secercah harapan untuk rumah kami

Baru pulang jaga malam dan ngak sengaja lewat di depan mesjid raya. Rame! Sepertinya ada zikir akbar. Mau ikutan nimbrung, mata udah terlanjur ngantuk dan akan salah kostum. Mereka putih semua. Sedangkan aku orange menyala!

Ternyata, zikir akbar tadi dalam rangka memperingati 10 tahun perjanjian damai MoU helsinki. Alhamdulillah sudah 10 tahun. Dan untuk sepuluh tahun itu terima kasih ya Allah. Mau nya acaranya lebih besar, zikir nya lebih akbar. Mengapa?

Karena masih teringat jelas kehidupan anak kampung seperti ku 10 tahun silam. Pergi sekolah selalu was-was dan di depan pintu udah diingatin, pulang sekolah jangan kemana mana. Kalau ada kontak senjata jangan lari, tiaarap aja. Maen sepeda jangan jauh jauh. Karena iyes, kontak senjata bisa terjadi kapan saja dan dimana saja.

Tidur malam juga sering was was. Pernah suatu malam, jam 2 pagi kalau ngak salah. Kami angkut angkut barang. Karena rumah gedogan yang letaknya tepat di depan rumah kami yang cuma berdinding kayu lapuk itu, entah terbakar, entah dibakar. Sedikit saja serpihan kebakaran itu terbang kerumah kami, ludes. Rumah kami akan habis seperti daun kering kena api. Sekejap saja. Maka dini hari, mulailah kami angkut angkut barang yang tidak seberapa itu. Tapi alhamdulillah hal terburuk tidak terjadi.

Saat peraturan sekolah berubah, juga sangat menyedihkan. Hari libur minggu di pindah ke jumat. Maka selamat tinggal chibi maruko chan, doraemon, dll. Karena minggu pagi kami sekolah seperti biasanya.

Aku juga kehilangan banyak teman bermain dan sahabat kecil. Diantara mereka siti yang paling berkesan. Dia teman pertama yang aku kenal saat SD dulu. Tapi karena konflik semakin memuncak, keluarganya dan banyak keluarga lain memutuskan pindah dari aceh. Aku kembali sendiri.

Banyak juga teman teman ku yang kehilangan ayah. Hilang tanpa tau masih hidup atau tidak. Dan hilang tanpa tau dimana kuburan terakhirnya.

Dan banyak luka lain.

Tapi sekarang. Ya Allah, alhamdulillah. Aku bisa sekolah dengan tenang, belajar dengan nyaman, bekerja dengan bebas. Was was ini berlahan memudar. Suara dentuman sudah hilang, kebakaran lenyap dan orang hilang tidak ada lagi. Beribu syukur untuk itu ya Allah. beribu syukur untuk damai ini. Yang tidak hanya menghilangkan was wasm tapi juga air mata.

Jika ada yang bertanya, apa arti damai? Aku akan jawab bahwa damai adalah kita bisa tumbuh besar dan berkembang tanpa rasa takut. Itu dia.

Saat nonton eagle award kemarin, salah satu pesertanya asal aceh. Mereka membawakan tema tentang janda janda konflik. Si juri bertanya, “cerita tentang stunami dan konflik adalah cerita yang terus menerus diulang, mungkin kebanyakan orang akan bosan. Sekarang kembali ke kalian, cerita ini mau di bawa kemana. Mengais luka lama dan terus hidup dalam derita yang mengharu biru, atau bangkit dari keterpurukan dengan segenggam harapan?”

Apa jawaban presentan tidak di tampilkan di acara itu.

Aku setuju sekali dengan pendapat juri. Iya, cerita aceh mau di bawa kemana? Di ulang ulang untuk tetap bertahan dalam kesedihan? Atau kita akan bangkit. Mengeliat dengan segenggam harapan?

Seharusnya wujud syukur kita dengan ada nya damai ini adalah yang ke dua. Menggeliat maju untuk aceh yang lebih baik.

Bukankah kita sudah bisa sekolah dengan aman? Bukan kah kita sudah mudah berpergian? Bukan kah kita sudah bisa bekerja dengan nyaman?

Insyaallah sudah. Apalagi yang ditunggu? Wake up! Jangan memperkaya diri sendiri atau segolongan saja. Karena kita pernah sama sama menderita, seharusnya dengan damai ini kita bangkit bersama untuk pada akhirnya bahagia bersama. Mengukir senyum di banyak wajah orang aceh yang sudah lama penuh takut.

Ah, damai dan secercah harapan baru untuk aceh.

Semoga terus terjaga damai ini dan tidak ada yang mengusiknya lagi. Karena tidak ada tempat paling nyaman untuk ditinggali kecuali rumah sendiri. Dan tidak ada kebahagian terindah selain melihat saudara sendiri juga bahagia. Rumah itu dan saudara itu ada di Aceh. Banda aceh 15 agutus 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s