sebut saja “adam”

Di kelas IPA 3, ada 18 orang anak laki laki dengan bermacam karakter. Rata rata mereka baik walau kadang sering usil.  nah diantara 18 orang itu ada seorang teman yang namanya tidak berani disebut. Sebut saja adam. Dia anak laki laki yang disegani. Kalau mau bercanda dengan adam aku harus pikir pikir lagi. Takut garing. Dia juga lebih pendiam dari yang lain. Kalau sedang tidak ada guru pun dia lebih memilih diam dari pada bercerita panjang lebar.

Tapi Suatu hari di kelas buk syarifah, diamnya keterlaluan.

“adam, adam!” Panggil Bu Syarifah guru Bahasa Arab kami setelah melihat adam yang hanya menatap lurus tanpa kedipan mata.

“Kamu kenapa Nak?”, tanya beliau. Adam hanya menoleh sedikit dan tau apa jawabnnya?

Dia menjawab singkat, “ngak tau mau bilang apa buk”.

Dueng. Seluruh kelas hening. Adam kemasukan jin kah? Biasanya adam selalu reaktif ketika ditanya.

Ada terus begitu hingga pelajaran usai dan bel pulang berbunyi. Tapi, ketika prosus, dia kembali seperti semula. Menjadi adam biasa. Mungkin suasana hatinya kembali baik. Alhamdulillah.

Dari semua teman laki laki, menurut ku selain pendiam adam juga punya sisi bijaknya sendiri.

Waktu itu setelah menyelesaikan ulangan matematika pak laju, kami duduk cantik di meja masing masing, sekedar melepas penat selesai ujian dan menunggu pak laju membereskan kertas ulangan kami.

Oh ya, ada 2 orang guru matematika di kelas kami. Yang pertama pak laju dan kedua buk dar.

Kalau mengajar tipe pak laju, beliau suka tipe konsep. Mendalam pembahasannya. Jadi yang nyambung dengan beliau adalah anak anak olimpiade matematika seperti irvan, arya, adam, dkk. Tapi alhamdulillahnya kalau ujian, bisalah dijawab sama semua murid.

Berbeda dengan buk dar, mengajar seperti air. Kami mengerti semua. Dari soal mudah yang berangka hingga soal yang jawabnnya huruf pun yes. Atau saat turunan yang hasilnya huruf harus di buktikan kebenarannya, sampai dititik itupun kami mampu. Tapi sayang, aku sering kawalahan saat ujian. Hahahahahaha.

Nah, sembari menyusun kertas ulangan, pak laju bertanya pada teman teman Hari itu.

“iya, irvan bagaimana soal tadi, mudah kan?”

” irvan tersenyum sambil menggangguk”. Teman teman lain juga menjawab dengan gaya yang tidak jauh berbeda. soal matematika hari itu memang alhamdulillah.

Tapi saat pertanyaan itu jatuh kepada adam.

“Bagaimana adam soal ulangan tadi, mudah kan?” Tanya Pak Laju. Seperti yang aku ceritakan adam anak olimpiade. Kalau kami sudah mumang, adam masih on the right track. Tidak ada keraguan untuk itu. Jadi, soal ulangan Pak Laju pasti hanya ujian kecil baginya sama seperti rekannya yang lain.  Tapi, dia diam sejenak lalu menjawab mantap.

“Tidak rumit Pak”. Jawabnya. Hening. Dan aku terpana dengannya. Wow! Bagi telingaku itu humble sekali. Hahahahaha. Itulah dia, bapak bijaksana.

Sangking takjubnya dengan kalimat itu, ketika selesai remedial bahasa indonesia dengan pak sayuti aku menjawab dengan cara yang sama.

“bagaimana soal remedialnya” tanya pak sayuti. Sambil terus memeriksa kertas ujian kami.

Pede sekali aku menjawab “ngak rumit pak”. Biar keren sikit.

“lho, kalau ngak rumit kenapa masih banyak yang tetap ngak lewat SKMB?”kata pak sayuti.

Dueng! Dueng dueng.

Hahahahahahahahaha! Kontennya tidak pas ternyata. Bijaksananya tidak sepas adam.

Yasudahlah, kami ikut remedial sekali lagi langsung saat itu. Huft. Memang bijaksana itu tidak bisa asal ditiru.

Yah, begitulah salah satu teman kelas ku.Tidak banyak bicaranya tapi mantap pemikiriannya. Terus menginspirasi ya adam. “qe pasti bisa”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s