jangan bohongi aku

Seperti banyak cerita yang sudah aku tulis mengenai kita. Kali ini juga sama. Tentang kita.

Tentang hidup yang kita habiskam bersama. Bagi ku, dia tidak hanya seorang teman dan kakak, tapi dia adalah guru. Apalagi soal urusan dapur.

Misalnya saat kita mencuci piring. Dia selalu mengingatkan “cuci gelas dulu mut, biar ngak berminyak minyak”, katanya. Dan yes, kalau kita mencuci piring atau alat lain yang berminyak, sabut cuci piring otomatis menjadi berminyak juga dan gelas yang tidak seberapa kotor itu juga ikut ikutan kotor. Makanya selalu, pada bagian awal mencuci piring dia akan mengumpulkan gelas gelas da menghabiskan mencuci bagian itu dulu.

Atau saat memasak nasi. Aku sejak dulu bisa memasak nasi. Tapi ya itu, tergantung hati. Kadang keras, kadang lembek dan kadang kadang pas. Hingga akhirnya dia bilang “masak nasi mut, airnya pas sebuku buku jari telunjuk. Mau sebanyak apapun qe masak, kalau air nya lebih segitu, insyaallah ngak akan lembek atau keras”. Hmmmm. May, pingin aku cubit cubit pipinya. Hahahaha. Karena alhamdulillah sepanjang sepak terjang memasak nasi selanjutnya, beras beras itu jarang bermasalah setelah menjadi nasi.

Begitulah dia. Bakat memasak dan mengurus dapur sepertinya memang turun secara alami. Mengalir di setiap darah dan detakan jantungnya. Sedikit aneh, dia langsung tau. Hahahaha.

Jadi waktu itu kami kepasar. “may, beli cumi cumi ya”. Kataku.

“boleh mut. Tapi bisa masak kan?” katanya.

“aku pernah lihat mamak aku masak may”.

“oke”.

Sampai di rumah, kami langsung membersihkan cumi cumi tadi. Aku sering membersihkan bagian ini dirumah. Jadi mudah saja. Masalahnya justru ketika memasak.

“apa bumbunya mut?” tanya maya.

“mamak aku kalau ngak salah tarok bawang putih, bawang merah, cabe ijo, tomat dan jahe may”, jawab ku.

“jahe? Jangan pakek lah mut, bau dia”, sahut maya. “jangan tarok ya”, katanya lagi sambil memotong motong bumbu tadi.

“oke may”.

Setelah memotong bumbu tadi, maya berlanjut membuat sayur. Sisa memasak cumi cumi tadi adalah tugas ku.

Aku tumis semua bahan tadi dan iseng saja, aku tambah sedikit jahe. Sedikit sekali. Cuma 3 potong dengan ukuran 0,5 cm. “pasti maya ngak akan tau”, pikirku dalam hati.

Tengah siang kami selesai masak. Dan saat paling ditunggu datang. Makan bersama. Aku selalu suka momen ini, asik saja. Apalagi kalau makannya sampe butuh nasi tambah. Bertanda apa? Bertanda makanan hari itu enak. Hahahahaha.

Jadi, makanlah kami bersama dengan menu cumi tumis dan sayur kangkung. Disuapan pertama tidak ada komentar, yang ke dua juga. Tapi di suapa ke tiga….

“mut, qe tarok jahe ya?” tanya nya.

Aku terkejut. “ngak may”, jawab ku.

“jangan bohongin aku mut”, kata maya. Ah maya, selalu!

Hahahahahahaahah, “jangan bohongi aku”, geli sekali. “iyes may, tapi cuma dikit”, jawab ku.

“iya, tapi terasa mut. Bau lagi”, katanya.

Hahahaaha, indra pengecapnya punya berapa saraf lebih banyak dari aku ya?hmmmmm

“tapi yaudahlah. Besok besok jangan tarok lagi mut”, katanya.

“oke may”, jawabku malu.

Dan sejak saat itu aku berhenti. Berhenti mengusili maya di dapur. Bakat alaminya akan sangat mampu mengalahkan keusilan ku. Sedikit aneh dia langsung tau. Apa coba, jahe yang seupil di camputr minyak, sedikit air dan bumbu tadi. Perbandingannya jauh sekali. Tapi masih terasa dilidahnya. Huft. Luar biasaaaaaaaaaa! Selalu takjub dengan nya.

Hey teladan ku, di ramadhan kali ini, aku sangat merindukan mu. Kuta baro, 30 juni 2015. Ramadhan ke 14.

Advertisements

saleh secara sosial

Baik secara sosial

Matahari menyingsing. Berdiri gagah dengan sinar yang menyilaukan. menyapu wajah kami yang sedang berada di tengah lapangan upacara senin ini. Kami semua berbaris di lapangan hijau. Aku berdiri menghadap dinding bertuliskan “ the best preparation for tomorrow is to do today’s work superbly well”. Selama dua tahun berturut-turut membaca tulisan ini aku tetap belum paham. esok lusa aku baru menyadari kalimat ini sungguh sugestif.

Menurut hematku, inti upacara senin itu ada dua. Pertama menaikkan bendera yang membuktikan kita masih merdeka. Kedua penyampaian pesan dari pemimpin upacara. Dari puluhan upacara yang aku ikuti. Maka inilah upacara senin yang sangat menyentuh hati, membuat bulu kuduk berdiri.

Tepat di atas mimbar. Disaksikan oleh 180 siswa dan beberapa guru. Pak ito, guru sosiologi kami berpidato. Beliau amat menggebu-gebu. Padahal awalnya aku hanya mencuri tidur sambil berdiri, begitu mendengar lengkingan suara beliau aku langsung terbelalak. Yap. Beliau mirip seorang orator!.

