gagal jadi bandit!

Aku naik angkot bersama diana. Tujuan kami stasiun bojong gede. Sekitaran 15 menit dari klinik. Tujuan ku ke bogor kota sedangkan diana ke bojong lama. Jadi di stasiun kami akan berpisah. Aku naik KRL sedangkan diana tukar angkutan umum.

“udah mut, qe ikutin aja jalan ini. Nanti ketemu stasiunnya”, jelas diana.

“oke din. Akhirnya aku dapat jalan pintas juga”, kata ku.

“hati hati ya mut”. Kata diana. Dan kami berpamitan.

Aku senang menemukan jalan ini. Karena semua angkot yang ke stasiun berhenti tepat di depan lorong ini jadi tidak perlu berjalan sekitaran 5 menit ke gerbang stasiun. Aku tidak tau kenapa angkotnya tidak berhenti di depan stasiun saja. Mungkin memperparah macet menjadi alasan. Entahlah.

Selama ini selalu begitu. Turun dari kereta aku berjalan hingga ke mesin keluar di sebelah kanan. Lalu keluar dari stasiun dan berjalan lagi ke arah kiri untuk mencari angkot. Buang buang energi dan waktu. Hingga akhirnya aku bertemu diana di klinik bojong gede. Dan diana bilang ada jalan pintas keluar dari sana.

“jadi mut, bojong itu ada 3 mesin keluar. Ada di kiri, kanan dan belakang. Qe pasti lewat kanan kan? Capek lewat situ. Lewat belakang yang cepat. Turun kereta qe langsung ke mesin belakang terus keluar stasiun lewat jalan kecil sampek ketemu pasar. Keluar dari situ langsung ketemu angkot”, jelasnya.

“yang betol din?”, tanya ku ragu.

“betol mut. Aku sebenanrnya ngak tau juga. Si imel yang bilang”. Jawabnya.

“oke, besok aku coba ya”. Aku bersemangat. Dan kebetulan arah kami sama. Makanya kami sengaja mengusahakan naik angkot bersama hari ini.

Setelah berpisah dengan diana tadi, aku jalan sesuai petunjuknya. Mengikuti jalan kecil paasar hingga ketemu stasiun. Hanya sekitar 2 menit aku berjalan. tepat sekali stasiun langsung terlihat. Aku langsung berbelok. Dan berjalan di samping rel kereta api.

“extrim juga jalan cepat diana. Kalau ada kereta api lewat bisa habis kita”. Kataku dalam hati. Karena jarak antara tempat ku dan rel kereta api hanya 3 cm. Aku berjalan cepat agar tidak ada kereta lewat. Sesekali aku mencari mesin masuk agar aku bisa menempelkan kartu multi trip pengganti karcis. Tapi hingga aku sampai ke tempat biasa aku menunggu kereta, mesin itu tidak kunjung terlihat.

Aku mulai gundah. Celingak celinguk mencari mesin tempel itu tapi tidak terlihat. Yang ada hanya mesin biasa jika aku keluar dari sebelah kanan. Tapi lucu rasanya aku menempel kartu disitu. Karena sekarang aku sudah di dalam. Hmmmm. Akhirnya aku menghubungi diana. Si juru jalan.

“din, kok gak ada mesin tempel kartu multi trip?” tanya ku via bbm.

“ada mut, qe ada ikut orang jalan tadi kan? Nanti di ujung sana ada dia”. Jelas diana.

“ada din. Tapi tetap aja ngak ada mesin itu”. Jawab ku lagi.

Belum selesai pembicaraan itu, kereta api arah bogor datang. “kereta menuju bogor berhenti di jalur 2”. Terdengar suara kakak petugas kereta.

Aku galau. Sudah menunggu sekitar 10 menit kereta baru datang, jadi daripada menunggu lama kereta selanjutnya aku memilih naik saja. Tanpa menempel kartu di mesin!

“din, aku ngak sanggup pikir. Udah langsung naik aja ke kereta”. Kataku.

