berapa suhunya?

Stase anak. Stase yang terkenal mengerikan selama koas. Kenapa? Karena banyak alasan dan salah satu alasan nya adalah dokter konsulennya. Harus detail. Mulai dari anamnesis, harus jelas, runut dan harus tanyakan langsung ke pasien. bahkan BAB dan BAK, jangan lupa. Pemeriksaan harus dilakukan, ngak boleh tinggal walau seorgan pun. Dosis obat harus tau dan jelas, sampai terakhir jangan lupa bubuhkan nama jelas di status, itu tanda bertanggung jawab! Main main dengan tahap ini, siap siap kena timah panas. Hahahahaha.

Jujur aku tegang ketika masuk bagian ini. Ngilunya sampek ke hati. Membayangkan saja tidak berani dan naas nya, koas pertama malah masuk kemari. Tapi bisa apa? Bismillah.

Pasien pertama dan perdana namanya ilham. Anak laki laki usia 5 tahun. Masuk dengan demam 10 hari ngak turun turun. Ditambah muntah berat, diare dan nyeri perut. Setelah dilakukan pemeriksaan darah positif si adek di diagnosis demam tifoid.

Siapa konsulennya? Dokter paling killer menurut ku. Orangnya sempurna dan detail. Jika berbicara suaranya tegas, dan expresi nya itu, semua berbicara. Saat kesal matanya, dahinya, pipinya, mulutnya juga ikut berbicara. Koas tidak boleh selengean di depan beliau. Harus sigap, bicara jelas dan berani. Kalau ada apa2 maju! Bodoh di depan beliau? Rasakan sendiri. Masuk ke tanah.

Nah, kita Sebut saja beliau dr. Baik. Mendengar namanya saja aku sedikit bergetar.

Pagi itu beliau tampak masuk ke ruang anak. Langkahnya pasti. Langsung menuju nurse station.

“mana pasien saya?” katanya

Kakak perawat langsung sigap. “Kamar 2, kamar 6, kamar 7, dan iso 2 dokter”jawabnya.

“yok”, kata si dokter.

Kakak perawat langsung memberikan aba aba kepada kami untuk ikut visite beliau. Diantara semua yang ikut visite, aku yakin akau yang paling takut. Iyes, karena aku memegang salah satu pasien beliau.

Visite berjalan hingga beliau sampai kepada pasien ku. ilham yang selalu marah ketika aku periksa.

“mana koas yang pegang?” tanya beliau.

Aku angkat tangan. Dan melaporkan keadaan pasien.

“kalau anamnesis jangan lupa tanyakan nafsu makan, BAB dan BAK nya”. Kata si dokter.

Lanjut ke pemeriksaan fisik. Aku selamat.

Lalu ke terapi. Aku kena badai katerina.

” Berapa tetes dia butuh cairan permenit? Berapa tambahan cairan karena dia demam? Ngak lihat mukanya kurus? Ada timbang tiap hari? Dehidrasi ngak pasiennya? ini kolf ke berapa? Jam berapa naik dan kapan harus habis? Ini dosis paracetamol begini? Mana kurva demam nya? mana tanda tangan kamu? Stayus kok ngak rapi?”#@$/÷^=&*(@_@?.

aku karam, expresinya membuat aku sekecil jarum pentul.

” mulai nanti lakuin dan tulis semua” kata si dokter.

Baiklah akan aku perbaiki semua.

Begitu visiter selesai aku langsung mengurus pasien tadi. Kisruh! Hingga esok Pagi aku datang lagi. Melakukan lagi perintah dokter baik, mulai evaluasi keluhannya, memeriksa perbaikan tanda vital, menimbang berat badan lalu menghitung kebutuhan cairan, lalu menulis kolf cairan yang naik dan terakhir membuat kurva demam.

Kurva demam ini dibuat untuk mengevaluasi demam pasien. Biasanya di ukur per 4 jam. Jadi kelihatan demamnya membentuk pola apa. Aku seperti punya alarm sendiri. Setiap 4 jam aaku sudah stay di bed dek ilham dengan termometer. Selalu deg degan dengan temperaturnya. Sepele kan? Aku pikir juga begitu, ternyata tidak.

Pagi itu visite lagi, setelah beberapa hari berlalu. “Mana kurva demamnya?”

Aku kikuk. “ini dokter”.

Beliau mengamati kurva demam yang naik turun itu.

“kapan terakhir kamu ukur temperaturnya?”

“tadi jam 8 dokter”, jawabku.

“setelah minum obat atau sebelum? Karena kalau sebelum minum obat berarti demamnya turun karena obat bukan karena dia mulai membaik”.

Deg….krek krek krek! Aku tidak terpikir sampai kesana. Pokoknya 4 jam aku temp.

Spontan. “sebelum minum obat dokter”, jawabku.

“benar buk, di periksa sama dokter muda ini sebelum si adek minum obat? ” beliau cross check, expresinya, ngak tahan. Aku siap di telan.

Si ibuk mengangguk.

“oke, terapi di lanjutkan”, kata si dokter,

Aku bersyukur sekali. alhamdulillah. Walau sejujurnya aki tidak tau kapan terkahir adek itu minum obat? Nanti aku cross check ulang.

” Kalau dalam 1 hari dia bebas demam, bisa direncanakan pulang”, beliau melanjutkan,

“baik dok”. Jawabku.

Selanjutnya setiap 4 jam aku semakin deg degan dengan temperaturnya. Tentunya sebelum minum obat. Hahahahahaahaha! Bahkan bangun pagi setelah membaca doa, hal yang pertama aku ingat adalah “berapa temperatur dek ilham hari ini ya?” hihihi.

Akhirnya, setelah seminggu di rawat dek ilham semakin baik. Demamnya turun tanpa obat, nafsu makannya membaik, berat badannya naik, wajahnya bersinar dan tidak letargi lagi. Dia pun di izinkan pulang. Dengan dokter muda yang menangani cuma satu, aku!

Bergelimpangan deg degan megang pasien beliau, tapi terima kasih dokter baik. Ilmu nya membekas hingga sekang. Semoga selalu bermanfaat. Amin. Nanti kalau jadi konsulen aku ingin menjadi dokter seperti beliau, pintar dan detail tapi tidak dengan expresi mengerikan. Hihihih. Ah, stase anak! Selalu berkesan.

