saleh secara sosial

Baik secara sosial

Matahari menyingsing. Berdiri gagah dengan sinar yang menyilaukan. menyapu wajah kami yang sedang berada di tengah lapangan upacara senin ini. Kami semua berbaris di lapangan hijau. Aku berdiri menghadap dinding bertuliskan “ the best preparation for tomorrow is to do today’s work superbly well”. Selama dua tahun berturut-turut membaca tulisan ini aku tetap belum paham. esok lusa aku baru menyadari kalimat ini sungguh sugestif.

Menurut hematku, inti upacara senin itu ada dua. Pertama menaikkan bendera yang membuktikan kita masih merdeka. Kedua penyampaian pesan dari pemimpin upacara. Dari puluhan upacara yang aku ikuti. Maka inilah upacara senin yang sangat menyentuh hati, membuat bulu kuduk berdiri.

Tepat di atas mimbar. Disaksikan oleh 180 siswa dan beberapa guru. Pak ito, guru sosiologi kami berpidato. Beliau amat menggebu-gebu. Padahal awalnya aku hanya mencuri tidur sambil berdiri, begitu mendengar lengkingan suara beliau aku langsung terbelalak. Yap. Beliau mirip seorang orator!.

“From where? where are you? And where you wanna go?”, itu kalimat pembuka pak ito. “pikirkan baik-baik dari mana kita, dimana kita dan hendak kemana kita”. Beliau diam sesaat. “anak-anak bapak, banyak yang kita lakukan sebagai ibadah di dunia ini tidak berpahala. Kalian tau mengapa? Karena kita terlalu sering ria. Tapi, banyak kegiatan yang bukan ukhrawi justru mendapat pahala karena kita melakukannya dengan iklas. Jadi, perbaiki niat kita dalam melakukan apapun untuk menuju tempat yang kita inginkan. Niatkan kebaikan dan niatkan hanya karena Allah.”

Aku hening sesaat. Kalimat pembuka beliau membuatku berfikir banyak. Darimana aku? Dari sebuah kampung kecil di kaki gunung selawah. Dimana aku? Di lapangan upacara SMA tercinta. Hendak kemana aku? Aku belum tau.

Beliau melanjutkan amanatnya pagi itu. “anak-anak bapak, suatu saat nanti kalian akan keluar dari sekolah ini. Jadilah anak yang saleh. Model anak idaman setiap orang tua dan kami juga. Selain itu jadilah orang yang saleh secara sosial. Baik secara sosial. Bukan sendiri. Bukan menutup diri. Bukan merasa paling benar dan paling bisa. Tapi kalian adalah bagian dari yang lainnya. Bekerja sama, toleran, silaturahmi dan ingat! Niatkan semua karena Allah. Insyaallah bermanfaat!”. Kata pak ito. Beliau menutup amanatnya dan turun dari mimbar.

Aku terdiam. Memaknai apa yang beliau katakan sekali lagi. Menjadi saleh secara sosial. Dalam sekali maknanya menurutku. Baik bersama dengan niat yang benar. Saleh secara sosial! Inilah yang akan membuat hal besar bisa terwujud. Karena kita bersama bukan sendiri. Perampok yang kompak saja bisa berhasil melakukan kejahatan bagaimana jika seorang anak-anak baik berbuat kebaikan bersama. Seperti kata pak Ito, insyaallah bermanfaat.

Hari itu, aku hanya punya pemahaman sesederhana itu. beberapa tahun setelahnya aku lebih banyak paham mengenai apa makna “saleh secara sosial”. Ah pak Ito. Terima kasih untuk pagi ini. Dan matahari pagi yang cerah terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s