INSYAALLAH

Pukul 21.00, senin malam.

Diluar masih hujan, tidak lebat tapi terus menerus

Ting nong. Line berbunyi. Di line tertulis.

” teman teman, untuk syarat STR harap segera di kumpul ya. Foto copy ktp, NPWP dan buku tabungan, slip pembayaran STR, form A1, surat sehat, photo 3×4 dan 4×5. Dimasukkan dalam amplop coklat dan dikumpulkan ke maulidawati paling telat hari rabu kalau yang di luar aceh hari kamis ya”.

Selesai baca LINE, aku mulai pejamin mata sambil menjadwalkan kegiatan besok. Oke, besok aku ikut ayah ke lhoksemawe untuk perpanjang ktp, terus cuci foto, beli materai, print form A 1 dan sorenya ke dokter untuk buat surat sehat. Besoknya kerem berkas dengan l300 ke banda. Oke fix! Setelah membaca doa tidur sepertinya aku langsung masuk ke alam mimpi. Hari ini lelah.

Lelah karena seharian aku, ayah dan akin kerjanya membuang buang air dari rumah ke luar. rumah aku dan beberapa rumah lainnya agak rendah, jadi kalau hujan dikit aja biasanya halaman depan udah penuh air. Apalagi kalau hujan deras. Air bisa sampe ke teras. Makanya untuk mitigasi bencana, ayah dan mamak udah kasih palang di semua pintu dengan semen setebal 8 cm dan tinggi 15 cm.

Nah, udah dua hari hujan. Ngak lebat tapi terus menerus. Jadi airnya udah sampe di teras rumah dan alhamdulillah terhalang palang ayah, jadi ngak bisa masuk. Tapi apa hendak di kata, ternyata airnya malah merembes dari celah celah semen. Untuk beberapa bagian rumah yang celah semennya jelek seperti ruang tamu dan dapur, sempurna air masuk semata kaki. Jadi itulah kerja kami sehariam tadi “sukat sukat ie” dari dalam ke luar.

Alhamdulillah siangnya hujan reda. Air surut sedikit dan perlahan rumah kami kering setelah kami “sukat” seharian. Makanya malam ini semua tepar. Kelelahan. Aku, akin terutama ayah.

xxxxxx

Pukul 00.01, selasa dini hari

“dek..dek.. Turun cepat”, terdengar suara ayah dari bawah. Aku langsung bangun. Sigap turun ke bawah.

“jangan bengong, air udah masuk kerumah. Ambil barang yang bisa di ambel”, perintah ayah.

Aku mengecek dulu keadaan, tujuan pertama langsung palang rumah. Dan ya Allah, air kecoklatan itu sudah melewati palang pintu setinggi 15 cm. Kencang sekali. seperti air terjun.

Aku sadar, ingat kata kata ayah. Masuk ke kamar, bentangin sarung, ambil tas terus masukin semua baju di lemari ke dalamnya dan bawa naik keatas. Sampe semua baju habis dan tinggal baju di rak 1 dan 2 dari atas

Si akin dan ayah menyelamatkan barang elektronik seperti tv, kipas angin, kulkas. alhamdulillah dirumah ngak banyak barang.

Selesai semua, kami di panggil ayah. Ada masalah besar. “tempat tidur”.

“coba ada ide gemana caranya tempat tidur ini bisa lebih tinggi?” tanya ayah.

Hening. Sedangkan air terus masuk. Semakin deras. Kami harus berfikir dalam hitungan detik.

“akin dan adek ambil kursi makan, kita angkat tempat tidur ke atas itu. Cepat”, perintah ayah. Kami lari tunggang langgang ke dapur. Air sudah setengah betis. Alhamdulillah sebentar urusan angkat ini selesai. Dan air sudah se lutut pas.

Ayah mengecek tempat lain di temani akin.

“nong, keuno kajak”, panggil mamak. Aku langsung ke dapur. Rupanya mamak sedang berusaha menyelamatkan kompor gas. Tapi alat penunjuk jumlah gas ngak bisa dilepas dari kompor gas. Jadi kompornya ngak bisa di angkat.

Kami bergulat. Mamak pegang aku tarik. Atau sebaliknya. Sampek tangan merah dan bergores tetap ngak bisa juga dilepas.

“ngak bisa mak”, kataku. “nyoe”, jawab mamak pendek.. Air terus masuk, makin deras dan sudah 2 cm di atas lutut.

“udah, tinggalin aja kompor disitu. Naik semua kita. Selamatin diri yang penting”, kata ayah.. Benar benar leader.

kami ngak pikir dua kali, langsung tinggalin kompor gas. Dan naik ke lantai dua.