Advertisements

antara ujian obgyn dan stase THT

13.12.13 banda aceh

Dua minggu spacing. Asik bisa jalan jalan. Tapi eit tunggu dulu. Masih ada hutang yaitu hutang di THT dan ujian belum kelar di obgyn. Akhirnya setelah berembuk kami sepakat masuk THT dulu dan kalau ada waktu ikut ujian obgyn.

Rabu sore waktu itu. tanggal 25 november 2013. Kami sekelompok besar ikut pretes masuk THT dengan harapan minggu depan bisa mengambil pasien.

Aku, maya dan lely sudah mempersiapkan semuanya dengan baik dan sungguh-sungguh. Lely sampai menginap dua malam dirumah kami untuk belajar sambil membuat laporan KKN tematik. Serius amat serius kami belajar. Mengulang apa yang sudah tertinggal 5 bulan yang lalu. Dan akhirnya saat pretes itu tiba. Namun saat kami hendak masuk untuk ujian tiba-tiba panitia bapel KKN mengabarkan akan berkunjung ke desa. Ah, bunuh diri namanya

Akhirnya kami minta izin sebentar untuk ujian THT dan akan segera ke kampung. Jadi, saat menyelesaikan ujian kami nyaris terburu-buru, ini masalah masa depan. Dua duanya masa depan. KKN masa depan di kesmas dan pretes ini masa depan di THT. Tapi alhamdulillah dua duanya tercapai karena begitu selesai ujian kami langsung ke kampung dan sesampai di kampung, tepat bapel KKN datang. Kami tidak terlambat.

Dua hari menunggu kabar dari THT dan di jumat siang kabar itu amat menyakitkan. Semua lulus pretes tapi hanya ada 2 orang yang bisa diterima, oleh karena itu undian lah yang berbicara. Nama kami diundi dengan kertas kecil. Sungguh beruntung nama yang keluar dari kertas kecil itu. dan dua nama bidadari itu adalah nurlaily dan shinta. Aku, maya, pes, vita dan ijal harus ikhlas urut-urut dada. Dunia! Allah pasti menakdirkan semua yang terbaik bukan. Mungkin belum saat nya kami masuk, masih ada kesempatan minggu depan. Hmmm baiklah. Saat itu juga aku menyalakan radio positif, berfikir sepositif mungkin yang aku bisa.

Akhirnya rencana berubah dari masuk THT menjadi fokus ujian obgyn.

Lagi lagi kami belajar, sungguh-sungguh. Tidak alpa walau sedikit. Tapi kali ini tentu belajar dengan cara berbeda yaitu di kamar masing-masing dengan kasus masing masing. Aku dapat tentang KET dan maya tentang plasenta previa. Oh, semakin didalami ilmu Obgyn ini sungguh menarik. Ini bukan hanya urusan kau dan pasien tapi masalah kau, pasien dan harapan anggota keluarga lain. Yaitu bayi kecil yang tidak berdosa. Semuanya harus cepat dan harus benar benar jeli.

Semakin aku baca semakin aku tau bahwasanya saat ibu memutuskan mau memiliki anak, nyaris sebagian hidupnya di pertaruhkan untuk itu. awal kehamilan imun si ibu menurun untuk mengimbangi si anak yang berupa semi-imun, resiko pun meningkat seiring dengan bertambah nya usia kehamilan, mulai dari perdarahan yang bisa muncul tiba-tiba misal pada plasenta previa dan solution plasenta hingga ibu bisa meninggal tiba-tiba hingga hipertensi yang pelan tapi mematikan. Belum lagi saat melahirkan. Saat semua otot-otot rahim berkontraksi dan menimbulkan iskemik disekelilingnya, sakit yang sungguh luar biasa. Jika janin harus segera dilahirkan ibu harus diinduksi, merasakan bagaimana perut di aduk-aduk oleh obat perangsang kontraksi. Ah belum lagi saat semua tidak bisa dilakukan dia harus di bawa ke meja operasi. Di bedah perutnya dengan resiko hidup dan mati. Sungguh aku terpana untuk kesekian kalinya. Ibu oh ibu.

Prinsip ujian dengan obgyn itu harus via antrian. Kami harus mengantri hingga beliau setuju ujian dan sekertaris bagian akan menghubungi kami jika waktunya datang. 4 hari dalam seminggu kami menunggu. Di minggu pertama tidak ada kabar berita.

Masuk minggu ke dua. Kami masih tetap berharap bisa ujian Obgyn karena lagi-lagi undian THT tidak berpihak pada kami tapi pada safrijal.

Receive mesaage form kak miftah

Itu yang aku baca di layar hp ku. Kak miftah sekertaris bagian obgyn. SMS yang kami tunggu dalam 2 minggu terakhir akhirnya datang juga. Sms yang membuat maya rela tetap tinggal di banda.

:dek besok kalian ujian ya, pagi setelah senam:

Kami langsung membalas

:iya kak, di smf kan?:

Kami langsung mendapat balasan.

:dek , gak jadi ya, ujiannya senin:

Ya Allah, senin itu kami sudah masuk penyakit dalam. Ah singkat cerita, luka ini terlalu sakit untuk di tulis. Kami tidak jadi ujian!

Dua minggu spacing yang amat sangat lelah. Di PHP berkepanjangan. Ah, lagi-lagi, radio positif memancarlah. Mungkin ini yang terbaik yang ALLah rencanakan. Mungkin kalau di uji juga belum bisa, dokternya memang lagi sibuk, nanti saat di penyakit dalam pasti ada waktu, kan setidaknya hari ini bisa main-main lagi, udah ikhlas aja, ayo senyum, mana gigi putihnya. Yah, begitulah aku mencoba berfikir sepositif yang aku bisa.

“ya Allah engkau yang mencukupi ku dan aku berlindung kepada MU”. Kami pasrah dan ikhlas. Pasti ada waktu terbaik lain bagi kami untuk ujian. Amin. Oke! Dua minggu telah selesai. Oh ujian ku.

“you know! infeksi nosokomial”

25 juli 2013, stase obgyn

Hello, sekarang aku sedang di stase obgyn, stase yang awalnya menurutku amat sangat menjijikan karena berlumuran darah. Tapi ternyata tidak juga. Semua orang yang telah melewati bagian ini pasti mengatakan bagian ini adalah bagian yang paling menyenangkan. Awalnya aku sangsi tapi diminggu ke 5 setidaknya yang mereka katakan ada benarnya.

