pohon rindang

ÌUntuk laki laki paruh baya yang aku kenal selama 24 tahun.

Dialah laki laki pertama yang aku kenal. Laki laki yang tatapan matanya memang tidak sehangat matahari tapi aku tau di dalam tatapan mata itu ada kasih sayang. Kasih sayang yang tidak bisa aku lukiskan dengan kata.

Bagi ku, dia seperti pohon rindang di tengah padang tandus. Yang ketika aku takut kepanasan, sedang kehujanan, maka aku akan kesana. Dan seperti pohon yang tidak berpindah, dia selalu ada. Selalu siaga disana.

Padahal, hey! Umur ku sudah 24tahun. umur yang seharusnya diusia itu aku sudah “mandiri”. Tapi, dia tetap seperti pohon rindang bagiku.

Beberapa bulan lalu, surat izin mengemudi ku sudah kadaluarsa. Berkali kali dia bilang “nanti kita buat sama sama waktu ayah ada waktu ya”, katanya.

“tidak usah yah, adek bisa sendiri”, kataku.

“nanti adek bingung disana, pergi sama ayah aja”, jawabnya.

Akhirnya walau sempat tertunda selama seminggu karena ayah tidak punya waktu, senin pagi kami sampai juga ke kantor polisi untuk mengurus SIM. Dia khusus minta izin kepada atasannya datang telat hari itu.

Diawal tahun ini kami juga tertimpa musibah. Banjir! Dan saat itu aku benar benar butuh perpanjangan KTP. Dia cuma bilang “tenang, kita pasti keluar dari sini dan bisa perpanjang KTP adek”.

Benar saja, dua jam bergelut meminta bantuan akhirnya kami selamat. Begitu sampai di tempat pengungsian, ditengah hujan yang masih turun rintik rintik dia memenuhi janjinya. “ayo kita ke kantor camat urus KTP adek”.

Sejujurnya aku malu. Malu karena masih menyusahkan ayah di usiaku yang sudah segini. “ayah, maafin adek ya. Masih repotin ayah”, kataku lirih sambil menunggu KTP selesai.

“selama ayah masih sanggup dan mampu, ayah akan selalu ada disamping kalian”, jawabnya. Untuk seorang yang sering bercanda, jawabannya kali ini membuat bulu kudukku berdiri

Suatu hari aku pernah bertanya padanya. “ayah, atas semua “keterbiasaan” keluarga kita yang membuat kita sedikit “berbeda” dengan orang lain, mengapa ayah tetap bertahan selama ini?”

“apa yang udah ayah rasa, ngak boleh kalian rasa”, jawabnya.

Aku paham betul arti kata kata itu. Aku tau sedikit banyak tentang cerita kecil ayah. Tentang perjuangannya menjadi anak piatu dengan lima orang adik. Hidupnya tidak mudah. Ada banyak luka yang ketika diceritakan ulang olehnya tidak pernah menjadi haru malah menjadi tawa.

Ayah, terima kasih. Terima kasih untuk begitu banyak cinta yang tidak pernah terucap. Terima kasih untuk begitu banyak perhatian yang diam diam terus mengalir. Terima kasih untuk semua perjuangan yang tidak pernah kau umbar tapi terus terasa. Dan terima kasih untuk selalu ada untuk kami.

Semoga sehat selalu, diberi keberkahan umur, di berkahi setiap langkah oleh Allah. Ayah, doakan aku agar bisa menjadi pengganti pohon rindang bagimu. Yang ketika kau beranjak tua, aku bisa menjadi tempatmu berlindung disaat apapun, seperti kau selama ini bagi kami.

Ayah, sekali lagi terima kasih. mutia.. Banda aceh, 11 juli 2015.

Mirip seperti pohon rindang yang selalu kami datangi
Mirip seperti pohon rindang yang selalu kami datangi
Terima kasih dari anak dara yang ayah yang sedang tumbuh besar
Terima kasih, dari anak dara ayah yang sedang tumbuh besar menjadi pohon rindang
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s