fatir vs cintani

Kembali dengan cerita “fatir dan cintani”. Kenapa? Karena seperti kebanyakan anak anak, cerita mereka selalu menarik untuk diceritakan.

Seperti kebanyakan anak laki laki, menurut ku fatir ini adalah abang yang “usil” dan cintani adalah adik perempuan yang “lugu”.

Salah satu kebahagian mereka adalah “jajan”. sebanyak apapun makanan dirumah, tawaran jajan jauh lebih menggiurkan. Apakah hanya sebungkus coklat, sanck yang besar bungkusnya saja, permes,eskream, apapun itu, mereka akan tetap bahagia.

Nah, lugu nya cintani disini. Dia anak bungsu. Perempuan dan sedikit manja. Jadi, jika ayahnya mau pergi bekerja, kadang kadang sifat manjanya muncul. Aku sebut “meuheng heng”. Hmmm. seperti meringis ringis. dia sering begitu. Cara menghentikan “heng hengan” itu adalah dengan beli “jajan” tadi. Diantara cintani vs fatir, cinta lebih sering mendapatkan momen ini. Dan disetiap kesempatan dia tidak pernah melupakan abangnya.

Jika beli snack, biasanya dua. Jika beli permen biasanya pas untuk di bagi dua. Atau jika dia beli sesuatu pasti akan ada yang akan di bagi dengan abangnya. Sedangkan abangnya? “sering tidak”. Jadi momen ini sering memicu perkelahian jika yang “jajan” adalah abangnya.

Suatu hari mereka di beli es kream oleh ayahnya. Bentuk dan ukuranya sama. Mereka makan bersama.

“yok makan dek”, kata si fatir.

Cintani dengan lugu memakan es creamnya. “makan lagi yok”. Ajaknya. Suap demi suap. Hingga es cream di mangkuk cintani tinggal seperempatnya.

“jeh, abang kok belum habis”, kata cintani setelah mengintip mangkuk escream abangnya.

“hahahahahaha”. Fatir tertawa licik.

Dan heng hengan itu berbunyi.

“mak, abang jahat kali. Tadi dia ajak makan es cream sama sama. Tapi waktu adek makan dia ngak makan. Jadi punya adek udah mau habis punya dia masih banyak”, cerita cintani sambil meuheng heng.

Hahaha, aku tertawa saja dalam hati, usil sekali anak 8 tahun itu. Teganya mengadali adiknya yang baik hati

Walau begitu, setelah urusan ec cream itu selesai, mereka kembali main bersama. Akur sesekali lagi lalu gaduh lagi.

Nah, waktu itu aku mau pergi. “mau ke mana anda?” tanya cintani.

Santai aku menjawab, “kepasar”. Sesaat heng hengan muncul. “adek ikot juga”, kata cintani.

“ngak bisa”, jawab ku. Susah bawa anak anak ke pasar.

“kalau ngak kasih uang untuk adek”, kata cintani.

“kok udah mirip preman adek?”, kataku. Tapi aku tetap memberikan uang pada nya. Lalu bersiap pergi. Belum selangkah aku beranjak. Bunyi heng hengan terdengar. Buru buru aku masuk.

“kenapa?”. Tanyaku.

“abang pukul adek”, jawab cintani.

“kenapa fatir, pukul adek?”. Dan fatir menjelaskan. “dia ambel uang abang. Jadi uang yang anda kasih untuk dia, dia kasih untuk abang. udah dia kasih dia ambel lagi”.

Hutf. “cintani, kenapa kasih uangnya untuk abang?”, tanyaku. Dan cintani diam seribu bahasa. Mungkin dia “sayang” abangnya tapi sesaat kemudian berubah pikiran. Ah! Akhirnya aku memberikan lagi uang kepada cintani. Jadi seri. Si abang dapat dan si adek juga.

Begitulah cintani. Adek perempuan yang lugu.

Suatu hari pernah si abang request padaku membuat es batangan.

“fatir cari karet gelang biar anda ikat plastik es nya”, kataku.

Fatir langsung mencari karet gelang kemana mana. Hingga akhirnya dia memanjat lemari yang berisi gelas. Dia anak laki laki kampung, geraknya sudah pasti gesit. Tapi, cintani mengomel. “jeh abang ini, jangan manjat manjat”, katanya.

Diambilnya kursi makan dan diletakkan di bawah lemari tadi agar abangnya bisa mendarat dengan tenang. Ah anak kecil yang imut sekali.

Tapi abangnya ya begitu. Suatu hari aku pernah menyusuh fatir mengambil air minum untuk adiknya.

“ini air adek”, katanya dan pergi sambil tersenyum lebar sekali.

Si adek langsung minum. “aaaaak, apa abang ini”. Katanya sambil menjerit.

“kenapa?”tanyaku.

“air yang dikasih abang panas”, katanya.

Hahahahahahahaha. Fatir!!!!! Aku segera mencampurkan air itu agar panasnya hilang. Usilnya tidak pernah usai. kasian adik kecil yang masih 5 tahun itu.

Tapi sekalai lagi, walau selalui di usili tetap saja cintani tidak pernah lelah berbuat baik pada abangnya. Dia sayang abangnya. Padahal saat mereka akur, mereka bisa tertawa seperti ada 6 orang bersama. Seru saja melihatnya. Tertawa yang entah karena alasan besar apa. Terus ribut lagi, heng heng lagi, kena timah panas mamaknya, kabur bermain, pulang dan akrab lagi. Tidak terbayang jika posisi di ubah, cintani yang menjadi kakak dan fatir yang menjadi adik. Hahahahahahaha. Terus tumbuh jadi anak baik ya sepupu kece. Semoga semakin besar, fatir bisa menjadi abang yang terus melindungi adik lugunya. Amin. Banda aceh 23 mei 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s