Hari ini sendu, tidak banyak angin yang melaju, cahaya matahari juga tidak begitu menantang. Dan aku tepat 12 jam tidak tidur. Hanya tidur bebek dalam 10- 30 menit. Yap, aku jaga malam di kamar bersalin.

Sesuai namanya tempat ini adalah IGD nya bidang kandungan. Siapapun yang datang ke IGD dengan masalah kandungan atau kebidanan misalnya mau melahirkan, perdarahan, ketuban pecah, nyeri perut akut pasti di bawa dulu kemari. Ke kamar bersalin. pasien malam ini datang seperti datang air bah, tak berhenti hingga kita lupa bernafas. Dan pagi ini sukses aku tidak mandi pagi, mirip pesakit yang putus asa sangking kucelnya.

Aku bolos MR, mau mandi dan bersih bersih. Jorok dan bau ketiak itu tidak menyenangkan teman. Nah, sebelum aku mandi aku jalan jalan ke ruang bersalin. Ternyata ada pasien yang sedang meraung kesakitan. Oh, suara raungan tadi berasal dari wanita G1p0 hamil aterem dengan ketuban pecah dini jadi di induksi dengan oksitosin. Menenangkan pasien dengan sedikit kata kata jauh lebih baik dari pada membiarkan mereka sakit merana tanpa kata.

“dek, tolong ambil darah ibu ini ya, siapa tau pasiennya mau di operasi”

Kata kakak perawat kepadaku.

Aku mengangguk. Aku pergi mengambil peralatan yang diperlukan seperti hand scon, spuit dan tabung EDTA. Setelah siap aku ancang ancang untuk mengambil darah pasien tadi. Tapi oh my god, pasiennya gemuk dengan pembuluh darah yang kecil, aku menyerah dan memanggil kakak perawat senior. aku tidak ingin membuat si ibu lebih menderita dengan percobaan percolokan yang akan aku lakukan jika sekli tusuk tidak yes.

Darahnya berhasil di ambil dan terpaksa aku yang mengantarkan darahnya ke lab. Tidak ada keluarga di sekeliling pasien. Oh baik lah. Hari ini aku harus terjaga walau semalam tidak tidur, mungkin sedikit olahraga pagi tidak buruk.

Sekembali dari lab sesosok wanita alias kakak perawat sedang berceramah ria di depan 2 teman ku. Nurlely dan maya. Dari jauh terlihat dia marah. Entahlah entah tentang apa. Dan celakanya aku mendekat

“Mana yang namanya mutia atau putri?”

Aku terdiam, diam yang dalam. Oh god, jantung ku berdegup kencang saat nama yang amat ku kenal itu disebutnya. Ya karena nama itu adalah namaku. Aku tersangkanya. Namun aku tetap tenang seolah mutia itu entah siapa. Berdiam didepannya dan mendengar semua ocehannya tanpa cela. Ocehan yang sempurna tertuju untukku.

“ bilang ya sama kawan kalian yang namanya putri soraya atau mutia rahmah kalau pekerjaan dia itu tidak benar. Hand scoon di tarok di atas ctg, itu lagi spuitnya kok di tarok di atas meja”. “kalian taukan semua itu infeksius”, “asal kalian tau semua infeksi nosokomial itu berasal dari dokter muda”, “ampul dan spuit juga di buang di save box, tapi semua dokter muda buang sembarangan”, “jangan lupa bilang sama kawan kalian si mutia dan putri soraya itu”. ibu itu berlalu dari kami.

Untunglah. Dia telah selesai tanpa tau si mutia itu ada didepannya. Andai tadi aku mengancungkan tangan maka tamatlah riwayat ku hari ini dan tepat aku akan diingatnya sebagai si pembawa infeksi nosokomial. Padahal aku sangat ingin membela diri saat itu. pertama sebenarnya memang benar aku yang menyebabkan semuanya berantakan. Semua aku biarkan apa adanya karena aku harus mengantarkan darah ke lab, niat ku sekembali dari lab akanku bereskan. Tapi sayang aku naas di menit ke 5. Dia terlebih dahulu menyidak. Kedua, hand scoon itu tidak kotor, itu bekas aku spoling pasien, ke tiga spuit itu tidak ku pakai, karena aku bahkan tidak berani melukai ibu yang kesakitan itu karena pembuluh darahnya bahkan lebih kecil daripada lidi, ke 4 masalah spuit dan ampul oh tidak, itu bukan kerja dokter muda tapi adek akbid. Andai saja ku bisa membela diri. Tapi aku diam. Terkadang diam jauh lebih baik daripada membela diri ditempat dimana kita bahkan tidak punya hak untuk bicara.

“mut, kok bisa?”kata maya

Aku menggeleng. Ah pagi ini. Biarlah berlalu.

“yaudahlah lah, jadiin pelajaran”, kataku.

“tapi kok bisa ya, dia tau nama mutia dan putri soraya?”tanya leli

Aku dan maya menggeleng.

ibu armia

Banda aceh 25/12/13

“dek pesan dokter kausar disuruh sms beliau vital sign pasien kamar 7 bed 4 ya” kata dokter febri

“iya dok”. Pasien k7b4 itu pasien ku, armia m ali namanya. Sudah dirawat selama 11 hari dengan diagnosa kanker paru yang sudah bermetastase dan ca. Mammae. Kondisinya menyedihkan. Kurus sekali dan setia dengan nafas yang lambat tapi dalam. Beliau selalu ditemani anak laki-lakinya. Agus nama abang itu. dialah yang selalu mengurus si ibu. Mulai dari masalah makan, obat hingga urusan ke kamar mandi.

Aku langsung ke sudut kamar, tempat ibu armia berada. Sesampai disana Aku terkejut. Beliau setengah tertidur. Aku bangunkan beliau apatis, aku tensi darahnya tepat 90/60. Aku mulai deg degan.

Kenapa? Pasien ini baru 1 hari aku pegang dan aku tangani. Sebelumnya dia biasa saja, walau tetap nafasnya satu satu dan sudah sedari dulu di evaluasi ketat perjam. Malah semalam followan nya di longgarkan menjadi per 4 jam. Perbaikan bukan?yah, walau pun jika dinilai dari segi diagnosa, prognosis ibu ini tidak baik, tapi kita bukan Tuhan bukan? Terus berusaha.

