lain dari biasa

Siang, 23 agustus 2015.

Siang dan aku jaga siang. Hehehehe! Hari ini kami jaga ber 5, aku, kak filda, kak mulya, kak wulan dan bumil chantik dek ul. Selesai amprahan dengan kelompok pagi, pemandangan IGD hari ini luar biasa. Lain dari pada hari biasanya. Kenapa? Karena IGD siang ini, tumben kosong. Bed pasien di depan kami bersih tanpa pasien dan tirai penutup dibuka lebar lebar. Cuma ada 1 pasien di pojok depan. Pasien dokter nurfitri dengan ppok. Dan dua pasien anak di belakang kami yang sedang menunggu hasil lab. Sisanya? Seperti cerita tadi, kosong. Luar biasa sekali.

Tapi, seiring detakan jam, pasien satu persatu masuk. Yang demam, sakit perut, diare, nyeri dada, terkena seng, post KLL, pasien DM, dll. Sedikit demi sedikit bed pasien tadi terisi. Keadaan terus seperti itu hingga magrib datang.

Nah, waktu salat magrib kami tukar tukaran stand by. Dek ul dan kak filda salat. Tinggal aku, kak mul dan kak wulan. Tiba tiba masuk pasien. Wanita umur 54 tahun. Diantar oleh 2 anak laki lakinya dan suami.

Kak mul di depan. Senior yang memang selalu luar biasa. Orangnya ramah, telaten, perfeksionis dan sangat lembut. Istri idaman pokoknya. Pernah pasien pulang tanpa obat. Hanya di terapi moncong oleh kak mul. Bahkan pasien sendiri mengakui, “itulah kan dokter, kadang kata kata dokter itu memang kayak sugesti. Yakin aja dengar nya, yaudah ini saya bawa pulang aja anak saya, insyaallah seperti dokter tadi bilang ngak kenapa napa”, kata si ibu”, bilangnya ke aku. Karena kak mul sudah berlalu. Memang luar biasa kak mulyawati ini

Nah, mulai lah kak mul menganamnesa ibu tadi dengan gayanya.

“ibu sakit apa?”

“lemas dok”, jawabnya.

“terus”,

“udah itu aja”

Aku dan kak mul mengernyit.

“itu aja? ?makan mau?

“mau”,

“ada mencret? Mual muntah? Demam? Perasaan berat di sebelah badan? Sakit kepala? Kebas kebas? Luka lama sembuh? Sakit perut? Dlllllllll”, intinya gitu.

Si ibu dengan yakin menjawab “ngak ada dokter”.

Aku dan kak mul semakin mengernyit.

Kak mul langsung periksa si pasien. Tensi bagus, pemeriksaan organ bagus. Intinya “bagus” dan keluhannya juga bagus “lemas”, udah gitu aja.

“oh, ini ibu kecapean. Dirumah anak cowok semua ya?” langsung pada inti.

“iya dok”. Jawab si ibu sambil tertawa.

“ngak ada yang mau cuci piring ya?”

“hehehe, iya dok”. Jawab si ibu sambil tersenyum. Raut wajahnya lepas. Mungkin dia mau mengeluh sama keluarganya tapi ngak tau harus memulai dari mana. Dan karena udah kami singgung, akhirnya keluhan itu keluar juga.

Aku mulai geli. Pasien itu banyak ragamnya. Yang sakit ringan cuma jatuh tergores aspal, mengaduh heboh seolah patah tulang, ada yang sakit perut cuma naik asam lambung, mengaduh seolah udah perforasi organ, dll. tapi ada juga yang luka menganga tapi anteng anteng aja. Ada. Nah, untuk yang jenis seperti ini baru ibu ini. Kejujuran nya itu, luar biasa. Sesuai kadar.

“oh, ada dengar bang. Mamak butuh yang bantu dirumah”, kataku.

“iya dok, memang butuh hiburan”.jawab si ibu. Anak dan suaminya terdiam.

Ya Allah, aku semakin geli. Geli sekali melihat pasien ini. Ke instalasi gawat darurat cuma karena lemas dan butuh hiburan. Hmmmm. Ternyata selain dapat memberi bantuan berkat izin Allah, dokter juga di percaya mampu menghibur pasien. Luar biasa profesi yang satu ini. Yah, walau sering juga kami malah jadi muara semua salah.

