“tuan”

Sedang WA hal penting dengan seseorang. Orang yang baru aku kenal. Dan seperti pembukaan disemua pembicaraan aku menyapa orang itu dengan namanya. Sebut saja Y.

Aku : Y….

Tak lama setelahnya dibalas.

Y : tuan.

Aku terdiam sesaat ketika membaca jawabannya. “tuan”. Berkali kali membaca ulang. “tuan”. Ah, sudah lama sekali kata kata ini gk terdengar. Sama lamanya ngak dengar orang bilang “ponten”, “stip ex”, “rapor”.

Dulu waktu kecil waktu di panggil mamak selalu jawabannya gitu.

“adek…..”

“tuan mak…”

Besar sikit.

“adek….”

“uan mak….”

Besar dikit lagi.

“adek…”

“iya mak…..”

Dan sekarang.

“adek…..”

“iyes mak….”

Hahahahaha. Kata kata tuan hilang ditelan zaman. Entah kenapa. Padahal kalau di ulang ulang, jawaban tuan kalau di panggil itu kesannya “lembut dan santun”. Hehehehehe.

Dari mana asal kata kata ini? Hmmm, entahlah. Udah coba searching tapi ngak ketemu juga. Mungkin dari tradisi orang aceh yang suka memuliakan orang lain apalagi orang tua. Jadi kalau di jawab “tuan”, seperti cerita tadi “sopan aja” bunyinya.

Sesaat terbawa ke ruang nostalgia. Lalu sadar lagi untuk balas WA si Y yang udah ngusik ngusik ruang masa kecil. Ah….

Mutiaa…..! Tuan……! Banda aceh 5 juli 2015. Ramadhan ke 17

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s