“From where? where are you? And where you wanna go?”, itu kalimat pembuka pak ito. “pikirkan baik-baik dari mana kita, dimana kita dan hendak kemana kita”. Beliau diam sesaat. “anak-anak bapak, banyak yang kita lakukan sebagai ibadah di dunia ini tidak berpahala. Kalian tau mengapa? Karena kita terlalu sering ria. Tapi, banyak kegiatan yang bukan ukhrawi justru mendapat pahala karena kita melakukannya dengan iklas. Jadi, perbaiki niat kita dalam melakukan apapun untuk menuju tempat yang kita inginkan. Niatkan kebaikan dan niatkan hanya karena Allah.”

Aku hening sesaat. Kalimat pembuka beliau membuatku berfikir banyak. Darimana aku? Dari sebuah kampung kecil di kaki gunung selawah. Dimana aku? Di lapangan upacara SMA tercinta. Hendak kemana aku? Aku belum tau.

Beliau melanjutkan amanatnya pagi itu. “anak-anak bapak, suatu saat nanti kalian akan keluar dari sekolah ini. Jadilah anak yang saleh. Model anak idaman setiap orang tua dan kami juga. Selain itu jadilah orang yang saleh secara sosial. Baik secara sosial. Bukan sendiri. Bukan menutup diri. Bukan merasa paling benar dan paling bisa. Tapi kalian adalah bagian dari yang lainnya. Bekerja sama, toleran, silaturahmi dan ingat! Niatkan semua karena Allah. Insyaallah bermanfaat!”. Kata pak ito. Beliau menutup amanatnya dan turun dari mimbar.

Aku terdiam. Memaknai apa yang beliau katakan sekali lagi. Menjadi saleh secara sosial. Dalam sekali maknanya menurutku. Baik bersama dengan niat yang benar. Saleh secara sosial! Inilah yang akan membuat hal besar bisa terwujud. Karena kita bersama bukan sendiri. Perampok yang kompak saja bisa berhasil melakukan kejahatan bagaimana jika seorang anak-anak baik berbuat kebaikan bersama. Seperti kata pak Ito, insyaallah bermanfaat.

Hari itu, aku hanya punya pemahaman sesederhana itu. beberapa tahun setelahnya aku lebih banyak paham mengenai apa makna “saleh secara sosial”. Ah pak Ito. Terima kasih untuk pagi ini. Dan matahari pagi yang cerah terima kasih.

timun masak

Selain makanan, yang selalu di nanti saat berbuka adalah minuman segar. Dan dirumah akan selalu ada yang mengurusi hal ini selama ramadhan kali ini. Dia adalah paman ku. Setiap sore selalu check ke dapur. “air apa sore ini?”.

Pesannya cuma satu, harus dingin dan segar. Saat kami tidak peduli dengan urusan itu, biasanya dia akan turun tangan sendiri. Seperti beberapa hari ini. Dia pergi ke pasar sendiri, membeli semangka sendiri dan berpesan pada cecek ku untuk membuat minuman dingin. yang paling extream hari ini dia ke pasar sendiri membeli buah timun suri lalu si blendernya sendiri, di berikan sirup kurnia dan gula sendiri. Hahahahaha!

Apa yang menarik? Yang menarik adalah minuman dari buah timun suri tadi. Kami menyebutnya boh timon masak. Semua pasti tau buah ini kan? Tapi sejak bulan ramadhan, selain semangka buah ini adalah buah yang paling sering aku lihat. Di rumah, di pasar bahkan di sepanjang jalan menuju ke tempat kerja semua menanam pohon ini. Dia buah primadona saat bulan puasa.

Rasanya seperti gabus dengan bau yang khas. Biasanya buah ini disajikan dengan cara di kupas lalu di hancurkan dan dicampur dengan sirup cap patung yang terkenal itu dan gula sesuai selera. Sangat mengobati dahaga. Segar nya bukan main. paman bisa menhabiskan lima gelas setiap buka puasa dengan minuman ini.

Khasiatnya juga banyak!!!! Searching aja!

Tapi sebaiknya 2 gelas saat berbuka, 2 gelas malam dan 4 gelas sahur. Jangan gegabah minum banyak2 begitu berbuka. Alamat malas! Malas tarawihnya malas tadarusnya dan malas gerakanya.

Selamat puasa ke 6. Selamat berbuka dan semoga berkah. Nanti kalau punya rumah dengan pekarangan luas, sesekali aku akan menanam pohon primadona ini. Kuta baro 23 juni 2015.

Timun masak
Timun masak

berasa

Jaga malam lagi. Malam ini yang jaga adalah aku, kak mulya, kak cut ruli dan bang audi. Sejak awal malam kami udah sepakat kalau jam 12 teng kami bagi bagi jatah tidur masing masing 2 jam.

Setelah berembuk akhirnya yang pertama jaga kak mulya terus aku, terus kak cut dan terakhir bang audy. Sebelum sampek jam 12 teng, pasien satu satu datang. Ada nenek nenek yang sakit kepala, pasien dengan susp sirosis ec obat tbc, ada batu saluran kemih, gastritis, dll. Tapi datangnya satu satu, jadi ngak terlalu heboh lah.

Setelah pasien pasien tadi selesai dan menuju jam 12.00 seorang ibu usia 58 tahun datang ke igd. Si ibu masih bisa jalan. Dia di bawa sama anaknya. Keluhannya cuma 1, berdebar debar sejak 4 jam yang lalu. Begitu di pasang monitor, tekanan darah si ibu awalnya 150 mmhg terus 15 menit kemudian jadi 120 mmhg terus turun lagi jadi 100 mmhg. Dan memang sesuai dugaan HR nya 161 x/menit. Hmmm. Langsung di ekg dan hasilnya ventrikel takikardi. beberapa saat kemudian pasiennya di masukkan amiodaron.

