berdiri disampingku.

Salat berlangsung seperti biasa hingga imam salam. “assalamualaikum warahmatulah”, kata imam. Dan aku ikut gerakan imam “assalamualaikum warahmatullah”.

Kemudian imam mengucapkan salam kedua. Dan aku ikut juga. Begitu salam kedua ini aku terperanjat, kaget dan kecewa saat melihat siti disebelah kiriku. Iyes. Siti maisarah berdiri kembali, melanjutkan satu rakaat tertinggal tadi. Ya Allah, aku lalai dalam salat. Lupa Harus bangun lagi. Ya Allah. Aku duduk sebentar. Tidak enak langsung pulang setelah salat.

“hahahahahahaha, qe lupa bangun. gak khuyuk salat ya?” bisik siti setelah dia selesai salat.

“alah, kok tau pula qe. Iya, ne bentar lagi mau pulang. Salat ulang di barak”, jawab ku,

“hahahahaha, pulang terus. Habis subuh nanti”, katanya.. Dia tertawa geli

Aku pun bergegas. Pulang ke barak dan salat subuh kembali.

Selain sebagai tempat salat, musalla bagi kami juga difungsikan sebagai tempat mengaji. Mengaji pribadi setelah salat. Atau mengaji yasin di malam jumat. Mengaji berjamah. Pemimpin mengaji paling favorit lagi lagi pak AR dan Robi.

Pengajian malam juga dilaksanakan disini. Biasanya setelah salat magrib menunggu isya datang. P1 namanya, Mulai mengaji kitab, bacaan alquran hingga tata cara salat. Gurunya dari pasantren terdekat. Kalau yang mengajar tata cara salat tetap guru kesayangan pak “AR”. “saya tidak mau keluar dari sini kalian masih salah dalam tatalaksana salat”, itu kata beliau. Jadi, kami diajarkan secara esklusif perkelas oleh pak AR tentang praktek salat.

Jika malam minggu tiba, maka kami akan “muhadarah disini”. Ada 3 bahasa. Indonesia, arab dan inggris. Pilih sesuka hati mau bahasa apa. Tapi harus hati hati. Salah salah bisa kena timah cair. Ahahahaha (aku bercanda).

Setelah makan malam, lagi lagi musalla ini digunakan. Sebagai tempat rapat acara acara yang akan digelar. Karena letaknya ditengah, luas dan angin akan sangat sepoi sepoi masuk. Entah berapa banyak ide keluar disana. Termasuk nama acara akbar mosa “FLASH”, juga bermula disana.

Musim ujian tiba. musalla juga tempat idaman untuk belajar. Penuh. Tak ada sisa ruang untuk yang telat datang. Salah salah, jika terlena dengan anginnya kita bisa mengantuk disana. Hati -hati.

Beberapa perlombaan tertentu juga biasanya diadakan di musalla! Bahkan penyampaian visi dan misi ketua osis juga disampakan melalui mimbar musalla. Biasanya setelah salat magrib. Eits, penerimaan siswa baru oleh anggota osis juga disini dulu, aku ingat sekali. Hahaha.

Musalla juga sering digunakan sebagai tempat acara hari besar agama. Seperti memperingati maulid nabi, isra’ mi’raj, muharam, dll. Biasanya acaranya setelah makan. Selain ada ceramah agama juga akan ada “muhasabah”. Ah, moment ini paling aku nanti dan paling membuat tidak tahan. Tidak tahan menahan air mata. Apalagi ketika ustadnya mengatakan “bayangkan orang tua kalian……………” deras saja jatuh air mata.

Yah, namanya juga ceramah, tidak selamanya selalu berkenan di hati. Ada moment moment dimana dia begitu membosankan. Nah, disaat inilah banyak godaan. Apalagi kami yang wanita. Posisi tepat di belakang. Disaat itulah terkadang mau tidak mau kami banyak yang akhirnya tergoda tidur.

Jadi, waktu itu aku lupa acara apa. Mungkin si adik lelah, entahlah. Dan dia tertidur pulas. Tiba tiba saja “prum”. Dan sesaat kemudian bau tidak sedap merebak. Iyes, si adik kentut. Kami gaduh. Dan aku yang duduk di pojok sana, jauh dari TKP juga gaduh.

“kenapa ribut x e”, tanya ku.

“si adik yang namanya tidak boleh di sebutkan kentut mut, bau lagi”, jawab teman ku.

“hahahaha, bangunin aja”, kataku.

“udah, udah di bangunin tapi di ngak peduli”. Jawabnya. Huft. Ada ada saja….

