lale (lalai)

Sepupu kece, fatir dan cintani.
            Sepupu kece, fatir dan cintani.

“hoe ka si cinta ngen fatir?” tanya ku ke pada kak lu. Kak lu itu sepupu ayah ku. Dan cinta anaknya.

“bak rumoh kak epi, na moto beko”, jawab kak lu.

“hahahaha, aneuk miet. Ngen moto beko pih lale”. Kataku. Ada ada saja anak anak itu. Dengan mobil yang menggerok tanah pun sudah oke untuk bermain. Pulang hingga sore sudah larut. Dengan baju berlumuran tanah.

Kadang mereka asik sekali dengan kertas. Kertas itu di lipat dan dijadikan pesawat terbang mainan. Lalu berlomba pesawat siapa yang paling jauh terbang dan paling cantik terbangnya. Dengan itu saja sudah lalai. Lupa pulang dan lupa makan. sampai kerumah sibukmbertanya pada ku “anda, di dalam pesawat seperti apa?”.

Itulah mereka. Sepupu kecil ku. Kakak beradik. Fatir dan cintani. Kerjanya? Pulang sekolah mereka duduk sebentar dirumah. Lalu pergi bermain, pulang ketika sore sudah larut. Mandi sore lalu berangkat mengaji. Setelahnya duduk sebentar, belajar jika dia ingin, lalu pergi tidur setelah mengatakan “tidak ada film” di televisi.

Aku selalu tertarik dengan sesuatu yang membuat mereka “lale”. Karena kebanyakan adalah hal yang sangat sederhana. Cintani bisa saja lale dengan “bunga”. Iyes. Dirumahnya ada “bate”, tempat meletakkan sirih milik almarhum neneknya. Jadi di kumpulkan bunga bunga di sekitar rumahnya dan di masukkan ke dalam bate, di bawa keliling kampung. Apa maknanya? Hanya dia yang tau.

Ketika berjumpa dengan lativa temannya, mereka akan lale dengan mengumpulkan barang ke dalam tas. Semua, mulai dari minyak kayu putih, buku, cat, pensil, tempat tisue. Semua. Jika dirumah kehilangan barang, tas cintai patut di curigai. Mereka akan bermain “rumah-rumahan” dengan tas itu.

Kalau suasana sedang baik, mereka akan masuk ke kamar. “main boneka”. Tida gaduh sedikit pun.. Atau main rumah rumahan dengan daun sebagai uang.

Jika bosan dengan permainan yang terlalu sederhana itu, mereka akan mengambil batu bata dan mencari kayu bekas. Lalu main jungkitan dengan itu. Cukup dengan bata dan kayu bekas mereka sudah lale.

Tapi terkadang permainan “anak laki-laki”, sering lebih menggiurkan. Jadi, bosan bermain dengan lativa. Mereka akan “mengekor” abang masing masing. Dan bermain bersama jika di izinkan, jika tidak? Cukup menikmati dan mengikuti apa yang dikatakan abang mereka.

Waktu itu si abang, fatir sedang bermain bola. Bola yang warnanya sudah tidak jelas. Yang penting bulat dan bisa di tendang. Dia bermain dengan temannya, tengah siang. Dan nasib cintani sedang tidak baik saat itu. “nonton aja ya”, katanya pada cintani. Dan cintani menurut. Mengamati. Tapi saat dia bosan, sesekali dia masuk arena dan berlari lari juga, berlari saja.

“dek, ambel air untuk abang”, kata si fatir. Tidak pikir panjang, cintani lari ke rumah. Mengambil air untuk abangnya. Lalu kembali “lari-lari” ditengah anak laki laki yang sedang main bola. Mereka cukup lalai dengan itu.

Saat abangnya bermain bulu tangkis. Lagi lagi cintani hanya bisa jadi penonton. Ikut tertawa saat semua tertawa. Yang penting sama sama. Yah, walau kadang abangnya sering usil. Tetap saja sering di ekori.

Begitulah mereka. Semua hal bisa jadi menarik. Menarik untuk di jadikan permainan. Bahkan dengan belalang pun mereka bila lale alias lalai. Kebetulan banyak padang rumput di depan rumah cintani. Mereka memburu belalang belalang tidak berdosa. Menangkapnya seorang satu. Lalu menjadikannya permainan. Membuat belalang itu berjalan di tangan, memberi rumput, atau mengurungnya di botol.

“jangan siksa binantang, kalau kalian di siksa gitu mau?” kata ayah fatir. Sekejap, binatang itu di lepas dan mereka juga hilang. Mencari lapak lain untuk bermain.

Apa lagi? Sendal. Iyes. Diapakan sendal itu? Di jadikan bola. Sendal itu di lempar dan di tangkap. “maen rom rom siloP”. Itu judulnya. Sebagian besar permainan sebenarnya hanya tertawa. Haha hihi. Kalau dilihat apa asiknya permaianan itu. Tapi bagi mereka luar biasa.

apa lagi yang bisa membuat mereka lalai? kotak rokok. Diapakan? Dilipat dua. Lalu ditekan ujungnya. Dan lihat lipatan rokok siapa yang melaju paling jauh. Hahahahahaha. Dengan itu sudah cukup memadai dan membuat lupa pulang ke rumah.

Belum lagi kalau main pek pong (sembunyi sembunyi) dan mau cok kring. Berkeringat, bau matahari, lelah pun jadi. Main main. Iyes.

Ah anak anak. Hidup sebagian besar habis dengan main main. Main yang sederhana. dan bisa lale dengan apapun! Iya, itulah anak anak disini. Anak anak yang tumbuh dan belum tercemar hal hal aneh.

Menurutku lebih baik main hal yang sesederhana itu, tertawa, berimajinasi dengan apa yang ada . Sekali lagi, aku selalu tertarik dengan apa yang membuat mereka lalai. Yah, semoga bisa tumbuh menjadi anak yang baik dan menjadi anak yang soleh dan solehah. Banda aceh. 23 mei 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s