Kami udah ngak slow, dan ngak sadar kalau jam 12 udah berlalu malah udah masuk ke jam 1. Tapi si ibu? Seperti semula datang, tenang, santai, tidak sesak dan tidak gaduh gelisah. Keluhannya masih sama cuma berdebar debar! Inilah keadaan labil tapi terlihat stabil. Kami cuma bisa geleng geleng di tengah malam.

Akhirnya jam setengah 2 kami mulai tidur dan bagi sift. Aku dan kak cut tetap yang ke dua dan ke tiga. Cuma bang audi dan kak mulya yang pindah posisi. Kak mulya yang terakhir. Dan keadaan igd hingga pagi alhamdulillah aman.

Aku bangun pagi, dan jam di tangan udah jam 7. Di meja udah ada kak mulya dengan status pasien baru.

“dengan apa pasiennya kak?” tanya ku.

“biasa, nyeri pinggang. Umur 18 tahun”, kata kak mul.

Hmmmm.

“ngak santai pasiennya, padahal dari pemeriksaan aman aman aja” lanjut kak mul.

Stabil tapi berlaku labil. Huft. Si adek itu ngak tau, tepat di depannya ada ibu yang umurnya 4 kali dari umurnya. Ekgnya ngak karuan, tekanan darahnya ngak kebaca pakek monitor canggih sangking cepatnya, tapi masih slow! Tenang. Seolah ngak ada apa2. Labil tapi berasa stabil. Adek ini, muda, cuma nyeri pinggang, vital sign bagus, tapi heboh, ah stabil tapi berada labil. Tapi kita bisa bilang apa? Orang memang beda2kan?

Inilah yang sering kami hadapi. Beragam penyakit dengan beragam respon pasien. Ada pasien yang mengjadapi penyakitnya dengn Keluhan, jeritan dan aduhannya. Tapi ada pasien yang seberat apapun sakitnya memilih tetap diam tapi diam diam menangis dalam diamnya. Masih ingat cerita ibu armia? Beliau adalah satu dari yang terakhir tadi.

Bahagiakah disini?aku sedang mencoba. Semoga bahagia, berkah dan sejahtera, amin. Selamat menjalankan ibadah ramadhan. Puasa ke 4 igd meraxa 21 juni 2015.

meuhkeut kheut

Masih ingat fatir vs cintani? Sepupu kecenya aku? Iyes, sekarang ramadhan dan mereka sama seperti kebanyakan anak muslim lainnya dalam menyambut puasa.semangat ibadahnya full.

Jadi, begitu kami mau berangkat salat terawih di malam pertama suara heng hengan itu kembali semarak.

“lon jak shit, lon jak cit”, kata mereka. Awalnya mamaknya ngak kasih izin mereka pergi karena biasanya anak seumuran mereka kalau salat tarawih cuma 4 rakaat, sisanya main dan buat gaduh.

Lelah mendengar heng hengan,  mamaknya pun membuat perjanjian dengan mereka “jeut jak, tapi bek karu hideh. Miseu fatir karu ayah ba puwoe miseu cintani karu mak ba puwoe, singoh goh bek jak le”, kata mamaknya.

Mereka mengangguk takjim. Dan yes, malam itu mereka pergi tarawih perdana.

Selama kami salat apa yang dilakukan cintani? Dia ikut gerakan kami sebanyak 4 rakaat selebihnya tidur, golek golek, sangak sangak sampek salat selesai. Tapi sesuai janji tidak karu karu. Apa yang dilakukan fatir? Wallahualam.

Salat selesai kami pulang sama sama. Begitu sampek ke rumah fatir udah stand by di beranda.

“mak, lon hana karu bunoe beuh. Singoh jak lom beuh”. Katanya jengir. Mamaknya mengiyakan dan masuk rumah.

Udah sekitar setengah sebelas kami sampe rumah, jadi ngak banyak cakap lagi dan langsung masuk kamar masing masing. Tapi sebelum berpisah lagi lagi fatir berpesan untuk kesekian kalinya.

“singgoh beungeh peubedoh lon wate sawo, sampek lon beudeh mak beuh”, katanya.

“jeut”.

xxxxx

Sahur tiba. Meja makan penuh. Sahur bersama itu selalu mengasyikkan. Tapi karena subuh dan mati lampu kemampuan kami bercerita berkurang, kecuali fatir. Dia berkoar koar dari mulai sahur hingga selesai. Meja makan selain penuh dengan makanan juga penuh dengan celotehannya. Bahkan cintani yang biasanya juga ikut ikut berkoar, saat itu bungkam. Dari kelopak matanya aku tau dia sedang menahan kantuk berat.

xxxxxxx

Aku masuk kerja pagi di puasa pertama. Begitu sampek rumah seperti biasa pertanyaan wajib adalah “hoe ka  fatir dan cintani?”. Rumah terasa sepi tanpa mereka.

“ka ijak maen, bunoe poh 2 ka ji buka puasa ban di kaleun paman hana puasa”, kata mamak ku.

Hahahahahahahahahaha! Aneuk miet ciret. Iyes, rumah kami dekat dengan pasantren jadi orang dayah puasanya lusa. Dan paman ikut orang dayah, kami ikut pemerintah. Fatir? Ikut mana yang enak. Hahahahaha.

Jadi ceritanya puasa hari pertama dia gagal!

Puasa ke dua. Terawih seperti biasa dan sahur masih seperti kemarin. Semangat

Puasa ke dua aku jaga siang jadi baru sampe rumah jam sembilan malam. Sekencang apapun aku bawa motor pasti jam segitu sampek kerumah.

Dan seperti malam malam sebelumnya, rumah kosong karena semua pergi tarawih. Aku sengaja tunggu mereka pulang. Baru jam setengah sebelas mereka sampek rumah.

“hey tir, kiban puasa uroe nyoe?” tanyaku.

“sampe abeh puasa, tapi singoh hana ek puasa le”, katanya.

