Brisk

“nong, boh minyeuk ok keu pimpun siat”, kata nenek ku.

“keun lage awak kakak sagai”, sambungnya.

Aku tertawa. Bangkit dan menuju pimpun. Pimpun ini sepupuku, Sekarang dia duduk d kelas 4 sd.

Ah, kata kata nenek menusuk jauh kedalam hati. “keun lage awak kakak sagai”.

Aku jadi teringat masa kecil ku dulu. Apa kata nenek benar. Kami tidak akan diizinkan kesekolah sebelum benar benar rapi oleh mamak.

Dirumah, aku dan abang ku punya ritme tubuh yang berbeda. Abang ku pasti bangun pagi sekali. Sedangkan aku selalu bangun sesuai dengan ritme tubuh yang aku buat sendiri. Selalu setelah abang selesai memakai baju. Walau sudah bangun jauh sebelum itu, tetap saja aku tidak akan beranjak.

Jadi, apapun aktivitas pagi yang dilakukan abang dan mamak aku tidak tau pasti. Yang pasti abang tidak lagi menyusun buku di pagi hari, karena sebelum tidur dia sudah menyelesaikan urusan itu. Salah satu nasehat mamak yang selalu di pegang kuat abang. Sedangkan aku? Hihihihi.

“ban di beudeh”, kata mamak. Kata kata favorit mamak untuk ku setiap pagi. Aku senyum jengir saja dan langsung masuk kamar mandi. Walau selalu dapat kata “ban di beudeh” ketika pagi, selama 6 tahun sekolah aku tidak pernah telat kesekolah, tidak pernah.

Selesai mandi, mamak sudah sedia di dapur. “jak keunoe”, katanya.

Aku mendekat. Dan rutinitas dimulai. Aku dipakaikan baju dari dalam hingga keluar. Selanjutnya sebelum memakai bedak, rambut kami akan disisir satu persatu. tidak lupa sebelum penyisiran, rambut kami akan diberikan minyak rambut dengan merk “BRISK”. minyak rambut ini punya dua kemasan biru dan hitam. Entah kenapa mamak lebih sering membelikan yang biru. Karena selalu dipakaikan minyak ini setiap pagi dalam hitungan tahun, aku sampai hafal betul baunya. Dan hasilnya, rambut sebeng kiri kami benar benar mengkilat dan rapi sebelum pergi kesekolah. Baru setelah itu kami di pakaikan bedak. Jika aku ingat ingat, penampilan kami begitu rapi sebelum kesekolah. Hahahahahaha. Apalagi rambut sebeng kiri yang luar biasa mengkilat.

Selanjutnya kami akan duduk di kursi teras. Jika malas makan, mamak akan menyuap kami satu persatu. Cukup 4 suapan. Bagaimana tidak, beliau selalu bilang “hah abah raya raya”. Maka dengan genggaman tangannya yang besar dan mulut kami yang lebar, maka 8x suapan nasi di piring pasti sudah bersih. 4 untuk aku dan 4 untuk abang yang sangat rajin itu.

Jika ada teman yang lewat atau jadwal berangkat sekolah sudah tiba, kami akan bersalaman. Pamitan mau kesekolah. Selalu begitu dalam hitungan tahun kanak kanak yang aku ingat.

Ah….

Banda aceh, 20 februari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s