Beliau juga masih semangat. Seperti kemarin saat dr. Kausar menjelaskan tentang penyakitnya. Si ibu mengangguk kuat ketika dr, kausar bilang “dari segi kesehatan memang sulit tapi kita tetap berusaha mencari obat, ya kan buk?”. Beliau menganggung kencang, yakin sekali akan sembuh. Tapi sekarang? Hemodinamiknya tidak stabil.

Setelah melapor pada dokter jaga, beliau di guyur cairan dan di cari penyebab mengapa hemodinamik nya menurun. Langsung saja di ekg, periksa gula darah, elektrolit dan agda. Dan beliau tetap di evaluasi setiap 15 menit.

Di menit pertama tidak ada perubahan tapi di 15 menit kedua beliau sedikit membaik. Aku terenguh, sedih sekali melihat ibu armia dengan anaknya. Di pojok kamar beliau setengah duduk, dengan nasal kanul di hindungnya.

Beliau menggenggam tangan anaknya seolah berbisik nak dada ku sakit. Si anak dengan hormat memengang balik tangan yang sangat kurus itu. mengangguk takjim mendengar rintihan ibu nya. Di dekap ibu nya dengan kuat. Entah lah, entah apa percakapan antara mereka berdua.

Ibu armia yang sangat penyabar dan yakin itu sore ini merengguh hati ku. Mereka berpelukan dalam sedih yang sangat dalam, sesaat dunia begitu syahdu sore itu. pelukan itu seperti pelukan perpisah yang saling menenangkan. Aku menangis. Selama aku melihat orang yang meninggal di rumah sakit, baru kali ini aku terengguh. Entah kenapa. Ya Allah berikan terbaik untuk ibu armia. Amin

Namun, beberapa jam kemudian janji Allah dengan beliau datang. Selamat jalan ibu amia. Walau kita tidak pernah saling mengenal, aku tau ibu orang baik.

Petuah di Anestesi

13/10/2013

Camera 360

Uuuu. Aku sedang di IGD, jaga anestesi untuk minggu ke 4. Seminggi tambahan karena aku remedial.

Hari ini hari terkahir. Jaga bareng adek adek cetar kayak dek nong, eep dan putri. Ngak berhenti ketawa kalau sama mereka. Hmmm.

Sore harinya kami ujian bersama dr. Imai di ruang kerja beliau. “jadi, Prinsip di bagian anestesi itu satu, kalau kalian udah masuk kemari seharusnya jatah kalian lulus, tapi kalau tidak lulus berarti kalian bermasalah”, kata dokter imai.

Kami terdiam. Aku, bg jeri, dan kak sri duduk berhadapan dengan dokter imai saat ujian remedial. Kami pesakit yang bermasalah di anestesi sedang di sidang. Begitu dibilang semikian aku semakin ciut. Tapi Yah memang.

Rencananya beliau memang Mau menguji. Tapi alhasil kami tidak di uji tapi diceramahi Panjang lebar tentang dunia koas ini. Dunia yang kalau dipikirkan aneh. Usia udah 23 tahun tapi masih wajar kalau di marah marahin. Istilahnya di marahin udah tua gk di marahin nyebelin.

“kamu kenapa tidak lulus mutia?” tanya beliau

Aku menjelaskan kenaasan yang aku alami.

“yah, gemana ya, walau asalannya konyol tapi kita bisa buat apa. Makanya jadi koas jangan asal asal. Kalau kalian asal asal saya juga bisa asal. Padahal di koas ini lah tempat kalian belajar. Karena kalian masih dibimbing. “

“semakin kita besar tujuan belajar kita itu bukan sekedar nilai. Kalau kalian belajar Cuma untuk nilai maka kalian akan dapat nilai. Tapi kalau kalian mau bisa kalian harus belajar lebih. Bisa bayangin kalau kalian udah Spesialis anestesi tapi gk bisa bius? Nah, itulah bedanya. Makanya jangan pernah main main dalam belajar. Belajar yang serius. Dan yang paling penting dalam koas itu kalian harus on the rool.

Kami terdiam.

“terus kalian harus ikhlas. Cobalah kalian jalani semua dengan marah marah, capek kan? Tapi kalau semuanya dilakukan dengan ikhlas maka semua mudah. 20 tahun yang lalu saya juga seperti kalian. Saya juga sudah merasakan gemana rasanya koas. Jadi harus serius.

Kami terdiam.

“koas itu ya, memang tempat muara marah. Saya paling suka marah sama koas. Tapi ya gemana yah. Misalnya dulu saya pernah suruh beli martabak 5 buah terus saya kasih uang 100 ribu. Kalian tau apa yang dibeli sama koas? Martabak telor seratus ribu. Banyangin berapa banyak? Mau saya marah tapi yaudah, gk marah saya udah malu. Itu koas.

Hahahahahaha. Kami tertawa.

‘yaudah, ingat yang saya bilang. Belajar serius untuk diri sendiri dengan ikhlas dan tidak asal asal. Udah kalau kalian saya uji pun kalian pasti ngak bisa”

“udah, ujian hari ini selesai”.

Kami sekali lagi terdiam. Diam yang penuh patuh. Setelah minta izin kami pergi meninggalkan ruang kerja beliau. Hari ini jumat, sore, dengan matahari yang hangat, dokter imai, kami, semua kesalahan, semua penyadaran, anestesi, dan adek koas. Semoga kami bisa menjadi yang terbaik. Amin.

fatir vs cintani

Kembali dengan cerita “fatir dan cintani”. Kenapa? Karena seperti kebanyakan anak anak, cerita mereka selalu menarik untuk diceritakan.

Seperti kebanyakan anak laki laki, menurut ku fatir ini adalah abang yang “usil” dan cintani adalah adik perempuan yang “lugu”.

Salah satu kebahagian mereka adalah “jajan”. sebanyak apapun makanan dirumah, tawaran jajan jauh lebih menggiurkan. Apakah hanya sebungkus coklat, sanck yang besar bungkusnya saja, permes,eskream, apapun itu, mereka akan tetap bahagia.

Nah, lugu nya cintani disini. Dia anak bungsu. Perempuan dan sedikit manja. Jadi, jika ayahnya mau pergi bekerja, kadang kadang sifat manjanya muncul. Aku sebut “meuheng heng”. Hmmm. seperti meringis ringis. dia sering begitu. Cara menghentikan “heng hengan” itu adalah dengan beli “jajan” tadi. Diantara cintani vs fatir, cinta lebih sering mendapatkan momen ini. Dan disetiap kesempatan dia tidak pernah melupakan abangnya.