“jeh pakeun?”

“meu kheut kheut bunoe anda. Wate teumek maen game langenyoe jaro”, katanya sambil meniru tangannya yang bergetar.

Hahahahahahaha, jelas lah. Hipoglikemia.

“le ka maen kadang”.

“hana anda”, jawabnya.

“hahaha, na rasa kiban puasa? Kah meunteng meu kheut kheut. Kiban mamak kah? Puasa, jak kerja, jak u keude, magun lom, urus awak kah lom. Bantot lom kah, pekaru adek lom. Mak keun meu keut kheu le, karab duroh ok kadang”, kataku.

“hahahahahw”, dia tertawa.

“singoh puasa sampe poh 2 meunteng, lusa poh 3, lusa poh 4, bacur bacut. Latihan”, kataku.

Dia pun mengangguk.

Akhirnya kami menghabiskan berbincang bincang tentang pengalaman puasa ketika aku kecil ditemani sebungkus good time sambing menunggu kantuk datang.

Ah, anak anak. Selalu menarik untuk ceritakan. Bagaimana nasib puasa fatir? Wallahualam, kita tunggu saja. Kuata alam, 20 juni 2015, ramadhan ke 3

berapa suhunya?

Stase anak. Stase yang terkenal mengerikan selama koas. Kenapa? Karena banyak alasan dan salah satu alasan nya adalah dokter konsulennya. Harus detail. Mulai dari anamnesis, harus jelas, runut dan harus tanyakan langsung ke pasien. bahkan BAB dan BAK, jangan lupa. Pemeriksaan harus dilakukan, ngak boleh tinggal walau seorgan pun. Dosis obat harus tau dan jelas, sampai terakhir jangan lupa bubuhkan nama jelas di status, itu tanda bertanggung jawab! Main main dengan tahap ini, siap siap kena timah panas. Hahahahaha.

Jujur aku tegang ketika masuk bagian ini. Ngilunya sampek ke hati. Membayangkan saja tidak berani dan naas nya, koas pertama malah masuk kemari. Tapi bisa apa? Bismillah.

Pasien pertama dan perdana namanya ilham. Anak laki laki usia 5 tahun. Masuk dengan demam 10 hari ngak turun turun. Ditambah muntah berat, diare dan nyeri perut. Setelah dilakukan pemeriksaan darah positif si adek di diagnosis demam tifoid.

Siapa konsulennya? Dokter paling killer menurut ku. Orangnya sempurna dan detail. Jika berbicara suaranya tegas, dan expresi nya itu, semua berbicara. Saat kesal matanya, dahinya, pipinya, mulutnya juga ikut berbicara. Koas tidak boleh selengean di depan beliau. Harus sigap, bicara jelas dan berani. Kalau ada apa2 maju! Bodoh di depan beliau? Rasakan sendiri. Masuk ke tanah.

Nah, kita Sebut saja beliau dr. Baik. Mendengar namanya saja aku sedikit bergetar.

Pagi itu beliau tampak masuk ke ruang anak. Langkahnya pasti. Langsung menuju nurse station.

“mana pasien saya?” katanya

Kakak perawat langsung sigap. “Kamar 2, kamar 6, kamar 7, dan iso 2 dokter”jawabnya.

“yok”, kata si dokter.

Kakak perawat langsung memberikan aba aba kepada kami untuk ikut visite beliau. Diantara semua yang ikut visite, aku yakin akau yang paling takut. Iyes, karena aku memegang salah satu pasien beliau.

Visite berjalan hingga beliau sampai kepada pasien ku. ilham yang selalu marah ketika aku periksa.

“mana koas yang pegang?” tanya beliau.

Aku angkat tangan. Dan melaporkan keadaan pasien.

“kalau anamnesis jangan lupa tanyakan nafsu makan, BAB dan BAK nya”. Kata si dokter.

Lanjut ke pemeriksaan fisik. Aku selamat.

Lalu ke terapi. Aku kena badai katerina.

” Berapa tetes dia butuh cairan permenit? Berapa tambahan cairan karena dia demam? Ngak lihat mukanya kurus? Ada timbang tiap hari? Dehidrasi ngak pasiennya? ini kolf ke berapa? Jam berapa naik dan kapan harus habis? Ini dosis paracetamol begini? Mana kurva demam nya? mana tanda tangan kamu? Stayus kok ngak rapi?”#@$/÷^=&*(@_@?.

aku karam, expresinya membuat aku sekecil jarum pentul.

” mulai nanti lakuin dan tulis semua” kata si dokter.

Baiklah akan aku perbaiki semua.

Begitu visiter selesai aku langsung mengurus pasien tadi. Kisruh! Hingga esok Pagi aku datang lagi. Melakukan lagi perintah dokter baik, mulai evaluasi keluhannya, memeriksa perbaikan tanda vital, menimbang berat badan lalu menghitung kebutuhan cairan, lalu menulis kolf cairan yang naik dan terakhir membuat kurva demam.

Kurva demam ini dibuat untuk mengevaluasi demam pasien. Biasanya di ukur per 4 jam. Jadi kelihatan demamnya membentuk pola apa. Aku seperti punya alarm sendiri. Setiap 4 jam aaku sudah stay di bed dek ilham dengan termometer. Selalu deg degan dengan temperaturnya. Sepele kan? Aku pikir juga begitu, ternyata tidak.

Pagi itu visite lagi, setelah beberapa hari berlalu. “Mana kurva demamnya?”

Aku kikuk. “ini dokter”.

Beliau mengamati kurva demam yang naik turun itu.

“kapan terakhir kamu ukur temperaturnya?”

“tadi jam 8 dokter”, jawabku.

“setelah minum obat atau sebelum? Karena kalau sebelum minum obat berarti demamnya turun karena obat bukan karena dia mulai membaik”.