“Hahahaha, untung tidak besar”, aku tertawa geli. Teringat diri sendiri.

Ketika hari jumat, musalla juga kami jadikan sebagai tempat kajian jumat wanita wanita chantik. Hahahaha. Biasanya yang datang sebagai mentor juga kakak alumni kami.

Dan sekali lagi karena letaknya ditengah dan satu satunya bangunan yang memiliki mikrofon, sering pengumuman pun disini. Mikrofon musalla ini sering di andalkan. Mulai dari pengumuman kumpul rapat, panggilan acara acara, panggilan piket, panggilan pergi prosus, pemberitahuan untuk mematikan “radio, kipas angin, lampu” sebelum kesekolah bahkan pengumuman celana pramuka tertukaar pun di umumkan disini karena sudah kepepet pergi sekolah.

Begitulah musalla bagi kami. Letaknya di tengah, central sekali bagi kehidupan kami. Difungsikan untuk banyak kegiatan yang bermanfaat. Mirip mesjid di zaman kebesaran islam dulu yang menjadi tempat salat, dakwah, pendidikan, perpustakaan, dll. Begitu juga disini. Bedanya ini musalla. Tapi tak apa. Mirip juga. Semoga terus bisa bermanfaat, menjadi besar dan tetap menjadi salah satu central kehidupan anak anak yang sedang tumbuh besar disana. Amin. Banda aceh 19 mei 2015.

kucing dan siluet subuh

“krek,,,krek,,krekk”. Bunyi jendela. Terdengar jelas sekali.

“ada dengar kalian?” tanya ku pada anak kamaar. Waktu itu kami baru selesai makan malam. Sekitar pukul sembilan malam.

“ada. Bunyi jendela kan? Coba lihat mut”, kata fikri.

Karena masih awal malam, aku berani saja. Aku sikap gorden pink motif bunga dan membuka jendela.

“aaa”, aku sedikit terkejut. Sesosok manusia sedang berdiri mematung diluar sana. Aku langsung mengambil kaca mata. Memastikam siapa diluar sana. Dan ternyata “ibu asrama kok”, kataku.

“iya, jadi siapa? Hantu? “kata beliau.

“ibu lah, diam aja ngak bergerak gerak. Mutia pikir hantu yang menyamar”. Jawab ku.

“itulah qe mut, penakut kali, mana ada hantu jam segini mut”, sambung fikri.

“siapa tau fik. Hahaha”, aku ngenyir saja.

“ini, ambel ada pulut sikit”, kata ibuk asrama sambil memberikan sepiring pulut.

“makasih buk”, kata kami. Dan ibu pun kembali ke rumahnya yang cuma beberapa langkah itu.

“ih, aku tadi teringat cerita kakak kamar 8 melati”, kata ku. Kakak kamar 8 melati adalah senior kami.

“yang mana mut?” maya antusias. Cerita berlanjut dan makan pulut berlanjut.

“itu, yang cerita ada kakak mawar 8 dulu ke kamar mandi tengah malam, terus dia ketemu teman nya di kamar mandi. Di tegur sama kakak itu tapi ngak jawab jawab. Sampek di bilang sombong kali pun, tetap ngak di jawab. besoknya kakak itu tanya langsung tanyak sama kawannya. Dan kawannya bilang dia ngak ke kamar mandi semalam”, ingat kalian? ” Tanya ku.

“oh, iyaya. Sampek kakak itu bilang besok besok kalau tegur kawan tengah malam ngak di jawab, jangan tegur lagi”. Sambung maya.

“oh yayayaya, tapi kan ini belom malam kali kan mut”, potong uja.

Aku menyengir lebar.

“pasti malam ini, qe ngak berani tidur mati lampu kan?” goda fikri padaku. Matanya, ih!

“hahahahahahaha”. Aku sekali lagi tertawa “iya”.

Beberapa bulan berselang dari kejadian “takut hantu menyamar itu”, fikri mengalami kejadian aneh.

Pagi , ketika azan subuh berkumandang. Kami semua bergegas ke musalla. Tapi begitu bangun “aaaaa”, fikri menjerit.

“hush….hush…..hush…”, kataya sambil mengusir kucing keluar. Bagaimana tidak menjerit. Subuh buta, sudah ada saja kucing tertidur di atar perut fikri. Dia menggantikan buku biologi. Teman tidur fikri. Dari mana masukknya? Entahlah.

“iih, kok ada kucing di perut aku”, katanya setelah kucing tadi keluar.

