serupa tapi tak sama

Pernah baca cerita ku tentang rindu? (kalau belum cari saja di kolom searching). Nah, seperti yang pernah aku cerita kan disana, saat kecil aku punya panutan luar biasa. Abangku. Namun, pertumbuhan membuatku harus benar benar menyadari bahwa aku dan dia berbeda. Dia anak laki laki dan aku anak dara dirumah. Akhirnya aku mengalah, mencari jalan hidup sendiri. Hahahaha. Begitulah kira kira.

Hingga akhirnya Allah mempertemukan ku dengan dia. Dia yang perlahan menjadi panutan ku sama seperti sosok abangku sendiri. Dan seperti apa yang aku lakukan terhadap abang ketika kecil, saat pertama berjumpa dengannya aku juga mengekor kemanapun dia pergi. alhamdulillahnya adalah, dia wanita bukan laki laki. dia adalah si mata ramah. Maya.

Seperti yang pernah aku ceritakan. Bahwa dia teman pertama yang begitu memesona. Aku ekori dari hari pertama hingga kapan pun aku bisa.

Dan sekali lagi soal selera? Dia luar biasa. Ketika kecil, waktu membeli baju aku sering mengekor abang, maka sekarang aku mengekor maya. Selalu butuh sarannya.

Dan maya? Gampang saja. “ini manis mut, ini ngak buat gendut, ini keren, ini enak di pakai dll”. Hasilnya? Aku sering membeli baju yang sama dengan maya.

Bedanya kalau maya warna cream aku warna merah, maya pink maka aku biru, atau jika maya merah maka aku pink. Bisa juga beda model, maya baju batik potongan se paha maka aku selutut. Barang lain juga sama seperti sepatu, tas, sendal. Ukuran saja yang berbeda. Karena yang satu imut imut dan yang satu amit amit. Hahahaha. Jika pergi bersama, biasanya kami akan membeli sebuah barang yang sama.

“ngak apa kan may sama dengan qe?” tanya ku.

“aku ngak masalah mut”, jawabnya,

Dan maya konsisten dengan kata kata “aku ngak masalah”.

Jadi kami sering sehati. Begitu selesai siap siap, eh warna baju sama dan eh baju nya sama.

“ganti baju may yok?”kataku.

“alah ngak apa e mut”, jawabnya.

Aku sih yes saja jika sudah begitu. Sepanjang jalan kami seperti kembar tak serupa.

Hingga suatu hari saat jaga di penyakit dalam, waktu itu maya jaga malam dan aku tidak. Tapi apa daya, begitu sampai ke rumah sakit, ternyata baju kami sama. Beda model saja. Maya baju dan rok sedangkan aku baju gamis, tapi kain kami dengan warna dan motif yang sama.

Dan sekali lagi maya bilang “ngak apa mut”

Setiap ada yang tanya aku selalu jawab “kami sehati”.

Hingaa akhirnya dokter ppds penyakit dalam angkat suara, bang indra namanya. “mut, kok sama bajunya sama si maya, ada acara apa?”

Aku iseng saja jawab “ada acara nasyid bang”.

“oh”, jawabnya.

Waktu berselang. Dan si abang ketemu maya, “may, ikut nasyid dimana? Ada menang kalian?”

“nasyid? Siapa ikut nasyid bang?”

“si mutia bilang kalian ikut nasyid, makanya bajunya sama”, jawab si abang polos.

“abang di isengin sama mutia. Kami ngak ikut nasyid. Kami sehati makanya bajunya sama”. Jawab maya.

“oh si mutia. Itulah dalam satu pasti ada yang aneh”, sambung bang indra.

Aku disudut ruangan menyimak percakapan itu dan cuma bisa tetawa bahagia. Hahahaha. “Kami sehati bang dan kami kembar tak serupa”.

Dialah kakak! Kakak yang selalu aku ekori. Hey, aku rindu. Rindu sekali. Sekarang banyak hal yang terasa hampa disini. Apalagi saat kepasar, aku sering linglung sendiri. Banda aceh 21 agustus 2015.
CYMERA_20150821_145928

CYMERA_20150821_145954

CYMERA_20150821_150239
Kotak pensil, ukiran inai, bahkan baju wisuda kami sama. Serupa tapi tak sama.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s