Deg….krek krek krek! Aku tidak terpikir sampai kesana. Pokoknya 4 jam aku temp.

Spontan. “sebelum minum obat dokter”, jawabku.

“benar buk, di periksa sama dokter muda ini sebelum si adek minum obat? ” beliau cross check, expresinya, ngak tahan. Aku siap di telan.

Si ibuk mengangguk.

“oke, terapi di lanjutkan”, kata si dokter,

Aku bersyukur sekali. alhamdulillah. Walau sejujurnya aki tidak tau kapan terkahir adek itu minum obat? Nanti aku cross check ulang.

” Kalau dalam 1 hari dia bebas demam, bisa direncanakan pulang”, beliau melanjutkan,

“baik dok”. Jawabku.

Selanjutnya setiap 4 jam aku semakin deg degan dengan temperaturnya. Tentunya sebelum minum obat. Hahahahahaahaha! Bahkan bangun pagi setelah membaca doa, hal yang pertama aku ingat adalah “berapa temperatur dek ilham hari ini ya?” hihihi.

Akhirnya, setelah seminggu di rawat dek ilham semakin baik. Demamnya turun tanpa obat, nafsu makannya membaik, berat badannya naik, wajahnya bersinar dan tidak letargi lagi. Dia pun di izinkan pulang. Dengan dokter muda yang menangani cuma satu, aku!

Bergelimpangan deg degan megang pasien beliau, tapi terima kasih dokter baik. Ilmu nya membekas hingga sekang. Semoga selalu bermanfaat. Amin. Nanti kalau jadi konsulen aku ingin menjadi dokter seperti beliau, pintar dan detail tapi tidak dengan expresi mengerikan. Hihihih. Ah, stase anak! Selalu berkesan.

senam pokarena

Yang tidak terlupakan part II.

“Poco-poco…..”. Lantunan lagu poco-poco mengiringi kami sepanjang siang itu. Sedang apa kami? Latihan vokal? Tidak. Karaoke? Jauh. Nonton? Bukan. Tepatnya kami sedang latihan senam selama pelajaran olahraga buk icha.

Kali ini buk icha mengharapkan kami bisa menghafal gerakan senam terbaru. Dulu ketika kelas satu kami diajarkan senam jantung sehat (SJK 2004). Dan dikelas dua ini kami diajarkan senam ini, senam pokarena namanya. Senam ini diiringi musik poco poco tadi. Sebenarnya bukan murni lagu poco-poco tapi ada campuran lagu dangdut. Kalau didengar sih lucu tapi kalau di pelajari, senam ini menurut ku sedikit rumit.

“Ayo semangat semua”, seru buk icha di tengah aula. “Belajar yang serius, ini akan saya jadikan ujian bulanan”, sambungnya.

Kami semua terbakar. Senam seperti kesetanan. Sesekali salah, sesekali lupa.

“oke, cukup untuk hari ini. Rahmat, jangan lupa ajarkan teman-teman ya. Minggu depan ibu ambil nilai”, kata buk icha lagi. Rahmat alias FM adalah anak kesayangan beliau. Dialah laki-laki yang memenuhi kriteria buk icha. Larinya cepat dan gerakannya juga mantap.

“besok, sakit-sakit ini badan kita”, kata nita saat berganti baju olahraga.

“hahahahahaha, ini lebih rumit ”, jawab uci.

“iya ta, tapi mau gemana lagi”, kata ku. Semua tau tidak ada tawar menawar soal yang satu ini. Sesuatu yang takkan terlupakan. Hingga nanti dan sampai nanti. Senam buk icha. Hal paling lumrah setelah lari keliling mosa.

Xxxxxxx

“anak barak, nanti sore kita latihan senam buk icha ya selesai prosus”, ika teman ku yang di kamar 7 berteriak ditengah barak.

“hahahahahah”. Aku yang sedang berada dikamar hanya tertawa di dalam hati. Urusan buk icha memang bukan urusan sederhana. Butuh usaha extra dan siapa berusaha dia pasti bisa.

Maka tepat setelah prosus dan salat ashar semua berkumpul didepan barak. Tanpa bantah. Tanpa melawan. Semua belajar serius dengan ika mawarni sebagai instruktur pilihan buk icha.

Xxxxxxxxx

“anak kamar 8, kata rahmat, anak IPA 3 selesai makan malam kumpul di depan ruang makan ya, kita latihan senam buk icha”, kata nita dari balik pintu.

“lagi ta? “tanya maya.

“iya may, biar gerakan kita sama dengan orang ne. Gak ada yang beda”, Nita menyakinkan.

“huft”. Kami serentak huft. Hanya uja yang bersemangat mengenai urusan ini.

Sebenarnya kami sering melakukan senam. Setiap selasa dan kamis pagi setelah salat subuh kami selalu senam. Tapi, hanya senam SKJ 2004 dengan gerakan sederhana. Tapi ini gerakannya sulit. Hmm, baiklah. Sekali Tidak ada yang tidak bisa jika diusahakan.

Maka setelah makan. Lagi dan lagi kami bergoyang-goyang ditengah malam. Mengikuti rahmat. Dan kelas lain ternyata juga latihan. Penuh disetiap sudut yang ada. Ruang makan, depan rumah bapak asrama, di lapangan tenis. Penuh dan ruah oleh lagi poco-poco dan dangdut. Kami berlatih sepanjang waktu yang kami bisa hingga minggu depan yang buk icha katakan tadi tiba.

Xxxxx

“maju lima-lima orangnya, berdiri melingkar dan saling membelakangi”, kata buk icha. “maju sekarang sesuai abjad”. Beliau berdiri tepat di depan kami. Suasana aula senyap begitu beliau berbicara. Dan masing-masing sudah kalut dengan pikirn sendiri.