Kami semua mengeleng. Uja langsung mengecek pintu jendela “terbuka”.

“uja yakin kali udah kunci”, katanya.

“iya fik, aku juga udah pastiin semalam, udah terkunci jendelanya”, sambungku.

“jadi siapa buka jendela?”, katanya.

Sekali lagi kami menggeleng. Menggeleng ngeri.

Aku juga pernah mengalami hal aneh. Waktu itu subuh. Hanya aku dan maya yang tersisa di barak. Kami terlambat ke musalla.

“cepat may”, kataku sambil terus melaju,

“iya mut”. Jawabnya dia menyusul di belakang.

Tapi saat sampai di jalan, tepat di tulisan “laki laki dilarang masuk” di depan mawar, langkah ku terhenti.

“may, coba lihat kesana”, kataku sambil menunjuk ke arah tiang listrik di depan garuda.

“ada orangkan may?”. Aku mencoba memastikan apa yang aku lihat. Sesosok manusia. Menengadah ke lampu jalan dan tidak bergeming.

“iya mut, kakak cuci kadang. Atau mudabbir atau…”kata kata maya terhenti.

“ngapain kakak cuci jam segini disini. Terus buat apa dia diam disitu?” kataku.

“yaudah, kita ke musalla terus mut”. Maya mempercepat langkah.

Aku ingin menjerit saat itu, sekencang kencangnya. Tapi apa daya. Nihil saja. Semua sedang salat di musala dan sekarang jam 5 pagi. Aku urungkan niat menjerit dan memilih lari sekencang mungkin ke musala.

Heboh! Jelas. Aku hanya ingin memastikan apakah ada yang melihat seluit manusia tadi selain aku dan maya. Dan jawabannya tidak ada.

Sepulang salat, kami melihat kembali ke arah tadi. Sayang nya langit mulai terang sedikit dan seluit itu “lenyap”.

Sampai saat ini, jendela dan bayangan siluet itu masih misteri. Sisanya? Selama bertahun disana, aku baik baik saja dan aman aman saja. Tidak ada kisah lain selain kisah ini dan tidak ada kejadian aneh lain selain kisah ini, banda aceh 19 mei 2015.

dua kultum!

Kultum atau kuliah tujuh menit adalah agenda wajib setelah salat magrib dan subuh. Seperti yang pernah aku ceritakan, jika magrib yang kultum adalah anak laki laki dan subuh anak perempuan. Begitu seterusnya.

Yang kultum biasanya sesuai kelas. Misalnya minggu ini kelas IPA 3 yang sedang piket musala, maka yang kultum magrib adalah anak laki laki dari IPA 3 dan kalau subuh, anak perempuan dari IPA 3 juga.

Silih berganti orang maju ke mimbar itu. Ada beribu jenis kultum yang sudah di sampaikan selama aku disana. Tapi dari serangkain kultum itu, ada 2 kultum yang cukup membekas. Ini lah kultum duo siti.

Kenapa? Karena yang menyampaikan adalah siti. Yang satu siti maisarah dan yang kedua siti safiatun. Mereka bukan anak kembar. Kebetulan saja namanya sama. Yang pertama dari loksemawe yang kedua dari sigli. Yang satu anak IPA 1 dan jago debat yang satu lagi anak IPA 3 yang seorang qariah.

Baiklah. Waktu itu subuh. Dan seperti kebanyakan subuh lainnya, semua mengantuk. Mendengar kultum dengan mata sayup sayup. Antara sadar dan tidak. Majulah seorang dara manis. Tinggkat kepercayaan dirinya aku rasa dari 0 hingga 10, bisa aku katakan 9. Dia maju berlahan. Dihidupkannya mikrofon dan dia mengucapkan salam.

“assalamualaikum wr.wb”. Salam nya.

“wa’alaikum salam”. Jawab jamaah.

Suasana kembali hening, jika ada jarum jatuh sepertinya akan terdengar. Selanjutnya dengan intonasi yang bagus siti melanjutkan kultumnya setelah mukadimah.

“judul kultum hari ini adalah coklat”. Ujarnya. suasana masih tenang.

Dan siti melanjutkan kultumnya. “kita selama ini selalu sedikit bagaimana dengan warna coklat atau warna gelap. Apalagi dengan iklan yang selama ini selalu melukiskan cantik itu adalah putih, mulus tanpa noda. Pemilihan putri ini dan itu juga selalu menonjollkan “cantik” yang seperti tadi. Maka apalah arti kami kami yang berkulit eksotis ini. Padahal jika kita renungkan, tidak selamanya sesuatu yang coklat seperti itu. Contohnya coklat yang sering kita makan”. Suasana mulai gaduh

Siti melanjutkan. ” coklat itu hitam, tapi dia enak, lezat, dan banyak yg suka”. Siti menarik nafas.