“ta serahkan bak allah mandum”, kata mamak.

Iyes. Air sudah sepinggang saat kami naik. Cepat sekali. Derunya seperti deru air terjun. Mengalahkan suara hujan yang turun sejak magrib tadi. Hujan yang tidak lebat tapi terus menerus. Ya allah. Sekejap saja.

Pukul 00.30 menit. Selasa dini hari.

Iyes, hanya dalam 30 menit air sudah sepinggang. Sesaat kemudian.

“bummmmmm”. Suara dari bawah terdengar.

“kayaknya kulkas jatuh”, kata ayah.

Kami diam, sudah ngeri sendiri. Terakhir aku menghadapi banjir besar seperti ini ketika SD. Dan sekarang? Aku sudah tamat kuliah. Berapa lama? Hitung sendiri.

Hujan terus turun diluar. Dingin.

Beberapa saat kemudian. “tep”. Lampu mati. Sengaja dimatikan oleh PLN agar tidak ada yang korslet. Dan beberapa detik kemudian “tik” air di kran mati.

Pukul 01,00 selasa dini hari

Tidak ada listrik, tidak ada air bersih dan kami terperangkap dalam banjir. Sempurna memgerikan.

Sebentar saja. Sekejap. Hanya di berikan 3 hari hujan. Tidak lebat tapi terus menerus , dan dalam 30 menit kami sudah tidak berdaya seperti ini. Ya allah, kami lemah.

Aku langsung teringat semua rencana ku yang tidak ada apa apanya itu. Mulai dari ikut ayah untuk perpanjang ktp hingga surat sehat hanya tinggal kenangan. Dan deadlinenya hanya dua hari lagi. Alamat apa? Alamat aku tidak bisa ikut intenship bulan 2 nanti.

Dingin. Membayangkan itu semua aku semakin dingin.

Ya allah, lemah sekali kami. Aku pasrah, pasrah pada izin MU. Tadi aku lupa mengucapkan Insyaallah. Seolah olah hari esok psti masih milik ku dan semua rencana kecil itu pasti terwujud. Congkak. Lupa bahwa sesungguhnya harus ada izin dari Mu untuk semua. Ya Allah, kali ini jika Kau izin kan aku intenship bulan 2 maka mudah kan. Amin.

Insyaallah, jika allah mengizinkan. Punya makna besar, lebih besar dari semesta.

Aku menutup malam. Dengan doa panjang. Lhok sukon, 23 desember 2014.

Selas 23 desember 2014. Sekejap pagar rumah nyaris hilang
Selas 23 desember 2014. Sekejap pagar rumah nyaris hilang
Advertisements

“deheman”

Hey bedah! Iam coming.

Iyes, stase bedah. Bagian besar ke 2 setelah anak. Dibagian ini kami di bagi menjadi beberapa kelompok kecil lagi. Ada bedah anak, thorak, digestif, ortopedi, saraf, plastik, urologi, dan stase igd.

Di setiap stase ada sekitar 6 sampe 7 koas. Dan ketika masuk bedah aku berpisah dengan maya. Aku se grup dengan teman koas paling fenomenal. Aku, leli, asma, winda, kak pit, ijal, pernah jumpa kak aruni juga, kak indah. Maya sekelompok dengan genk wanita chantik. Pees, shinta, vita, ayu radian.

Jadi peraturannya, kami di setiap satu stase selama seminggu lalu pindah ke stase berikutnya. Berputar terus hingga semua bagian habis dan stase bedah selesai. dengan sistem demikian, aku sangat jarang ketemu maya. Aku sedang follow pasien orto, maya sedang naik ok cito saraf. Aku sedang pre op pasien uro, maya sedang ikut visite dokter safrizal di bangsal.

Kapan kami ketemu? Ketika MR, itu pun jika MR telat di mulai, atau saat ada baca referat. Sebenarnya saat dibedah, moment ini paling aku tunggu. Selain bisa say hello dengan teman yang lain, bisa dapat ilmu bedah dari spesialis langsung, disini lah kadang kadang, iyes! Bisa curi curi tidur. Hmmmm, jangan di contoh.

Ketika jumpa dengan teman yang lain, kami kalap. Kalap cerita.

“ih, kami full cito pas di bedah neuro”.

“mau masuk orto kan? Hati hati dengan pasien kamar iso 2”

“tau kalian, ada masalah si A dan si B?”

“aku lapar”

“kemarin si pepe di cari dr, bus”.

Dal lain lain. Sibuk cerita sampek lupa harus balek ke rs lagi setelah baca. Apalagi kalau aku ketemu maya.