Akhirnya, kak mul mengeluarkan kemampuan komunikasinya yang luar biasa. Kak mul menenangkan, sedikit memberi motivasi, sedikit menghibur dan banyak menyugesti si ibu dan keluarganya. hingga akhirnya 15 menit kemudian ibu tadi merasa nyaman dan minta pulang.

“terima kasih dokter”, katanya.

“sama sama buk, tetap semangat ya”, sambung kak mulya.

Si ibu dan keluarganya berlalu.

Aku tersenyum. Sedikit geli dan merasa aneh. Tapi eh, mamak di rumah ada kesepian ngak ya? Kalau beliau berulah demikian akan seperti apa jadinya?

Yah, menjadi dokter tidak mudah teman. Selain belajar lama, kita harus punya banyak kemampuan lain termasuk salah satunya mampu menghibur. Luar biasa. Melayoe, aceh besar

Advertisements

berdebar

“Kopi ” minuman hitam dengan sejuta sensasi. Mulai dari rasa hingga gengsi. Tapi bagiku kopi adalah “teman” saat butuh inspirasi dan energi lebih untuk tetap terjaga di malam hari. Entah itu karena lusa akan ujian atau butuh terjaga saja misalnya sedang jaga malam.

Rasa kopi juga lumayan. Pahit dan gemana gitu. Efeknya juga luar biasa membuat mata terbelalak hingga tengah malam. Mantap di jadikan teman belajar memghadapi ujian.

Jadi, rencananya besok kami mau ulangan fisika. Aku santai saja belajar ditemani segelas cappucino hangat di meja. Sudah biasa. Kalau pun “on” paling betah hingga jam 12 malam. Selebihnya efek kopi akan hilang sendiri.

Maya tiba tiba masuk kamar.

“minum apa mut?”

“capucino may”, jawab ku.

“asik, mau begadang mut?” tanya nya.

“ngak may, paling bertahan satu jam dari batas teng kita tidur may”, jawabku.

“ih, mau lah dikit mut”, kata maya lagi. Maya jaraaaaaang sekali minum kopi. Dalam daftat belanja mingguannya kata kata kopi tidak pernah ada. Minuman maya cuma tiga kalau bukan air putih, teh atau susu milo. Dia hapal mana yang buatan indonesia dan mana yang buatan malaysia sangking seringnya minum susu milo.

“yaudah may, minum aja”. Jawabku.

Maya menyerumput kopi dari gelas ku. Dengan gaya khasnya. mungkin karena sering minum teh dan susu hangat, gaya menyerumput nya sangat khas.

“dikit kali kok may?” tanyaku. Karena hanya 1/4 gelas yang hilang.

“ngak apa mut”, jawabnya.

Dan kami kembali ke aktifitas masing masing.

Jam 12 teng aku mulai mengantuk.

“may, aku tidur duluan ya”, jawabku.

“iya mut, aku juga”.

Dan kami sama sama tertidur. Lampu sudah mati, suara berisik anak barak pun mulai hilang. Hari telah benar benar malam.

Aku semakin masuk ke dalam alam mimpi. Tapi sepertinya ada yang terus mengeliat di atas sana.

“kenapa may? Kok bolak balik terus dari tadi?” tanyaku.

“ngak ngantuk mut”, jawabnya

“hahahaha. Efek kopi tu may”.

“iya mut. Habis tu kan, berdebar debar lagi”. Katanya.

“sayang kali qe. Besok jangan minum lagi. Tidur terus, besok ulangan kita”, kataku.

“iya, ini aku paksa tidur aja. Besok besok aku ngak mau minum kopi lagi”, jawabnya,

“iya may”

Kami kembali tidur. Hari itu dan seterusnya sesuai kata katanya, maya tidak pernah lagi menyentuh kopi yang punya seribu sensasi itu. “berdebar aku mut”.

Dan malam ini, aku juga tidak bisa tidur dan berdebar tidak karuan. Sungguh ini sangat menyiksa. Setelah aku ingat ingat “oh ya, tadi sebelum pergi jaga malam aku minum segelas capucino dingin”. Ah, begini rasanya berdebar dan mata melotot karena kopi ya may?

