cinta di tas merah jambu

Kisah ini tentang sepasang suami istri. Namanya wak nah dan wak is, itu panggilan mereka. Dua duanya adalah patner ayah dan mamak. Wak nah biasa membantu mamak urusan mencuci dan menggosok baju, sedangkan wak is sering membantu ayah membersihkan kebun yang tidak seberapa itu atau sekedar memperbaiki perabot rumah yang mulai rusak. Beliau ahli dalam urusan yang satu ini. Kalau wak nah biasa kerumah setiap 3 hari sekali, kalau wak is sesuai kebutuhan. On call istilah kerennya.

Mereka sudah menjadi patner orang tuaku sejak aku kecil hingga sekarang. Artinya mereka masuk dalam kehidupan kami sudah terlalu lama. Begitu juga sebaliknya. Banyak hal diantara kami yang pada akhirnya berakhir dengan saling memaklumi. Salah satunya adalah kondisi wak is yang punya istri dua. Kami sama sama tau dan tidak pernah mengusik tentang itu.

Jadi, wak nah ini istri pertama. Dan seperti kebanyakan kisah rumah tangga dengan istri lebih dari satu, pasti akan ada cerita berbagi jatah pulang. Begitu juga dengan wak is terhadap wak nah. Apalagi dengan status wak nah sebagai istri pertama maka jatah pulang beliau biasanya lebih sedikit. Sedihkan? Iya, menurut ku wak nah luar biasa, mampu berbagi hati. Karena kalau aku dibegitukan? Oh tidaaak, cukup sampai disini saja, angka cemburu ku besar dan aku tidak punya hati selapang samudra.

AKu sering memperhatikan, Kalau wak nah sedang ada dirumah dan kebetulan wak is datang, mereka saling berbicara tapi sangat irit. Seperlunya saja. Saling memandang juga jarang, masing masing sibuk dengan urusannya. Bahkan pergi berdua saja adalah pemandangan yang langka. Seperti ada batu es besar diantara keduanya. Dingin. Tapi, kembali pada pembicaraan awal “pada akhirnya kami saling memaklumi”.

Tapi ada cerita yang sedikit berbeda. pada suatu hari saat wak nah sedang mencuci, wak is datang tiba tiba karena ayah meminta bantuan beliau memperbaiki lemari yang sudah keriting direndam banjir 4 hari 4 malam. Seperti biasa, wak is datang lengkap dengan tas tukangnya yang berwarna coklat dan tas pink tambahan berisi gergaji mesin, palu, paku, dll, Sepertinya baru dirumah kami mereka bertemu. Hahahahaha.

Begitu bertemu, seperti cerita tadi. Hanya ada sapaan singkat, pembicaraan sepatah dua patah kata yang aku tidak jelas isinya apa, selanjutnya hening yang panjang. Yang satu sibuk dengan kain sedang yang satu sibuk dengan kayu padahal jarak mereka hanya berpisah 3 meter.

Waknah, pulang cepat hari itu. Karena setelah mencuci tidak ada tumpukan kain yang harus di gosok. Sedangkan wak is pulang lebih lama. Urusan lemari itu tidak sesederhana yang terlihat, pintunya tidak bisa digu kana lagi. Jadi, wak is seharian mengukir pintu baru untuk lemari kesayangan mamak. Agak sore beliau baru selesai.

Begitu pulang beliau mengomel sendiri, dia bolak balik depan hingga ke belakang rumah. Seolah mencari sesuatu.

“nong, ada lihat tas alat wak is?”, tanyanya.

“ngak ada wak is. Tasnya warna apa?biar kita cari sama sama”, kataku. Ternyata beliau sedang mencari tas kesayangan.

“warna merah jambu. Ukurannya segini”, kata wak is sambil memberi contoh ukurannya tas nya.

“oke”. Kami akhirnya sibuk mencari tas itu. Melihat ke dalam “lungkiek” taman, di bawah kursi, di tong sampah, siapa tau tertinggal disana. Tapi hasilnya? Nihil.

“peu mita nong?”, mamak keluar tiba tiba.

“tas merah jambu wak is”, kata ku.

“nyan hai, ateuh jemuran. Di rah le wak nah beunoe”.jawab mamak pendek dan berlalu.

“oh yaaaa”, wak is langsung mengamankan tas merah jambu kesayangannya dari jemuran. Lelah di cari ternyata tasnya sedang berjemur ria. Sudah bersih dan kembali cantik. Dimasukkan semua perkakas beliau kedalam tas tadi. Aku sempat melihat rona wajah yang berubah seketika, aku juga sempat melihat Ada senyum sekilas di wajah itu.

“ah, wak nah ngak bilang bilang”, kataku.

“iyes”. Jawab wak is pelan. Lalu berlalu, pulang. Dengan tas coklat dan merah jambunya barunya. Langit mulai merona merah bercampur jingga.

