toa musalla

Kami jaga siang. Kami disini, aku dan kak mulya. Karena satu dan banyak hal, akhirnya siang itu kami berangkat ke rumah sakit bersama. Dan seperti biasa, sebelum masuk ke igd kak mulya harus absen dulu. Aku biasanya ikut saja saat kak mul mengabsen. Sekalian cuci mata.

Di perjalanan antara tempat parkir dan absen, lewat seorang adik. Umurnya sekitar 10 tahunan. Aku sih biasa saja dengan si adik. Mata ku kurang jeli melihat hal yang berbeda. Beda dengan kak mul, matanya itu mirip detektor.

“mut, mut, lihat lah rambut adek itu.keren kali di cat. Dikit aja diatas”, kata kak mul dengan volume suara yang tidak di tahan tahan.

Aku menjadi tertarik dan menoleh. Iya sih, ada sejumput rambut di bagian depan kepala si adik yang warnanya beda. “kayaknya emang gitu kak mul, mut juga ada kawan yang gitu tipe rambutnya”. Jawabku sambil langsung terbayang, teman laki laki yang menyanyikan lagu jubrai di depan kelas waktu SMA dulu. Rambutnya persis seperti adik tadi tapi dengan volume lebih sedikit.

“ngak mungkin mut, karena ngak dari bawah beda warnanya. Di cat pasti rambutnya”, sambung kak mulya.

Aku hanya tersenyum saja.

“hana, nyan cit ok droe. Kana dari ubit keun di cet”, kata seorang bapak yang jaraknya sekitar 3 meter di belakang anak tadi.

Kami kaget, terutama kak mul.

“hehehehehe, nyeu pak”, kekehan kak mul.

“lon ayah jih”, sambung si bapak lagi. Nadanya memang tidak marah, tapi terdengar sedikit kesal.

“jeut juet pak”, jawab kak mul dengan salah tingkah.

“hshahahahahahahaha, kakak mul. Toa musalla sih”, kataku sambil tertawa geli. Tertangkap basah!

xxxxxx

Kali ini kami jaga pagi. Saat matahari mulai sedikit naik menuju siang, sebuah ambulan datang. Lalu turun perawat dengan pasien dan surat rujukan.

Bang audi maju. Seperti prosedur biasa, bang odi mengecek nama pasien, diagnosis dan terapi. Selesai. Kakak perawat tadi lalu pergi membuat lembar igd.

Beberapa saat kemudian, si kakak kembali lengkap dengan lebar igd.

“ih, kak mul kalau nanti rujuk rujuk pasien ke bang odi harus hati hati”, kata kak mul lagi lagi dengan toa musalla.

“kenapa emank kak?”, tanyaku.

“itu lihat. Salah salah diagnosis di foto sama dia”, jawab kak mul.

Aku semangat mengintip. Memang sih sedikit aneh diagnosisnya, hipertensi stage 3.

Tapi tiba tiba, dari arah depan seorang kakak angkat bicara. “dokter kami masih baru di puskemas, tapi udah lama jadi dokter di instansi pemerintah”, kakak itu adalah perawat tadi. Berdiri tepat di depan kami.

“hehehehehe”, kak mul tersenyum salah tingkah tertangkap basah Bang odi terdiam sesaat dan aku sedang sakit perut menahan tawa. Takut dikira tidak sopan.

Ah kak mul. Toa musallah sih suaranya. Hahahahahahahaha! Siang itu kami selesaikan secara adat dengan tertawa ketika si kakak pergi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s