“may, adek adek kita ngak ada yang urus”

“itulah mut. Air minum ngak ada, gas habis, kulkas kosong” , kata maya.

“ngak sempat ketemu kita ya”, katanya.

“iya”

Dan cerita lain. Seperti orang yang sudah terpisah jauh dan lama. Padahal cuma beda bagian aja, oh bedah. Aku terlena dengan mu.

Itulah momen momen kami bertemu. Saat MR dan baca referat. Selebihnya? Kami mengembara. Di ok, poli, igd , dan bangsal. Keliling satu rumah sakit.

Nah, suatu hari aku sedang di ruang operasi. Lupa sedang bagian apa. Waktu itu aku sakit perut. Langsung saja aku ke kamar mandi di kamar ganti.

Sepi, tidak ada orang disana selain tas dan baju.

Ketika sedang di kamar mandi. Krek! Pintu berbunyi. Sepertinya ada yang mau masuk. Aku diam saja. Seolah olah tidak sedang disana. Malu.

Trep trep, terdengar langkah kaki. Aku penasaran sekali, siapa. Mau bertanya siapa, malu. Tidak bertanya ya begini, penasaran.

Beberapa menit kemudian.

“khem,,khem,,khem”, orang tadi berdehem.

Aku kenal deheman itu, ah kangen nya.

“may, ngapain qe”, tanya ku. Dari deheman itu aku tau. Orang itu adalah si mata ramah. Maya. Orang yang paling aq rindu.

“alah qe mut rupanya. Aku lagi naik ok cito. Qe Nagapain disana lama kali?” tanya nya.

“biasa may”, jawab ku.

“jangan banyak kali melamun mut, keluar terus”. Katanya. Ah, dia paling tau.

Aku selesaikan urusan disana dan langsung keluar.

“may, aku kangen kali sama qe. Sini aku pelok sekali”, kataku.

“alah qe, lebay. Sebenarnya aku juga”, jawab maya. Lalu sesaat kemudian……..@&_÷%€+£*@)@£#*$¥$?#?)+¥@*@)@¥+(+¥+)#(#?$?!*. Kami mulai berceritaaaaaa panjang. Lupa sedang naik ok.

Lelah bercerita Akhirnya kami berpamitan, berpisah. Takut kena timah panas. Hahahahahahahahaha. Begitulah, dehemannya pun aku tau. khas. Dalam dan basah sedikit lembut. Elegan saja kalau dia beedeham. Dan deheman itu tidak pernah usil.

Hey you! Semoga baik disana. Banda aceh 28 mei 2015.

bermula dari LINE

Sedang tidak ada kerja. Iseng aja buka semua media sosial. Semua! Hahahahahaha. Udah buka terus ngak ada apa apa, tutup lagi. Terus beberapa menit kemudian buka lagi, walaupun tau tidak ada apa apa disana.

Untuk pengecekan yang selanjutnya, alhamdulillah ada sesuatu. Tiba tiba masuk line di grup ahli nujum. Tertulis dari winda madarahmi. Dari situlah cerita ini dimulai.

Xxxxxxx

Beberapa menit setelah ganti display picture alias dp di bbm, ya allah aku lelah! Lelah membalas bbm masuk. Komentarnya sama.

“ih, nikah ngak bilang bilang”.

“diam diam udah acara aja”.

“sombong”

“kapan acaranya?”

“calon orang mana?”

“acara apa?”

“pemilihan apa?”

Beberapa aku jawab “iya”, tapi beberapa aku jawab “doakan saja”, beberapa aku jawab “itu hanya rekayasa”, beberapa aku jawab “itu bukan aku”. Tapi tetap saja kebanyakan mereka tidak percaya jika itu bukan aku. “qe berbohong” katanya.

Bahkan kawan yang baru ketemu 2 hari lalu dan tau pasti aku sedang merantau juga bertanya dan dari semua komentar ini paling menyedihkan.

“seh, agam inong aceh” katanya.

“hahahaha, bukan aku itu”, jawab ku.

“gak percaya. Siapa lagi kalau bukan qe yang udah di make up pun tetap jutek” balasan bbmnya.

Mati kutu. Masuk ke dalam tanah, dalam sekali. Hilang kata kata. Akhir nya aku balas “hahahahahaha” saja. Padahal foto itu cantik sekali menurut ku.

Ah, malam itu aku benar benar lelah balas bbm yang masuk. Selain itu aku juga lelah bolak balik melihat dp sendiri. Kaget, heran dan tidak percaya, itu hantu aku! Hahahahahajaha. Ya allah, foto ini mirip sekali dengan aku, semuanya. Kecuali susunan giginya dan hmmmm, sepertinya kembaranku jauh lebih manis dari aku.