Jika beli snack, biasanya dua. Jika beli permen biasanya pas untuk di bagi dua. Atau jika dia beli sesuatu pasti akan ada yang akan di bagi dengan abangnya. Sedangkan abangnya? “sering tidak”. Jadi momen ini sering memicu perkelahian jika yang “jajan” adalah abangnya.

Suatu hari mereka di beli es kream oleh ayahnya. Bentuk dan ukuranya sama. Mereka makan bersama.

“yok makan dek”, kata si fatir.

Cintani dengan lugu memakan es creamnya. “makan lagi yok”. Ajaknya. Suap demi suap. Hingga es cream di mangkuk cintani tinggal seperempatnya.

“jeh, abang kok belum habis”, kata cintani setelah mengintip mangkuk escream abangnya.

“hahahahahaha”. Fatir tertawa licik.

Dan heng hengan itu berbunyi.

“mak, abang jahat kali. Tadi dia ajak makan es cream sama sama. Tapi waktu adek makan dia ngak makan. Jadi punya adek udah mau habis punya dia masih banyak”, cerita cintani sambil meuheng heng.

Hahaha, aku tertawa saja dalam hati, usil sekali anak 8 tahun itu. Teganya mengadali adiknya yang baik hati

Walau begitu, setelah urusan ec cream itu selesai, mereka kembali main bersama. Akur sesekali lagi lalu gaduh lagi.

Nah, waktu itu aku mau pergi. “mau ke mana anda?” tanya cintani.

Santai aku menjawab, “kepasar”. Sesaat heng hengan muncul. “adek ikot juga”, kata cintani.

“ngak bisa”, jawab ku. Susah bawa anak anak ke pasar.

“kalau ngak kasih uang untuk adek”, kata cintani.

“kok udah mirip preman adek?”, kataku. Tapi aku tetap memberikan uang pada nya. Lalu bersiap pergi. Belum selangkah aku beranjak. Bunyi heng hengan terdengar. Buru buru aku masuk.

“kenapa?”. Tanyaku.

“abang pukul adek”, jawab cintani.

“kenapa fatir, pukul adek?”. Dan fatir menjelaskan. “dia ambel uang abang. Jadi uang yang anda kasih untuk dia, dia kasih untuk abang. udah dia kasih dia ambel lagi”.

Hutf. “cintani, kenapa kasih uangnya untuk abang?”, tanyaku. Dan cintani diam seribu bahasa. Mungkin dia “sayang” abangnya tapi sesaat kemudian berubah pikiran. Ah! Akhirnya aku memberikan lagi uang kepada cintani. Jadi seri. Si abang dapat dan si adek juga.

Begitulah cintani. Adek perempuan yang lugu.

Suatu hari pernah si abang request padaku membuat es batangan.

“fatir cari karet gelang biar anda ikat plastik es nya”, kataku.

Fatir langsung mencari karet gelang kemana mana. Hingga akhirnya dia memanjat lemari yang berisi gelas. Dia anak laki laki kampung, geraknya sudah pasti gesit. Tapi, cintani mengomel. “jeh abang ini, jangan manjat manjat”, katanya.

Diambilnya kursi makan dan diletakkan di bawah lemari tadi agar abangnya bisa mendarat dengan tenang. Ah anak kecil yang imut sekali.

Tapi abangnya ya begitu. Suatu hari aku pernah menyusuh fatir mengambil air minum untuk adiknya.

“ini air adek”, katanya dan pergi sambil tersenyum lebar sekali.

Si adek langsung minum. “aaaaak, apa abang ini”. Katanya sambil menjerit.

“kenapa?”tanyaku.

“air yang dikasih abang panas”, katanya.

Hahahahahahahaha. Fatir!!!!! Aku segera mencampurkan air itu agar panasnya hilang. Usilnya tidak pernah usai. kasian adik kecil yang masih 5 tahun itu.

Tapi sekalai lagi, walau selalui di usili tetap saja cintani tidak pernah lelah berbuat baik pada abangnya. Dia sayang abangnya. Padahal saat mereka akur, mereka bisa tertawa seperti ada 6 orang bersama. Seru saja melihatnya. Tertawa yang entah karena alasan besar apa. Terus ribut lagi, heng heng lagi, kena timah panas mamaknya, kabur bermain, pulang dan akrab lagi. Tidak terbayang jika posisi di ubah, cintani yang menjadi kakak dan fatir yang menjadi adik. Hahahahahahaha. Terus tumbuh jadi anak baik ya sepupu kece. Semoga semakin besar, fatir bisa menjadi abang yang terus melindungi adik lugunya. Amin. Banda aceh 23 mei 2015.

stase kedua kami

Bagian ke dua koas adalah pulmonologi. Seperti yang sudah aku ceritakan, bahwa disetiap stase akan ada baca referat, jurnal atau kasus yang akan di akhiri oleh ujian. Nah, dibagian ini kami mengalami hal yang sama. Baca referat dan ujian. Bedanya di bagian ini, dokter yang membimbing baca referat juga akan menguji ketika ujian nanti.

Aku mendapat pembimbing referat dokter maimunah. Dokter cantik, imut imut dan tepat waktu. Berjodoh dengan maya. Pembimbing kami sama. Sedangkan teman sekelompok koas ku, leli dan pepe pembimbing referatnya adalah pak dekan. Dokter mulyani, dokter yang wanginya subhanaallah hingga aku sering mengekor dibelakangnya ketika visite.

Langsung saja kami menemui dokter maimunah selesai visite.

“maaf dokter, saya maya zammaira koas pulmo minggu 1. Pembimbing referat kami adalah dokter”, kata maya pelan.

“kamu?”, tanya dokter maimunah sambil menatap ku.

“saya mutia dokter, pembimbing saya juga dokter”, kataku.

“hmm, apa ya judul kalian”, beliau berhenti sejenak. “yasudah tentang farmakologi obat tb dan satu lagi farmakologi obat kanker paru. Terserah kalian mau yang mana”, kata dokter maimunah.

“terima kasih dokter”, kami mengucap terima kasih dan dokter maimunah berlalu. Hanya tinggal aku dan maya dengan secarik kertas bagi dua. Kami ingin mengundi siapa yang kena obat tbc dan siapa yang kena obat kanker. Dan aku mendapat tbc, sisanya maya.