“Termasuk orang-orang hitam, biasanya manis😂😂😂. Apalagi saat tersenyum, terlihatlah keindahan perpaduan warna kontras dari kulit wajah hitam manis dengan gigi putih bersinar, clingg. Seperti Kofi Annan & Oprah Winfrey”. Jeda. Jamaah mulai bangun. Mata kantuk itu terbelalak dan badan malas mulai tegak. Pembicaraan ini sangat menarik. Karena memang ada sebagian dari kami yang “coklat”.

Siti melanjutkan “maniskan? Indah tiada tara. Jadi, dapat diambil kesimpulan, segala hal yg berwarna kecoklatan/ hitam itu biasanya adalah hal yg manis dan hebat, serta banyak penggemarnya. Termasuk kulit coklat! Dia tersenyum mantap. Kepercayaan dirinya aku rasa 9,5 saat itu.

Semua jamaah sempurna bangun.

“assalamualaikum wr. Wb”. Ucapnya sekaligus tanda kultum itu selesai.

Semua tersenyum simpul. Apalagi mereka yang coklat. Iyes coklat tidak selamanya seperti yang dikatakan iklan. Mereka memiliki keindahan tersendiri. Apalagi kalau coklat itu terlihat glow!

Bertahun setelahnya, ada beberapa orang yang masih mengingat kultum ini. Begitulah kekuatan kultum singkat subuh itu.

Kultum fenomenal lain adalah kultum dari siti yang kedua. Waktu itu tetap subuh. Seperti biasa subuh hari semua dalam keadaan mengantuk.

Siti maju berlahan. Judul kultumnya hari itu adalah “segelas cangkir”. Dia menyampaikan kultum dengan gayanya. Tidak banyak gaya, hanya assalamualaikum dan mukaddimahnya yang berbeda. Maklum qariah.

Setelah mukaddimah yang takzim itu di melanjutkan kultumya. “jadi gelas itu berasal dari sebongkah tanah. Nah, sebelum menjadi gelas , dalam pembuatannya tanah tersebut di digiling. Setelah digiling, tanah tersebut akan dihaluskan lalu dicetak menjadi gelas. Setelah dicetak, gelas prematur tadi akan di jemur selama beberapa hari, baru setelahnya di bakar”, siti menarik nafas

“jadi, jika ketika di bakar gelas gelas tadi mampu bertahan maka dialah gelas sesungguhnya. Hanya tinggal di cat jadilah gelas cantik yang sempurna”. Siti menarik nafas lagi.

“nah, begitu juga manusia yang diuji melalui kehidupan. Terkadang ditimpa sedikit kesusahan, kelaparan dan kesedihan. Siapa yang tahan dengan ujian ujian itu, dialah pemenang. Layaknya gelas cantik tadi. Jika dia tidak tahan di jemur dan di bakar maka tidak ada gelas cantik”. Siti menarik nafas lega.

“demikian lah kultum saja, lebih dan kurang saya mohon maaf, saya akhiri dengan wabilahitaufik walhidayah, assalamualaikum Wr, Wb”.

Kultum selesai. Bagiku kultum itu menyerap ke dalam dada. Tapi karena waktu terus berjalan, berlahan isi kultum itu memudar. Hingga akhirnya aku bertemu dengan alm. Bapak asrama. Sebelum beliau pergi meninggalkan kami.

Dari semua kultum yang bombastis, hanya kultum siti safiatun yang masih dikenang dan dapat diceritakan ulang olehnya. Begitu berkesan kultum pagi itu.

Itulah dua kultum fenomenal menurutku. Kultum yang tak lekang oleh zaman di ingatan beberapa orang. Semoga terus bermanfaat. Lompoh keude 19, mei 2015.

oh, bimsik

Setelah lari buk icha!
Setelah lari buk icha!

Matahari sudah mulai naik. Tampak dari cahaya hangat yang masuk dari balik gorden jendela. Tenyata hari sudah benar benar pagi.

“mutia dan maya di panggil kakak cuci”, terdengar suara nita dari luar. Kami langsung bangun. Mencuci muka dan menyikat gigi. Bersigap mengganti pakaian dengan jaket, rok dan jelbab kurung lalu mengambil sekantong baju kotor dan keluar barak. Tujuan kami adalah mading. Tepat di depan musala. Disanalah kakak cuci tersayang sedang menunggu.

