cinta di tas merah jambu

Kisah ini tentang sepasang suami istri. Namanya wak nah dan wak is, itu panggilan mereka. Dua duanya adalah patner ayah dan mamak. Wak nah biasa membantu mamak urusan mencuci dan menggosok baju, sedangkan wak is sering membantu ayah membersihkan kebun yang tidak seberapa itu atau sekedar memperbaiki perabot rumah yang mulai rusak. Beliau ahli dalam urusan yang satu ini. Kalau wak nah biasa kerumah setiap 3 hari sekali, kalau wak is sesuai kebutuhan. On call istilah kerennya.

Mereka sudah menjadi patner orang tuaku sejak aku kecil hingga sekarang. Artinya mereka masuk dalam kehidupan kami sudah terlalu lama. Begitu juga sebaliknya. Banyak hal diantara kami yang pada akhirnya berakhir dengan saling memaklumi. Salah satunya adalah kondisi wak is yang punya istri dua. Kami sama sama tau dan tidak pernah mengusik tentang itu.

Jadi, wak nah ini istri pertama. Dan seperti kebanyakan kisah rumah tangga dengan istri lebih dari satu, pasti akan ada cerita berbagi jatah pulang. Begitu juga dengan wak is terhadap wak nah. Apalagi dengan status wak nah sebagai istri pertama maka jatah pulang beliau biasanya lebih sedikit. Sedihkan? Iya, menurut ku wak nah luar biasa, mampu berbagi hati. Karena kalau aku dibegitukan? Oh tidaaak, cukup sampai disini saja, angka cemburu ku besar dan aku tidak punya hati selapang samudra.

AKu sering memperhatikan, Kalau wak nah sedang ada dirumah dan kebetulan wak is datang, mereka saling berbicara tapi sangat irit. Seperlunya saja. Saling memandang juga jarang, masing masing sibuk dengan urusannya. Bahkan pergi berdua saja adalah pemandangan yang langka. Seperti ada batu es besar diantara keduanya. Dingin. Tapi, kembali pada pembicaraan awal “pada akhirnya kami saling memaklumi”.

Tapi ada cerita yang sedikit berbeda. pada suatu hari saat wak nah sedang mencuci, wak is datang tiba tiba karena ayah meminta bantuan beliau memperbaiki lemari yang sudah keriting direndam banjir 4 hari 4 malam. Seperti biasa, wak is datang lengkap dengan tas tukangnya yang berwarna coklat dan tas pink tambahan berisi gergaji mesin, palu, paku, dll, Sepertinya baru dirumah kami mereka bertemu. Hahahahaha.

Begitu bertemu, seperti cerita tadi. Hanya ada sapaan singkat, pembicaraan sepatah dua patah kata yang aku tidak jelas isinya apa, selanjutnya hening yang panjang. Yang satu sibuk dengan kain sedang yang satu sibuk dengan kayu padahal jarak mereka hanya berpisah 3 meter.

Waknah, pulang cepat hari itu. Karena setelah mencuci tidak ada tumpukan kain yang harus di gosok. Sedangkan wak is pulang lebih lama. Urusan lemari itu tidak sesederhana yang terlihat, pintunya tidak bisa digu kana lagi. Jadi, wak is seharian mengukir pintu baru untuk lemari kesayangan mamak. Agak sore beliau baru selesai.

Begitu pulang beliau mengomel sendiri, dia bolak balik depan hingga ke belakang rumah. Seolah mencari sesuatu.

“nong, ada lihat tas alat wak is?”, tanyanya.

“ngak ada wak is. Tasnya warna apa?biar kita cari sama sama”, kataku. Ternyata beliau sedang mencari tas kesayangan.

“warna merah jambu. Ukurannya segini”, kata wak is sambil memberi contoh ukurannya tas nya.

“oke”. Kami akhirnya sibuk mencari tas itu. Melihat ke dalam “lungkiek” taman, di bawah kursi, di tong sampah, siapa tau tertinggal disana. Tapi hasilnya? Nihil.

“peu mita nong?”, mamak keluar tiba tiba.

“tas merah jambu wak is”, kata ku.

“nyan hai, ateuh jemuran. Di rah le wak nah beunoe”.jawab mamak pendek dan berlalu.

“oh yaaaa”, wak is langsung mengamankan tas merah jambu kesayangannya dari jemuran. Lelah di cari ternyata tasnya sedang berjemur ria. Sudah bersih dan kembali cantik. Dimasukkan semua perkakas beliau kedalam tas tadi. Aku sempat melihat rona wajah yang berubah seketika, aku juga sempat melihat Ada senyum sekilas di wajah itu.

“ah, wak nah ngak bilang bilang”, kataku.

“iyes”. Jawab wak is pelan. Lalu berlalu, pulang. Dengan tas coklat dan merah jambunya barunya. Langit mulai merona merah bercampur jingga.

Ah, sungguh luar biasa wanita dan sesuatu yang bernama rumah tangga itu. Sebegitu di bagi cinta tetap saja dia yang bernama wanita, menaruh perhatian dalam diam. Siapasih yang perhatian sebegitunya dengan tas merah jambu berisi peralatan tukang yang berceceran di lantai, lalu memungut dan mencucinya? Pasti ada sayang yang tidak terkira disana. Sayang yang tidak bisa dilukis dengan banyak kata dan kadang justru rasa sayang yang harus diredam agar tidak lebih menyakiti karena berharap terlalu banyak.

Apa alasan wak nah bertahan selama ini? Aku rasa karena rumah tangga yang didalamnya ada anak anak yang sangat dia cintai.

cinta memang banyak bentuknya Bahkan dalam sebuah tas merah jambu. Blang krueng, 29 september 2015.

Advertisements

pohon rindang

ÌUntuk laki laki paruh baya yang aku kenal selama 24 tahun.

Dialah laki laki pertama yang aku kenal. Laki laki yang tatapan matanya memang tidak sehangat matahari tapi aku tau di dalam tatapan mata itu ada kasih sayang. Kasih sayang yang tidak bisa aku lukiskan dengan kata.

Bagi ku, dia seperti pohon rindang di tengah padang tandus. Yang ketika aku takut kepanasan, sedang kehujanan, maka aku akan kesana. Dan seperti pohon yang tidak berpindah, dia selalu ada. Selalu siaga disana.

