sabang tour part 3

Pagi di sabang
Pagi di sabang

Pagi dari sabang.

Begitu membuka jendela yang tampak adalah, gunung, laut dan langit yang masih gelap. Berlahan matahari mulai muncul dan warna langit pagi itu beranjak berubah. Menjadi kuning pucat hingga benar benar terang. Subhanallah sekali. Dan alhamdulillah bisa melihat pemandangan seperti ini hari ini.

“ayok, cepat cepat mandi mut, jangan melamun lagi. Kita gerak cepat hari ini”, kata momo dari atas.

“hahaha, iya mo. Cantik kali pemandangannya. takjub aku. Si peie aja mandi duluan”, kataku sambil terus menatap langit yang mulai memerah terang. Selalu. Momo adalah ibu yang tepat waktu. Berlibur dengannya sangatlah tepat. Jika perjalanan lama, pagi sekali dia bangun dan siap membangunkan yang lain agar tidak memperlama gerak. “telat kali nanti”, itu motonya. “cepat tia, cepat. Hahahahaha. Begitu juga pagi ini, matahari baru naik dia sudah siap dengan jargonnya “cepat tia, cepat!”.

Akhirnya aku siap. Urusan pakai baju ini sederhana saja. Tapi tidak bagi suji dan peie. Mereka wanita asli. Tahapannya nya sampai fix selesai panjaaaang. Mulai dari memperindah alis, bulu mata, bola mata, hingga bibir. Hasilnya? Memang tidak pernah mengecewakan. Selalu cetar membahana, always standing applause lihat mata mereka.

“mana kunci honda kalian”, terdengar suara bang anggi dari bawah. “abang panasin honda kalian biar cepat”, lanjutnya.

My god, abang ini. Memang sudah cocok jadi ayah. Kami doakan segera menikah dengan adek itu ya. Amin. Kami langsung memberikan kunci honda masing masing ke bang anggi. Sudah 1 hari 2 malam dia off. Hahahaha. Beberapa saat kemudian urusan honda selesai dan wanita cantik sudah cetar. kami siap cus kelilimg sabang.

“kemana kita? ” tanya momo.

“Keliling sabang mo, foto foto kita”, jawab bang anggi. Pagi itu kami siap keliling sabang. Gagah sekali.

Dan tepat, sepanjang jalan kami foto foto disetiap tempat yang keren.

Tujuan awal adalah air terjun. Jaraknya tidak begitu jauh dari iboh sekitar setengah jam. Tempatnya agak masuk kedalam. Jadi kami jalan kaki menuju kesana. “cit cit cit”, dengung suara binatang hutan sudah terdengar begitu kami masuk area hutan menuju air terjun. Sekitaran 10 menit dari tempat perberhentian motor. Dan ternyata, air terjunnya sedang tidak deras, jadi airnya tidak begitu kencang dan tidak begitu tinggi. Ah,seandainya tempat ini dikelola dengan baik pasti cantik. Karena masih sangat alami, udara disini juga masih sangat sejuk.

Setelah puas berfoto kami melanjutkan perjalanan menuju rumah sinta amelia. Dia teman satu kuliah kami, anak sabang asli. Wanita cantik yang menawan. Rencananya nanti malam kami akan bermalam di rumahnya. awalnya, kami akan keliling sabang dengan sinta tapi ternyata sinta tidak bisa.

“maaf ya aku ngak bisa, gak ada orang dirumah. Oh, ya kalau mau pergi makan mie sedap dan mie jalak pergi terus sekarang, karena jam 12 sampai jam 4 sore semua toko tutup disabang”, jelasnya.

Kami memang ingin makan dulu baru melanjutkan jalan. Dan tujuan makan ka i adslah mie sedap yang sudah terkenal itu. Padahal Waktu itu, jam di dinding rumah sinta menunjukkan pukul 11.00 siang.

“emank gitu sin?”, tanya ku.

“iya mut, itu adat yang di pertahankan sama orang disini. Udah lama kali. Mereka butuh tidur siang mungkin”, jelasnya.

“beuh, padahal jam 12 sampai jam 4 kan waktunya banyak orang butuh makan”, kata ku.

“yaudah, jangan lama lama. Pergi terus kita”, potong momo. Ah, selalu disiplin momo ini.

Baiklah. Kami melanjutkan perjalanan menuju pasar sabang. Target kami adalah mie sedap sabang. Aku pikir bagaimana mie sedap itu. Ternyata ya begitu. Mie keriting kering yang digoreng dengan bumbu dan ada saosnya. Sederhana saja, tapi rasanya? Luar biasa. Sekali lagi setelah melihat mie sedap ini, aku yakin untuk tidak “-melihat sesuatu dari luarnya”. Karena rasa mie ini luar biasa. Sampai sekarang aku masih ingat rasanya.

Makanan selanjutnya adalah mie jalak. Aku tidak tau kenapa disebut mie jalak. Ternyata mie kocok biasa, tapi kuahnya luar biasa.