“kak, ini baju kotornya”, kataku.

“ini kain bersih ya dek”, kata kakak cuci kami. Serah terima itu selesai. Si kakak pulang dan kami kembali kebarak. Membawa sekantung plastik baju bersih yang sebagian besar isinya adalah seragam sekolah. Semua baju diletakkan di lemari. Setelah itu saat nya makan.

“Makan yok”, ajakku pada anak kamar. Fikri, maya dan uja.

“yok”. Dan kami berjalan santai menuju ruang makan. Pelan pelan saja sambil menikmati matahari pagi di balik pegunungan. Di luar kakak cuci lain masih ada yang tersisa. Mungkin si empunya baju masih tidur di barak

Sampai di ruang makan, kami langsung makan. Menunya memang tidak semenarik biasanya, tapi boleh lah. Sepiring nasi, telor dadar, sambal, kerupuk dan segelas teh hangat. Sarapan pagi sederhana dan ditemani acara kartun di TV yang buram buram gemana gitu.

Setelah makan, kami kembali ke barak. Gaya bebas di mulai. Sebagian anak barak sudah cantik dan wangi. Mereka mau pulang ke rumah hari ini dan sebagian lagi sudah siap untuk keliling banda aceh. Sebagian lainnya masih bersih bersih kamar atau sedang “mencuci under wear” di kamar mandi. Kami? Aku biasanya bertandang ke kamar 9, fikri bergegas mandi, uja juga bersiap siap. Maya? Keluar atau pun tidak dia tetap mandi pagi. Always on the right side,

Kadang kadang “kepada seluruh siswa siswi XI IPA 3 di harapkan segera ke ruang makan untuk piket”. Terdengar suara pengumuman dari musalla. Yah. Kami bergerak malas. Kembali ke ruang makan untuk piket bulanan. Membersihkan ruang makan. Langsung menyapu dan mengelap meja. Sebentar saja urusan ini selesai.

Jadi, piket besar di hari minggu ada beberapa. Bisa piket ruang makan, barak, bak cuci, rumah pengawas asrama, dll. Piketnya diatur perkelas. Kalau minggu ini yang piket ruang makan ipa 3, bak cuci ipa1, barak ipa 2, minggu besok jadwal itu berputar juga dengan adik adik kelas. Begitu seterusnya.

Setelah urusan ini selesai, kami baru boleh keluar dari asrama dan saatnya jalan jalan. Dengan gaya khas. “tas ransel” dan “kaos kaki warna warni”. Itu pasti anak mosa.

Itulah minggu pagi kami. Hari dimana sekali dalam seminggu kami bisa tidur lagi setelah salat subuh. Bangun saat di panggil “kakak cuci datang”. Bisa keruang makan, tanpa harus menunggu lonceng dan tidak harus berbaris dan bersama. Boleh sendiri sendiri. Bisa sarapan santai sambil menonton tv karena tidak sekolah hari ini. Setelahnya jika piket, sebentar urusan ini selesai. Selebihnya? Hari ini milikmu kawan.

Hingga tiba tiba, ide itu muncul lagi. Tidak tau siapa pencetus nya. Yang pasti sejak ide itu muncul, tidak ada lagi minggu pagi seperti biasa.

Setelah salat subuh, kami harus bergegas ganti pakaian dengan pakaian olah raga. Baju kaos, celana training dan sepatu olah raga. Lalu bergegas ke lapangan sepak bola pagi buta. Matahari bahkan belum benar benar muncul. Hawa diluar juga masih dingin.

Kami berbaris sesuai kelas. Di absen. Lalu pemanasan sesaat di tempat atau kadang kadang latihan PBB sesaat. Selebihnya, lari pagi! Inilah bimsik. Bimbingan fisik minggu pagi dengan buk icha sebagai pemimpinnya. Minggu pagi yang tenang itu hilang.

Kami bisa diajak berlari keliling mosa. Bukan 30 orang tapi 270 orang. Satu sekolah. Kelas satu hingga kelas tiga. Menegelilingi mosa bisa 1 atau 3 putaran. Atau saat bosan berlari di mosa, kami diajak berlari ke blang bintang. Tidak sampai kesana sih, sampai ke bundaran setengahnya. Yang kalau lurus belok kanan, katanya jumpa lanud. Jauh? Lumayan. Aku pernah kesana jalan kaki, dan menyerah saat pulang. Terpaksa naik labi labi.