Padahal, hey! Umur ku sudah 24tahun. umur yang seharusnya diusia itu aku sudah “mandiri”. Tapi, dia tetap seperti pohon rindang bagiku.

Beberapa bulan lalu, surat izin mengemudi ku sudah kadaluarsa. Berkali kali dia bilang “nanti kita buat sama sama waktu ayah ada waktu ya”, katanya.

“tidak usah yah, adek bisa sendiri”, kataku.

“nanti adek bingung disana, pergi sama ayah aja”, jawabnya.

Akhirnya walau sempat tertunda selama seminggu karena ayah tidak punya waktu, senin pagi kami sampai juga ke kantor polisi untuk mengurus SIM. Dia khusus minta izin kepada atasannya datang telat hari itu.

Diawal tahun ini kami juga tertimpa musibah. Banjir! Dan saat itu aku benar benar butuh perpanjangan KTP. Dia cuma bilang “tenang, kita pasti keluar dari sini dan bisa perpanjang KTP adek”.

Benar saja, dua jam bergelut meminta bantuan akhirnya kami selamat. Begitu sampai di tempat pengungsian, ditengah hujan yang masih turun rintik rintik dia memenuhi janjinya. “ayo kita ke kantor camat urus KTP adek”.

Sejujurnya aku malu. Malu karena masih menyusahkan ayah di usiaku yang sudah segini. “ayah, maafin adek ya. Masih repotin ayah”, kataku lirih sambil menunggu KTP selesai.

“selama ayah masih sanggup dan mampu, ayah akan selalu ada disamping kalian”, jawabnya. Untuk seorang yang sering bercanda, jawabannya kali ini membuat bulu kudukku berdiri

Suatu hari aku pernah bertanya padanya. “ayah, atas semua “keterbiasaan” keluarga kita yang membuat kita sedikit “berbeda” dengan orang lain, mengapa ayah tetap bertahan selama ini?”

“apa yang udah ayah rasa, ngak boleh kalian rasa”, jawabnya.

Aku paham betul arti kata kata itu. Aku tau sedikit banyak tentang cerita kecil ayah. Tentang perjuangannya menjadi anak piatu dengan lima orang adik. Hidupnya tidak mudah. Ada banyak luka yang ketika diceritakan ulang olehnya tidak pernah menjadi haru malah menjadi tawa.

Ayah, terima kasih. Terima kasih untuk begitu banyak cinta yang tidak pernah terucap. Terima kasih untuk begitu banyak perhatian yang diam diam terus mengalir. Terima kasih untuk semua perjuangan yang tidak pernah kau umbar tapi terus terasa. Dan terima kasih untuk selalu ada untuk kami.

Semoga sehat selalu, diberi keberkahan umur, di berkahi setiap langkah oleh Allah. Ayah, doakan aku agar bisa menjadi pengganti pohon rindang bagimu. Yang ketika kau beranjak tua, aku bisa menjadi tempatmu berlindung disaat apapun, seperti kau selama ini bagi kami.

Ayah, sekali lagi terima kasih. mutia.. Banda aceh, 11 juli 2015.

Mirip seperti pohon rindang yang selalu kami datangi
Mirip seperti pohon rindang yang selalu kami datangi
Terima kasih dari anak dara yang ayah yang sedang tumbuh besar
Terima kasih, dari anak dara ayah yang sedang tumbuh besar menjadi pohon rindang

timun masak

Selain makanan, yang selalu di nanti saat berbuka adalah minuman segar. Dan dirumah akan selalu ada yang mengurusi hal ini selama ramadhan kali ini. Dia adalah paman ku. Setiap sore selalu check ke dapur. “air apa sore ini?”.

Pesannya cuma satu, harus dingin dan segar. Saat kami tidak peduli dengan urusan itu, biasanya dia akan turun tangan sendiri. Seperti beberapa hari ini. Dia pergi ke pasar sendiri, membeli semangka sendiri dan berpesan pada cecek ku untuk membuat minuman dingin. yang paling extream hari ini dia ke pasar sendiri membeli buah timun suri lalu si blendernya sendiri, di berikan sirup kurnia dan gula sendiri. Hahahahaha!

Apa yang menarik? Yang menarik adalah minuman dari buah timun suri tadi. Kami menyebutnya boh timon masak. Semua pasti tau buah ini kan? Tapi sejak bulan ramadhan, selain semangka buah ini adalah buah yang paling sering aku lihat. Di rumah, di pasar bahkan di sepanjang jalan menuju ke tempat kerja semua menanam pohon ini. Dia buah primadona saat bulan puasa.

Rasanya seperti gabus dengan bau yang khas. Biasanya buah ini disajikan dengan cara di kupas lalu di hancurkan dan dicampur dengan sirup cap patung yang terkenal itu dan gula sesuai selera. Sangat mengobati dahaga. Segar nya bukan main. paman bisa menhabiskan lima gelas setiap buka puasa dengan minuman ini.

Khasiatnya juga banyak!!!! Searching aja!

Tapi sebaiknya 2 gelas saat berbuka, 2 gelas malam dan 4 gelas sahur. Jangan gegabah minum banyak2 begitu berbuka. Alamat malas! Malas tarawihnya malas tadarusnya dan malas gerakanya.

Selamat puasa ke 6. Selamat berbuka dan semoga berkah. Nanti kalau punya rumah dengan pekarangan luas, sesekali aku akan menanam pohon primadona ini. Kuta baro 23 juni 2015.

Timun masak
Timun masak

meuhkeut kheut

Masih ingat fatir vs cintani? Sepupu kecenya aku? Iyes, sekarang ramadhan dan mereka sama seperti kebanyakan anak muslim lainnya dalam menyambut puasa.semangat ibadahnya full.

Jadi, begitu kami mau berangkat salat terawih di malam pertama suara heng hengan itu kembali semarak.

“lon jak shit, lon jak cit”, kata mereka. Awalnya mamaknya ngak kasih izin mereka pergi karena biasanya anak seumuran mereka kalau salat tarawih cuma 4 rakaat, sisanya main dan buat gaduh.

Lelah mendengar heng hengan,  mamaknya pun membuat perjanjian dengan mereka “jeut jak, tapi bek karu hideh. Miseu fatir karu ayah ba puwoe miseu cintani karu mak ba puwoe, singoh goh bek jak le”, kata mamaknya.

Mereka mengangguk takjim. Dan yes, malam itu mereka pergi tarawih perdana.