Kalau ada yang bilang di dunia ini kita punya 7 kembaran, yes! Aku sudah mendapatkan satu.

Jadi, beberapa menit sebelum aku kelelahan, winda madarahmi mengirim sebuah foto ke line dengan pertanyaan “ini mutia bukan?”

Aku langsung buka fotonya dan ya allah. Aku melihat hantu. Hantu diriku. Kenapa? Karena aku tidak pernah merasa memakai baju itu tapi udah ada fotonya aja. Hahahaha. Ternyata itu foto orang. Mirip sekali dengan ku.

“dari mana qe dapat win?” tanya ku.

“dari instagram”, kata winda. Aku segera chek. Tapi sayang foto itu di dapat dari yang me make up si kakak tadi. Jadi aku cuma tau namanya tapi ngak dapat akun instagram nya. Padahal kalau tau, pingin kenalan aja. Sama saudara kembar.

Nah, iseng sekali lagi. Sedang tidak ada kerja, tergantilah dp bbm tadi dan mulai lah cerita cerita aneh muncul.

Hmmm, tapi apapun itu, hey kakak salam kenal ya!kapan kapan meet up donk.(sok kenal). Pinjem fotonya untuk dijadikan barang bukti betapa kita mirip ya. Terus selamat menempuh hidup baru semoga sakinah, mawaddah waramah. Doakan kembaran mu segera menyusul ya. Amin. Bogor 28 april 2015

Si kakak, pinjem foto cantiknya ya
Si kakak, pinjem foto cantiknya ya

kota gambar

Malam. Sekitaran pukul 8. Aku sedang di dalam bus menuju bandung. Udah 2 jam di dalam bus tapi susah sekali penjamin mata. Padahal hari ini cukup melelahkan.

 

Karena ngak tau ngapain, aku iseng aja lihat keadaan sekitar melalui jendela bus. Aku tidak tau kami dimana, yang jelas dalam perjalanan menuju bandung, dimana sekarang? Hanya allah yang tau.

 

Dari sekeliling yang terlihat kami sepertinya sedang di jalan tol. Karena tidak ada motor yang lewat, tidak banyak emperan toko. Yang tampak hanya bangunan besar, cahaya dari pabrik, pom bensin, kfc, dan beberapa perumahan dan sesekali gelap. Mungkin itu daerah pepohonan.

 

Masih jam delapan malam, seharusnya jam segini masih banyak yang wara wiri di jalan. Tapi ini tidak. Sepi hingga ketulang. Hingga 15 menit pertama aku melongo ke kaca yang terlihat hanya 2 orang. Sisanya? Mobil dan kerlip lampu. Mungkin mereka lelah.

 

Bus terus melaju. Sesekali dia berhenti entah untuk apa. Hingga akhirnya bus melewati kawasan yang lumayan terang. Entah dimana itu. Pokoknya terang. Tampak jejeran kfc, mc donals, dunkin donut, coffea shop, indomaret hingga pom bensin.

 

“wah, akhirnya aku ketemu manusia juga”, pikir ku dalam hati. Tapi sangat disayangkan. Itu semua hanya harapan palsu. Kehidupan toko toko tadi terus berjalan, tapi tetap tidak ada manusia. Mirip kota gambar. Berbentuk tapi tidak bergerak. Tidak ada manusia disana. Walau hanya sekedar penjual. Ih, mengerikan sekali.

 

“sin, coba qe lihat nanti. Daerah daerah disini seperti kota gambar. Berbentuk tapi ngak bergerak karena ngak ada orang”, kataku.

 

Sinta mengamati. Tapi sayang akhirnya kami malah sibuk berbicara hingga sampai ke bandung. Ah, biarlah kenangan kota gambar yang mengerikan itu aku simpan sendiri.

 

xxxxxxx

 

hari ketiga di bandung, kami memutuskan ke dusun bambu. Aku, sinta dan vita. Sekitaran jam 5 sore kami mulai bergerak ke sana. Walau suasana di luar sedikit mendung dan kadang kadang hujan rintik rintik turun. Tapi karena sudah niat kesana, yasudah bismillah saja.

 

Dusun bambu berada di daerah lembang. Termasuk salah satu dari 16 destinasi wisata yang harus di kunjungi saat kebandung. Di sepanjang jalan kami melewati tanjakan, turunan, tikungan menurun, kadang kadang disekeliling tebing curam, pepohonan besar dan hutan yang suara binatang didalamnya terdengar. Tapi untungnya di sela sela itu masih ada penduduk yang lalu lalang. Namun, karena bukan hari libur dan cuaca seperti tadi mau tidak mau, kadang kadang kami bertemu sepi.