Hingga minggu pertama usai aku belum menyentuh bahan referat. Beda dengan maya.

“udah sampek mana may referat qe?”tanya ku dari balik pintu.

“bab 2 tapi masih definisi mut”, katanya.

“qe?” tanyanya.

“belum may, capek x. Pulang jaga malam langsung tidur”, jawabku.

“buat terus mut. Awal minggu tiga kita baca kalau ngak, ngak bisa ujian”, jelasnya.

Aku terbakar. Harus, referat ini harus segera siap. Maya saya sudah kemana mana. Iyes, dialah panutanku. Yang selalu mengingatkan disaat aku sudah melenceng. You are the best may.

Selanjutnya di waktu waktu tanpa jaga, aku berjibaku dengan laptop dikamar dan maya juga melakukan hal yang sama di kamarnya.

“mut, hari ini kita konsul ya”, kata maya di hari rabu,

“hmmmm”,aku cuma bisa bergumam ragu.

“nanti kan di baca mut terus pasti ada yang harus kita revisi sama dokter mai, kalau bisa jumat udah acc naik baca referat kita”, jelasnya. Peraturannya memang begitu, baca dihari senin minggu ketiga setelah itu baru bisa ujian. Sabtu dan minggu hanya dokter jaga yang datang jadi tidak ada konsul referat di hari itu.

“oke may”, jawabku, padahal referat ku belum berbentuk. Bismillah saja.

xxxcc

Berjodoh, dokter maimunah visite hari itu. “nanti ke praktek saya saja ya”, katanya. Kami mengangguk.

Sore tiba, ketika banda aceh diguyur hujan rintik rintik aku dan maya dengan langkah tegap menuju tempat praktek dokter maimunah tercinta.

Begitu tidak ada pasien, kami masuk. Dokternya? Baik. Alhamdulillah.

“yasudah ini kalian perbaiki, kalau sudah siap emailkan ke saya ya”, katanya.

“baik dokter”, jawab kami. Lalu berpamitan.

“alhamdulillah ya may, dokternya baik”, kataku.

“iya mut, untung tadi kita nekat aja konsul padahal referat aku belom bagus bagus x”. Katanya.

“iya, yaudah masih ada waktu kita buat yang bagus, jangan kecewakan dokter maimunah may”, kataku.

“iyes”, dan kami tersenyum bersama. Walau langit mulai menggelap karena malam datang dan hujan turun tidak bereda, hati kami tetap bahagia malam itu.

xxxxx

Alhamdulillah setelah revisi, bolak balik mengirim email yang gagal, baca diundur hari selasa. Tapi akhirnya siang itu kami selesai baca.

Setelah membaca tampak gurat bahagia di wajah dokter may.

“bagus presentasi kawan kalian, ada yang mau bertanya?” kata dokter maimunah.

Hening.

“sepertinya sudah jelas semua tadi ya, yasudah jadi obat tb………… Dan obat kanker……”, dokter maimunah malah memberi penjelasan. Sesekali membenarkan apa yang telah kami sampaikan dan sesekali menambah informasi.

“baik saya tutup baca referat. Kalian ujian hari kamis ya. Assalamualaikum warrahmatullahiwabarakatu”. salam dokter maimunah dan beliau meninggalkan ruang baca referat.

“Waalaikum salam, baik dokter”, jawab kami hikmat.

xxxxxxx

“alhmadulillah may, usaha kita”, kataku saat ruang baca mulai sepi dan hanya tinggal aku dan maya disana. Membereskan perlengkapan baca tadi.

“iya mut, dokter maimunah senang”, kata maya sambil mengancungkan jempolnya. “tapi kita masih ada ujian mut”, sambungnya.

“iya may. Kita harus belajar giat”, kataku

“iyes”, dan kami akhirnya tersenyum bersama.

xxxx

Kamis tiba. Kami ujian selama 1 jam. Pertanyaan seperti bola di gilir. Dari aku ke maya lalu dari maya ke aku hingga kami lelah dan tidak bisa menjawab. Apa yang terjadi hari itu antara aku, maya dan dokter maimunah biarlah hanya kami dan allah yang tau.

Tapi apapun itu, siang setelah selesai ujian kami sama sama merasa bodoh , lucu, geli tapi alhamdulillah dan berjanji cerita ini hanya akan jadi milik kami berdua. Hanya kami berdua. Terima kasih dokter maimunah dan tima kasih ya Allah. esok lusa saat sesekali diantara kami mengingat kisah ini pasti akan berkomentar “aku gelik kali hari itu”. Hahahahahaha.

Semoga berkah. Amin

“selamat”

“Selamat”. Selamat wisuda dan selamat menjalani koas.

IMG_35619120426881MOmen paling ditunggu setelah kuliah adalah wisuda. Alhamdulillah akhirnya 10 mei 2012 kami diwisuda sarjana kedokteran. Dan itu artinya kami siap untuk menjadi dokter muda setelah wisuda selesai.

Seperti semua wanita yang akan diwisuda, kami sibuk mencari perlengkapan wisuda. Apalagi kalau bukan masalah jahit baju. Sejujurnya moment ini tidak begitu aku sukai dari rangkaian wisuda. Mencari bekal baju dan mencari model baju. Ribet. Andai saja wisuda cukup dengan baju seragam dan ditutup toga. Betapa menyenangkan wisuda itu.

Oleh karenya, aku dan maya sibuk membuka internet, instagram, atau majalah hanya untuk mencari model baju. Akhirnya ketemu. Modelnya biasa saja. Blus biasa. Setelah menentukan model berangkatlah kami kepasar. Dan seperti biasa masalah beli membeli ini selesai.

“yang ini cantik may?”, tanya ku.

“gedek gedek kali bunga rendanya mu, nampak tua”, katanya.

“kalau yang ini?”, tanya ku. Sambil menunjuk kain renda warna mirabella penuh dengan bunga bunga. Sebenarnya kain renda itu tidak jauh berbeda, ujung ujungnya kembali kepada paduan model jahitannya dan siapa yang memakainya. Tapi tetap saja bingung ketika memilihnya.

“ngak ok mut”, kata maya. Seperti yang sudah aku katakan. Urusan yang satu ini aku tidak ahli, jadi aku serahkan kepada ahlinya. Maya. Dia yang selalu tampil modis dan selera matanya keren.