Aku dipanggil bersama dengan M. Siddiq, mukti ali, nita irawati, reza nuriman. Berbaris lah kami sesuai instruksi beliau dan musik senam dimainkan.

“poco….poco….”. Irama senam di dendangkan.

“jangan ada yang lihat kiri kanan”, seru buk icha.

Kami bergoyang sesuai latihan tanpa henti sepanjang minggu. Mencoba memberikan yang terbaik yang kami bisa. Harus bisa dan pasti bisa. Bahkan sakit badan pun tidak terasa.

Ditengah senam tiba-tiba, “M. Siddiq keluar”, kata buk icha.

Duennng. Aku degdegan. Takut aku juga tereliminasi seperti sidiq. Alamat remedial. Walau Sedikit sedikit aku lupa. Aku coba kembali sadar. Tetap fokus. Dan Alhamdulillah. Selesai. Banyak yang tidak remedial. Remedial dengan buk icha pun sudah biasa. Jalani saja. Kita kan sudah berusaha. Berusaha bersama. Bergoyang-goyang ditengah malam buta.

“hahahahahaha, akhirnya selesai juga senam-senam ini”, kata irma. Ketika istirahat. Kami berkumpul dalam lingkaran. Tidak saling membelakangi seperti tadi tapi saling berhadapan. Walau lelah kami tetap bahagia. Bahagia dengan arti masing-masing kami.

“iya ma, akhirnya, dan badan aku sakit semua”, jawab pepe.

“hahahahahaha”. Kami semua tertawa.

“masih ada senam sebijik lagi ketika kita kelas tiga”, Ana mengingatkan. Sesaat semua terdiam. Dan kemudia tertawa kembali. “tahun depan kita pikirkan lagi”, kataku.

sebut saja “adam”

Di kelas IPA 3, ada 18 orang anak laki laki dengan bermacam karakter. Rata rata mereka baik walau kadang sering usil.  nah diantara 18 orang itu ada seorang teman yang namanya tidak berani disebut. Sebut saja adam. Dia anak laki laki yang disegani. Kalau mau bercanda dengan adam aku harus pikir pikir lagi. Takut garing. Dia juga lebih pendiam dari yang lain. Kalau sedang tidak ada guru pun dia lebih memilih diam dari pada bercerita panjang lebar.

Tapi Suatu hari di kelas buk syarifah, diamnya keterlaluan.

“adam, adam!” Panggil Bu Syarifah guru Bahasa Arab kami setelah melihat adam yang hanya menatap lurus tanpa kedipan mata.

“Kamu kenapa Nak?”, tanya beliau. Adam hanya menoleh sedikit dan tau apa jawabnnya?

Dia menjawab singkat, “ngak tau mau bilang apa buk”.

Dueng. Seluruh kelas hening. Adam kemasukan jin kah? Biasanya adam selalu reaktif ketika ditanya.

Ada terus begitu hingga pelajaran usai dan bel pulang berbunyi. Tapi, ketika prosus, dia kembali seperti semula. Menjadi adam biasa. Mungkin suasana hatinya kembali baik. Alhamdulillah.

Dari semua teman laki laki, menurut ku selain pendiam adam juga punya sisi bijaknya sendiri.

Waktu itu setelah menyelesaikan ulangan matematika pak laju, kami duduk cantik di meja masing masing, sekedar melepas penat selesai ujian dan menunggu pak laju membereskan kertas ulangan kami.

Oh ya, ada 2 orang guru matematika di kelas kami. Yang pertama pak laju dan kedua buk dar.

Kalau mengajar tipe pak laju, beliau suka tipe konsep. Mendalam pembahasannya. Jadi yang nyambung dengan beliau adalah anak anak olimpiade matematika seperti irvan, arya, adam, dkk. Tapi alhamdulillahnya kalau ujian, bisalah dijawab sama semua murid.

Berbeda dengan buk dar, mengajar seperti air. Kami mengerti semua. Dari soal mudah yang berangka hingga soal yang jawabnnya huruf pun yes. Atau saat turunan yang hasilnya huruf harus di buktikan kebenarannya, sampai dititik itupun kami mampu. Tapi sayang, aku sering kawalahan saat ujian. Hahahahahaha.

Nah, sembari menyusun kertas ulangan, pak laju bertanya pada teman teman Hari itu.

“iya, irvan bagaimana soal tadi, mudah kan?”

” irvan tersenyum sambil menggangguk”. Teman teman lain juga menjawab dengan gaya yang tidak jauh berbeda. soal matematika hari itu memang alhamdulillah.

Tapi saat pertanyaan itu jatuh kepada adam.

“Bagaimana adam soal ulangan tadi, mudah kan?” Tanya Pak Laju. Seperti yang aku ceritakan adam anak olimpiade. Kalau kami sudah mumang, adam masih on the right track. Tidak ada keraguan untuk itu. Jadi, soal ulangan Pak Laju pasti hanya ujian kecil baginya sama seperti rekannya yang lain.  Tapi, dia diam sejenak lalu menjawab mantap.

“Tidak rumit Pak”. Jawabnya. Hening. Dan aku terpana dengannya. Wow! Bagi telingaku itu humble sekali. Hahahahaha. Itulah dia, bapak bijaksana.

Sangking takjubnya dengan kalimat itu, ketika selesai remedial bahasa indonesia dengan pak sayuti aku menjawab dengan cara yang sama.

“bagaimana soal remedialnya” tanya pak sayuti. Sambil terus memeriksa kertas ujian kami.

Pede sekali aku menjawab “ngak rumit pak”. Biar keren sikit.

“lho, kalau ngak rumit kenapa masih banyak yang tetap ngak lewat SKMB?”kata pak sayuti.

Dueng! Dueng dueng.

Hahahahahahahahaha! Kontennya tidak pas ternyata. Bijaksananya tidak sepas adam.