Perginya saat matahari masih sejengkal kaki dan pulang ketika matahari sudah sepundak. Hahaha. Begitulah kira kira. Untungnya suasa disekeliling mendukung. Masih banyak hamparan sawah, barisan pegunungan, pohon besar dan sesekali rumah penduduk. Hawa disana juga dingin tanpa polusi udara. Pas lah untuk di bawa lari pagi berjamaah begini.

Pernah disuatu Minggu pagi kami di pimpin buk icha untuk razia “tempat jemur baju”. Waktu itu sedang ada pembersihan besar besaran di sekolah. Sehari sebelumnnya barak laki laki dijarah. Setiap piring kotor di kumpulkan dan setiap pakain yang berserakan disatukan. Hasilnya? Luar biasa. Berlusin lusin piring kotor di dapat dan berember ember pakaian ditemukan. Kakak dapur sampai berkomentar “ternyata ini penyebab piring di dapur sering kurang”.

Di barak cewek juga tidak jauh berbeda. Tapi tidak ada piring kotor! Hanya banyak pakaian kotor saja. Nah, tidak cukup sehari, expansi mendadak ini dilanjutkan hingga ke minggu pagi. Jadi setelah bimsik, kami dikerahkan untuk mengutip “pakaian” yang berserakan di tempat jemuran. Hasilnya? Lumayan. Lumayan banyak dan lumayan beraneka ragam.

Kami bahkan pernah di ayomi oleh bapak bapak dari lanud di minggu pagi saat kegiatan bimsik ini. Di bawa berlari, PBB dan kalau tidak salah ingat pernah di bimbing untuk anti narkoba. Yeah, minggu pagi tenang di gantikan dengan minggu pagi berkeringat.

Pukul sembilan teng, bimsik baru selesai. Kami makan harus berbaris (lagi). Setelah makan, minggu kami baru kembali. Berjumpa kakak cuci dan piket jika ada lalu bersiap mandi untuk jalan jalan.

Yah begitulah minggu pagi kami, minggu tenang yang seketika berubah menjadi minggu berkeringat dan sehat. Benar benar sehat! Tidak hanya itu pagi kami juga kreative. Oh bimsik, i lop u full. 16 mei 2015

tragedi prosus matematika!

Waktu itu siang. Seharusnya jam segitu kami sedang belajar matematika dengan guru kesayangan. Buk dar namanya. Tapi, walau sudah berlalu hingga 30 menit, buk dar tidak kunjung datang.

“coba cek ke ruang guru rahmat”, kata teman sekelas. Dia adalah ketua kelas kami. Rahmat langsung bergerak. Bergegas ke kantor guru.

“ada buk dar, tapi ngak mau masuk”. Kata rahmat yang muncul sesaat kemudian.

“hayo kalian anak cowok. Buk dar marah”, kami mengompori. Memanas manasi suasa yang mulai panas.

“beuh, kok salah kami. Salah anak ipa 1 lah, orang ini yang bilang ngak ada prosus kemarin”, anak cowok membela diri.

Apapun alasannya mereka tetap salah. Jadi, beberapa hari lalu kami ada prosus matematika. Tapi anak laki laki mendengar kabar buk dar tidak masuk pelajaran matematika ketika pagi di kelas IPA 1. Mereka pun berkesimpulan buk dar juga tidak datang untuk prosus. Dan jahatnya, mereka hanya menyebarkan kabar itu untuk kalangan sendiri. alias hanya untuk kaum lelaki. Hasilnya, hari itu hanya kami yang wanita yang tidak tau apa apa ini yang akhirnya pergi prosus. Dan ternyata, alhamdulillah buk dar datang. Jadi dikelas itu hanya ada wanita wanita cantik.

Jelas buk dar naik darah. Selain guru matematika terbaik, buk dar juga wali kelas kami. Beliau selalu mendukung kami. Terlebih kami yang masih kelas satu ini sangat rawan ingin “minta keluar”. Saat mendengar ada anak kelas yang mau keluar, beliau pasti akan datang menghampiri. Duduk disamping kami sambil memberi wejengan. Menguatkan hati kami yang mulai menciut. Fikri salah satunya selain aku. Nah, hari itu, teman teman kami menggores luka di hati buka dar. Setelahnya dua kali pelajaran matematika beliau absen masuk kelas kami.

“gemana kalau kita ketemui buk dar, minta maaf”, usul rahmat.

“kalau keruang guru, kita bakalan dilihat sama semua guru. Nanti kita jadi bahan gosip satu sekolah”, kata irfan.