Akhirnya setelah keliling pasar dan geleng geleng kepala, kami menemukan kain renda pink berpadu biru. Dimataku itu sudah sangat keren.

“aku biasa aja mut sama kainnya, tapi kalau qe suka beli aja”, itu katanya.

Aku sudah lelah mencari, ah biarkan saja yang ini. “oke may”. Kataku.

xxxxxx

Hari H tiba. Sebernya untuk urusan wisuda ini tidak hanya selesai pada tahap menyiapkan baju tapi juga menyiapkan penata rias. Hahahaha. Ribet. Urusan ini bukan sekedar di dandan selesai. Tapi ini urusan bangun pukul 3 pagi untuk berangkat ke tempat rias. Kenapa? Karena mengantri dan siapa cepat dia yang akan di siapkan duluan. Terlambat datang? Terlambat di make up dan terlambat ke tempat wisuda. Ah.

Di pagi hari H kami mendapat telpon bahwa yang akan mendandani kami tidak bisa datang. Seperti kebakaran jenggot pagi itu. Telpon sana dan telpon sini. Hanya tinggal 3 jam lagi. Tapi alhamdulillah ada tempat rias yang tidak begitu jauh dari rumah yang masih kosong. Sekejap. Hanya sekitar 20 menit selesai. Dan wajah kami berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa aku katakan.

Kami akhirnya berangkat. karena mamakku sedang sakit dan tidak bisa pergi sedangkan ayah maya sedang dinas ke luar kota, maka hari itu kami adalah sisa kelurga yang sebenarnya sedih anggotanya tidak lengkap tapi bisa saling melengkapi. Iyes. Kami berangkat berempat ke tempat wisuda.

Adku suka momen wisuda. Bagiku itu moment yang sakral. Tapi karena harus pakai baju bling bling, di dandan dengan bulu mata yang mengalahkan kemampuan otot levator palpebra, belum lagi sanggul yang mengalahkan gunung selawah, beratnya itu bikin sakit kepala ditambah lagi dengan high heels. Oh my god. Aku sering lelah menjalaninya.

xxxx

Prosesi 3 jam itu, alhamdulillah selesai. Alhamdulillah 3,5 tahun masa kuliah telah kami lalui dengan banyak suka dan duka. Bersama maya dan bersama gang bebek. Ada aku, maya, fikri, momo, nona, nyanyak, pi, pes, chaha, uci. Sebenarnya bukan gang, tapi karena kami sering bersama kemana mana makanya kami mirip anak bebek belum lagi kami semua naik motor metik. Lengkap sudah.

Siapakah mereka? Bukan orang lain, mereka adalah teman teman satu SMA. Hahahaha. Sebenarnya hal ini lemah sekali, masak sudah kuliah temannya itu itu saja. Iyes. Tepat. Kami berasa kerdil. tapi disinilah kami mendapat kenyamanan.

Tapi setelah wisuda ini selesai dan kami menjadi adek koas, pertemanan ini mencari muaranya masing masing. Karena waktu tidak selamanya mengizinkan kami bersama selamanya dan terus berada dalam zona aman ini. Iyes, setelah memasuki koas gang bebek hanya tinggal nama. Tapi dimanapun kalian, we still bestfriends. Aku dan maya? Tetap. Dan akan tetap bersama selama kami bisa.

Selesai proses wisuda, kami berfoto foto bersama. Sejenak. Foto tidak terlalu banyak karena kami tau insyaallah 2 tahun lagi kami akan menjalani hal yang sama lagi. Selanjutnya semua kembali kepada orang tua dan keluarga masing masing. Melanjutkan acara syukuran wisuda ini dengan cara sendiri sendiri. Begitu juga dengan aku dan maya. Kami pulang ke rumah setelah makan.

xxxx

Wisuda selesai, dan proses menjadi dokter muda, menjani pendidikan profesi selama 2 tahun siap kami jalani. Bismillah.

“besok kita mulai koas mut”, kata maya sambil memasukkan baju kedalam tas ranselnya. Bagian pertama kami adalah anak, dan di hari pertama maya langsung jaga malam.

“iya may, hadapi aja”, kataku. Walau sejujurnya ada getir dari kata “hadapi” saja.

“iyes, bismillah”, katanya. Dan sekali lagi kami tersenyum bersama.

“kita pasti bisa mut”, tambah maya. Aku mengangguk dan untuk kesekian kali kami tersenyum bersama.

Terkadang dengan meilhat semangatnya aku jadi semangat. Dan untungnya dia adalah sosok yang jarang mengeluh. Selelah apapun dan sesulit apapun jarang sekali dia mendesah tentang dunia. Walau dia tidak energik dan menggebu gebu dalam melakukan sesuatu, tapi yang pasti apapun itu dia akan menyelesaikan apa yang telah dia mulai tanpa pernah menunda dan mengeluh tentang itu. Pasti.

Bismillahirrahmanirrahim kita pasti bisa. Tanah baru, bogor 12/3/15

morning report terakhir

7 februari 2014

ruang mr tercinta.

Selesai MR
Selesai MR

hellllo, ini mr terakhir kami di penyakit dalam. Aku duduk disudut ruangan, ditemami matahari pagi dari balik jendelanya. Hangat sehangat suasana di dalam sini. Ada banyak teman disini, mulai dari teman seleting, adek leting, hingga kakak leting yang bentar lagi mau jadi dokter sejawat alias mau tamat.

Mr, alias morning report, adalah aktivitas rutin setiap pagi seminggu 5 hari. Disini kami mempresentasikan kasus semalam. Mulai dari pasien igd hingga pasien ruangan. Disinilah kebodohan kami muncul. Tapi inilah proses belajar, belajar dari ketidak benaran, agar kali depan bisa lebih pintar.

mr pertama mengerikan, di buka dengan dokter hendra yang marah marah karena slide mr gk siap. Sebenarnya slidenya udah siap tapi karena yang buat tiba tiba sakit maka terhentilah semua. Mr pertama kesannya seram. Namun itu hanya awalnya saja, karena setelahnya mr adalah hal biasa, dokter nya baik, lebih banyak mengayom dari pada marah marah.

Seperti dr riswan bilang “BUAT APA SAYA MARAH MARAH, ILMU UNTUK KALIAN GK ADA”. Love you dokter.