Igd meraxa, 6 juli 2015. Ramadhan ke 19.

serupa tapi tak sama

Pernah baca cerita ku tentang rindu? (kalau belum cari saja di kolom searching). Nah, seperti yang pernah aku cerita kan disana, saat kecil aku punya panutan luar biasa. Abangku. Namun, pertumbuhan membuatku harus benar benar menyadari bahwa aku dan dia berbeda. Dia anak laki laki dan aku anak dara dirumah. Akhirnya aku mengalah, mencari jalan hidup sendiri. Hahahaha. Begitulah kira kira.

Hingga akhirnya Allah mempertemukan ku dengan dia. Dia yang perlahan menjadi panutan ku sama seperti sosok abangku sendiri. Dan seperti apa yang aku lakukan terhadap abang ketika kecil, saat pertama berjumpa dengannya aku juga mengekor kemanapun dia pergi. alhamdulillahnya adalah, dia wanita bukan laki laki. dia adalah si mata ramah. Maya.

Seperti yang pernah aku ceritakan. Bahwa dia teman pertama yang begitu memesona. Aku ekori dari hari pertama hingga kapan pun aku bisa.

Dan sekali lagi soal selera? Dia luar biasa. Ketika kecil, waktu membeli baju aku sering mengekor abang, maka sekarang aku mengekor maya. Selalu butuh sarannya.

Dan maya? Gampang saja. “ini manis mut, ini ngak buat gendut, ini keren, ini enak di pakai dll”. Hasilnya? Aku sering membeli baju yang sama dengan maya.

Bedanya kalau maya warna cream aku warna merah, maya pink maka aku biru, atau jika maya merah maka aku pink. Bisa juga beda model, maya baju batik potongan se paha maka aku selutut. Barang lain juga sama seperti sepatu, tas, sendal. Ukuran saja yang berbeda. Karena yang satu imut imut dan yang satu amit amit. Hahahaha. Jika pergi bersama, biasanya kami akan membeli sebuah barang yang sama.

“ngak apa kan may sama dengan qe?” tanya ku.

“aku ngak masalah mut”, jawabnya,

Dan maya konsisten dengan kata kata “aku ngak masalah”.

Jadi kami sering sehati. Begitu selesai siap siap, eh warna baju sama dan eh baju nya sama.

“ganti baju may yok?”kataku.

“alah ngak apa e mut”, jawabnya.

Aku sih yes saja jika sudah begitu. Sepanjang jalan kami seperti kembar tak serupa.

Hingga suatu hari saat jaga di penyakit dalam, waktu itu maya jaga malam dan aku tidak. Tapi apa daya, begitu sampai ke rumah sakit, ternyata baju kami sama. Beda model saja. Maya baju dan rok sedangkan aku baju gamis, tapi kain kami dengan warna dan motif yang sama.

Dan sekali lagi maya bilang “ngak apa mut”

Setiap ada yang tanya aku selalu jawab “kami sehati”.

Hingaa akhirnya dokter ppds penyakit dalam angkat suara, bang indra namanya. “mut, kok sama bajunya sama si maya, ada acara apa?”

Aku iseng saja jawab “ada acara nasyid bang”.

“oh”, jawabnya.

Waktu berselang. Dan si abang ketemu maya, “may, ikut nasyid dimana? Ada menang kalian?”

“nasyid? Siapa ikut nasyid bang?”

“si mutia bilang kalian ikut nasyid, makanya bajunya sama”, jawab si abang polos.

“abang di isengin sama mutia. Kami ngak ikut nasyid. Kami sehati makanya bajunya sama”. Jawab maya.

“oh si mutia. Itulah dalam satu pasti ada yang aneh”, sambung bang indra.

Aku disudut ruangan menyimak percakapan itu dan cuma bisa tetawa bahagia. Hahahaha. “Kami sehati bang dan kami kembar tak serupa”.

Dialah kakak! Kakak yang selalu aku ekori. Hey, aku rindu. Rindu sekali. Sekarang banyak hal yang terasa hampa disini. Apalagi saat kepasar, aku sering linglung sendiri. Banda aceh 21 agustus 2015.
CYMERA_20150821_145928

CYMERA_20150821_145954

CYMERA_20150821_150239
Kotak pensil, ukiran inai, bahkan baju wisuda kami sama. Serupa tapi tak sama.

secercah harapan untuk rumah kami

Baru pulang jaga malam dan ngak sengaja lewat di depan mesjid raya. Rame! Sepertinya ada zikir akbar. Mau ikutan nimbrung, mata udah terlanjur ngantuk dan akan salah kostum. Mereka putih semua. Sedangkan aku orange menyala!