“hahahahaha, semoga aman”. Jawabnya,

“aku kok merasa jadi bandit ya?”kataku padanya.

“itulah qe. Yaudah hati hati ya”. Salam perpisahan dari diana.

Aku duduk gundah di kereta. Bagaimana nanti ya? Tapi sepertinya aman atau aku akan di hukum? Entahlah.

Perjalanan yang sekitar 10 menit itu akhirnya usai. Kereta berhenti di stasiun bogor. Aku senang melihat pemandangan disini. Suka saja. Tapi kalau melihat tangga “angina”, kebahagian ku langsung sirna.

Sedikit cerita tentang tangga “angina”. Tangga ini adalah tangga 3 jalur. Satu jalur untuk masuk ke stasiun dua jalur lagi untuk keluar. Jika kita memilih naik tangga berarti kita menghindari mengitari setengah stasiun untuk menuju pintu keluar. Bagi yang buru buru bisa melewati tangga ini. Tapi bagi yang tidak buru buru apalagi orang tua, sebaiknya jangan. Karena tangga dengan 16 anak tangga itu punya kecuraman nyaris 75 derajat. Menanjak sekali. butuh tenaga extra untuk menaikinya. Mirip mendaki. Aku sering ngos ngosan setelah turun dari tangga itu. Makanya tangga ini sering kami sebut “tangga angina”. Padahal kalau di buat sedikit rendah, pasti lebih baik.

Lanjut cerita, setelah turun dari kereta, aku langsung menuju mesin tempel agar bisa keluar. Aku keluarkan kartu multi trip. Dari jauh aku sudah mencari mesin yang di depannya ada pak satpam. Untuk jaga jaga saja. Entah mengapa feeling ku tidak baik kali ini.

Dengan santai aku tempelkan kartu itu. ” tettttt”. Bunyi mesin. Tapi pintu palang tidak terbuka juga. Di layar tertulis ” saldo anda 31.000″ dan di bagian bawahnya tertulis “pinalti”. My god!

Aku coba lagi. Dan kejadiannya sama. Aku mulai panik. Dan bapak satpam langsung menghampiri.

“sini kartunya”, kata pak satpam. Di coba kartu itu dengan cara yang sama.

“oh ini kena pinalti. Tadi di saat masuk ketika tempel kartu ada muncul lampu hijau di layar?”tanya nya.

Aku terdiam begok. Mana ada muncul lampu hijau, kartunya aja ngak di tempel. Kataku dalam hati. Huft. Aku menyesal saat itu.

Aku memilih tersenyum saja.

“yaudah, ini ke loket 1. Kena denda 7 ribu”, jelas pak satpam. Akhirnya palang terbuka setelah pak satpam menempel kartunya di mesin bertuah itu.

Aku langsung menuju loket. Membayar 7 ribu. Untung si bapak tidak bertanya “kenapa bisa pinalti”. Untung saja

Aku keluar stasiun, memilih berjalan memutar daripada harus naik tangga angina. Sepanjang jalan aku geli sendiri. Hahahahahahaha. Awalnya merasa menjadi bandit, tapi akhirnya bandit itu ketahuan. Ah, konyol sekali. Hahahahahahaha.. Masih terbayang saat masuk ke lorong pasar, merasa aneh dengan jalan dan rel kereta lalu mencari mesin yang tidak ada, tapi memilih langsung naik kereta, dan merasa menjadi bandit. Tapi hanya beberapa menit aku merasa bodoh dan malu sendiri. Ah,hahahahahahahaha

“din aku kena pinalti”, aku mengirim bbm untuk diana. Memasukkan tab ke dalam tas dan naik angkot.

Sepanjang jalan aku masih geli sendiri. Hahahahahaha. Besok besok jika aku harus ke bojong, hay kau mesin menempel kartu multi trip. Akan aku temukan kau dimana. Harus. Harus. Harus. Bogor 15 april 2015.

Stasiun bojong gede
Stasiun bojong gede
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s