“yaudah, kita kerumah buk dar aja”. Rahmat memberi ide. “gemana teman teman?oke?”.

“oke, yes! ” jawab kami serentak.

“emank ada yang tau di mana rumah buk dar?”, tanya uja. Kami sok yes aja.

“aku tau, ngak jauh kok dari warung bang fafa”, jawab arya.

Alhamdulillah untung rumah buk dar dekat.

Setelah menyusun rencana singkat, sore itu kebetulan tidak ada prosus. Maka kami memutuskan menuju rumah buk dar. Berjalan kaki! Dengan arya di depan. Dia penunjuk jalan.

Siang hari, 31 anak manyak berjalan di tengah terik matahari. Melewati warung bang fafa, perumahan penduduk dan selebihnya adalah hamparan sawah. Sesekali angin persawahan lewat menghampiri

Selebihnya adalah panas. Hahahaha. Beberapa puluh menit kami sudah berjalan, tapi rumah buk dar tak kunjung tampak.

“arya, qe yakin jalan ini rumahnya?”, tanyaku.

“yakin mut. Dikit lagi kok”, katanya.

Okelah. Kami melanjutkan perjalanan. Beberapa menit kemudian jalan juga tidak kunjung tampak. Dan ketika di tanya arya selalu menjawab “dikit lagi”. Hingga akhirnya sekitran 35 menit berjalan kami baru sampai tujuan. Huft arya. Jarak yang dekat bagi arya adalah berjalan kaki selama 35 menit.

Kami mengucapkan salam. Dan alhamdulillah buk dar ada di rumah. Beliau terkejut kami datang. Ah, muka muka polos kami, keringat yang sudah sebesar jagung, dan bau sengat matahari pasti meluluhkan hati buk dar. Tepat sekali. Walau sempat sesaat terkejut melihat kami, beliau langsung mempersilahkan kami masuk setelahnya.

Kami minta maaf setulus hati. Dan dimaafkan setulus jiwa. Ah, ibu memang selalu begitu. Cintanya sepanjang hayat.

Kami disana hingga azan ashar datang. Setelah salat disana kami pamitan pulang.

Yah, butuh 35 menit lagi untuk sampai ke asrama.

“aku ada jalan pintas untuk pulang”, kata yusra.

“yang betol yus?”tanyaku.

“betol”, jawabnya yakin.

Akhirnya kami yang wanita mengikuti yusra. Sedangkan yang laki laki tetap di jalur konvensional. Kemana kami dibawa yusra? Sehebat apa jalan pintas di desa?

Ternyata kami di giring ke pematang sawah! Inilah jalan pintas yusra. Yah, mau di bilang apa, sudah terlanjur masuk ke dalam persawahan. Akhirnya kami berjalan di sepanjang pematang sawah. Bukan makin cepat malah makin lama karena tanahnya sedikit licin. Dan baru setengah jalan, terdengar suara gaduh dari belakang.

“da dah……..”,tampak beberapa teman laki laki kami memberikan lambaian tangan sekaligus senyum kegirangan. “duluan ya”, katanya dari atas mobil. Dan mereka melaju meninggalkan kami di pematang sawah dengan mobil pick up itu. Penuh! Mereka ternyata menumpang mobil pick up yang entah milik siapa.

Ah! Nakal kan? Itulah anak laki laki kelas kami. ini bukan kali pertama mereka mengerjai kami. Aku sih biasa dengan keberuntungan mereka mendapat tumpangan, tapi senyum nya itu, licik!

Akhirnya sekitar 40 menit, melewati pematang sawah satu ke sawah lainnya, alhmdulillah kami sampai asrama. Mau marah ke yusra, sudah terlanjur lelah. Hahahaha, akhirnya kami memilih menikmati sore di pematang sawah ini. Apalagi padinya belum di panen. Indah sekali.

Yah, semoga kita tidak buat ulah lagi dikelas dan tidak ada tragedi matematika atau pelajaran lain. Amin. 10/5/15

Teman kelas IPA 3
Teman kelas IPA 3

out bond versi kami part 2, yes!

Out bond jantho, 2014
Out bond jantho, 2014

Next post. Tempat nya entah dimana! Kami bingung membaca petanya. Yang pasti ini bagian belakang mesjid cot gendreut. Sepakat. Kami semua kearah sana. Diperjalanan persimpangan kami bertemu lagi dengan kelompok hutan rimba.

“dimana post selanjutnya e”, tanya kelompok kami.

“lurus aja”, kata mereka sambil menunjuk ke arah hutan. Dan kami percaya. Terus lurus hingga hutan habis dan ketemu door smear lalu perkampungan penduduk.

