bale beut

Menjalani hari sebagai anak-anak adalah kesempatan terindah dalam hidup aku. Ya Allah terima kasih tak terhingga untuk itu. Dan aku anak kampung, sangat kampungan mungkin

Salah satu kebiasaan masa kecil yang tidak bisa aku lupakan adalah rutinitas mengaji. Semua anak-anak di kampungku biasanya sudah diajarkan mengaji sejak masih ingusan atau sejak duduk di bangku taman kanak-kanak. Seperti itu juga aku. Sejak kecil ibu sudah mengantarkan aku ke tempat pengajian. Diantarkan dengan sebuah bulukat (pulut) kepada seorang tengku baik itu dimeunasah atau dibale. Diijab qabulkan atau dengan nama lain ibu ikhlas mengantarkan ku mengaji dan tengku ikhlas mengajarkan ku mengaji. Beginilah mulanya ikhlas.

Rata-rata sepuluh hingga lima belas tahun aku dan anak-anak lain belajar mengaji setelah pulang sekolah. Untuk angka yang tidak sebentar itu dan untuk ukuran kami yang masih sangat mudah bosan ini, aku dan anak-anak lainnya sering berpindah-pindah tempat mengaji. Aku merantau dari satu bale ke bale lainnya dan dari satu meunasah ke meunasah lainnya dengan tengku yang berbeda beda pula. Biasanya hanya karena alasan bosan, ikut teman, dan butuh suasana bari dan aku siap merantau melanglang buana. Dan demi sibuah hati agar tetap mengaji, ibu selalu setia dan iklas mengantarkan ku dengan cara yang sama. Diijab qabulkan dahulu.

Tempat pengajian ku yang paling pertama adalah bale didekat rumah. Bale putih namanya. Waktu itu aku berumur 5 tahun. Disinilah pertama sekali aku diajarkan tentang yang mana alif, ba, sta , hingga alif, hamzah, ya, wassalamu. Lalu maju setingkat lebih tinggi. mengenal bagaimana cara membaca a, ba, ta, sta, na hingga wassalamau. naik setingkat lagi diajarkan tentang bagaimana membaca abatsa, tajaha, hingga an, ban, bun, hingga lun dan pada akhirnya bisa membaca alquran. Sama seperti saat kita belajar membaca. Terlebih dahulu kita di ajarkan mengenal huruf, lalu mengeja dan akhirnya dapat membaca cerita. Begitu juga dengan membaca alquran. Bedanya dalam membaca alqur’an terdapat beberapa peraturan yaitu harus fasih melafazkan mahrajal hurufnya dan tau panjang pendek yaitu tadjwidnya.

Contohnya, didalam huruf arab terdapat dua ha, yang satu di baca ha dalam hingga kekerongkongan dan yang satu ha ringan. Atau ‘in yang harus di baca dalam, atau saat berjumpa qalqalah yang harus pas bunyi matinya. Untuk mempelajari itu aku pernah nyaris frustasi. Aku tak bisa bisa dan tidak lanjut-lanjut ke huruf berikutnya. Seminggu lamanya. Akhirnya sepulang mengaji aku mengadu. Layaknya anak kecil lain.

“ibu susah sekali ha dalam itu ya, tidak seperti ha ek leuk”, kata ku.

“kan baca alquran harus fasih beda bacaannya beda artinya, ayo ulang-ulang pasti bisa”, jawab ibu”.

“huft sekali”.

Tapi akhirnya dengan semangat aku bisa dan bisa boleh lanjut ke huruf berikutnya yaitu kha.

Rata-rata untuk bisa membaca alquran butuh waktu sekitar 1 tahun. Setelah bisa membaca alquran biasanya akan dilanjutkan dengan belajar cara dan bacaan salat lalu mengaji kitab yang tulisannya arab tapi bacaannya Indonesia. Makanya disebut arab melayu. Kitab yang pertama sekali aku pelajari adalah kitab masaila. Awal dari kitab itu pasti berbunyi “soal jika kita ditanyai orang apa arti taharah itu?”, “maka taharah adalah bersuci….” .Begitu selanjutnya. Hal pertama sekali yang aku kenal di dalam kitab adalah bersuci. Bersih dan suci itukan sebagian daripada iman.

Kegiatan mengaji ini menjadi keharusan yang tidak tertulis. Malu rasanya jika sudah SD belum mengaji dan belum bisa tamat ikra’. Jadi, setiap siang sepulang sekolah nyaris semua ibu memfollow anak-anaknya untuk mandi siang, berganti pakaian, mengambil jelbab dan sarung serta tas plastik berisi iqra dan lidi untuk pergi ke bale. Begitu selalu, 6 hari dalam seminggu, 312 hari dalam setahun. Tanpa kecuali.

Setelah mengaji, sebelum pulang biasanya kami salat ashar bersama. Bagi kakak-kakak yang sudah bisa salat mereka akan salat khusyu. Tapi jika belum bisa seperti kami yang masih kecil kecil ini hanya ikut gerakannya saja. Nanti diajarkan sedikit demi sedikit bacaan salatnya. Yang penting ikut dulu dan lihat dulu serta jangan buat gaduh dulu.

Bagi aku yang masih kanak-kanak, bale itu bukan hanya tempat untuk bejalar mengaji tapi bisa juga menjadi tempat bermain. Seperti di bale mamplam. Tepat disamping bale ini terdapat dua pohon rumbia dan pohon jambu. Jadi, sebelum pulang kerumah kami akan dengan senang hati melempari pohon rumbia dengan batu lalu saat buahnya jatuh ke tanah “krek”, gaduh mencari dimana buahnya. Terkadang walau sudah dilempari puluhan kali hingga diteriaki tengku untuk pulang, buah yang kami dapat hanya satu, dan satu itu tetap dibagi rata. Sama-sama merasakan bagaimana kelatnya buah langka itu. Atau jika musim jambu tiba. Buah jambu tengku biasanya tidak akan selamat. Habis dibabat oleh anak-anak murid yang bandel ini.

Puas bermain di bale kami akan pulang. Berpamitan dan kembali bermain sesuka hati disetiap lapangan kosong yang ada hingga senja datang dan suara azan magrib tidak bisa dielakkan. Pulang dengan hati senang dan kembali ikut salat bersama ayah dan ibu di rumah serta melaporkan perkembangan mengaji di bale hari ini. Inilah rutinitas anak kampung seperti kami. Hidup dengan ibu, teman-teman, tetangga dan dibesarkan dengan nilai-nilai islam.

Sekarang mungkin bale bale seperti ini tidak begitu banyak lagi karena sudah digantikan dengan TPA (taman pendidikan alquran), tapi bagaimana pun juga yang penting anak-anak kita tetap mengenal agama sejak kecil. Tau bagaimana cara membaca alquran, bisa ayat-ayat pendek, mengetahui bacaan salat, kenal siapa rasulnya, tau bagaimana bersalawat kepadanya. Tidak gaduh dengan dunia, sibuk dengan game, televisi, dan tugas sekolahnya. Jika tidak biasa sejak kecil akan sangat susah nanti. Bukankah orang bijak mengatakan “mengukir diatas batu lebih baik dari pada di atas air”. Anak-anak yang dibesarkan dengan cara baik, insyaallah akan tumbuh dengan baik pula.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s