Ternyata, zikir akbar tadi dalam rangka memperingati 10 tahun perjanjian damai MoU helsinki. Alhamdulillah sudah 10 tahun. Dan untuk sepuluh tahun itu terima kasih ya Allah. Mau nya acaranya lebih besar, zikir nya lebih akbar. Mengapa?

Karena masih teringat jelas kehidupan anak kampung seperti ku 10 tahun silam. Pergi sekolah selalu was-was dan di depan pintu udah diingatin, pulang sekolah jangan kemana mana. Kalau ada kontak senjata jangan lari, tiaarap aja. Maen sepeda jangan jauh jauh. Karena iyes, kontak senjata bisa terjadi kapan saja dan dimana saja.

Tidur malam juga sering was was. Pernah suatu malam, jam 2 pagi kalau ngak salah. Kami angkut angkut barang. Karena rumah gedogan yang letaknya tepat di depan rumah kami yang cuma berdinding kayu lapuk itu, entah terbakar, entah dibakar. Sedikit saja serpihan kebakaran itu terbang kerumah kami, ludes. Rumah kami akan habis seperti daun kering kena api. Sekejap saja. Maka dini hari, mulailah kami angkut angkut barang yang tidak seberapa itu. Tapi alhamdulillah hal terburuk tidak terjadi.

Saat peraturan sekolah berubah, juga sangat menyedihkan. Hari libur minggu di pindah ke jumat. Maka selamat tinggal chibi maruko chan, doraemon, dll. Karena minggu pagi kami sekolah seperti biasanya.

Aku juga kehilangan banyak teman bermain dan sahabat kecil. Diantara mereka siti yang paling berkesan. Dia teman pertama yang aku kenal saat SD dulu. Tapi karena konflik semakin memuncak, keluarganya dan banyak keluarga lain memutuskan pindah dari aceh. Aku kembali sendiri.

Banyak juga teman teman ku yang kehilangan ayah. Hilang tanpa tau masih hidup atau tidak. Dan hilang tanpa tau dimana kuburan terakhirnya.

Dan banyak luka lain.

Tapi sekarang. Ya Allah, alhamdulillah. Aku bisa sekolah dengan tenang, belajar dengan nyaman, bekerja dengan bebas. Was was ini berlahan memudar. Suara dentuman sudah hilang, kebakaran lenyap dan orang hilang tidak ada lagi. Beribu syukur untuk itu ya Allah. beribu syukur untuk damai ini. Yang tidak hanya menghilangkan was wasm tapi juga air mata.

Jika ada yang bertanya, apa arti damai? Aku akan jawab bahwa damai adalah kita bisa tumbuh besar dan berkembang tanpa rasa takut. Itu dia.

Saat nonton eagle award kemarin, salah satu pesertanya asal aceh. Mereka membawakan tema tentang janda janda konflik. Si juri bertanya, “cerita tentang stunami dan konflik adalah cerita yang terus menerus diulang, mungkin kebanyakan orang akan bosan. Sekarang kembali ke kalian, cerita ini mau di bawa kemana. Mengais luka lama dan terus hidup dalam derita yang mengharu biru, atau bangkit dari keterpurukan dengan segenggam harapan?”

Apa jawaban presentan tidak di tampilkan di acara itu.

Aku setuju sekali dengan pendapat juri. Iya, cerita aceh mau di bawa kemana? Di ulang ulang untuk tetap bertahan dalam kesedihan? Atau kita akan bangkit. Mengeliat dengan segenggam harapan?

Seharusnya wujud syukur kita dengan ada nya damai ini adalah yang ke dua. Menggeliat maju untuk aceh yang lebih baik.

Bukankah kita sudah bisa sekolah dengan aman? Bukan kah kita sudah mudah berpergian? Bukan kah kita sudah bisa bekerja dengan nyaman?