Yasudahlah, kami ikut remedial sekali lagi langsung saat itu. Huft. Memang bijaksana itu tidak bisa asal ditiru.

Yah, begitulah salah satu teman kelas ku.Tidak banyak bicaranya tapi mantap pemikiriannya. Terus menginspirasi ya adam. “qe pasti bisa”

antara ujian obgyn dan stase THT

13.12.13 banda aceh

Dua minggu spacing. Asik bisa jalan jalan. Tapi eit tunggu dulu. Masih ada hutang yaitu hutang di THT dan ujian belum kelar di obgyn. Akhirnya setelah berembuk kami sepakat masuk THT dulu dan kalau ada waktu ikut ujian obgyn.

Rabu sore waktu itu. tanggal 25 november 2013. Kami sekelompok besar ikut pretes masuk THT dengan harapan minggu depan bisa mengambil pasien.

Aku, maya dan lely sudah mempersiapkan semuanya dengan baik dan sungguh-sungguh. Lely sampai menginap dua malam dirumah kami untuk belajar sambil membuat laporan KKN tematik. Serius amat serius kami belajar. Mengulang apa yang sudah tertinggal 5 bulan yang lalu. Dan akhirnya saat pretes itu tiba. Namun saat kami hendak masuk untuk ujian tiba-tiba panitia bapel KKN mengabarkan akan berkunjung ke desa. Ah, bunuh diri namanya

Akhirnya kami minta izin sebentar untuk ujian THT dan akan segera ke kampung. Jadi, saat menyelesaikan ujian kami nyaris terburu-buru, ini masalah masa depan. Dua duanya masa depan. KKN masa depan di kesmas dan pretes ini masa depan di THT. Tapi alhamdulillah dua duanya tercapai karena begitu selesai ujian kami langsung ke kampung dan sesampai di kampung, tepat bapel KKN datang. Kami tidak terlambat.

Dua hari menunggu kabar dari THT dan di jumat siang kabar itu amat menyakitkan. Semua lulus pretes tapi hanya ada 2 orang yang bisa diterima, oleh karena itu undian lah yang berbicara. Nama kami diundi dengan kertas kecil. Sungguh beruntung nama yang keluar dari kertas kecil itu. dan dua nama bidadari itu adalah nurlaily dan shinta. Aku, maya, pes, vita dan ijal harus ikhlas urut-urut dada. Dunia! Allah pasti menakdirkan semua yang terbaik bukan. Mungkin belum saat nya kami masuk, masih ada kesempatan minggu depan. Hmmm baiklah. Saat itu juga aku menyalakan radio positif, berfikir sepositif mungkin yang aku bisa.

Akhirnya rencana berubah dari masuk THT menjadi fokus ujian obgyn.

Lagi lagi kami belajar, sungguh-sungguh. Tidak alpa walau sedikit. Tapi kali ini tentu belajar dengan cara berbeda yaitu di kamar masing-masing dengan kasus masing masing. Aku dapat tentang KET dan maya tentang plasenta previa. Oh, semakin didalami ilmu Obgyn ini sungguh menarik. Ini bukan hanya urusan kau dan pasien tapi masalah kau, pasien dan harapan anggota keluarga lain. Yaitu bayi kecil yang tidak berdosa. Semuanya harus cepat dan harus benar benar jeli.

Semakin aku baca semakin aku tau bahwasanya saat ibu memutuskan mau memiliki anak, nyaris sebagian hidupnya di pertaruhkan untuk itu. awal kehamilan imun si ibu menurun untuk mengimbangi si anak yang berupa semi-imun, resiko pun meningkat seiring dengan bertambah nya usia kehamilan, mulai dari perdarahan yang bisa muncul tiba-tiba misal pada plasenta previa dan solution plasenta hingga ibu bisa meninggal tiba-tiba hingga hipertensi yang pelan tapi mematikan. Belum lagi saat melahirkan. Saat semua otot-otot rahim berkontraksi dan menimbulkan iskemik disekelilingnya, sakit yang sungguh luar biasa. Jika janin harus segera dilahirkan ibu harus diinduksi, merasakan bagaimana perut di aduk-aduk oleh obat perangsang kontraksi. Ah belum lagi saat semua tidak bisa dilakukan dia harus di bawa ke meja operasi. Di bedah perutnya dengan resiko hidup dan mati. Sungguh aku terpana untuk kesekian kalinya. Ibu oh ibu.

Prinsip ujian dengan obgyn itu harus via antrian. Kami harus mengantri hingga beliau setuju ujian dan sekertaris bagian akan menghubungi kami jika waktunya datang. 4 hari dalam seminggu kami menunggu. Di minggu pertama tidak ada kabar berita.

Masuk minggu ke dua. Kami masih tetap berharap bisa ujian Obgyn karena lagi-lagi undian THT tidak berpihak pada kami tapi pada safrijal.

Receive mesaage form kak miftah

Itu yang aku baca di layar hp ku. Kak miftah sekertaris bagian obgyn. SMS yang kami tunggu dalam 2 minggu terakhir akhirnya datang juga. Sms yang membuat maya rela tetap tinggal di banda.

:dek besok kalian ujian ya, pagi setelah senam:

Kami langsung membalas

:iya kak, di smf kan?:

Kami langsung mendapat balasan.

:dek , gak jadi ya, ujiannya senin:

Ya Allah, senin itu kami sudah masuk penyakit dalam. Ah singkat cerita, luka ini terlalu sakit untuk di tulis. Kami tidak jadi ujian!

Dua minggu spacing yang amat sangat lelah. Di PHP berkepanjangan. Ah, lagi-lagi, radio positif memancarlah. Mungkin ini yang terbaik yang ALLah rencanakan. Mungkin kalau di uji juga belum bisa, dokternya memang lagi sibuk, nanti saat di penyakit dalam pasti ada waktu, kan setidaknya hari ini bisa main-main lagi, udah ikhlas aja, ayo senyum, mana gigi putihnya. Yah, begitulah aku mencoba berfikir sepositif yang aku bisa.

