dua kultum!

Kultum atau kuliah tujuh menit adalah agenda wajib setelah salat magrib dan subuh. Seperti yang pernah aku ceritakan, jika magrib yang kultum adalah anak laki laki dan subuh anak perempuan. Begitu seterusnya.

Yang kultum biasanya sesuai kelas. Misalnya minggu ini kelas IPA 3 yang sedang piket musala, maka yang kultum magrib adalah anak laki laki dari IPA 3 dan kalau subuh, anak perempuan dari IPA 3 juga.

Silih berganti orang maju ke mimbar itu. Ada beribu jenis kultum yang sudah di sampaikan selama aku disana. Tapi dari serangkain kultum itu, ada 2 kultum yang cukup membekas. Ini lah kultum duo siti.

Kenapa? Karena yang menyampaikan adalah siti. Yang satu siti maisarah dan yang kedua siti safiatun. Mereka bukan anak kembar. Kebetulan saja namanya sama. Yang pertama dari loksemawe yang kedua dari sigli. Yang satu anak IPA 1 dan jago debat yang satu lagi anak IPA 3 yang seorang qariah.

Baiklah. Waktu itu subuh. Dan seperti kebanyakan subuh lainnya, semua mengantuk. Mendengar kultum dengan mata sayup sayup. Antara sadar dan tidak. Majulah seorang dara manis. Tinggkat kepercayaan dirinya aku rasa dari 0 hingga 10, bisa aku katakan 9. Dia maju berlahan. Dihidupkannya mikrofon dan dia mengucapkan salam.

“assalamualaikum wr.wb”. Salam nya.

“wa’alaikum salam”. Jawab jamaah.

Suasana kembali hening, jika ada jarum jatuh sepertinya akan terdengar. Selanjutnya dengan intonasi yang bagus siti melanjutkan kultumnya setelah mukadimah.

“judul kultum hari ini adalah coklat”. Ujarnya. suasana masih tenang.

Dan siti melanjutkan kultumnya. “kita selama ini selalu sedikit bagaimana dengan warna coklat atau warna gelap. Apalagi dengan iklan yang selama ini selalu melukiskan cantik itu adalah putih, mulus tanpa noda. Pemilihan putri ini dan itu juga selalu menonjollkan “cantik” yang seperti tadi. Maka apalah arti kami kami yang berkulit eksotis ini. Padahal jika kita renungkan, tidak selamanya sesuatu yang coklat seperti itu. Contohnya coklat yang sering kita makan”. Suasana mulai gaduh

Siti melanjutkan. ” coklat itu hitam, tapi dia enak, lezat, dan banyak yg suka”. Siti menarik nafas.

“Termasuk orang-orang hitam, biasanya manis😂😂😂. Apalagi saat tersenyum, terlihatlah keindahan perpaduan warna kontras dari kulit wajah hitam manis dengan gigi putih bersinar, clingg. Seperti Kofi Annan & Oprah Winfrey”. Jeda. Jamaah mulai bangun. Mata kantuk itu terbelalak dan badan malas mulai tegak. Pembicaraan ini sangat menarik. Karena memang ada sebagian dari kami yang “coklat”.

Siti melanjutkan “maniskan? Indah tiada tara. Jadi, dapat diambil kesimpulan, segala hal yg berwarna kecoklatan/ hitam itu biasanya adalah hal yg manis dan hebat, serta banyak penggemarnya. Termasuk kulit coklat! Dia tersenyum mantap. Kepercayaan dirinya aku rasa 9,5 saat itu.

Semua jamaah sempurna bangun.

“assalamualaikum wr. Wb”. Ucapnya sekaligus tanda kultum itu selesai.

Semua tersenyum simpul. Apalagi mereka yang coklat. Iyes coklat tidak selamanya seperti yang dikatakan iklan. Mereka memiliki keindahan tersendiri. Apalagi kalau coklat itu terlihat glow!

Bertahun setelahnya, ada beberapa orang yang masih mengingat kultum ini. Begitulah kekuatan kultum singkat subuh itu.

Kultum fenomenal lain adalah kultum dari siti yang kedua. Waktu itu tetap subuh. Seperti biasa subuh hari semua dalam keadaan mengantuk.

Siti maju berlahan. Judul kultumnya hari itu adalah “segelas cangkir”. Dia menyampaikan kultum dengan gayanya. Tidak banyak gaya, hanya assalamualaikum dan mukaddimahnya yang berbeda. Maklum qariah.

Setelah mukaddimah yang takzim itu di melanjutkan kultumya. “jadi gelas itu berasal dari sebongkah tanah. Nah, sebelum menjadi gelas , dalam pembuatannya tanah tersebut di digiling. Setelah digiling, tanah tersebut akan dihaluskan lalu dicetak menjadi gelas. Setelah dicetak, gelas prematur tadi akan di jemur selama beberapa hari, baru setelahnya di bakar”, siti menarik nafas

“jadi, jika ketika di bakar gelas gelas tadi mampu bertahan maka dialah gelas sesungguhnya. Hanya tinggal di cat jadilah gelas cantik yang sempurna”. Siti menarik nafas lagi.

“nah, begitu juga manusia yang diuji melalui kehidupan. Terkadang ditimpa sedikit kesusahan, kelaparan dan kesedihan. Siapa yang tahan dengan ujian ujian itu, dialah pemenang. Layaknya gelas cantik tadi. Jika dia tidak tahan di jemur dan di bakar maka tidak ada gelas cantik”. Siti menarik nafas lega.

“demikian lah kultum saja, lebih dan kurang saya mohon maaf, saya akhiri dengan wabilahitaufik walhidayah, assalamualaikum Wr, Wb”.

Kultum selesai. Bagiku kultum itu menyerap ke dalam dada. Tapi karena waktu terus berjalan, berlahan isi kultum itu memudar. Hingga akhirnya aku bertemu dengan alm. Bapak asrama. Sebelum beliau pergi meninggalkan kami.

Dari semua kultum yang bombastis, hanya kultum siti safiatun yang masih dikenang dan dapat diceritakan ulang olehnya. Begitu berkesan kultum pagi itu.

Itulah dua kultum fenomenal menurutku. Kultum yang tak lekang oleh zaman di ingatan beberapa orang. Semoga terus bermanfaat. Lompoh keude 19, mei 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s