Insyaallah sudah. Apalagi yang ditunggu? Wake up! Jangan memperkaya diri sendiri atau segolongan saja. Karena kita pernah sama sama menderita, seharusnya dengan damai ini kita bangkit bersama untuk pada akhirnya bahagia bersama. Mengukir senyum di banyak wajah orang aceh yang sudah lama penuh takut.

Ah, damai dan secercah harapan baru untuk aceh.

Semoga terus terjaga damai ini dan tidak ada yang mengusiknya lagi. Karena tidak ada tempat paling nyaman untuk ditinggali kecuali rumah sendiri. Dan tidak ada kebahagian terindah selain melihat saudara sendiri juga bahagia. Rumah itu dan saudara itu ada di Aceh. Banda aceh 15 agutus 2015.

pohon rindang

ÌUntuk laki laki paruh baya yang aku kenal selama 24 tahun.

Dialah laki laki pertama yang aku kenal. Laki laki yang tatapan matanya memang tidak sehangat matahari tapi aku tau di dalam tatapan mata itu ada kasih sayang. Kasih sayang yang tidak bisa aku lukiskan dengan kata.

Bagi ku, dia seperti pohon rindang di tengah padang tandus. Yang ketika aku takut kepanasan, sedang kehujanan, maka aku akan kesana. Dan seperti pohon yang tidak berpindah, dia selalu ada. Selalu siaga disana.

Padahal, hey! Umur ku sudah 24tahun. umur yang seharusnya diusia itu aku sudah “mandiri”. Tapi, dia tetap seperti pohon rindang bagiku.

Beberapa bulan lalu, surat izin mengemudi ku sudah kadaluarsa. Berkali kali dia bilang “nanti kita buat sama sama waktu ayah ada waktu ya”, katanya.

“tidak usah yah, adek bisa sendiri”, kataku.

“nanti adek bingung disana, pergi sama ayah aja”, jawabnya.

Akhirnya walau sempat tertunda selama seminggu karena ayah tidak punya waktu, senin pagi kami sampai juga ke kantor polisi untuk mengurus SIM. Dia khusus minta izin kepada atasannya datang telat hari itu.

Diawal tahun ini kami juga tertimpa musibah. Banjir! Dan saat itu aku benar benar butuh perpanjangan KTP. Dia cuma bilang “tenang, kita pasti keluar dari sini dan bisa perpanjang KTP adek”.

Benar saja, dua jam bergelut meminta bantuan akhirnya kami selamat. Begitu sampai di tempat pengungsian, ditengah hujan yang masih turun rintik rintik dia memenuhi janjinya. “ayo kita ke kantor camat urus KTP adek”.

Sejujurnya aku malu. Malu karena masih menyusahkan ayah di usiaku yang sudah segini. “ayah, maafin adek ya. Masih repotin ayah”, kataku lirih sambil menunggu KTP selesai.

“selama ayah masih sanggup dan mampu, ayah akan selalu ada disamping kalian”, jawabnya. Untuk seorang yang sering bercanda, jawabannya kali ini membuat bulu kudukku berdiri

Suatu hari aku pernah bertanya padanya. “ayah, atas semua “keterbiasaan” keluarga kita yang membuat kita sedikit “berbeda” dengan orang lain, mengapa ayah tetap bertahan selama ini?”

“apa yang udah ayah rasa, ngak boleh kalian rasa”, jawabnya.

Aku paham betul arti kata kata itu. Aku tau sedikit banyak tentang cerita kecil ayah. Tentang perjuangannya menjadi anak piatu dengan lima orang adik. Hidupnya tidak mudah. Ada banyak luka yang ketika diceritakan ulang olehnya tidak pernah menjadi haru malah menjadi tawa.

Ayah, terima kasih. Terima kasih untuk begitu banyak cinta yang tidak pernah terucap. Terima kasih untuk begitu banyak perhatian yang diam diam terus mengalir. Terima kasih untuk semua perjuangan yang tidak pernah kau umbar tapi terus terasa. Dan terima kasih untuk selalu ada untuk kami.

Semoga sehat selalu, diberi keberkahan umur, di berkahi setiap langkah oleh Allah. Ayah, doakan aku agar bisa menjadi pengganti pohon rindang bagimu. Yang ketika kau beranjak tua, aku bisa menjadi tempatmu berlindung disaat apapun, seperti kau selama ini bagi kami.

