kota gambar

Malam. Sekitaran pukul 8. Aku sedang di dalam bus menuju bandung. Udah 2 jam di dalam bus tapi susah sekali penjamin mata. Padahal hari ini cukup melelahkan.

 

Karena ngak tau ngapain, aku iseng aja lihat keadaan sekitar melalui jendela bus. Aku tidak tau kami dimana, yang jelas dalam perjalanan menuju bandung, dimana sekarang? Hanya allah yang tau.

 

Dari sekeliling yang terlihat kami sepertinya sedang di jalan tol. Karena tidak ada motor yang lewat, tidak banyak emperan toko. Yang tampak hanya bangunan besar, cahaya dari pabrik, pom bensin, kfc, dan beberapa perumahan dan sesekali gelap. Mungkin itu daerah pepohonan.

 

Masih jam delapan malam, seharusnya jam segini masih banyak yang wara wiri di jalan. Tapi ini tidak. Sepi hingga ketulang. Hingga 15 menit pertama aku melongo ke kaca yang terlihat hanya 2 orang. Sisanya? Mobil dan kerlip lampu. Mungkin mereka lelah.

 

Bus terus melaju. Sesekali dia berhenti entah untuk apa. Hingga akhirnya bus melewati kawasan yang lumayan terang. Entah dimana itu. Pokoknya terang. Tampak jejeran kfc, mc donals, dunkin donut, coffea shop, indomaret hingga pom bensin.

 

“wah, akhirnya aku ketemu manusia juga”, pikir ku dalam hati. Tapi sangat disayangkan. Itu semua hanya harapan palsu. Kehidupan toko toko tadi terus berjalan, tapi tetap tidak ada manusia. Mirip kota gambar. Berbentuk tapi tidak bergerak. Tidak ada manusia disana. Walau hanya sekedar penjual. Ih, mengerikan sekali.

 

“sin, coba qe lihat nanti. Daerah daerah disini seperti kota gambar. Berbentuk tapi ngak bergerak karena ngak ada orang”, kataku.

 

Sinta mengamati. Tapi sayang akhirnya kami malah sibuk berbicara hingga sampai ke bandung. Ah, biarlah kenangan kota gambar yang mengerikan itu aku simpan sendiri.

 

xxxxxxx

 

hari ketiga di bandung, kami memutuskan ke dusun bambu. Aku, sinta dan vita. Sekitaran jam 5 sore kami mulai bergerak ke sana. Walau suasana di luar sedikit mendung dan kadang kadang hujan rintik rintik turun. Tapi karena sudah niat kesana, yasudah bismillah saja.

 

Dusun bambu berada di daerah lembang. Termasuk salah satu dari 16 destinasi wisata yang harus di kunjungi saat kebandung. Di sepanjang jalan kami melewati tanjakan, turunan, tikungan menurun, kadang kadang disekeliling tebing curam, pepohonan besar dan hutan yang suara binatang didalamnya terdengar. Tapi untungnya di sela sela itu masih ada penduduk yang lalu lalang. Namun, karena bukan hari libur dan cuaca seperti tadi mau tidak mau, kadang kadang kami bertemu sepi.

 

Apalagi saat melewati jalan yang kiri dan kanannya menjual pepohonan dan bunga bunga. Semua disusun rapi disepanjang jalan. Tapi bisa dibayangkan ketika malam tiba? Tepat, daerah itu sempurna gelap mengerikan dan pasti akan sepi menggigit. Tidak terbayang kita pulang nanti.

 

Sekali lagi, karena sudah bertekat, akhirnya kami terus melaju.

 

Hingga sampai disuatu tempat yang aku tidak tau namanya apa. Disekeliling tampak gerobak bakso, kios kecil, kios pulsa, indomaret, bengkel, gerobak gorengan. Berderet. Tapi anehnya, jangankan pembeli, penjual pun tidak ada. Bayangan kota gambar yang mengerikan itu muncul lagi. Semua toko toko tadi di biarkan begitu saja.ihhh! Aku mulai merinding. Takut. Kebahagian seperti tersererap. Dingin. Di sekeliling orang orang yang sekedar jalan pun tidak ada, ah! Kota gambar.

 

Kemana mereka? Tidak tau. Mungkin mereka lelah dan bersembunyi. Tapi tetap saja mengerikan.

 

Alhamdulillah ngak jauh dari tempat tadi, mulai tampak pasar kecil dan sedikit keramaian. Akhihrnya aku melihat manusia dan tidak terserap ke dalam kota gambar yang menyedot kebahagiaan. Hahahahahahaha.

 

Ngak beberapa lama dari situ akhirnya kami ketemu juga dusun bambu!begitu sampai disana, beku. Tangan kebas. Entah karena cuaca dingin entah karena takut. Tapi Tempatnya? Jempolan. Tidak rugi bersusah payah berpetualang sampe sampe di serap kebahagian sama dementor di kota gambar dan akhirnya, taraaaaaaaaa! fantastik sekali tempatnya. Dusun bambu kau ku taklukan. Hahahahaha.

 

Dan alhamdulillah sekali, ketika pulang yang entah salah jalan dimana, kami tidak menemukan lagi jejeran penjual bunga dan kota gambar tadi. Ah, aku senang sekali. Begitu sampai di bandung dan sadar tidak melewati tempat itu, aku rasanya tidak percaya! Ingin berteriak besar besar , yeah! Akhirnya keluar juga dari hutan Tuhan dan sudah sampai ke dusun bambu. alhamdulillah.. Semoga aku tidak bertemu lagi kota gambar itu. Bandung 23 april 2015.

Lembang
Lembang

 

 

Advertisements

One thought on “kota gambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s