tragedi prosus matematika!

Waktu itu siang. Seharusnya jam segitu kami sedang belajar matematika dengan guru kesayangan. Buk dar namanya. Tapi, walau sudah berlalu hingga 30 menit, buk dar tidak kunjung datang.

“coba cek ke ruang guru rahmat”, kata teman sekelas. Dia adalah ketua kelas kami. Rahmat langsung bergerak. Bergegas ke kantor guru.

“ada buk dar, tapi ngak mau masuk”. Kata rahmat yang muncul sesaat kemudian.

“hayo kalian anak cowok. Buk dar marah”, kami mengompori. Memanas manasi suasa yang mulai panas.

“beuh, kok salah kami. Salah anak ipa 1 lah, orang ini yang bilang ngak ada prosus kemarin”, anak cowok membela diri.

Apapun alasannya mereka tetap salah. Jadi, beberapa hari lalu kami ada prosus matematika. Tapi anak laki laki mendengar kabar buk dar tidak masuk pelajaran matematika ketika pagi di kelas IPA 1. Mereka pun berkesimpulan buk dar juga tidak datang untuk prosus. Dan jahatnya, mereka hanya menyebarkan kabar itu untuk kalangan sendiri. alias hanya untuk kaum lelaki. Hasilnya, hari itu hanya kami yang wanita yang tidak tau apa apa ini yang akhirnya pergi prosus. Dan ternyata, alhamdulillah buk dar datang. Jadi dikelas itu hanya ada wanita wanita cantik.

Jelas buk dar naik darah. Selain guru matematika terbaik, buk dar juga wali kelas kami. Beliau selalu mendukung kami. Terlebih kami yang masih kelas satu ini sangat rawan ingin “minta keluar”. Saat mendengar ada anak kelas yang mau keluar, beliau pasti akan datang menghampiri. Duduk disamping kami sambil memberi wejengan. Menguatkan hati kami yang mulai menciut. Fikri salah satunya selain aku. Nah, hari itu, teman teman kami menggores luka di hati buka dar. Setelahnya dua kali pelajaran matematika beliau absen masuk kelas kami.

“gemana kalau kita ketemui buk dar, minta maaf”, usul rahmat.

“kalau keruang guru, kita bakalan dilihat sama semua guru. Nanti kita jadi bahan gosip satu sekolah”, kata irfan.

“yaudah, kita kerumah buk dar aja”. Rahmat memberi ide. “gemana teman teman?oke?”.

“oke, yes! ” jawab kami serentak.

“emank ada yang tau di mana rumah buk dar?”, tanya uja. Kami sok yes aja.

“aku tau, ngak jauh kok dari warung bang fafa”, jawab arya.

Alhamdulillah untung rumah buk dar dekat.

Setelah menyusun rencana singkat, sore itu kebetulan tidak ada prosus. Maka kami memutuskan menuju rumah buk dar. Berjalan kaki! Dengan arya di depan. Dia penunjuk jalan.

Siang hari, 31 anak manyak berjalan di tengah terik matahari. Melewati warung bang fafa, perumahan penduduk dan selebihnya adalah hamparan sawah. Sesekali angin persawahan lewat menghampiri

Selebihnya adalah panas. Hahahaha. Beberapa puluh menit kami sudah berjalan, tapi rumah buk dar tak kunjung tampak.

“arya, qe yakin jalan ini rumahnya?”, tanyaku.

“yakin mut. Dikit lagi kok”, katanya.

Okelah. Kami melanjutkan perjalanan. Beberapa menit kemudian jalan juga tidak kunjung tampak. Dan ketika di tanya arya selalu menjawab “dikit lagi”. Hingga akhirnya sekitran 35 menit berjalan kami baru sampai tujuan. Huft arya. Jarak yang dekat bagi arya adalah berjalan kaki selama 35 menit.

Kami mengucapkan salam. Dan alhamdulillah buk dar ada di rumah. Beliau terkejut kami datang. Ah, muka muka polos kami, keringat yang sudah sebesar jagung, dan bau sengat matahari pasti meluluhkan hati buk dar. Tepat sekali. Walau sempat sesaat terkejut melihat kami, beliau langsung mempersilahkan kami masuk setelahnya.

Kami minta maaf setulus hati. Dan dimaafkan setulus jiwa. Ah, ibu memang selalu begitu. Cintanya sepanjang hayat.

Kami disana hingga azan ashar datang. Setelah salat disana kami pamitan pulang.

Yah, butuh 35 menit lagi untuk sampai ke asrama.

“aku ada jalan pintas untuk pulang”, kata yusra.

“yang betol yus?”tanyaku.

“betol”, jawabnya yakin.

Akhirnya kami yang wanita mengikuti yusra. Sedangkan yang laki laki tetap di jalur konvensional. Kemana kami dibawa yusra? Sehebat apa jalan pintas di desa?

Ternyata kami di giring ke pematang sawah! Inilah jalan pintas yusra. Yah, mau di bilang apa, sudah terlanjur masuk ke dalam persawahan. Akhirnya kami berjalan di sepanjang pematang sawah. Bukan makin cepat malah makin lama karena tanahnya sedikit licin. Dan baru setengah jalan, terdengar suara gaduh dari belakang.

“da dah……..”,tampak beberapa teman laki laki kami memberikan lambaian tangan sekaligus senyum kegirangan. “duluan ya”, katanya dari atas mobil. Dan mereka melaju meninggalkan kami di pematang sawah dengan mobil pick up itu. Penuh! Mereka ternyata menumpang mobil pick up yang entah milik siapa.

Ah! Nakal kan? Itulah anak laki laki kelas kami. ini bukan kali pertama mereka mengerjai kami. Aku sih biasa dengan keberuntungan mereka mendapat tumpangan, tapi senyum nya itu, licik!

Akhirnya sekitar 40 menit, melewati pematang sawah satu ke sawah lainnya, alhmdulillah kami sampai asrama. Mau marah ke yusra, sudah terlanjur lelah. Hahahaha, akhirnya kami memilih menikmati sore di pematang sawah ini. Apalagi padinya belum di panen. Indah sekali.

Yah, semoga kita tidak buat ulah lagi dikelas dan tidak ada tragedi matematika atau pelajaran lain. Amin. 10/5/15

Teman kelas IPA 3
Teman kelas IPA 3
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s