kampung kecil

Kesempatan pulang kampung itu adalah kesempatan istimewa. Jadi, sekali kali kembali kemari aku tidak akan melewatkan menikmati apa yang tidak aku jumpai di tanah rantauan. Aku sejenak lupa program diet yang sedang aku jalani. Lupa kalau malam aku tidak makan lagi. Karena akan selalu ada makanan enak yang bisa di makan. Ditambah lagi keluargaku adalah keluarga yang hobi makan. Maka lengkap lah semua. Makan bersama aneka rasa.

Sarapan pagi yang jarang terlewati adalah Lontong wak miah. sebenarnya lontongnya sama saja dengan lontong kebanyakan. Ada kuah, mie, taucho, sambal goreng, lontong dan kerupuk. Tapi perpaduannya pas dilidah. Tidak manis dan tidak juga asin. Sedikit pedas dan gurih. Selain itu, porsinya juga tidak cilet cilet seperti di rantauan. Cukup dengan 5ribu rupiah, seporsi penuh lontong wak miah telah tersedia di meja. Kenyang! Kalau sedang malas masak dan tidak ada yang bisa di masak, maka seporsi lontong ini cukup mengganjal perut hingga siang hari.

Makanan yang juga sering aku makan adalah mie pangsit pengkolan. Sekali lagi, rasanya berbeda dengan mie pangsit biasa. Cekernya itu yang asli, mantap!

Kudapan sore kesuksan adalah pisang goreng PLN. Letaknya tidak persis di samping kantor PLN, agak jauh sedikit. Tapi itu bangunan yang lumayan besar disana. Jadi lebih mudah menemukan tempat gorengan itu jika menyebutnya di samping PLN. Yang enak dari pisang goreng disini adalah rasa pisang gorengnya yang manis dan sambal manisannya yang keren. Ini tempat pisang goreng favorit ayah.

Kudapan sore lain yang aku suka adalah molen mungil. Ukurannya hanya sebesar jempol anak kecil. Mungil sekali. Rasanya? Mirip molen biasa. Tapi karena ukurannya kecil maka rasa pisangnya tidak begitu dominan jika di bandingkan dengan tepungnya. Jadi, bagi yang lebih suka tepung, molen mungil ini bisa jadi pilihan. penjualnya juga lumayan banyak. Ada disamping pasar buah, di pasar dan di depan kantor KUA,

Mie goreng! Cukup dengan 7 ribu rupiah, sebungkus mie aceh dengan rasa khas sudah bisa di santap. Rasanya? Mirip mie aceh biasa dimana mana. Tapi enak saja dimakan. Letaknya tepat di samping mesjid raya baiturrahim.

Kalau kue, yang terkenal disini adalah kue cek lem. Jangan sepele dengan namanya karena rasa selainya, mantap di lidah. Jadi, kue ini seperti kue bakpau yang tidak ada isi. Nah, ditengahnya bakalan diisi dengan selai yang enak itu. Tipe kue lain seperti kue samahani. Petak besar. Lalu di tengahnya di potong dan di beri selai. Enak enak enak. Letak roti cel lem ini, tepat di jalan medan -banda aceh. Yang kalau dari banda aceh di sebelah kiri.

Kue kesukaan lain adalah kue apam keubeu. Mamak punya banyak nama untuk kue ini. Dan kenapa di beri nama apam keubeu, aku juga tidak tau. Mungkin karena warna kulit kuenya yang agak hitam coklat dan texture nya yang lembut, mirip kulit kerbau. Entah lah. Nah kue ini mirip martabak manis, tapi adonannya mungkin sedikit berbeda, makanya warnanya berbeda. Di tengah kue ini di berikan taburan kacang. Rasanya? Pokoknya ibu ku suka sekali kue ini. Setau ku, di kampung ku hanya nenek ini yang menjual kue apam ini.

Selain apam, ada kue pancung. Dan sekali lagi aku tidak tau mengapa namanya demikian. Bentuknya setengah lingkaran, warnanya putih dan ketika di makan gurih dengan campuran rasa kelapa di dalamnya. Enak enak enak.

Itulah beberapa makanan yang sering aku makan. Dan sering membuat aku lupa sedang diet. Bersama mamak yang sering lapar, jadi momen pulang kampung sempurna membuat kami menjadi terus memamah sepanjang hari.

Tapi, sering juga aku terluka saat pulang kampung jika berurusan dengan masalah teknologi. Aku sering stuck untuk urusan ini.

Waktu itu, aku butuh print pukul 08.00 malam. Setelah putar putar pasar, tidak ada tempat foto kopi yang buka dan menyediakan printer. Akhirnya aku mengajak ayah, keliling kota kecil itu. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada tempat print. Padahal masih pukul 8 malam. My god! Akhirnya besok aku harus bangun pagi dan ikut ayah ke loksemawe. Huft.

Saat itu aku juga butuh JNE atau alat pengirim barang sejenis. Dan lagi lagi kata ayah “sama aja, kalau kirem dari disini lebih lama, dia bawa lagi ke lhoksemawe baru dikirem. Jadi lebih bagus langsung aja adek kirem dari lhoksemawe”. Hmmm. Iyes iyes, akhirnya, sekali lagi aku harus ke lhok semawe.

Saat butuh bank selain bank BRI, misalnya untuk bayar SPP. Ya allah, lagi lagi aku harus ke loksemawe. Untung saja jaraknya tidak begitu jauh. Tapi tetap saja.

Yah, sedih nya disitu. Disaat perlu dia tidak bisa diandalkan. Kecewanya dimana mana.

Begitulah kota kecilku, hmmm, kampung kecilku. Tepatnya. Tidak begitu besar dan tidak bising. Banyak makanan yang memanggil tapi ada saat kita juga bisa stuck disana. Yah, aku cuma bisa berharap, beberapa tahun kedepan, kota kecil, yang senang untuk di pulangi itu, karena banyak makanannya, bisa lebih baik nanti dan lebih maju. Aku bisa kenyang dan tidak stuck lagi disana! Amin, lhok sukon 4 mei 2015

Lhoksukon
Lhoksukon
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s