Ayah, sekali lagi terima kasih. mutia.. Banda aceh, 11 juli 2015.

Mirip seperti pohon rindang yang selalu kami datangi
Mirip seperti pohon rindang yang selalu kami datangi
Terima kasih dari anak dara yang ayah yang sedang tumbuh besar
Terima kasih, dari anak dara ayah yang sedang tumbuh besar menjadi pohon rindang

si sun (asam sunti)

Langit mulai jingga, suara burung mulai menghilang, suara anak anak gaduh pun berhenti. Diganti dengan angin yang semakin sepoi sepoi, cuaca yang menghangat dan sendu. Iyap, hari sudah sore.

Aku baru pulang ke rumah sore itu. Dan sesampai di rumah, di ujung halaman ada nenek nenek yang sedang jongkok. Nek ngeh namanya. Tetangga kami.

Aku iseng saja mendekat. Penasaran dengan apa yang di lakukan beliau sore sore begini.

“nek ngeh lagoe, lon pike so”, sapa ku. (nek ngeh kok, saya pikir siapa)

“nyeu hai dek nong”, jawabnya

“pu buet nek?” tanyaku lagi. ( lagi apa nek?)

“oh, jak keunoe beu tooe. Nek teungeh peuget asam sunti. Euntuek mise hana leu nek ka jeuet peuget”. Jawabnya. (ayo dekat sini. Nenek lagi buat asam sunti. Lihat cara buatnya, nanti kalau kami udah ngak ada kalian udah bisa buat)

Aku semakin mendekat. Mendengar kata kata asam sunti, aku sangat tertarik. Dan ah selalu “meurunoe, euntek miseu hana le kamo, ka jeut awak kah”. Di ulang ulang dalam setiap moment. Moment buat sie reboh, buat timphan, keumeunyan, dodoi, dll. “belajar, agar bisa saat kami sudah tidak ada”. Itulah nenek nenek kita. Tapi sering kita lupa. Hahahaha. Padahal tradisi aceh luar biasa. Apalagi masakan aceh besar. Selalu merayu rayu dalam diam untuk di makan.

“kiban cara peuget nyoe nek?”(gemana cara buatnya nek?)

“mangat that. Boh limeng, ta adee. Ta boh sira. Oh leuh nyan ban ka supot ta boh sira lom”, jelasnya. (gampang. Belimbing nya tinggal di jemur, terus taburi garam. Kalau udah sore gini, taburi garam lagi).

“lage nyan meunteng?” tanyaku. ( gitu aja?)

“nyeu. Lage nyan meunteng. Miseu uroe get, lam 5 uroe ka jeut pakek. Yang penting bek tuwo boh sira. Karena miseu le sira, asam jih hana bagah brok, hana tho dan kuah akan lagak”. (iya gitu aja. Dalam 5 hari biasanya udah bisa di pakek. Yang penting jangan lupa kasih garam. Karens kalau banyak garam ngak cepat busuk, ngak kering dan kuah kita akan cantik warnanya). Jawabnya sambil menabuh garam pada butiran butiran asam sunti itu lalu memasukkannya ke dalam karung goni.

Aku tetap mengamati. Bagaimana si sunti di buat. Selama ini aku hanya mendengar cerita mamak bagai mana cara asam sunti di buat. Dan baru kali ini punya kesempatan melihat langsung. Live report.

“uroe nyan kak nana, wate jak u kalimantan sithon na di meee asam sunti chit. Hana mangat hana asam sunti di peugah”, cerita nek ngoh. Dan sunti sunti tadi sudah selamat di dalam kardus. Tepat sekali. Ngak enak lidah kalau ngak makan yang asama asam gurih dalam seminggu. Dan asam paling lezat, bersumber dari sunti yang berkualitas mantap.

“ka jeut dek nong, singoh ta ade lom. Nyan miseu na boh limeng di rumoh, bek boh boh. Ka jeutpeuget kan?” tanyanya.

Hahahahaha, aku mengangguk pelan. Dan kami berpisah sore itu.

Oh sunti, begitu cara membuatnya. Hanya butuh modal dijemur, garam dan sabar.