Kenyang makan, tujuan kami selanjutnya adalah benteng jepang. Jaraknya sekitaran 1 jam dari kota sabang. Awalnya ragu kesana karena hujan tapi kami tetap nekat.

“gemana udah mau hujan ne?”kata bang anggi.

“kita lanjut aja ngik”, kata suji. Anggi, suji dan robi adalah trio pedang. Kalau berkumpul dengan mereka maka siap siap melayang bahagia. Mereka punya banyak hormon endorfin di setiap kata katanya.

Maka siang itu walau langit mulai mendung, kami tetap melanjutkan perjalanan. Di jalan kami menemukan sumur tiga yang pasirnya subhanallah. Putih mengkilat.

“turun, foto foto dulu kita”, kata bang anggi.

Kami pun turun, dan siap foto foto. Asli, cantik. Itu masih di luar, jika masuk ke dalam bungalo nya pasti jauh lebih cantik. Tapi apa daya, kantong masih kantong mahasiswa yang sedang menunggu hasil ujian bulan depan. Hahahaha. Iklas saja.

Puas foto foto, kami melanjutkan perjalanan menuju benteng jepang tadi. Dan tempatnya? Subhanallah. Tebing tinggi yang bawahnya laut luas. Kami bermain dulu di bawah sebelum naik kesana. Ada pohon besar yang cantik untuk berfoto. Memang butuh usaha sedikit usaha yaitu kami harus memanjat untuk sampai kesana, tapi bismillah.

Di bawah langit yang mulai gelap kami pun memanjat. Awalnya aku, suji, maya, peie, momo dan akhirnya robi. Bang anggi tetap di bawah. Dia yang jadi juru foto.

“kiri sikit, kiri sikit”, aba abanya. “senyum senyum”, katanya, dan kami ikut saja. Hahahahahahaha. Belum puas foto foto hujan turun.

Kami buyar.

“kalian tolong aku, tolong aku”, peie mulai panik. “aku takut ketinggian”, katanya. Mukanya memucat.

“tenang peie, tenang, pelan pelan aja”, kata momo. Saat itu kami persis seperti kambing diguyur hujan. Kalang kabut. Dengan ketinggian pohon yang lumayan, wajar cewek cewek cantik ini galau. Tapi alhamdulillah kami selamat dari hujan.

Hujan reda, tujuan selanjutnya ada naik keatas benteng. Ada tangga menuju kesana. Jumlahnya sekitan ratusan mungkin. Sampai di atas sana, subhanallah. Sejauh mata memandang adalah lautan luas. Diatas sana ada tempat mata mata dan satu buah bekas meriam tua. Sepertinya disini penjajah penjajah itu mengamati musuh. Ah, jauh ya mereka. Jauh kesabang. Sekali lagi kami berfoto hingga puas.

Tujuan selanjutnya adalah sabang fair. Kembali ke kota sabang.

“beli bakso yok”, kata robi.

Yok. Jawab kami serentak. “berapa robi?” tanya suji,

“30 ribu aja cukop”, katanya.

Uang yang terkumpul 50 ribu. “udah beli semua aja”, kata momo. Selain sebagai pendisiplin jadwal, momo juga bendahara yang handal. Pengalamannya menjadi ketua seksi konsumsi saat acara sekolah dulu amat membekas. Jadi, saat berpegian begini dialah muara keluar masuk uang. Hahahaha.

Beberapa saat kemudian, robi datang dengan bakso seharga 50 ribu. Sekejap semua habis.

“tadi katanya 30 ribu cukop, padahal 50 ribu habis juga”, kata suji.

“hahahahahahah”. The miracle of deuk alias kelaparan. Bagaimana tidak lapar, sudah keliling sabang dan kehujanan lagi. Tapi, alhamdulillah. Senang.

Perjalanan malam itu berakhir dengan salat di mesjid raya sabang dan makan sate gurita lagi. Ah, tidak terasa sudah tiga hari disabang. Keliling kota kecil ini. Kecil tapi selalu ngangenin! Apalagi pergi bersama mereka. Momo yang selalu disiplin, peie dan suji yang selalu cetar, robi yang selalu siap, bang anggi yang selalu jadi ayah bagi kami dan maya si mata ramah yang selalu mendampingi sepanjang jalan, si teman bonceng yang romantis. Menyenangkan sekali. Ya allah terima kasih sekali lagi untuk kesempatan jalan jalannya dan untuk teman teman yang menginspirasi ini.

Besok, insyallah kami akan kembali ke banda aceh lagi. Menghabiskan sisa sisa hari yang ada dengan semua kebersamaan sebelum pengumuman ujian kompetensi keluar. Semoga kita lulus semua ya. Amin. Dan hey, kapan kita jalan jalan lagi? Jalan jalan lebih jauh lagi? Banagbarung 27/4/15

Air terjun
Air terjun
Si bawah benteng
Si bawah benteng
CYMERA_20150503_103833
Di benteng
Alay di sabang fair
Alay di sabang fair
Sabang fair
Sabang fair
Mesjid sabang
Mesjid sabang
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s