Selama kami salat apa yang dilakukan cintani? Dia ikut gerakan kami sebanyak 4 rakaat selebihnya tidur, golek golek, sangak sangak sampek salat selesai. Tapi sesuai janji tidak karu karu. Apa yang dilakukan fatir? Wallahualam.

Salat selesai kami pulang sama sama. Begitu sampek ke rumah fatir udah stand by di beranda.

“mak, lon hana karu bunoe beuh. Singoh jak lom beuh”. Katanya jengir. Mamaknya mengiyakan dan masuk rumah.

Udah sekitar setengah sebelas kami sampe rumah, jadi ngak banyak cakap lagi dan langsung masuk kamar masing masing. Tapi sebelum berpisah lagi lagi fatir berpesan untuk kesekian kalinya.

“singgoh beungeh peubedoh lon wate sawo, sampek lon beudeh mak beuh”, katanya.

“jeut”.

xxxxx

Sahur tiba. Meja makan penuh. Sahur bersama itu selalu mengasyikkan. Tapi karena subuh dan mati lampu kemampuan kami bercerita berkurang, kecuali fatir. Dia berkoar koar dari mulai sahur hingga selesai. Meja makan selain penuh dengan makanan juga penuh dengan celotehannya. Bahkan cintani yang biasanya juga ikut ikut berkoar, saat itu bungkam. Dari kelopak matanya aku tau dia sedang menahan kantuk berat.

xxxxxxx

Aku masuk kerja pagi di puasa pertama. Begitu sampek rumah seperti biasa pertanyaan wajib adalah “hoe ka  fatir dan cintani?”. Rumah terasa sepi tanpa mereka.

“ka ijak maen, bunoe poh 2 ka ji buka puasa ban di kaleun paman hana puasa”, kata mamak ku.

Hahahahahahahahahaha! Aneuk miet ciret. Iyes, rumah kami dekat dengan pasantren jadi orang dayah puasanya lusa. Dan paman ikut orang dayah, kami ikut pemerintah. Fatir? Ikut mana yang enak. Hahahahaha.

Jadi ceritanya puasa hari pertama dia gagal!

Puasa ke dua. Terawih seperti biasa dan sahur masih seperti kemarin. Semangat

Puasa ke dua aku jaga siang jadi baru sampe rumah jam sembilan malam. Sekencang apapun aku bawa motor pasti jam segitu sampek kerumah.

Dan seperti malam malam sebelumnya, rumah kosong karena semua pergi tarawih. Aku sengaja tunggu mereka pulang. Baru jam setengah sebelas mereka sampek rumah.

“hey tir, kiban puasa uroe nyoe?” tanyaku.

“sampe abeh puasa, tapi singoh hana ek puasa le”, katanya.

“jeh pakeun?”

“meu kheut kheut bunoe anda. Wate teumek maen game langenyoe jaro”, katanya sambil meniru tangannya yang bergetar.

Hahahahahahaha, jelas lah. Hipoglikemia.

“le ka maen kadang”.

“hana anda”, jawabnya.

“hahaha, na rasa kiban puasa? Kah meunteng meu kheut kheut. Kiban mamak kah? Puasa, jak kerja, jak u keude, magun lom, urus awak kah lom. Bantot lom kah, pekaru adek lom. Mak keun meu keut kheu le, karab duroh ok kadang”, kataku.

“hahahahahw”, dia tertawa.

“singoh puasa sampe poh 2 meunteng, lusa poh 3, lusa poh 4, bacur bacut. Latihan”, kataku.

Dia pun mengangguk.

Akhirnya kami menghabiskan berbincang bincang tentang pengalaman puasa ketika aku kecil ditemani sebungkus good time sambing menunggu kantuk datang.

Ah, anak anak. Selalu menarik untuk ceritakan. Bagaimana nasib puasa fatir? Wallahualam, kita tunggu saja. Kuata alam, 20 juni 2015, ramadhan ke 3

bergoyang

Alat tempel ban
Alat tempel ban

“pergi tempel ban terus, bentar lagi udah malam udah tutup bengkelnya”, kata mamak.

“tenang mak, masih buka kok. Mamak ngak tau pengalaman adek bocor ban kan? Tak terhingga. Lima menit urusan tempel ban selesai”, jawabku. Setelah berganti pakaian dan pamitan dengan mamak, aku pergi dengan motor yang bergoyang goyang.

Iyes. Aku udah terbiasa dengan urusan bocor ban ini. Sejak pertama naik motor dengan les dongker ini masalah aku cuma satu yaitu tiba tiba aja “bergoyang” di tengah jalan. Kalau udah gini, pasti ban nya lagi lagi bocor.

Entah udah berapa kali aku tempel dan tukar ganti ban. Bertukar antara ban depan dengan belakang. Sampe sampe aku hapal bagai mana cara mengganti ban. Pertama bannya di buka terus ban di benam ke dalam air. Bagian yang bergelembung disitu yang bocor. Terus si abang bakalan potong karet seukuran bocor dan masukin ke alat yang ada tempat untuk tekan ban dan karet biar lengket dengan kuat. Bagian bawah alatnya akan dinyalakan api yang akan mencairkan karet jadi karet lumer dan nutupin bagian bolong. Setelah itu ban dimasukkan lagi dan di pompa dengan angin. Selesai. Sekitar 10 menit selesai.

kalau ke daerah baru selain menghapal jakan aku juga harus mensearching dimana abang tempel ban. Karena kajadian ini bisa dimana aja.di darusaalam, di kaju, di jambo tape, di peunayong bahkan pulang senam pagi yang tidak seberapa jarakanya pun kami pernah tiba tiba bergoyang.

Sangking seringnya aku dan maya ngak perlu banyak bicara urusan ini. Cukup dengan kode kami sudah saling mengerti.

“may, qe ada goyang?” tanya ku.

“hahaha, ada mut”. Jawabnya

Atau

“mut, qe ada rasa?” tanya maya.

“ada may”.

Maya biasanya turun kalau memang bannya udah terlanjur lembek dan aku ngak tau dimana tempel ban terdekat. Ngeri harus putar putar dengan ban selemah itu. Pernah waktu ke blang padang dia terpaksa pulang naik becak, bannya udah ngak mampu membawa kami berdua dan aku ngak tau dimana tempat tempel ban. Tapi kalau udah pasti tempatnya, biasanya kami bismillah. Begoyang goyang hingga ke tempat abang tempel ban.

