senam pokarena

Yang tidak terlupakan part II.

“Poco-poco…..”. Lantunan lagu poco-poco mengiringi kami sepanjang siang itu. Sedang apa kami? Latihan vokal? Tidak. Karaoke? Jauh. Nonton? Bukan. Tepatnya kami sedang latihan senam selama pelajaran olahraga buk icha.

Kali ini buk icha mengharapkan kami bisa menghafal gerakan senam terbaru. Dulu ketika kelas satu kami diajarkan senam jantung sehat (SJK 2004). Dan dikelas dua ini kami diajarkan senam ini, senam pokarena namanya. Senam ini diiringi musik poco poco tadi. Sebenarnya bukan murni lagu poco-poco tapi ada campuran lagu dangdut. Kalau didengar sih lucu tapi kalau di pelajari, senam ini menurut ku sedikit rumit.

“Ayo semangat semua”, seru buk icha di tengah aula. “Belajar yang serius, ini akan saya jadikan ujian bulanan”, sambungnya.

Kami semua terbakar. Senam seperti kesetanan. Sesekali salah, sesekali lupa.

“oke, cukup untuk hari ini. Rahmat, jangan lupa ajarkan teman-teman ya. Minggu depan ibu ambil nilai”, kata buk icha lagi. Rahmat alias FM adalah anak kesayangan beliau. Dialah laki-laki yang memenuhi kriteria buk icha. Larinya cepat dan gerakannya juga mantap.

“besok, sakit-sakit ini badan kita”, kata nita saat berganti baju olahraga.

“hahahahahaha, ini lebih rumit ”, jawab uci.

“iya ta, tapi mau gemana lagi”, kata ku. Semua tau tidak ada tawar menawar soal yang satu ini. Sesuatu yang takkan terlupakan. Hingga nanti dan sampai nanti. Senam buk icha. Hal paling lumrah setelah lari keliling mosa.

Xxxxxxx

“anak barak, nanti sore kita latihan senam buk icha ya selesai prosus”, ika teman ku yang di kamar 7 berteriak ditengah barak.

“hahahahahah”. Aku yang sedang berada dikamar hanya tertawa di dalam hati. Urusan buk icha memang bukan urusan sederhana. Butuh usaha extra dan siapa berusaha dia pasti bisa.

Maka tepat setelah prosus dan salat ashar semua berkumpul didepan barak. Tanpa bantah. Tanpa melawan. Semua belajar serius dengan ika mawarni sebagai instruktur pilihan buk icha.

Xxxxxxxxx

“anak kamar 8, kata rahmat, anak IPA 3 selesai makan malam kumpul di depan ruang makan ya, kita latihan senam buk icha”, kata nita dari balik pintu.

“lagi ta? “tanya maya.

“iya may, biar gerakan kita sama dengan orang ne. Gak ada yang beda”, Nita menyakinkan.

“huft”. Kami serentak huft. Hanya uja yang bersemangat mengenai urusan ini.

Sebenarnya kami sering melakukan senam. Setiap selasa dan kamis pagi setelah salat subuh kami selalu senam. Tapi, hanya senam SKJ 2004 dengan gerakan sederhana. Tapi ini gerakannya sulit. Hmm, baiklah. Sekali Tidak ada yang tidak bisa jika diusahakan.

Maka setelah makan. Lagi dan lagi kami bergoyang-goyang ditengah malam. Mengikuti rahmat. Dan kelas lain ternyata juga latihan. Penuh disetiap sudut yang ada. Ruang makan, depan rumah bapak asrama, di lapangan tenis. Penuh dan ruah oleh lagi poco-poco dan dangdut. Kami berlatih sepanjang waktu yang kami bisa hingga minggu depan yang buk icha katakan tadi tiba.

Xxxxx

“maju lima-lima orangnya, berdiri melingkar dan saling membelakangi”, kata buk icha. “maju sekarang sesuai abjad”. Beliau berdiri tepat di depan kami. Suasana aula senyap begitu beliau berbicara. Dan masing-masing sudah kalut dengan pikirn sendiri.

Aku dipanggil bersama dengan M. Siddiq, mukti ali, nita irawati, reza nuriman. Berbaris lah kami sesuai instruksi beliau dan musik senam dimainkan.

“poco….poco….”. Irama senam di dendangkan.

“jangan ada yang lihat kiri kanan”, seru buk icha.

Kami bergoyang sesuai latihan tanpa henti sepanjang minggu. Mencoba memberikan yang terbaik yang kami bisa. Harus bisa dan pasti bisa. Bahkan sakit badan pun tidak terasa.

Ditengah senam tiba-tiba, “M. Siddiq keluar”, kata buk icha.

Duennng. Aku degdegan. Takut aku juga tereliminasi seperti sidiq. Alamat remedial. Walau Sedikit sedikit aku lupa. Aku coba kembali sadar. Tetap fokus. Dan Alhamdulillah. Selesai. Banyak yang tidak remedial. Remedial dengan buk icha pun sudah biasa. Jalani saja. Kita kan sudah berusaha. Berusaha bersama. Bergoyang-goyang ditengah malam buta.

“hahahahahaha, akhirnya selesai juga senam-senam ini”, kata irma. Ketika istirahat. Kami berkumpul dalam lingkaran. Tidak saling membelakangi seperti tadi tapi saling berhadapan. Walau lelah kami tetap bahagia. Bahagia dengan arti masing-masing kami.

“iya ma, akhirnya, dan badan aku sakit semua”, jawab pepe.

“hahahahahaha”. Kami semua tertawa.

“masih ada senam sebijik lagi ketika kita kelas tiga”, Ana mengingatkan. Sesaat semua terdiam. Dan kemudia tertawa kembali. “tahun depan kita pikirkan lagi”, kataku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s