“you know! infeksi nosokomial”

25 juli 2013, stase obgyn

Hello, sekarang aku sedang di stase obgyn, stase yang awalnya menurutku amat sangat menjijikan karena berlumuran darah. Tapi ternyata tidak juga. Semua orang yang telah melewati bagian ini pasti mengatakan bagian ini adalah bagian yang paling menyenangkan. Awalnya aku sangsi tapi diminggu ke 5 setidaknya yang mereka katakan ada benarnya.

Hari ini sendu, tidak banyak angin yang melaju, cahaya matahari juga tidak begitu menantang. Dan aku tepat 12 jam tidak tidur. Hanya tidur bebek dalam 10- 30 menit. Yap, aku jaga malam di kamar bersalin.

Sesuai namanya tempat ini adalah IGD nya bidang kandungan. Siapapun yang datang ke IGD dengan masalah kandungan atau kebidanan misalnya mau melahirkan, perdarahan, ketuban pecah, nyeri perut akut pasti di bawa dulu kemari. Ke kamar bersalin. pasien malam ini datang seperti datang air bah, tak berhenti hingga kita lupa bernafas. Dan pagi ini sukses aku tidak mandi pagi, mirip pesakit yang putus asa sangking kucelnya.

Aku bolos MR, mau mandi dan bersih bersih. Jorok dan bau ketiak itu tidak menyenangkan teman. Nah, sebelum aku mandi aku jalan jalan ke ruang bersalin. Ternyata ada pasien yang sedang meraung kesakitan. Oh, suara raungan tadi berasal dari wanita G1p0 hamil aterem dengan ketuban pecah dini jadi di induksi dengan oksitosin. Menenangkan pasien dengan sedikit kata kata jauh lebih baik dari pada membiarkan mereka sakit merana tanpa kata.

“dek, tolong ambil darah ibu ini ya, siapa tau pasiennya mau di operasi”

Kata kakak perawat kepadaku.

Aku mengangguk. Aku pergi mengambil peralatan yang diperlukan seperti hand scon, spuit dan tabung EDTA. Setelah siap aku ancang ancang untuk mengambil darah pasien tadi. Tapi oh my god, pasiennya gemuk dengan pembuluh darah yang kecil, aku menyerah dan memanggil kakak perawat senior. aku tidak ingin membuat si ibu lebih menderita dengan percobaan percolokan yang akan aku lakukan jika sekli tusuk tidak yes.

Darahnya berhasil di ambil dan terpaksa aku yang mengantarkan darahnya ke lab. Tidak ada keluarga di sekeliling pasien. Oh baik lah. Hari ini aku harus terjaga walau semalam tidak tidur, mungkin sedikit olahraga pagi tidak buruk.

Sekembali dari lab sesosok wanita alias kakak perawat sedang berceramah ria di depan 2 teman ku. Nurlely dan maya. Dari jauh terlihat dia marah. Entahlah entah tentang apa. Dan celakanya aku mendekat

“Mana yang namanya mutia atau putri?”

Aku terdiam, diam yang dalam. Oh god, jantung ku berdegup kencang saat nama yang amat ku kenal itu disebutnya. Ya karena nama itu adalah namaku. Aku tersangkanya. Namun aku tetap tenang seolah mutia itu entah siapa. Berdiam didepannya dan mendengar semua ocehannya tanpa cela. Ocehan yang sempurna tertuju untukku.

“ bilang ya sama kawan kalian yang namanya putri soraya atau mutia rahmah kalau pekerjaan dia itu tidak benar. Hand scoon di tarok di atas ctg, itu lagi spuitnya kok di tarok di atas meja”. “kalian taukan semua itu infeksius”, “asal kalian tau semua infeksi nosokomial itu berasal dari dokter muda”, “ampul dan spuit juga di buang di save box, tapi semua dokter muda buang sembarangan”, “jangan lupa bilang sama kawan kalian si mutia dan putri soraya itu”. ibu itu berlalu dari kami.

Untunglah. Dia telah selesai tanpa tau si mutia itu ada didepannya. Andai tadi aku mengancungkan tangan maka tamatlah riwayat ku hari ini dan tepat aku akan diingatnya sebagai si pembawa infeksi nosokomial. Padahal aku sangat ingin membela diri saat itu. pertama sebenarnya memang benar aku yang menyebabkan semuanya berantakan. Semua aku biarkan apa adanya karena aku harus mengantarkan darah ke lab, niat ku sekembali dari lab akanku bereskan. Tapi sayang aku naas di menit ke 5. Dia terlebih dahulu menyidak. Kedua, hand scoon itu tidak kotor, itu bekas aku spoling pasien, ke tiga spuit itu tidak ku pakai, karena aku bahkan tidak berani melukai ibu yang kesakitan itu karena pembuluh darahnya bahkan lebih kecil daripada lidi, ke 4 masalah spuit dan ampul oh tidak, itu bukan kerja dokter muda tapi adek akbid. Andai saja ku bisa membela diri. Tapi aku diam. Terkadang diam jauh lebih baik daripada membela diri ditempat dimana kita bahkan tidak punya hak untuk bicara.

“mut, kok bisa?”kata maya

Aku menggeleng. Ah pagi ini. Biarlah berlalu.

“yaudahlah lah, jadiin pelajaran”, kataku.

“tapi kok bisa ya, dia tau nama mutia dan putri soraya?”tanya leli

Aku dan maya menggeleng.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s