Pengalaman bocor ban paling mengerikan adalah waktu pergi kuliah. Kami pas di jalan sebelah kanan setelah titi lamyong. Tidak ada abang tempel ban disana dan kuliah 5 menit lagi masuk. Jalan disana juga berbatu jadi yassalam. Kami bergoyang dua kali lipat. Akhirnya bismillah aku membawa motor dengan sangat lambat, fokus ke kampus dulu. Di depan kampus tehnik dering suara ban bukan lagi bunyi gesekan karet dengan aspal tapi besi dengan aspal. Bannya sudah kempes abis jadi yang berputar sudah pelak nya saja. Tapi alhamdulillah selamat.

Pernah pulang jaga. Sore, mau magrib. Dompet tinggal di rumah. Begitu di depan PLN sekali lagi mio biru bergetar. Seolah gempa padahal ban bocor. Iyes, alamat apa? Alamat gelisah. Telpon ke rumah tidak ada yang jawab. Alhamdulillah begitu allahuakbar, magrib. adik semata wayang akhirnya angkat telpon dan datang membawa uang. Huft, lega.

Kalau masalah minyak bisa siaga, masalah bocor ban aku ngak tau salahnya dimana. Tiba tiba aja udah goyang dimana aja. 7 juni 2015

INSYAALLAH

Pukul 21.00, senin malam.

Diluar masih hujan, tidak lebat tapi terus menerus

Ting nong. Line berbunyi. Di line tertulis.

” teman teman, untuk syarat STR harap segera di kumpul ya. Foto copy ktp, NPWP dan buku tabungan, slip pembayaran STR, form A1, surat sehat, photo 3×4 dan 4×5. Dimasukkan dalam amplop coklat dan dikumpulkan ke maulidawati paling telat hari rabu kalau yang di luar aceh hari kamis ya”.

Selesai baca LINE, aku mulai pejamin mata sambil menjadwalkan kegiatan besok. Oke, besok aku ikut ayah ke lhoksemawe untuk perpanjang ktp, terus cuci foto, beli materai, print form A 1 dan sorenya ke dokter untuk buat surat sehat. Besoknya kerem berkas dengan l300 ke banda. Oke fix! Setelah membaca doa tidur sepertinya aku langsung masuk ke alam mimpi. Hari ini lelah.

Lelah karena seharian aku, ayah dan akin kerjanya membuang buang air dari rumah ke luar. rumah aku dan beberapa rumah lainnya agak rendah, jadi kalau hujan dikit aja biasanya halaman depan udah penuh air. Apalagi kalau hujan deras. Air bisa sampe ke teras. Makanya untuk mitigasi bencana, ayah dan mamak udah kasih palang di semua pintu dengan semen setebal 8 cm dan tinggi 15 cm.

Nah, udah dua hari hujan. Ngak lebat tapi terus menerus. Jadi airnya udah sampe di teras rumah dan alhamdulillah terhalang palang ayah, jadi ngak bisa masuk. Tapi apa hendak di kata, ternyata airnya malah merembes dari celah celah semen. Untuk beberapa bagian rumah yang celah semennya jelek seperti ruang tamu dan dapur, sempurna air masuk semata kaki. Jadi itulah kerja kami sehariam tadi “sukat sukat ie” dari dalam ke luar.

Alhamdulillah siangnya hujan reda. Air surut sedikit dan perlahan rumah kami kering setelah kami “sukat” seharian. Makanya malam ini semua tepar. Kelelahan. Aku, akin terutama ayah.

xxxxxx

Pukul 00.01, selasa dini hari

“dek..dek.. Turun cepat”, terdengar suara ayah dari bawah. Aku langsung bangun. Sigap turun ke bawah.

“jangan bengong, air udah masuk kerumah. Ambil barang yang bisa di ambel”, perintah ayah.

Aku mengecek dulu keadaan, tujuan pertama langsung palang rumah. Dan ya Allah, air kecoklatan itu sudah melewati palang pintu setinggi 15 cm. Kencang sekali. seperti air terjun.

Aku sadar, ingat kata kata ayah. Masuk ke kamar, bentangin sarung, ambil tas terus masukin semua baju di lemari ke dalamnya dan bawa naik keatas. Sampe semua baju habis dan tinggal baju di rak 1 dan 2 dari atas

Si akin dan ayah menyelamatkan barang elektronik seperti tv, kipas angin, kulkas. alhamdulillah dirumah ngak banyak barang.

Selesai semua, kami di panggil ayah. Ada masalah besar. “tempat tidur”.

“coba ada ide gemana caranya tempat tidur ini bisa lebih tinggi?” tanya ayah.

Hening. Sedangkan air terus masuk. Semakin deras. Kami harus berfikir dalam hitungan detik.

“akin dan adek ambil kursi makan, kita angkat tempat tidur ke atas itu. Cepat”, perintah ayah. Kami lari tunggang langgang ke dapur. Air sudah setengah betis. Alhamdulillah sebentar urusan angkat ini selesai. Dan air sudah se lutut pas.

Ayah mengecek tempat lain di temani akin.

“nong, keuno kajak”, panggil mamak. Aku langsung ke dapur. Rupanya mamak sedang berusaha menyelamatkan kompor gas. Tapi alat penunjuk jumlah gas ngak bisa dilepas dari kompor gas. Jadi kompornya ngak bisa di angkat.

Kami bergulat. Mamak pegang aku tarik. Atau sebaliknya. Sampek tangan merah dan bergores tetap ngak bisa juga dilepas.

“ngak bisa mak”, kataku. “nyoe”, jawab mamak pendek.. Air terus masuk, makin deras dan sudah 2 cm di atas lutut.

“udah, tinggalin aja kompor disitu. Naik semua kita. Selamatin diri yang penting”, kata ayah.. Benar benar leader.

kami ngak pikir dua kali, langsung tinggalin kompor gas. Dan naik ke lantai dua.

“ta serahkan bak allah mandum”, kata mamak.

Iyes. Air sudah sepinggang saat kami naik. Cepat sekali. Derunya seperti deru air terjun. Mengalahkan suara hujan yang turun sejak magrib tadi. Hujan yang tidak lebat tapi terus menerus. Ya allah. Sekejap saja.

