berapa suhunya?

Stase anak. Stase yang terkenal mengerikan selama koas. Kenapa? Karena banyak alasan dan salah satu alasan nya adalah dokter konsulennya. Harus detail. Mulai dari anamnesis, harus jelas, runut dan harus tanyakan langsung ke pasien. bahkan BAB dan BAK, jangan lupa. Pemeriksaan harus dilakukan, ngak boleh tinggal walau seorgan pun. Dosis obat harus tau dan jelas, sampai terakhir jangan lupa bubuhkan nama jelas di status, itu tanda bertanggung jawab! Main main dengan tahap ini, siap siap kena timah panas. Hahahahaha.

Jujur aku tegang ketika masuk bagian ini. Ngilunya sampek ke hati. Membayangkan saja tidak berani dan naas nya, koas pertama malah masuk kemari. Tapi bisa apa? Bismillah.

Pasien pertama dan perdana namanya ilham. Anak laki laki usia 5 tahun. Masuk dengan demam 10 hari ngak turun turun. Ditambah muntah berat, diare dan nyeri perut. Setelah dilakukan pemeriksaan darah positif si adek di diagnosis demam tifoid.

Siapa konsulennya? Dokter paling killer menurut ku. Orangnya sempurna dan detail. Jika berbicara suaranya tegas, dan expresi nya itu, semua berbicara. Saat kesal matanya, dahinya, pipinya, mulutnya juga ikut berbicara. Koas tidak boleh selengean di depan beliau. Harus sigap, bicara jelas dan berani. Kalau ada apa2 maju! Bodoh di depan beliau? Rasakan sendiri. Masuk ke tanah.

Nah, kita Sebut saja beliau dr. Baik. Mendengar namanya saja aku sedikit bergetar.

Pagi itu beliau tampak masuk ke ruang anak. Langkahnya pasti. Langsung menuju nurse station.

“mana pasien saya?” katanya

Kakak perawat langsung sigap. “Kamar 2, kamar 6, kamar 7, dan iso 2 dokter”jawabnya.

“yok”, kata si dokter.

Kakak perawat langsung memberikan aba aba kepada kami untuk ikut visite beliau. Diantara semua yang ikut visite, aku yakin akau yang paling takut. Iyes, karena aku memegang salah satu pasien beliau.

Visite berjalan hingga beliau sampai kepada pasien ku. ilham yang selalu marah ketika aku periksa.

“mana koas yang pegang?” tanya beliau.

Aku angkat tangan. Dan melaporkan keadaan pasien.

“kalau anamnesis jangan lupa tanyakan nafsu makan, BAB dan BAK nya”. Kata si dokter.

Lanjut ke pemeriksaan fisik. Aku selamat.

Lalu ke terapi. Aku kena badai katerina.

” Berapa tetes dia butuh cairan permenit? Berapa tambahan cairan karena dia demam? Ngak lihat mukanya kurus? Ada timbang tiap hari? Dehidrasi ngak pasiennya? ini kolf ke berapa? Jam berapa naik dan kapan harus habis? Ini dosis paracetamol begini? Mana kurva demam nya? mana tanda tangan kamu? Stayus kok ngak rapi?”#@$/÷^=&*(@_@?.

aku karam, expresinya membuat aku sekecil jarum pentul.

” mulai nanti lakuin dan tulis semua” kata si dokter.

Baiklah akan aku perbaiki semua.

Begitu visiter selesai aku langsung mengurus pasien tadi. Kisruh! Hingga esok Pagi aku datang lagi. Melakukan lagi perintah dokter baik, mulai evaluasi keluhannya, memeriksa perbaikan tanda vital, menimbang berat badan lalu menghitung kebutuhan cairan, lalu menulis kolf cairan yang naik dan terakhir membuat kurva demam.

Kurva demam ini dibuat untuk mengevaluasi demam pasien. Biasanya di ukur per 4 jam. Jadi kelihatan demamnya membentuk pola apa. Aku seperti punya alarm sendiri. Setiap 4 jam aaku sudah stay di bed dek ilham dengan termometer. Selalu deg degan dengan temperaturnya. Sepele kan? Aku pikir juga begitu, ternyata tidak.

Pagi itu visite lagi, setelah beberapa hari berlalu. “Mana kurva demamnya?”

Aku kikuk. “ini dokter”.

Beliau mengamati kurva demam yang naik turun itu.

“kapan terakhir kamu ukur temperaturnya?”

“tadi jam 8 dokter”, jawabku.

“setelah minum obat atau sebelum? Karena kalau sebelum minum obat berarti demamnya turun karena obat bukan karena dia mulai membaik”.

Deg….krek krek krek! Aku tidak terpikir sampai kesana. Pokoknya 4 jam aku temp.

Spontan. “sebelum minum obat dokter”, jawabku.

“benar buk, di periksa sama dokter muda ini sebelum si adek minum obat? ” beliau cross check, expresinya, ngak tahan. Aku siap di telan.

Si ibuk mengangguk.

“oke, terapi di lanjutkan”, kata si dokter,

Aku bersyukur sekali. alhamdulillah. Walau sejujurnya aki tidak tau kapan terkahir adek itu minum obat? Nanti aku cross check ulang.

” Kalau dalam 1 hari dia bebas demam, bisa direncanakan pulang”, beliau melanjutkan,

“baik dok”. Jawabku.

Selanjutnya setiap 4 jam aku semakin deg degan dengan temperaturnya. Tentunya sebelum minum obat. Hahahahahaahaha! Bahkan bangun pagi setelah membaca doa, hal yang pertama aku ingat adalah “berapa temperatur dek ilham hari ini ya?” hihihi.

Akhirnya, setelah seminggu di rawat dek ilham semakin baik. Demamnya turun tanpa obat, nafsu makannya membaik, berat badannya naik, wajahnya bersinar dan tidak letargi lagi. Dia pun di izinkan pulang. Dengan dokter muda yang menangani cuma satu, aku!

Bergelimpangan deg degan megang pasien beliau, tapi terima kasih dokter baik. Ilmu nya membekas hingga sekang. Semoga selalu bermanfaat. Amin. Nanti kalau jadi konsulen aku ingin menjadi dokter seperti beliau, pintar dan detail tapi tidak dengan expresi mengerikan. Hihihih. Ah, stase anak! Selalu berkesan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s