naik kelas

Pulut dan keumamah
Pulut dan keumamah

Di rumah sedang ramai. Tidak ramai ramai sekali sebenarnya, tapi lebih dari biasanya. Karena ada beberapa tetangga yang datang. Ada acara apa? Acara masak masak.

Ada sekitar 3 orang tetangga datang ke rumah sore ini. Dua diantaranya sudah berumur, alias nenek nenek dan yang satunya lagi masih muda. Mereka sedang asik memasak pulut dan keumamah di dapur. Aku ikut nimbrung, walau tidak bisa memasak seberat ini, aku kan bisa membantu ambil ini itu dan bisa membantu “mencicipi” makanan.

Jadi, sepupu kece ku akan memulai membaca alquran perdana nanti malam di tempat ngajinya. “peu phon beut”. Itu istilah acehnya. nah, untuk itu ada sedekah sedikit dari orang rumah untuk tengku dan anak anak yang mengaji disana. Makanya sore ini, dirumah ibu ibu sedang asik memasak pulut dan keumamah untuk si fatir nanti malam.

Setelah pulut dan keumamah masak, keduanya di kemas dalam cup kecil. Cukup untuk anak anak. Jadi taruh pulut sedikit dan berikan beberapa potong keumamah dengan potongan kentang lalu eratkan dengan anak klip. Selesai. Baru kali ini aku melihat pulut disajikan dengan cara seperti ini. Biasanya pulut dimakan dengan kelapa bukan?

Selesai dengan itu, sisa pulut dan keumamah tadi di simpan untuk tengku, beberapa tetangga dekat dan keluarga. Sisanya di bagi bagikan untuk yang membantu masak tadi. Dan urusan selesai.

“yok, antar ke tengku dan tetangga”, kata kak lu.

Aku ikut saja, sekalian keliling kampung. Begitu pulut di berikan, jelas semua bertanya. Dan selalu di jawab sama oleh kak lu. “peu phon beut al quran si fatir”. Dan berkali kali si penerima pulut menjawab “beu trang hate fatir” yang artinya semoga hati si fatir terang benderang dan pintar ngajinya. Begitu hingga pulut di motor sudah habis di bagikan.

Si fatir sendiri sedang heboh di rumah dengn al-quran barunya, hadiah dari ayah. Dan cintani sibuk menceritakan pada siapapun yang datang ke rumah “kalau abang tercintanya di peuphon buet al-quran” nanti malam.

Magrib tiba, sesuai dengan jadwal harian fatir. Dia harus mengaji. Tapi sore sebelum pergi mengaji dia gaduh di rumah. Memastikan cup pulut cukup, aqua gelas sudah ada, pulut untuk tengku ada dan berkali kali mengingatkan mamaknya “jangan lupa ke bale beut setelah magrib”.

Setelah magrib, mamak dan ayahnya sudah siap. Bergerak ke bale tempat fatir mengaji yang hanya selemparan batu dari rumah.

Pulang mengaji, sekali lagi rumah gaduh. “jauh kan abang baca quran tadi kan mak?”, “abang bisa baca, ngak perlu di bacain sama tengku kan?”. Kata si fatir.

“iya”. Jawab mamaknya.

“ayah sampek merinding dengarnya”, kata ayahnya.

“rajin rajin ngaji ya fatir”, kata mamak dan ayahnya.

Sejak hari itu, fatir resmi naik kelas. Dia mengaji setelah salat dirumah hingga beberapa hari setelah hari penting itu.

Yah, begitulah. Menurutku kenduri kecil seperti ini perlu. Kalau dilihat dari sisi anak, ini suatu penghargaan baginya. Tidak hanya naik kelas, dapat peringkat, menang lomba, dll akan ada hajatan di rumah, tapi mengaji pun perlu di beri penghargaan. Malah seharusnya ini jauh lebih berharga dari semua hal itu. Dan semoga saja dengan penghargaan ini si anak bisa semakin semangat mengaji.

Dari sisi lain, kenduri adalah sedekah yang padahal terus mengalir. Selain itu bisa di bayangkan setiap di beri sedekah, ada banyak doa baik yang datang? Doa agar hati si anak terang benderang. Semoga doanya sampai. Amin.

Aku sudah bertanya pada kak lu, apakah harus begini. Jawabannya tidak harus. Sesuai kesanggupan. Kalau sanggup gak apa, kalau ngak sedekah aja untuk tengku sedikit, kalau ngak sanggup pun yaudah ngak apa.

Tidak ada paksaan, tapi alangkah lebih baik jika kita tetap memberikan penghargaan untuk si anak yang naik kelas mengaji. Karena itu bisa jadi motivasi untuknya dan menunjukkan berapa kita sangat mendukungnya untuk bisa terus mengaji. “belajar di waktu kecil lebih baik daripada belajar di waktu besar” bukan?banda aceh 24/5/15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s