Pukul 00.30 menit. Selasa dini hari.

Iyes, hanya dalam 30 menit air sudah sepinggang. Sesaat kemudian.

“bummmmmm”. Suara dari bawah terdengar.

“kayaknya kulkas jatuh”, kata ayah.

Kami diam, sudah ngeri sendiri. Terakhir aku menghadapi banjir besar seperti ini ketika SD. Dan sekarang? Aku sudah tamat kuliah. Berapa lama? Hitung sendiri.

Hujan terus turun diluar. Dingin.

Beberapa saat kemudian. “tep”. Lampu mati. Sengaja dimatikan oleh PLN agar tidak ada yang korslet. Dan beberapa detik kemudian “tik” air di kran mati.

Pukul 01,00 selasa dini hari

Tidak ada listrik, tidak ada air bersih dan kami terperangkap dalam banjir. Sempurna memgerikan.

Sebentar saja. Sekejap. Hanya di berikan 3 hari hujan. Tidak lebat tapi terus menerus , dan dalam 30 menit kami sudah tidak berdaya seperti ini. Ya allah, kami lemah.

Aku langsung teringat semua rencana ku yang tidak ada apa apanya itu. Mulai dari ikut ayah untuk perpanjang ktp hingga surat sehat hanya tinggal kenangan. Dan deadlinenya hanya dua hari lagi. Alamat apa? Alamat aku tidak bisa ikut intenship bulan 2 nanti.

Dingin. Membayangkan itu semua aku semakin dingin.

Ya allah, lemah sekali kami. Aku pasrah, pasrah pada izin MU. Tadi aku lupa mengucapkan Insyaallah. Seolah olah hari esok psti masih milik ku dan semua rencana kecil itu pasti terwujud. Congkak. Lupa bahwa sesungguhnya harus ada izin dari Mu untuk semua. Ya Allah, kali ini jika Kau izin kan aku intenship bulan 2 maka mudah kan. Amin.

Insyaallah, jika allah mengizinkan. Punya makna besar, lebih besar dari semesta.

Aku menutup malam. Dengan doa panjang. Lhok sukon, 23 desember 2014.

Selas 23 desember 2014. Sekejap pagar rumah nyaris hilang
Selas 23 desember 2014. Sekejap pagar rumah nyaris hilang

pada zaman dahulu kala

Pada zaman dahulu di hutan yang entah berantah hidup seekor gagak putih dan bangau yang hitam. Mereka bersahabat. Suatu hari bangau bertanya pada gagak, apa rahasia dari kulitnya yang putih berkilat. Akhirnya gagak membuka rahasianya yang berupa ramuan ajaib.

Gagak berbaik hati memberikan ramuan tersebut dengan syarat di kembalikan. Bangau menyetujuinya. Setelah memakai ramuan tersebut, bangau yang hitam menjadi bangau putih yanhpg cantik. Namun tetap saja, bagi binatang hutan lainnya kulit putih gagak tetap jauh lebih cantik.

Setelah beberapa hari gagak datang menemui bangau, menagih janji untuk mengembalikan ramuan tadi. Tapi karena rasa iri nya dia malah menyiram ramuan tadi sekaligus ke arah gagak. Sontak gagak berubah menjadi hitam. Dia kesal sekali.

Nah, di lain kesempatan, bangau yang jahat juga ketauan mencuri banyak ikan di sungai. Oleh karenanya si kancil geram dan melemapri bangau dengan kayu. Prak! Sayap cantik bangau patah. Dan dia tidak bisa terbang lagi hingga sekarang. Jadi, itulah alasan mengapa gagak hitam dan bangau putih tapi tidak bisa terbang.

Benarkan cerita ini? Hahahaha. Aku tidak tau pasti. Tapi menyenangkan saja. Hikmahnya jangan sekali kali berbuat jahat pada orang lain, tapi sering seringlah berbuat baik.

Kisah ini aku dapat dari film kartun “pada zaman dahulu kala”. Film anak anak dari negeri seberang. film ini mengisahkan hidup 2 orang kakak beradik, aris dan ara. Hubungan mereka mirip cintani dengan fatir. Abang yang usil dan adik yang lugu. Jadi, ara dan aris tinggal dengan kakek dan neneknya. Jika ada hal yang menarik, si kakek akan memulai “pada zaman dahulu kala”….. Dan cerita film itu dimulai. Cerita tentang kehidupam hewan yang bisa berbicara dan penuh hikmah.

Ceritanya selalu seru! Ada dua hal yang menarik. Pertama hikmahnya dan kedua asal usulnya. Misalnya cerita di atas, hikmahnya jangan berbuat jahat tapi sering sering berbuat baik. Asal usulnya adalah di cerita ini, kita tau mengapa gagak hitam dan bangau putih tapi tidak bisa terbang. Hahahahaha.

Kisah lain adalah kisah ayam dan burung yang aku lupa namanya. Suatu hari ayam bertanya pada burung mengapa dia bisa terbang sedangkan ayam tidak. Padahal mereka sama sama memiliki sayap. Lalu burung memberi tahu rahasianya yang berupa jarum emas. Burung meminjankan jarum itu kepada ayam dengan syarat di kembalikan.

Begitu mendapat jarum emas, ayam langsung menjahit sayapnya. Dan taraaaa,,,, ayam bisa terbang tinggi. Sangking senangnya ayam menjatuhkan jarum emas milik gagak. Ayam lalu berusaha mencari jarum itu. Dia mematuk matuk tanah, mencari jarum. Tapi sayang, jarum tidak ketemu. Hingga burung datang dan menagih kembali jarumnya yang sudah hilang. Apa hendak di kata, jarum sudah terlanjur hilang dan burung marah. Burung berjanji akan terus memangsa ayam dimana pun berada.

Hikmahnya jangan ceroboh melakukan sesuatu, menyesalnya seumur hidup. Nah, itu juga alasan mengapa burung besar sering memangsa ayam dan mengapa ayam terus mematuk ke tanah, mencari jarum. Entah iya atau tidak, tapi lucu saja.

Banyak kisah lainnya, tentang semut, monyet yang mencuri, cerita siput yang lambat, dll. Yang selalu berakhir hikmah dan asal sesuatu.

Acara ini disiarkan setiap pagi dan sore. Teman menonton fatir dan cintani. Inilah film versi mereka selain upin dan ipin, marsha and the bear , jorsh si monyet pintar, dan kartun lainnya.