Memasak tanpa asam sunti itu seperti ada yang kurang. Kurang pas. Kurang di warna dan di rasanya. Kalau udah kena masakan yang ada asam sunti nya “chit ka bereh”.

Nek ngeh terima kasih. Insyaallah kalau ada buah belimbing wuluh dirumah, tidak akan kami sia siakan untuk di jadikan asam sunti.

Si hitam yang penuh cita rasa ya cuma si sunti ini. Banda aceh 20 agustus 2015.

Asam sunti yang baru 2 hari di jemur
Asam sunti yang baru 2 hari di jemur

jak u blang

Persawahan di aceh pasti udah jadi pemandangan umum dimana mana. Rasanya ngak ada daerah di aceh yang ngak punya area persawahan. Pasti ada. Kita bisa lihat di sepanjan jalan medan banda aceh aja hampir 1/3nya adalah area penanam padi. Itu masih di jalannya belum lagi masuk ke daerah perkampungannya. Luar biasa hamparan hijau itu membentang.

Dan area persawahan ini tidak akan hilang dari pandangan. Berganti musim dari musim tanam hingga musim panen, berubah warna dari hijau hingga kuning keperakan. Walau kata mamak “adek tau orang apa yang paling capek kerjanya?”, aku menggelang. “yang tanam padi disawah”, jawabnya. “saat menanam padi, apalagi waktu matahari naik dan kehausan. Mau minum air di kaki, rupanya lumpur. Mau lihat keatas biar ngak pegal udah matahari terik”. Sambungnya.

Tapi kenapa dia selalu kembali menghijau di setiap musim hujan? Karena sebagian mata pencaharian orang aceh adalah bertani. Dan di mataku ada banyak harapan yang terpupuk sabar disetiap proses “jak u blang itu”. Maka jadilah, aceh akan terus hijau.

Awalnya pemandangan hijau akan tampak dimana mana, lalu sedikit demi sedikit padi tumbuh, dan hijaunya akan “kebangetan”. berlahan bulir buahnya akan tumbuh. Lalu padi itu akan berubah warna menjadi kuning keperakan, yang ketika terkena sinar matahari dia akan berkilau. Ah! Selalu suka pemandangan di setiap prosesnya. Selalu. Selain suka memandang langit, aku juga suka memandang hamparan ini.

Ah, saat padi mulai menguning seperti ini, persawahan akan mulai rame. Rame dengan apa? Rame dengan orang orangan sawah. Semarak! Apalagi daerah persawahan di kandang lhoksemawe. Penuh. Penuh dengan orang orangan sawah aneka bentuk, temali warna warni, di campur kuningnya padi dan sesekali ada kawanan bangau usil. Ah, luar biasa. Semarak!

Di daerah persawahan sekitar lampuuk juga gak jauh beda. Coba perhatikan. Kalau biasanya sawah di aceh besar dibiarkan menguning sendiri dengan orang orangan sawah seadanya, maka di daerah ini sedikit berbeda. Orang orang sawahnya meruah, tali temali bergantungan, potongan plastik warna warni akan wara wiri. Mungkin burung pipitnya terlalu banyak makanya sawahnya di dandan heboh. Tapi justru itu yang buat area ini semakin semarak saat musim menjelang panen.

Bisa di bayangkan kalau daerah persawahan di sepanjang jalan medan banda aceh khususnya di daerah indrapuri yang berlanjut hingga ke sibreh itu juga sesemarak ini. Akan sangat luar biasa pemandangan musim padi di aceh. Akan double indahnya. Semakin betah tinggal disini.

Sebentar lagi akan panen ya? Semoga hasil panennya berlimpah dan selalu ada berkah di setiap bulirnya. Dan semoga kita bisa swasembada beras karena lahan persawahan kita luar biasa luasnya. Dan semoga bisa terus semarak di musim panenya.

“jak hai ta jak, ta jak tob pade”

“pade meu riri meu gunca gunca”……

Banda aceh 19 agustus 2015.

PhotoGrid_1439985853609
Persawahan di aceh timur
PhotoGrid_1439985726080
Persawahan di selimum
IMG_20150816_200439
Persawahan di daerah lampuuk yang semarak. Ngak kebayang kalau di aceh besar dari indrapuri sampek ke simbreh kalau musim mau panen persawahannya sesemarak ini. Luar biasa pasti!