“ya Allah engkau yang mencukupi ku dan aku berlindung kepada MU”. Kami pasrah dan ikhlas. Pasti ada waktu terbaik lain bagi kami untuk ujian. Amin. Oke! Dua minggu telah selesai. Oh ujian ku.

“you know! infeksi nosokomial”

25 juli 2013, stase obgyn

Hello, sekarang aku sedang di stase obgyn, stase yang awalnya menurutku amat sangat menjijikan karena berlumuran darah. Tapi ternyata tidak juga. Semua orang yang telah melewati bagian ini pasti mengatakan bagian ini adalah bagian yang paling menyenangkan. Awalnya aku sangsi tapi diminggu ke 5 setidaknya yang mereka katakan ada benarnya.

Hari ini sendu, tidak banyak angin yang melaju, cahaya matahari juga tidak begitu menantang. Dan aku tepat 12 jam tidak tidur. Hanya tidur bebek dalam 10- 30 menit. Yap, aku jaga malam di kamar bersalin.

Sesuai namanya tempat ini adalah IGD nya bidang kandungan. Siapapun yang datang ke IGD dengan masalah kandungan atau kebidanan misalnya mau melahirkan, perdarahan, ketuban pecah, nyeri perut akut pasti di bawa dulu kemari. Ke kamar bersalin. pasien malam ini datang seperti datang air bah, tak berhenti hingga kita lupa bernafas. Dan pagi ini sukses aku tidak mandi pagi, mirip pesakit yang putus asa sangking kucelnya.

Aku bolos MR, mau mandi dan bersih bersih. Jorok dan bau ketiak itu tidak menyenangkan teman. Nah, sebelum aku mandi aku jalan jalan ke ruang bersalin. Ternyata ada pasien yang sedang meraung kesakitan. Oh, suara raungan tadi berasal dari wanita G1p0 hamil aterem dengan ketuban pecah dini jadi di induksi dengan oksitosin. Menenangkan pasien dengan sedikit kata kata jauh lebih baik dari pada membiarkan mereka sakit merana tanpa kata.

“dek, tolong ambil darah ibu ini ya, siapa tau pasiennya mau di operasi”

Kata kakak perawat kepadaku.

Aku mengangguk. Aku pergi mengambil peralatan yang diperlukan seperti hand scon, spuit dan tabung EDTA. Setelah siap aku ancang ancang untuk mengambil darah pasien tadi. Tapi oh my god, pasiennya gemuk dengan pembuluh darah yang kecil, aku menyerah dan memanggil kakak perawat senior. aku tidak ingin membuat si ibu lebih menderita dengan percobaan percolokan yang akan aku lakukan jika sekli tusuk tidak yes.

Darahnya berhasil di ambil dan terpaksa aku yang mengantarkan darahnya ke lab. Tidak ada keluarga di sekeliling pasien. Oh baik lah. Hari ini aku harus terjaga walau semalam tidak tidur, mungkin sedikit olahraga pagi tidak buruk.

Sekembali dari lab sesosok wanita alias kakak perawat sedang berceramah ria di depan 2 teman ku. Nurlely dan maya. Dari jauh terlihat dia marah. Entahlah entah tentang apa. Dan celakanya aku mendekat

“Mana yang namanya mutia atau putri?”

Aku terdiam, diam yang dalam. Oh god, jantung ku berdegup kencang saat nama yang amat ku kenal itu disebutnya. Ya karena nama itu adalah namaku. Aku tersangkanya. Namun aku tetap tenang seolah mutia itu entah siapa. Berdiam didepannya dan mendengar semua ocehannya tanpa cela. Ocehan yang sempurna tertuju untukku.

“ bilang ya sama kawan kalian yang namanya putri soraya atau mutia rahmah kalau pekerjaan dia itu tidak benar. Hand scoon di tarok di atas ctg, itu lagi spuitnya kok di tarok di atas meja”. “kalian taukan semua itu infeksius”, “asal kalian tau semua infeksi nosokomial itu berasal dari dokter muda”, “ampul dan spuit juga di buang di save box, tapi semua dokter muda buang sembarangan”, “jangan lupa bilang sama kawan kalian si mutia dan putri soraya itu”. ibu itu berlalu dari kami.

Untunglah. Dia telah selesai tanpa tau si mutia itu ada didepannya. Andai tadi aku mengancungkan tangan maka tamatlah riwayat ku hari ini dan tepat aku akan diingatnya sebagai si pembawa infeksi nosokomial. Padahal aku sangat ingin membela diri saat itu. pertama sebenarnya memang benar aku yang menyebabkan semuanya berantakan. Semua aku biarkan apa adanya karena aku harus mengantarkan darah ke lab, niat ku sekembali dari lab akanku bereskan. Tapi sayang aku naas di menit ke 5. Dia terlebih dahulu menyidak. Kedua, hand scoon itu tidak kotor, itu bekas aku spoling pasien, ke tiga spuit itu tidak ku pakai, karena aku bahkan tidak berani melukai ibu yang kesakitan itu karena pembuluh darahnya bahkan lebih kecil daripada lidi, ke 4 masalah spuit dan ampul oh tidak, itu bukan kerja dokter muda tapi adek akbid. Andai saja ku bisa membela diri. Tapi aku diam. Terkadang diam jauh lebih baik daripada membela diri ditempat dimana kita bahkan tidak punya hak untuk bicara.

“mut, kok bisa?”kata maya

Aku menggeleng. Ah pagi ini. Biarlah berlalu.

“yaudahlah lah, jadiin pelajaran”, kataku.

“tapi kok bisa ya, dia tau nama mutia dan putri soraya?”tanya leli

Aku dan maya menggeleng.