Aku lebih senang menonton kartun kartun ini (upin dan ipin, marsha dan pada zaman dahulu kala, josh di monyet pintar) dari pada film kartun indonesia. Padahal gambarnya sudah bagus tapi ide ceritanya menurut ku “konyol”. Diantara kita mungkin sering menontonnya.

Pernah suatu sore aku terpaksa menonton kartun ini. Awalnya aku tidak lihat, hanya ujungnya saja. Disana mengisahkan si sopo jarwo menyebarkan kabar bahwa ayah adit meninggal. Dia bahkan sudah mengumpulkan dana dari seluruh orang kampung. Tapi pada akhirnya ayah adit datang. Hikmahnya jangan menyebar kabar yang tidak pasti kebenarannya.

Hikmahnya sih oke. Tapi sayang, sosok yang membuat gaduh adalah orang tua. Disini yang kurang srek di hati. “orang tua” kok konyol. Tidak membimbing. Aneh saja. Tidak seru untuk di nonton. Mungkin mau memasukkan komedi, tapi menurut ku dunia anak anak sudah cukup lucu bagi mereka sendiri. Tidak usah di tambah komedi aneh aneh lagi. Atau mau alur beda dengan film luar sana, menurutku gagal.

Jauh lebih baik, cerita si bolang di kartunkan. Cerita anak anak desa yang berpetualang mengarungi kampung. Tidak usah aneh aneh idenya. Sederhana saja. Itu jauh lebih berkesan dari pada orang tua yang konyol di layar televisi. atau sopo dana jarwo dihilangkan. Biarlah adit cs berkelana mengejar mimpi masa anak anaknya. Ini menurut ku saja. Sekali lagi, semua sesuai selera.

Jadi, kalau fatir dan cinta sedang menonton film kartun tadi, aku sering bergabung bersama. Ikut nimbrung dan menikmati ceritanya. Lalu beradu senyum dengan cintani dan berdiskusi sedikit dengan fatir yang rasa ingin taunya besar. Malah menurutku “kepo” sekali.

Sesekali, nonton lah film ini. Disela sela kita menyaksikan “manusia yang bercita cita jadi binatang”yang intinya entah apa atau bosan menonton konser dangdut di televisi, film ini bisa memberi sedikit inspirasi indah, banda aceh 24 mei 2015.

naik kelas

Pulut dan keumamah
Pulut dan keumamah

Di rumah sedang ramai. Tidak ramai ramai sekali sebenarnya, tapi lebih dari biasanya. Karena ada beberapa tetangga yang datang. Ada acara apa? Acara masak masak.

Ada sekitar 3 orang tetangga datang ke rumah sore ini. Dua diantaranya sudah berumur, alias nenek nenek dan yang satunya lagi masih muda. Mereka sedang asik memasak pulut dan keumamah di dapur. Aku ikut nimbrung, walau tidak bisa memasak seberat ini, aku kan bisa membantu ambil ini itu dan bisa membantu “mencicipi” makanan.

Jadi, sepupu kece ku akan memulai membaca alquran perdana nanti malam di tempat ngajinya. “peu phon beut”. Itu istilah acehnya. nah, untuk itu ada sedekah sedikit dari orang rumah untuk tengku dan anak anak yang mengaji disana. Makanya sore ini, dirumah ibu ibu sedang asik memasak pulut dan keumamah untuk si fatir nanti malam.

Setelah pulut dan keumamah masak, keduanya di kemas dalam cup kecil. Cukup untuk anak anak. Jadi taruh pulut sedikit dan berikan beberapa potong keumamah dengan potongan kentang lalu eratkan dengan anak klip. Selesai. Baru kali ini aku melihat pulut disajikan dengan cara seperti ini. Biasanya pulut dimakan dengan kelapa bukan?

Selesai dengan itu, sisa pulut dan keumamah tadi di simpan untuk tengku, beberapa tetangga dekat dan keluarga. Sisanya di bagi bagikan untuk yang membantu masak tadi. Dan urusan selesai.

“yok, antar ke tengku dan tetangga”, kata kak lu.

Aku ikut saja, sekalian keliling kampung. Begitu pulut di berikan, jelas semua bertanya. Dan selalu di jawab sama oleh kak lu. “peu phon beut al quran si fatir”. Dan berkali kali si penerima pulut menjawab “beu trang hate fatir” yang artinya semoga hati si fatir terang benderang dan pintar ngajinya. Begitu hingga pulut di motor sudah habis di bagikan.

Si fatir sendiri sedang heboh di rumah dengn al-quran barunya, hadiah dari ayah. Dan cintani sibuk menceritakan pada siapapun yang datang ke rumah “kalau abang tercintanya di peuphon buet al-quran” nanti malam.

Magrib tiba, sesuai dengan jadwal harian fatir. Dia harus mengaji. Tapi sore sebelum pergi mengaji dia gaduh di rumah. Memastikan cup pulut cukup, aqua gelas sudah ada, pulut untuk tengku ada dan berkali kali mengingatkan mamaknya “jangan lupa ke bale beut setelah magrib”.

Setelah magrib, mamak dan ayahnya sudah siap. Bergerak ke bale tempat fatir mengaji yang hanya selemparan batu dari rumah.

Pulang mengaji, sekali lagi rumah gaduh. “jauh kan abang baca quran tadi kan mak?”, “abang bisa baca, ngak perlu di bacain sama tengku kan?”. Kata si fatir.

“iya”. Jawab mamaknya.

“ayah sampek merinding dengarnya”, kata ayahnya.

“rajin rajin ngaji ya fatir”, kata mamak dan ayahnya.

Sejak hari itu, fatir resmi naik kelas. Dia mengaji setelah salat dirumah hingga beberapa hari setelah hari penting itu.

Yah, begitulah. Menurutku kenduri kecil seperti ini perlu. Kalau dilihat dari sisi anak, ini suatu penghargaan baginya. Tidak hanya naik kelas, dapat peringkat, menang lomba, dll akan ada hajatan di rumah, tapi mengaji pun perlu di beri penghargaan. Malah seharusnya ini jauh lebih berharga dari semua hal itu. Dan semoga saja dengan penghargaan ini si anak bisa semakin semangat mengaji.

