Petuah di Anestesi

13/10/2013

Camera 360

Uuuu. Aku sedang di IGD, jaga anestesi untuk minggu ke 4. Seminggi tambahan karena aku remedial.

Hari ini hari terkahir. Jaga bareng adek adek cetar kayak dek nong, eep dan putri. Ngak berhenti ketawa kalau sama mereka. Hmmm.

Sore harinya kami ujian bersama dr. Imai di ruang kerja beliau. “jadi, Prinsip di bagian anestesi itu satu, kalau kalian udah masuk kemari seharusnya jatah kalian lulus, tapi kalau tidak lulus berarti kalian bermasalah”, kata dokter imai.

Kami terdiam. Aku, bg jeri, dan kak sri duduk berhadapan dengan dokter imai saat ujian remedial. Kami pesakit yang bermasalah di anestesi sedang di sidang. Begitu dibilang semikian aku semakin ciut. Tapi Yah memang.

Rencananya beliau memang Mau menguji. Tapi alhasil kami tidak di uji tapi diceramahi Panjang lebar tentang dunia koas ini. Dunia yang kalau dipikirkan aneh. Usia udah 23 tahun tapi masih wajar kalau di marah marahin. Istilahnya di marahin udah tua gk di marahin nyebelin.

“kamu kenapa tidak lulus mutia?” tanya beliau

Aku menjelaskan kenaasan yang aku alami.

“yah, gemana ya, walau asalannya konyol tapi kita bisa buat apa. Makanya jadi koas jangan asal asal. Kalau kalian asal asal saya juga bisa asal. Padahal di koas ini lah tempat kalian belajar. Karena kalian masih dibimbing. “

“semakin kita besar tujuan belajar kita itu bukan sekedar nilai. Kalau kalian belajar Cuma untuk nilai maka kalian akan dapat nilai. Tapi kalau kalian mau bisa kalian harus belajar lebih. Bisa bayangin kalau kalian udah Spesialis anestesi tapi gk bisa bius? Nah, itulah bedanya. Makanya jangan pernah main main dalam belajar. Belajar yang serius. Dan yang paling penting dalam koas itu kalian harus on the rool.

Kami terdiam.

“terus kalian harus ikhlas. Cobalah kalian jalani semua dengan marah marah, capek kan? Tapi kalau semuanya dilakukan dengan ikhlas maka semua mudah. 20 tahun yang lalu saya juga seperti kalian. Saya juga sudah merasakan gemana rasanya koas. Jadi harus serius.

Kami terdiam.

“koas itu ya, memang tempat muara marah. Saya paling suka marah sama koas. Tapi ya gemana yah. Misalnya dulu saya pernah suruh beli martabak 5 buah terus saya kasih uang 100 ribu. Kalian tau apa yang dibeli sama koas? Martabak telor seratus ribu. Banyangin berapa banyak? Mau saya marah tapi yaudah, gk marah saya udah malu. Itu koas.

Hahahahahaha. Kami tertawa.

‘yaudah, ingat yang saya bilang. Belajar serius untuk diri sendiri dengan ikhlas dan tidak asal asal. Udah kalau kalian saya uji pun kalian pasti ngak bisa”

“udah, ujian hari ini selesai”.

Kami sekali lagi terdiam. Diam yang penuh patuh. Setelah minta izin kami pergi meninggalkan ruang kerja beliau. Hari ini jumat, sore, dengan matahari yang hangat, dokter imai, kami, semua kesalahan, semua penyadaran, anestesi, dan adek koas. Semoga kami bisa menjadi yang terbaik. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s