“ih, kita ditipu”, kataku.

Hahahaha. “atau jangan jangan pos 3 memang ngak ada, ini intrik saja”, kata teman sekelompok.

Hahahahahahaha. Ini pede yang kepedean. “jangan pikir macam macam, ini cuma outbound yes! Pasti ada jalan, yaudah kita balik aja lagi ke titik awal, kan ada simpang dua tadi”, kata yang lain. Okeh. Salah satu serunya ya disini.

Alhamdulillah. Ternyata benar, disimpang tadi seharusnya kami belok bukan lurus. Awas kalian hutan rimba!

Dipost ini lagi lagi kami harus memilih pemimpin. Lalu mata pemimpin di tutup dan dia harus mengikuti aba aba anak buahnya untuk menuju meja yang berisi buah apel. Kemungkinannya 3, satu pemimpin mengikuti hati nurani tanpa mengindahkan bawahannya karena ego, dua bawahannya memberikan instruksi yang salah dan tiga sejalan, pemimpin punya feeling kejalanan yang benar sesuai dengan aba aba yang dipimpin. Intinya saling percaya dan saling bergerak bersama. Yes!

Hingga sampai ke post terakhir. Dan lagi lagi masih tentang kepercayaan. Pemimpin kami di grup ini adalah riska. Dia harus naik ke meja yang sudah di tindih 3 lalu menjatuhkan diri ke bawah. Di bawah sana sudah ada tangan tangan mungil yang siap siaga menangkap. Di bagian ini kami bermasalah.

Begitu ika sampai ke atas meja, mukanya memucat. Kami telah siaga, tapi apa daya dia menciut. Terlalu tinggi dan tiba tiba ika sesak. “ika ngak sanggup kak”, katanya. “yaudah ngak apa, ngak usah ada yang tukar karena udah azan zuhur. Ini post terakhir kan?”, tanya kakak kelas.

Kami mengangguk.

“langsung ke musala aja”, tidak ada toleransi soal ini. Waktu salat adalah waktu salat. Melanggarnya berarti acara seperti ini untuk kedepan bisa dilupakan. Karena pasti tidak akan diberi izin lagi.

“ika sanggup balik ke barak?”

“sanggup kak”, jawabnya. Kami bubar sambil memapah ika ke barak mawar. Dia pasti syok. Dan semoga setelah makan siang dia segar kembali.

Matahari sudah benar benar tinggi. Jelas lah, azan saja sudah berkumandang. Setelah mengantar ika ke barak, bagi yang salat lanjut salat dan yang sedang berhalangan menemani ika.

Setelah salat dan makan, taraaaaaaaaa kami di kumpulkan di aula.

“gemana hari ini?” tanya abang pemimpin acara. “senang?”

Serentak menjawab “senang”.

“asyik?” tanya lagi

“asyik”. Serentak.

“mau lagi?”.

“mau”. Kompak. Iyes, hari ini asik sekali bagiku. Seru! Walau capek kalau diajak seperti ini lagi aku pasti mau.

Siang itu grup yang menang adalah texas dan yang terbaik adalah grup jahat yang tega membohongi kami “hutan rimba”. Ahahahahahahahaha.

Begitulah anak asrama, abang dan kakak alumni yang begitu peduli. Terkadang datang dengan bedah bukunya, bedah kampusnya, acara tausiahnya, kajian jumat, atau sekedar saturday sesion di sore sabtu. Kami juga pernah diajak menembus ke tengah hutan lalu bermain disana. Di krueng jreu! Yang kiri kanan adalah hutan.

Bahkan tahun berselang, silaturahmi ini tetap ada. Tahun kemarin kami malah di bawa jalan jalan ke jantho. Kembali bermain bersama dan tertawa bersama. Mosa sudah tua ternyata. Karena alumninya banyak yang sudah berkeluarga dan bahkan salah satu yang hadir adalah dosen kami sendiri. Hahahahaha, alhamdulillah.

Iyes, begitu. Entah mengapa sekolah ini begitu berkesan bagiku. Sekolahnya, teman temannya, lingkungannya, semangatnya, semua. Jika ada yang bertanya “apa arti mosa bagi ku”, aku akan jawab “keluarga”.

Untuk hari 8 tahun lalu dan untuk 1 tahun lalu, terima kasih ya. Semoga silaturahmi tetap terjalin. 4/5/15

Acara out bond 1 tahun lalu
Acara out bond 1 tahun lalu

CYMERA_20150504_235718