jangan bohongi aku

Seperti banyak cerita yang sudah aku tulis mengenai kita. Kali ini juga sama. Tentang kita.

Tentang hidup yang kita habiskam bersama. Bagi ku, dia tidak hanya seorang teman dan kakak, tapi dia adalah guru. Apalagi soal urusan dapur.

Misalnya saat kita mencuci piring. Dia selalu mengingatkan “cuci gelas dulu mut, biar ngak berminyak minyak”, katanya. Dan yes, kalau kita mencuci piring atau alat lain yang berminyak, sabut cuci piring otomatis menjadi berminyak juga dan gelas yang tidak seberapa kotor itu juga ikut ikutan kotor. Makanya selalu, pada bagian awal mencuci piring dia akan mengumpulkan gelas gelas da menghabiskan mencuci bagian itu dulu.

Atau saat memasak nasi. Aku sejak dulu bisa memasak nasi. Tapi ya itu, tergantung hati. Kadang keras, kadang lembek dan kadang kadang pas. Hingga akhirnya dia bilang “masak nasi mut, airnya pas sebuku buku jari telunjuk. Mau sebanyak apapun qe masak, kalau air nya lebih segitu, insyaallah ngak akan lembek atau keras”. Hmmmm. May, pingin aku cubit cubit pipinya. Hahahaha. Karena alhamdulillah sepanjang sepak terjang memasak nasi selanjutnya, beras beras itu jarang bermasalah setelah menjadi nasi.

Begitulah dia. Bakat memasak dan mengurus dapur sepertinya memang turun secara alami. Mengalir di setiap darah dan detakan jantungnya. Sedikit aneh, dia langsung tau. Hahahaha.

Jadi waktu itu kami kepasar. “may, beli cumi cumi ya”. Kataku.

“boleh mut. Tapi bisa masak kan?” katanya.

“aku pernah lihat mamak aku masak may”.

“oke”.

Sampai di rumah, kami langsung membersihkan cumi cumi tadi. Aku sering membersihkan bagian ini dirumah. Jadi mudah saja. Masalahnya justru ketika memasak.

“apa bumbunya mut?” tanya maya.

“mamak aku kalau ngak salah tarok bawang putih, bawang merah, cabe ijo, tomat dan jahe may”, jawab ku.

“jahe? Jangan pakek lah mut, bau dia”, sahut maya. “jangan tarok ya”, katanya lagi sambil memotong motong bumbu tadi.

“oke may”.

Setelah memotong bumbu tadi, maya berlanjut membuat sayur. Sisa memasak cumi cumi tadi adalah tugas ku.

Aku tumis semua bahan tadi dan iseng saja, aku tambah sedikit jahe. Sedikit sekali. Cuma 3 potong dengan ukuran 0,5 cm. “pasti maya ngak akan tau”, pikirku dalam hati.

Tengah siang kami selesai masak. Dan saat paling ditunggu datang. Makan bersama. Aku selalu suka momen ini, asik saja. Apalagi kalau makannya sampe butuh nasi tambah. Bertanda apa? Bertanda makanan hari itu enak. Hahahahaha.

Jadi, makanlah kami bersama dengan menu cumi tumis dan sayur kangkung. Disuapan pertama tidak ada komentar, yang ke dua juga. Tapi di suapa ke tiga….

“mut, qe tarok jahe ya?” tanya nya.

Aku terkejut. “ngak may”, jawab ku.

“jangan bohongin aku mut”, kata maya. Ah maya, selalu!

Hahahahahahaahah, “jangan bohongi aku”, geli sekali. “iyes may, tapi cuma dikit”, jawab ku.

“iya, tapi terasa mut. Bau lagi”, katanya.

Hahahaaha, indra pengecapnya punya berapa saraf lebih banyak dari aku ya?hmmmmm

“tapi yaudahlah. Besok besok jangan tarok lagi mut”, katanya.

“oke may”, jawabku malu.

Dan sejak saat itu aku berhenti. Berhenti mengusili maya di dapur. Bakat alaminya akan sangat mampu mengalahkan keusilan ku. Sedikit aneh dia langsung tau. Apa coba, jahe yang seupil di camputr minyak, sedikit air dan bumbu tadi. Perbandingannya jauh sekali. Tapi masih terasa dilidahnya. Huft. Luar biasaaaaaaaaaa! Selalu takjub dengan nya.

Hey teladan ku, di ramadhan kali ini, aku sangat merindukan mu. Kuta baro, 30 juni 2015. Ramadhan ke 14.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s