Ah, sungguh luar biasa wanita dan sesuatu yang bernama rumah tangga itu. Sebegitu di bagi cinta tetap saja dia yang bernama wanita, menaruh perhatian dalam diam. Siapasih yang perhatian sebegitunya dengan tas merah jambu berisi peralatan tukang yang berceceran di lantai, lalu memungut dan mencucinya? Pasti ada sayang yang tidak terkira disana. Sayang yang tidak bisa dilukis dengan banyak kata dan kadang justru rasa sayang yang harus diredam agar tidak lebih menyakiti karena berharap terlalu banyak.

Apa alasan wak nah bertahan selama ini? Aku rasa karena rumah tangga yang didalamnya ada anak anak yang sangat dia cintai.

cinta memang banyak bentuknya Bahkan dalam sebuah tas merah jambu. Blang krueng, 29 september 2015.

Advertisements

ketika lyra jadi artis

“Tik tik”, bunyi tab.

Bunyi itu mengusik tidur. Akhirnya aku bangun dan mengecek hp.

Bbm dari sinta amelia. Aku balas segera. Karena biasanya bbman dengan sinta sering eror tidak jelas. Nah, sambil menunggu balas sinta, dalam keadaan setengah sadar dan ngantuk aku buka instagram.

Buka satu satu. Isinya sih macam macam. Tapi yang paling menarik adalah foto yang di posting lira. Yang terbaca cuma yayasan mesjid agung almakmur terus jadwal i’tikaf 10 ramadhan terakhir. Terus caption nya panjang. Yang terbaca cuma “ayo tinggalkan hp, menangislah mengadulah ke pada Allah di sepuluh malam terakhir ramadhan”.

Dalam hati, “luar biasa kak lira lah. Pinter, baik, tegas, penyayang, salehah lagi”. Jadi teringat beberapa hari lalu, ketika kami (aku, lira dan lely) salat terawih di oman alias mesjid almakmur. Lira banyak cerita mulai dari dia senang salat di oman, aktifitas kajian di oman, dll. “istiqamah kali kakak satu ini lah, inspiring kali pokoknya”.

“kalau jumpa bisa kita diskusikan. Siapa tau bisa i’rikaf sekali waktu lepas jaga bareng”, terbersit dalam hati.

Yaudah. Aku scroll ke atas. Pas lihat yang like fotonya 1.000 an lah. Ih, mantap kali. Scroll lagi ke atas, lyrafevrier di mata. Tapi fotonya kok beda? Dan ternyata pas eja nama lyravirna. Terus baca ulang semua!

Bukan mesjid agung al makmur ternyata, tapi mesjid agung al azhar! Bukan di aceh tapi di jakarta. Ah, kecewa adek! Kecewa. Astagfirullah. Hahahahahaha. Mungkin efek setengah sadar tadi.

Tapi, seperti apapun, kak lira tetap recommended women kok! Ngak seterkenal lyravirna tapi lyrafevrier tetap sangat menginspirasi. Kata katanya yang selalu teringat “move on mut, move on to move up!

Screenshot_2015-07-10-08-47-21

jangan lupa follow IG nya @lyrafevrier. Banda aceh 10 juli 2015

“tuan”

Sedang WA hal penting dengan seseorang. Orang yang baru aku kenal. Dan seperti pembukaan disemua pembicaraan aku menyapa orang itu dengan namanya. Sebut saja Y.

Aku : Y….

Tak lama setelahnya dibalas.

Y : tuan.

Aku terdiam sesaat ketika membaca jawabannya. “tuan”. Berkali kali membaca ulang. “tuan”. Ah, sudah lama sekali kata kata ini gk terdengar. Sama lamanya ngak dengar orang bilang “ponten”, “stip ex”, “rapor”.

Dulu waktu kecil waktu di panggil mamak selalu jawabannya gitu.

“adek…..”

“tuan mak…”

Besar sikit.

“adek….”

“uan mak….”

Besar dikit lagi.

“adek…”

“iya mak…..”

Dan sekarang.

“adek…..”

“iyes mak….”

Hahahahaha. Kata kata tuan hilang ditelan zaman. Entah kenapa. Padahal kalau di ulang ulang, jawaban tuan kalau di panggil itu kesannya “lembut dan santun”. Hehehehehe.

Dari mana asal kata kata ini? Hmmm, entahlah. Udah coba searching tapi ngak ketemu juga. Mungkin dari tradisi orang aceh yang suka memuliakan orang lain apalagi orang tua. Jadi kalau di jawab “tuan”, seperti cerita tadi “sopan aja” bunyinya.

Sesaat terbawa ke ruang nostalgia. Lalu sadar lagi untuk balas WA si Y yang udah ngusik ngusik ruang masa kecil. Ah….

Mutiaa…..! Tuan……! Banda aceh 5 juli 2015. Ramadhan ke 17