si sun (asam sunti)

Langit mulai jingga, suara burung mulai menghilang, suara anak anak gaduh pun berhenti. Diganti dengan angin yang semakin sepoi sepoi, cuaca yang menghangat dan sendu. Iyap, hari sudah sore.

Aku baru pulang ke rumah sore itu. Dan sesampai di rumah, di ujung halaman ada nenek nenek yang sedang jongkok. Nek ngeh namanya. Tetangga kami.

Aku iseng saja mendekat. Penasaran dengan apa yang di lakukan beliau sore sore begini.

“nek ngeh lagoe, lon pike so”, sapa ku. (nek ngeh kok, saya pikir siapa)

“nyeu hai dek nong”, jawabnya

“pu buet nek?” tanyaku lagi. ( lagi apa nek?)

“oh, jak keunoe beu tooe. Nek teungeh peuget asam sunti. Euntuek mise hana leu nek ka jeuet peuget”. Jawabnya. (ayo dekat sini. Nenek lagi buat asam sunti. Lihat cara buatnya, nanti kalau kami udah ngak ada kalian udah bisa buat)

Aku semakin mendekat. Mendengar kata kata asam sunti, aku sangat tertarik. Dan ah selalu “meurunoe, euntek miseu hana le kamo, ka jeut awak kah”. Di ulang ulang dalam setiap moment. Moment buat sie reboh, buat timphan, keumeunyan, dodoi, dll. “belajar, agar bisa saat kami sudah tidak ada”. Itulah nenek nenek kita. Tapi sering kita lupa. Hahahaha. Padahal tradisi aceh luar biasa. Apalagi masakan aceh besar. Selalu merayu rayu dalam diam untuk di makan.

“kiban cara peuget nyoe nek?”(gemana cara buatnya nek?)

“mangat that. Boh limeng, ta adee. Ta boh sira. Oh leuh nyan ban ka supot ta boh sira lom”, jelasnya. (gampang. Belimbing nya tinggal di jemur, terus taburi garam. Kalau udah sore gini, taburi garam lagi).

“lage nyan meunteng?” tanyaku. ( gitu aja?)

“nyeu. Lage nyan meunteng. Miseu uroe get, lam 5 uroe ka jeut pakek. Yang penting bek tuwo boh sira. Karena miseu le sira, asam jih hana bagah brok, hana tho dan kuah akan lagak”. (iya gitu aja. Dalam 5 hari biasanya udah bisa di pakek. Yang penting jangan lupa kasih garam. Karens kalau banyak garam ngak cepat busuk, ngak kering dan kuah kita akan cantik warnanya). Jawabnya sambil menabuh garam pada butiran butiran asam sunti itu lalu memasukkannya ke dalam karung goni.

Aku tetap mengamati. Bagaimana si sunti di buat. Selama ini aku hanya mendengar cerita mamak bagai mana cara asam sunti di buat. Dan baru kali ini punya kesempatan melihat langsung. Live report.

“uroe nyan kak nana, wate jak u kalimantan sithon na di meee asam sunti chit. Hana mangat hana asam sunti di peugah”, cerita nek ngoh. Dan sunti sunti tadi sudah selamat di dalam kardus. Tepat sekali. Ngak enak lidah kalau ngak makan yang asama asam gurih dalam seminggu. Dan asam paling lezat, bersumber dari sunti yang berkualitas mantap.

“ka jeut dek nong, singoh ta ade lom. Nyan miseu na boh limeng di rumoh, bek boh boh. Ka jeutpeuget kan?” tanyanya.

Hahahahaha, aku mengangguk pelan. Dan kami berpisah sore itu.

Oh sunti, begitu cara membuatnya. Hanya butuh modal dijemur, garam dan sabar.

Memasak tanpa asam sunti itu seperti ada yang kurang. Kurang pas. Kurang di warna dan di rasanya. Kalau udah kena masakan yang ada asam sunti nya “chit ka bereh”.

Nek ngeh terima kasih. Insyaallah kalau ada buah belimbing wuluh dirumah, tidak akan kami sia siakan untuk di jadikan asam sunti.

Si hitam yang penuh cita rasa ya cuma si sunti ini. Banda aceh 20 agustus 2015.

Asam sunti yang baru 2 hari di jemur
Asam sunti yang baru 2 hari di jemur

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s