Mr paling terkesan itu, mr bersama dokter kurnia. Helllo mr kami 3 jam. Ilmunya memang gk banyak, tapi motivasinya luar biasa. Aku rasa beliau satu satu nya dokter yang tau semua kisah klise hidup kami.

Mulai dari kisah cito, tidur sepulang jaga, dan retetan keluhan kami. Misalnya “SAYA TAU KALIAN CAPEK, BELUM PUN PULANG UDAH DI TELPON ADA CITO. Kapan belajar nya?”. Kami sontak ketawa. Itulah adanya kami terlalu sering mengeluh dari pada berusaha, dan lebih sering bicara dari pada belajarnya. Oh mahasiswa yang penuh dilema.

Diakhir mr yang menggebu itu beliau berpesan, tetap semangat tetap belajar, hidup tidak seberat yang kalian pikirkan. Huft siang itu aku jaga malam, tapi semua kantuk memguap.

mr selanjutnya yang paling asik itu dengan dokter zaki mubarak. Dokter idola sejuta umat. “BERAPA SEDIAAN METFORMIN?”, kami terdiam. Oh helllllo, ngapain aja selama ini. Aku terpukur di atas sejadah. Oh waktu tu ku, oh perhatian ku oh oh oh. “belajarlah dari kasus, kami sama seperti kalian, tapi tetap sempat belajar. Tetap belajar, jangan cuma dapat capeknya aja”, BELAJAR DARI KASUS, KALAU UDAH TAMAT KALIAN GK BISA BALEK LAGI UNTUK BELAJAR DISINI, kecuali jadi PPDS”. Katannya. Wah, menusuk hingga ke tulang. Dan kami mulai terbakar.

Namun, Tetap pahlawan yang asik untuk di dengar itu dr hendra zufri. Hmm, terlepas dari semua yang udah terjadi, kalau dengar mr sama beliau dan fisit sama beliau pasti menyenangkan. Asal jangan kena tanya jawab aja. Hahahahaha

Kalau dokter nya gk datang inilah saat nya kami berekspresi, terutama yang jaga semalam, ini lah waktu yang paling tepat untuk tidur. Semuanya. Dengan semua gaya yang kami punya. Ini keahlian alam yang tidak perlu di pelajari sungguh sungguh. Ada yang bisa tidur sambil menunduk, ada yang menengadah kepala keatas, menutup wajah ke atas meja kursi, atau bersandar di dinding. Ada ada saja.

Nah, MR terakhir ini di bimbing oleh dokter kurnia, dan sekali lagi kami terbakar. Terima kasih penyakit dalam, terima kasih dokter pembimbing yang baik hati, para ppds, perawat, PDP, PDW, IGD. Terima kasih ya Allah untuk kesempatannya, semoga ilmunya berkah. Amin.

jaga IGD penyakit dalam

22 januari 2014. Minggu ke enam di penyakit dalam.

Akhir minggu ke 5 aku tutup dengan jaga malam di igd. Lanjut jaga dari wajib hadir di igd. Jadi hari itu ak stay di igd selama 18 jam. Dan selama itu pula lah silih berganti pasien datang, dengan beragam macam keluhan dan kondisi. Mulai dari pasien bedah yang mengalami crush injury sampai hanya adek adek kejedot pintu.

Tim jaga malam itu, aku, winda, dan si dagu ayu radian. Ppds yang jaga dr indra, dr rahmi dan dr yeni.

Pasien pertama datang seorang ibu usia 48 tahun datang dengan keluhan lemas. Pasien menderita dm tipe 2 normowight wellcontroled. Setelah di cek gds pasien 500, lalu setelah diberi insulin gds membaik dan pasien berobat jalan. Setelah itu sore kembali lengang di meja penyakit dalam.

Hingga tiba tiba seorang pasien masuk laki laki 67 tahun. Perawakannya besar dan mirip orang india. Setelah anamnesis katanya nenek mereka yang keturunan india. India aceh. Pasien ini datang dengan penurunan kesadaran ec hipoglikemi karena pengunaan glibenklamid. Oh gliben! Ini kali ke 5 aku kembali berjumpa pasien diabetes yang tiba tiba terkena racun dunia tidak sadar gara gara glibenklamid. Dan rata rata pasien mendapat gliben dari apotik alias beli sendiri. Hehehe.

Well, bapak ini punya masalah selain karena dm nya ternyata beliau pucat. Kentara sekali pucatnya. Dan hasil lab menunjukkan hb pasien adalah 4,5. Dari anamnesis tidak dijumpai sumber perdarahan. Tidak ada luka, hematemesis, atau melena, tidak ada tanda menuju penyakit kronik seperti gagal ginjal yang membuat eritropoitin tidak terbentuk, dan tidak ada riwayat transfusi sebelumnya.

Selesai anamnesis rektal tause ambel bagian. Segera saja dr, indra memainkan jari jemarinya. 3 menit rt selesai dilakukan, dan tidak ada melena dari hand scon yang menganga. Untuk sementara penyabab hb pasien rendah masih menjadi tanda tanya. Akan dilakukan work up lanjut untuk mencari etiologi penyakit nya.

tapi 5 menit setalah rt dilkukan, bapak tadi langsung bangun dari tidurnya, lupa tali infus yang dipasang di tangannya tidak boleh tertarik, beliau seolah kalap, ingin cepat cepat beranjak. Ternyata perutnya mulas dan ingin buang bair besar segera. Karena tidak cepat tanggap, akhirnya feses pasien menetes netes di sepanjang lantai hingga ke kamar mandi. Hahahaha. Rt yang menginduksi bab.

tengah malam pasien selanjutnya masuk. Wanita 56 tahun denga diare akut. Dari anamnesis ditemukan mual, muntah, nyeri perut, dan tenesmus. Pemeriksaan fisik ditemukam pasien dehidrasi sedang. Setelah direhidrasi kondisi membaik. Dan pasien siap di dorong ke ruangan. Nama pasiennya aisyah.

Lalu masuk lagi pasien selanjutnya. Begitu terus hingga pukul 5 pagi. Dan hari itu kami hanya tidur 1jam.

Setelah salat kami bergegas mandi, follow up pasien dan ikut morning report. Begitu hingga penyakit dalam selesai dan terus begitu hingga koas selesai. Bismillah saja. Semoga membawa banyak berkah. Amin.

Esok lusa, jika aku kembali ke IGD ini, semoga ilmu ku lebih mantap