INSYAALLAH

Pukul 21.00, senin malam.

Diluar masih hujan, tidak lebat tapi terus menerus

Ting nong. Line berbunyi. Di line tertulis.

” teman teman, untuk syarat STR harap segera di kumpul ya. Foto copy ktp, NPWP dan buku tabungan, slip pembayaran STR, form A1, surat sehat, photo 3×4 dan 4×5. Dimasukkan dalam amplop coklat dan dikumpulkan ke maulidawati paling telat hari rabu kalau yang di luar aceh hari kamis ya”.

Selesai baca LINE, aku mulai pejamin mata sambil menjadwalkan kegiatan besok. Oke, besok aku ikut ayah ke lhoksemawe untuk perpanjang ktp, terus cuci foto, beli materai, print form A 1 dan sorenya ke dokter untuk buat surat sehat. Besoknya kerem berkas dengan l300 ke banda. Oke fix! Setelah membaca doa tidur sepertinya aku langsung masuk ke alam mimpi. Hari ini lelah.

Lelah karena seharian aku, ayah dan akin kerjanya membuang buang air dari rumah ke luar. rumah aku dan beberapa rumah lainnya agak rendah, jadi kalau hujan dikit aja biasanya halaman depan udah penuh air. Apalagi kalau hujan deras. Air bisa sampe ke teras. Makanya untuk mitigasi bencana, ayah dan mamak udah kasih palang di semua pintu dengan semen setebal 8 cm dan tinggi 15 cm.

Nah, udah dua hari hujan. Ngak lebat tapi terus menerus. Jadi airnya udah sampe di teras rumah dan alhamdulillah terhalang palang ayah, jadi ngak bisa masuk. Tapi apa hendak di kata, ternyata airnya malah merembes dari celah celah semen. Untuk beberapa bagian rumah yang celah semennya jelek seperti ruang tamu dan dapur, sempurna air masuk semata kaki. Jadi itulah kerja kami sehariam tadi “sukat sukat ie” dari dalam ke luar.

Alhamdulillah siangnya hujan reda. Air surut sedikit dan perlahan rumah kami kering setelah kami “sukat” seharian. Makanya malam ini semua tepar. Kelelahan. Aku, akin terutama ayah.

xxxxxx

Pukul 00.01, selasa dini hari

“dek..dek.. Turun cepat”, terdengar suara ayah dari bawah. Aku langsung bangun. Sigap turun ke bawah.

“jangan bengong, air udah masuk kerumah. Ambil barang yang bisa di ambel”, perintah ayah.

Aku mengecek dulu keadaan, tujuan pertama langsung palang rumah. Dan ya Allah, air kecoklatan itu sudah melewati palang pintu setinggi 15 cm. Kencang sekali. seperti air terjun.

Aku sadar, ingat kata kata ayah. Masuk ke kamar, bentangin sarung, ambil tas terus masukin semua baju di lemari ke dalamnya dan bawa naik keatas. Sampe semua baju habis dan tinggal baju di rak 1 dan 2 dari atas

Si akin dan ayah menyelamatkan barang elektronik seperti tv, kipas angin, kulkas. alhamdulillah dirumah ngak banyak barang.

Selesai semua, kami di panggil ayah. Ada masalah besar. “tempat tidur”.

“coba ada ide gemana caranya tempat tidur ini bisa lebih tinggi?” tanya ayah.

Hening. Sedangkan air terus masuk. Semakin deras. Kami harus berfikir dalam hitungan detik.

“akin dan adek ambil kursi makan, kita angkat tempat tidur ke atas itu. Cepat”, perintah ayah. Kami lari tunggang langgang ke dapur. Air sudah setengah betis. Alhamdulillah sebentar urusan angkat ini selesai. Dan air sudah se lutut pas.

Ayah mengecek tempat lain di temani akin.

“nong, keuno kajak”, panggil mamak. Aku langsung ke dapur. Rupanya mamak sedang berusaha menyelamatkan kompor gas. Tapi alat penunjuk jumlah gas ngak bisa dilepas dari kompor gas. Jadi kompornya ngak bisa di angkat.

Kami bergulat. Mamak pegang aku tarik. Atau sebaliknya. Sampek tangan merah dan bergores tetap ngak bisa juga dilepas.

“ngak bisa mak”, kataku. “nyoe”, jawab mamak pendek.. Air terus masuk, makin deras dan sudah 2 cm di atas lutut.

“udah, tinggalin aja kompor disitu. Naik semua kita. Selamatin diri yang penting”, kata ayah.. Benar benar leader.

kami ngak pikir dua kali, langsung tinggalin kompor gas. Dan naik ke lantai dua.

“ta serahkan bak allah mandum”, kata mamak.

Iyes. Air sudah sepinggang saat kami naik. Cepat sekali. Derunya seperti deru air terjun. Mengalahkan suara hujan yang turun sejak magrib tadi. Hujan yang tidak lebat tapi terus menerus. Ya allah. Sekejap saja.

Pukul 00.30 menit. Selasa dini hari.

Iyes, hanya dalam 30 menit air sudah sepinggang. Sesaat kemudian.

“bummmmmm”. Suara dari bawah terdengar.

“kayaknya kulkas jatuh”, kata ayah.

Kami diam, sudah ngeri sendiri. Terakhir aku menghadapi banjir besar seperti ini ketika SD. Dan sekarang? Aku sudah tamat kuliah. Berapa lama? Hitung sendiri.

Hujan terus turun diluar. Dingin.

Beberapa saat kemudian. “tep”. Lampu mati. Sengaja dimatikan oleh PLN agar tidak ada yang korslet. Dan beberapa detik kemudian “tik” air di kran mati.

Pukul 01,00 selasa dini hari

Tidak ada listrik, tidak ada air bersih dan kami terperangkap dalam banjir. Sempurna memgerikan.

Sebentar saja. Sekejap. Hanya di berikan 3 hari hujan. Tidak lebat tapi terus menerus , dan dalam 30 menit kami sudah tidak berdaya seperti ini. Ya allah, kami lemah.

Aku langsung teringat semua rencana ku yang tidak ada apa apanya itu. Mulai dari ikut ayah untuk perpanjang ktp hingga surat sehat hanya tinggal kenangan. Dan deadlinenya hanya dua hari lagi. Alamat apa? Alamat aku tidak bisa ikut intenship bulan 2 nanti.

Dingin. Membayangkan itu semua aku semakin dingin.

Ya allah, lemah sekali kami. Aku pasrah, pasrah pada izin MU. Tadi aku lupa mengucapkan Insyaallah. Seolah olah hari esok psti masih milik ku dan semua rencana kecil itu pasti terwujud. Congkak. Lupa bahwa sesungguhnya harus ada izin dari Mu untuk semua. Ya Allah, kali ini jika Kau izin kan aku intenship bulan 2 maka mudah kan. Amin.

Insyaallah, jika allah mengizinkan. Punya makna besar, lebih besar dari semesta.

Aku menutup malam. Dengan doa panjang. Lhok sukon, 23 desember 2014.

Selas 23 desember 2014. Sekejap pagar rumah nyaris hilang
Selas 23 desember 2014. Sekejap pagar rumah nyaris hilang
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s