ibu armia

Banda aceh 25/12/13

“dek pesan dokter kausar disuruh sms beliau vital sign pasien kamar 7 bed 4 ya” kata dokter febri

“iya dok”. Pasien k7b4 itu pasien ku, armia m ali namanya. Sudah dirawat selama 11 hari dengan diagnosa kanker paru yang sudah bermetastase dan ca. Mammae. Kondisinya menyedihkan. Kurus sekali dan setia dengan nafas yang lambat tapi dalam. Beliau selalu ditemani anak laki-lakinya. Agus nama abang itu. dialah yang selalu mengurus si ibu. Mulai dari masalah makan, obat hingga urusan ke kamar mandi.

Aku langsung ke sudut kamar, tempat ibu armia berada. Sesampai disana Aku terkejut. Beliau setengah tertidur. Aku bangunkan beliau apatis, aku tensi darahnya tepat 90/60. Aku mulai deg degan.

Kenapa? Pasien ini baru 1 hari aku pegang dan aku tangani. Sebelumnya dia biasa saja, walau tetap nafasnya satu satu dan sudah sedari dulu di evaluasi ketat perjam. Malah semalam followan nya di longgarkan menjadi per 4 jam. Perbaikan bukan?yah, walau pun jika dinilai dari segi diagnosa, prognosis ibu ini tidak baik, tapi kita bukan Tuhan bukan? Terus berusaha.

Beliau juga masih semangat. Seperti kemarin saat dr. Kausar menjelaskan tentang penyakitnya. Si ibu mengangguk kuat ketika dr, kausar bilang “dari segi kesehatan memang sulit tapi kita tetap berusaha mencari obat, ya kan buk?”. Beliau menganggung kencang, yakin sekali akan sembuh. Tapi sekarang? Hemodinamiknya tidak stabil.

Setelah melapor pada dokter jaga, beliau di guyur cairan dan di cari penyebab mengapa hemodinamik nya menurun. Langsung saja di ekg, periksa gula darah, elektrolit dan agda. Dan beliau tetap di evaluasi setiap 15 menit.

Di menit pertama tidak ada perubahan tapi di 15 menit kedua beliau sedikit membaik. Aku terenguh, sedih sekali melihat ibu armia dengan anaknya. Di pojok kamar beliau setengah duduk, dengan nasal kanul di hindungnya.

Beliau menggenggam tangan anaknya seolah berbisik nak dada ku sakit. Si anak dengan hormat memengang balik tangan yang sangat kurus itu. mengangguk takjim mendengar rintihan ibu nya. Di dekap ibu nya dengan kuat. Entah lah, entah apa percakapan antara mereka berdua.

Ibu armia yang sangat penyabar dan yakin itu sore ini merengguh hati ku. Mereka berpelukan dalam sedih yang sangat dalam, sesaat dunia begitu syahdu sore itu. pelukan itu seperti pelukan perpisah yang saling menenangkan. Aku menangis. Selama aku melihat orang yang meninggal di rumah sakit, baru kali ini aku terengguh. Entah kenapa. Ya Allah berikan terbaik untuk ibu armia. Amin

Namun, beberapa jam kemudian janji Allah dengan beliau datang. Selamat jalan ibu amia. Walau kita tidak pernah saling mengenal, aku tau ibu orang baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s