Dari sisi lain, kenduri adalah sedekah yang padahal terus mengalir. Selain itu bisa di bayangkan setiap di beri sedekah, ada banyak doa baik yang datang? Doa agar hati si anak terang benderang. Semoga doanya sampai. Amin.

Aku sudah bertanya pada kak lu, apakah harus begini. Jawabannya tidak harus. Sesuai kesanggupan. Kalau sanggup gak apa, kalau ngak sedekah aja untuk tengku sedikit, kalau ngak sanggup pun yaudah ngak apa.

Tidak ada paksaan, tapi alangkah lebih baik jika kita tetap memberikan penghargaan untuk si anak yang naik kelas mengaji. Karena itu bisa jadi motivasi untuknya dan menunjukkan berapa kita sangat mendukungnya untuk bisa terus mengaji. “belajar di waktu kecil lebih baik daripada belajar di waktu besar” bukan?banda aceh 24/5/15

fatir vs cintani

Kembali dengan cerita “fatir dan cintani”. Kenapa? Karena seperti kebanyakan anak anak, cerita mereka selalu menarik untuk diceritakan.

Seperti kebanyakan anak laki laki, menurut ku fatir ini adalah abang yang “usil” dan cintani adalah adik perempuan yang “lugu”.

Salah satu kebahagian mereka adalah “jajan”. sebanyak apapun makanan dirumah, tawaran jajan jauh lebih menggiurkan. Apakah hanya sebungkus coklat, sanck yang besar bungkusnya saja, permes,eskream, apapun itu, mereka akan tetap bahagia.

Nah, lugu nya cintani disini. Dia anak bungsu. Perempuan dan sedikit manja. Jadi, jika ayahnya mau pergi bekerja, kadang kadang sifat manjanya muncul. Aku sebut “meuheng heng”. Hmmm. seperti meringis ringis. dia sering begitu. Cara menghentikan “heng hengan” itu adalah dengan beli “jajan” tadi. Diantara cintani vs fatir, cinta lebih sering mendapatkan momen ini. Dan disetiap kesempatan dia tidak pernah melupakan abangnya.

Jika beli snack, biasanya dua. Jika beli permen biasanya pas untuk di bagi dua. Atau jika dia beli sesuatu pasti akan ada yang akan di bagi dengan abangnya. Sedangkan abangnya? “sering tidak”. Jadi momen ini sering memicu perkelahian jika yang “jajan” adalah abangnya.

Suatu hari mereka di beli es kream oleh ayahnya. Bentuk dan ukuranya sama. Mereka makan bersama.

“yok makan dek”, kata si fatir.

Cintani dengan lugu memakan es creamnya. “makan lagi yok”. Ajaknya. Suap demi suap. Hingga es cream di mangkuk cintani tinggal seperempatnya.

“jeh, abang kok belum habis”, kata cintani setelah mengintip mangkuk escream abangnya.

“hahahahahaha”. Fatir tertawa licik.

Dan heng hengan itu berbunyi.

“mak, abang jahat kali. Tadi dia ajak makan es cream sama sama. Tapi waktu adek makan dia ngak makan. Jadi punya adek udah mau habis punya dia masih banyak”, cerita cintani sambil meuheng heng.

Hahaha, aku tertawa saja dalam hati, usil sekali anak 8 tahun itu. Teganya mengadali adiknya yang baik hati

Walau begitu, setelah urusan ec cream itu selesai, mereka kembali main bersama. Akur sesekali lagi lalu gaduh lagi.

Nah, waktu itu aku mau pergi. “mau ke mana anda?” tanya cintani.

Santai aku menjawab, “kepasar”. Sesaat heng hengan muncul. “adek ikot juga”, kata cintani.

“ngak bisa”, jawab ku. Susah bawa anak anak ke pasar.

“kalau ngak kasih uang untuk adek”, kata cintani.

“kok udah mirip preman adek?”, kataku. Tapi aku tetap memberikan uang pada nya. Lalu bersiap pergi. Belum selangkah aku beranjak. Bunyi heng hengan terdengar. Buru buru aku masuk.

“kenapa?”. Tanyaku.

“abang pukul adek”, jawab cintani.

“kenapa fatir, pukul adek?”. Dan fatir menjelaskan. “dia ambel uang abang. Jadi uang yang anda kasih untuk dia, dia kasih untuk abang. udah dia kasih dia ambel lagi”.

Hutf. “cintani, kenapa kasih uangnya untuk abang?”, tanyaku. Dan cintani diam seribu bahasa. Mungkin dia “sayang” abangnya tapi sesaat kemudian berubah pikiran. Ah! Akhirnya aku memberikan lagi uang kepada cintani. Jadi seri. Si abang dapat dan si adek juga.

Begitulah cintani. Adek perempuan yang lugu.

Suatu hari pernah si abang request padaku membuat es batangan.

“fatir cari karet gelang biar anda ikat plastik es nya”, kataku.

Fatir langsung mencari karet gelang kemana mana. Hingga akhirnya dia memanjat lemari yang berisi gelas. Dia anak laki laki kampung, geraknya sudah pasti gesit. Tapi, cintani mengomel. “jeh abang ini, jangan manjat manjat”, katanya.

Diambilnya kursi makan dan diletakkan di bawah lemari tadi agar abangnya bisa mendarat dengan tenang. Ah anak kecil yang imut sekali.

Tapi abangnya ya begitu. Suatu hari aku pernah menyusuh fatir mengambil air minum untuk adiknya.

“ini air adek”, katanya dan pergi sambil tersenyum lebar sekali.

Si adek langsung minum. “aaaaak, apa abang ini”. Katanya sambil menjerit.

“kenapa?”tanyaku.

“air yang dikasih abang panas”, katanya.

Hahahahahahahaha. Fatir!!!!! Aku segera mencampurkan air itu agar panasnya hilang. Usilnya tidak pernah usai. kasian adik kecil yang masih 5 tahun itu.

