pada zaman dahulu kala

Pada zaman dahulu di hutan yang entah berantah hidup seekor gagak putih dan bangau yang hitam. Mereka bersahabat. Suatu hari bangau bertanya pada gagak, apa rahasia dari kulitnya yang putih berkilat. Akhirnya gagak membuka rahasianya yang berupa ramuan ajaib.

Gagak berbaik hati memberikan ramuan tersebut dengan syarat di kembalikan. Bangau menyetujuinya. Setelah memakai ramuan tersebut, bangau yang hitam menjadi bangau putih yanhpg cantik. Namun tetap saja, bagi binatang hutan lainnya kulit putih gagak tetap jauh lebih cantik.

Setelah beberapa hari gagak datang menemui bangau, menagih janji untuk mengembalikan ramuan tadi. Tapi karena rasa iri nya dia malah menyiram ramuan tadi sekaligus ke arah gagak. Sontak gagak berubah menjadi hitam. Dia kesal sekali.

Nah, di lain kesempatan, bangau yang jahat juga ketauan mencuri banyak ikan di sungai. Oleh karenanya si kancil geram dan melemapri bangau dengan kayu. Prak! Sayap cantik bangau patah. Dan dia tidak bisa terbang lagi hingga sekarang. Jadi, itulah alasan mengapa gagak hitam dan bangau putih tapi tidak bisa terbang.

Benarkan cerita ini? Hahahaha. Aku tidak tau pasti. Tapi menyenangkan saja. Hikmahnya jangan sekali kali berbuat jahat pada orang lain, tapi sering seringlah berbuat baik.

Kisah ini aku dapat dari film kartun “pada zaman dahulu kala”. Film anak anak dari negeri seberang. film ini mengisahkan hidup 2 orang kakak beradik, aris dan ara. Hubungan mereka mirip cintani dengan fatir. Abang yang usil dan adik yang lugu. Jadi, ara dan aris tinggal dengan kakek dan neneknya. Jika ada hal yang menarik, si kakek akan memulai “pada zaman dahulu kala”….. Dan cerita film itu dimulai. Cerita tentang kehidupam hewan yang bisa berbicara dan penuh hikmah.

Ceritanya selalu seru! Ada dua hal yang menarik. Pertama hikmahnya dan kedua asal usulnya. Misalnya cerita di atas, hikmahnya jangan berbuat jahat tapi sering sering berbuat baik. Asal usulnya adalah di cerita ini, kita tau mengapa gagak hitam dan bangau putih tapi tidak bisa terbang. Hahahahaha.

Kisah lain adalah kisah ayam dan burung yang aku lupa namanya. Suatu hari ayam bertanya pada burung mengapa dia bisa terbang sedangkan ayam tidak. Padahal mereka sama sama memiliki sayap. Lalu burung memberi tahu rahasianya yang berupa jarum emas. Burung meminjankan jarum itu kepada ayam dengan syarat di kembalikan.

Begitu mendapat jarum emas, ayam langsung menjahit sayapnya. Dan taraaaa,,,, ayam bisa terbang tinggi. Sangking senangnya ayam menjatuhkan jarum emas milik gagak. Ayam lalu berusaha mencari jarum itu. Dia mematuk matuk tanah, mencari jarum. Tapi sayang, jarum tidak ketemu. Hingga burung datang dan menagih kembali jarumnya yang sudah hilang. Apa hendak di kata, jarum sudah terlanjur hilang dan burung marah. Burung berjanji akan terus memangsa ayam dimana pun berada.

Hikmahnya jangan ceroboh melakukan sesuatu, menyesalnya seumur hidup. Nah, itu juga alasan mengapa burung besar sering memangsa ayam dan mengapa ayam terus mematuk ke tanah, mencari jarum. Entah iya atau tidak, tapi lucu saja.

Banyak kisah lainnya, tentang semut, monyet yang mencuri, cerita siput yang lambat, dll. Yang selalu berakhir hikmah dan asal sesuatu.

Acara ini disiarkan setiap pagi dan sore. Teman menonton fatir dan cintani. Inilah film versi mereka selain upin dan ipin, marsha and the bear , jorsh si monyet pintar, dan kartun lainnya.

Aku lebih senang menonton kartun kartun ini (upin dan ipin, marsha dan pada zaman dahulu kala, josh di monyet pintar) dari pada film kartun indonesia. Padahal gambarnya sudah bagus tapi ide ceritanya menurut ku “konyol”. Diantara kita mungkin sering menontonnya.

Pernah suatu sore aku terpaksa menonton kartun ini. Awalnya aku tidak lihat, hanya ujungnya saja. Disana mengisahkan si sopo jarwo menyebarkan kabar bahwa ayah adit meninggal. Dia bahkan sudah mengumpulkan dana dari seluruh orang kampung. Tapi pada akhirnya ayah adit datang. Hikmahnya jangan menyebar kabar yang tidak pasti kebenarannya.

Hikmahnya sih oke. Tapi sayang, sosok yang membuat gaduh adalah orang tua. Disini yang kurang srek di hati. “orang tua” kok konyol. Tidak membimbing. Aneh saja. Tidak seru untuk di nonton. Mungkin mau memasukkan komedi, tapi menurut ku dunia anak anak sudah cukup lucu bagi mereka sendiri. Tidak usah di tambah komedi aneh aneh lagi. Atau mau alur beda dengan film luar sana, menurutku gagal.

Jauh lebih baik, cerita si bolang di kartunkan. Cerita anak anak desa yang berpetualang mengarungi kampung. Tidak usah aneh aneh idenya. Sederhana saja. Itu jauh lebih berkesan dari pada orang tua yang konyol di layar televisi. atau sopo dana jarwo dihilangkan. Biarlah adit cs berkelana mengejar mimpi masa anak anaknya. Ini menurut ku saja. Sekali lagi, semua sesuai selera.

Jadi, kalau fatir dan cinta sedang menonton film kartun tadi, aku sering bergabung bersama. Ikut nimbrung dan menikmati ceritanya. Lalu beradu senyum dengan cintani dan berdiskusi sedikit dengan fatir yang rasa ingin taunya besar. Malah menurutku “kepo” sekali.

Sesekali, nonton lah film ini. Disela sela kita menyaksikan “manusia yang bercita cita jadi binatang”yang intinya entah apa atau bosan menonton konser dangdut di televisi, film ini bisa memberi sedikit inspirasi indah, banda aceh 24 mei 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s