Tapi sekalai lagi, walau selalui di usili tetap saja cintani tidak pernah lelah berbuat baik pada abangnya. Dia sayang abangnya. Padahal saat mereka akur, mereka bisa tertawa seperti ada 6 orang bersama. Seru saja melihatnya. Tertawa yang entah karena alasan besar apa. Terus ribut lagi, heng heng lagi, kena timah panas mamaknya, kabur bermain, pulang dan akrab lagi. Tidak terbayang jika posisi di ubah, cintani yang menjadi kakak dan fatir yang menjadi adik. Hahahahahahaha. Terus tumbuh jadi anak baik ya sepupu kece. Semoga semakin besar, fatir bisa menjadi abang yang terus melindungi adik lugunya. Amin. Banda aceh 23 mei 2015.

kampung kecil

Kesempatan pulang kampung itu adalah kesempatan istimewa. Jadi, sekali kali kembali kemari aku tidak akan melewatkan menikmati apa yang tidak aku jumpai di tanah rantauan. Aku sejenak lupa program diet yang sedang aku jalani. Lupa kalau malam aku tidak makan lagi. Karena akan selalu ada makanan enak yang bisa di makan. Ditambah lagi keluargaku adalah keluarga yang hobi makan. Maka lengkap lah semua. Makan bersama aneka rasa.

Sarapan pagi yang jarang terlewati adalah Lontong wak miah. sebenarnya lontongnya sama saja dengan lontong kebanyakan. Ada kuah, mie, taucho, sambal goreng, lontong dan kerupuk. Tapi perpaduannya pas dilidah. Tidak manis dan tidak juga asin. Sedikit pedas dan gurih. Selain itu, porsinya juga tidak cilet cilet seperti di rantauan. Cukup dengan 5ribu rupiah, seporsi penuh lontong wak miah telah tersedia di meja. Kenyang! Kalau sedang malas masak dan tidak ada yang bisa di masak, maka seporsi lontong ini cukup mengganjal perut hingga siang hari.

Makanan yang juga sering aku makan adalah mie pangsit pengkolan. Sekali lagi, rasanya berbeda dengan mie pangsit biasa. Cekernya itu yang asli, mantap!

Kudapan sore kesuksan adalah pisang goreng PLN. Letaknya tidak persis di samping kantor PLN, agak jauh sedikit. Tapi itu bangunan yang lumayan besar disana. Jadi lebih mudah menemukan tempat gorengan itu jika menyebutnya di samping PLN. Yang enak dari pisang goreng disini adalah rasa pisang gorengnya yang manis dan sambal manisannya yang keren. Ini tempat pisang goreng favorit ayah.

Kudapan sore lain yang aku suka adalah molen mungil. Ukurannya hanya sebesar jempol anak kecil. Mungil sekali. Rasanya? Mirip molen biasa. Tapi karena ukurannya kecil maka rasa pisangnya tidak begitu dominan jika di bandingkan dengan tepungnya. Jadi, bagi yang lebih suka tepung, molen mungil ini bisa jadi pilihan. penjualnya juga lumayan banyak. Ada disamping pasar buah, di pasar dan di depan kantor KUA,

Mie goreng! Cukup dengan 7 ribu rupiah, sebungkus mie aceh dengan rasa khas sudah bisa di santap. Rasanya? Mirip mie aceh biasa dimana mana. Tapi enak saja dimakan. Letaknya tepat di samping mesjid raya baiturrahim.

Kalau kue, yang terkenal disini adalah kue cek lem. Jangan sepele dengan namanya karena rasa selainya, mantap di lidah. Jadi, kue ini seperti kue bakpau yang tidak ada isi. Nah, ditengahnya bakalan diisi dengan selai yang enak itu. Tipe kue lain seperti kue samahani. Petak besar. Lalu di tengahnya di potong dan di beri selai. Enak enak enak. Letak roti cel lem ini, tepat di jalan medan -banda aceh. Yang kalau dari banda aceh di sebelah kiri.

Kue kesukaan lain adalah kue apam keubeu. Mamak punya banyak nama untuk kue ini. Dan kenapa di beri nama apam keubeu, aku juga tidak tau. Mungkin karena warna kulit kuenya yang agak hitam coklat dan texture nya yang lembut, mirip kulit kerbau. Entah lah. Nah kue ini mirip martabak manis, tapi adonannya mungkin sedikit berbeda, makanya warnanya berbeda. Di tengah kue ini di berikan taburan kacang. Rasanya? Pokoknya ibu ku suka sekali kue ini. Setau ku, di kampung ku hanya nenek ini yang menjual kue apam ini.

Selain apam, ada kue pancung. Dan sekali lagi aku tidak tau mengapa namanya demikian. Bentuknya setengah lingkaran, warnanya putih dan ketika di makan gurih dengan campuran rasa kelapa di dalamnya. Enak enak enak.

Itulah beberapa makanan yang sering aku makan. Dan sering membuat aku lupa sedang diet. Bersama mamak yang sering lapar, jadi momen pulang kampung sempurna membuat kami menjadi terus memamah sepanjang hari.

Tapi, sering juga aku terluka saat pulang kampung jika berurusan dengan masalah teknologi. Aku sering stuck untuk urusan ini.

Waktu itu, aku butuh print pukul 08.00 malam. Setelah putar putar pasar, tidak ada tempat foto kopi yang buka dan menyediakan printer. Akhirnya aku mengajak ayah, keliling kota kecil itu. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada tempat print. Padahal masih pukul 8 malam. My god! Akhirnya besok aku harus bangun pagi dan ikut ayah ke loksemawe. Huft.

Saat itu aku juga butuh JNE atau alat pengirim barang sejenis. Dan lagi lagi kata ayah “sama aja, kalau kirem dari disini lebih lama, dia bawa lagi ke lhoksemawe baru dikirem. Jadi lebih bagus langsung aja adek kirem dari lhoksemawe”. Hmmm. Iyes iyes, akhirnya, sekali lagi aku harus ke lhok semawe.

Saat butuh bank selain bank BRI, misalnya untuk bayar SPP. Ya allah, lagi lagi aku harus ke loksemawe. Untung saja jaraknya tidak begitu jauh. Tapi tetap saja.

Yah, sedih nya disitu. Disaat perlu dia tidak bisa diandalkan. Kecewanya dimana mana.

Begitulah kota kecilku, hmmm, kampung kecilku. Tepatnya. Tidak begitu besar dan tidak bising. Banyak makanan yang memanggil tapi ada saat kita juga bisa stuck disana. Yah, aku cuma bisa berharap, beberapa tahun kedepan, kota kecil, yang senang untuk di pulangi itu, karena banyak makanannya, bisa lebih baik nanti dan lebih maju. Aku bisa kenyang dan tidak stuck lagi disana! Amin, lhok sukon 4 mei 2015

Lhoksukon
Lhoksukon