 

Apalagi saat melewati jalan yang kiri dan kanannya menjual pepohonan dan bunga bunga. Semua disusun rapi disepanjang jalan. Tapi bisa dibayangkan ketika malam tiba? Tepat, daerah itu sempurna gelap mengerikan dan pasti akan sepi menggigit. Tidak terbayang kita pulang nanti.

 

Sekali lagi, karena sudah bertekat, akhirnya kami terus melaju.

 

Hingga sampai disuatu tempat yang aku tidak tau namanya apa. Disekeliling tampak gerobak bakso, kios kecil, kios pulsa, indomaret, bengkel, gerobak gorengan. Berderet. Tapi anehnya, jangankan pembeli, penjual pun tidak ada. Bayangan kota gambar yang mengerikan itu muncul lagi. Semua toko toko tadi di biarkan begitu saja.ihhh! Aku mulai merinding. Takut. Kebahagian seperti tersererap. Dingin. Di sekeliling orang orang yang sekedar jalan pun tidak ada, ah! Kota gambar.

 

Kemana mereka? Tidak tau. Mungkin mereka lelah dan bersembunyi. Tapi tetap saja mengerikan.

 

Alhamdulillah ngak jauh dari tempat tadi, mulai tampak pasar kecil dan sedikit keramaian. Akhihrnya aku melihat manusia dan tidak terserap ke dalam kota gambar yang menyedot kebahagiaan. Hahahahahahaha.

 

Ngak beberapa lama dari situ akhirnya kami ketemu juga dusun bambu!begitu sampai disana, beku. Tangan kebas. Entah karena cuaca dingin entah karena takut. Tapi Tempatnya? Jempolan. Tidak rugi bersusah payah berpetualang sampe sampe di serap kebahagian sama dementor di kota gambar dan akhirnya, taraaaaaaaaa! fantastik sekali tempatnya. Dusun bambu kau ku taklukan. Hahahahaha.

 

Dan alhamdulillah sekali, ketika pulang yang entah salah jalan dimana, kami tidak menemukan lagi jejeran penjual bunga dan kota gambar tadi. Ah, aku senang sekali. Begitu sampai di bandung dan sadar tidak melewati tempat itu, aku rasanya tidak percaya! Ingin berteriak besar besar , yeah! Akhirnya keluar juga dari hutan Tuhan dan sudah sampai ke dusun bambu. alhamdulillah.. Semoga aku tidak bertemu lagi kota gambar itu. Bandung 23 april 2015.

Lembang
Lembang

 

 

google oh google

Tiba tiba aja udah sampe ke bandung sama sinta, puput dan adit. Padahal rencana hari ini mau jalan jalan di bogor, eh ngak taunya malah sampe ke bandung. Makanya kami selalu bilang “jalan jalan yang terlaksana biasanya tanpa rencana”.

 

Sampek di bandung kami nginap di rumah adit. Wah, makasih banyak untuk adit, puput, amel dan oki atas jamuannya.

 

Besoknya kami baru jalan jalan. Naik motor karena kata adit, angkot di bandung susah. Jadi, okelah! Aku dan sinta mengekor adit dan puput di depan.

 

Walaupun adit orang bandung, karena satu dan lain hal adit ngak gitu hapal jalan bandung. Jadi kemana mana kami menggunakan google maps!

 

Hari pertama sih berhasil. Kami alhamdulilah mendarat dengan selamat di mesjid agung bandung setelah 3 jam hara hiri di jalan pakek GPS.

 

Hari ke dua, kami juga nekat. Pakek google maps ke jatinagor square. Berdua. Tanpa adit dan putri. Sepanjang jalan, kami ketemu kampus ITB, UNPAD dan IPDN. Begitu melihat gerbang IPDN, sinta terharu.

 

“banyak kali kenangan disini mut”, kata sinta.

 

“kenapa emank sin?”.

 

“aku ikot pramuka pas SMA disini”, jawabnya. Asik, sinta memang siswa berprestasi dari dulu hingga sekarang.

 

Nah, ngak jauh dari kampus tadi, kami dan google mulai bingung. Mau tidak mau kami menggerakkan mandibula alias bertanya. Ternyata tinggal belok saja ke kanan, dan sampai lah ke jatinangor square itu. Ah, mantap sekali google maps ini. Kepercayaan diri semakin meningkat untuk terus jalan jalan.

 

Agak sore kami janji ketemu dengan adit dan puput di food courtnya jatos. Rencananya kami mau melanjutkan perjalanan ke ciwalk. Mau nonton avenger! Okelah, perjalanan selanjutnya di mulai. Dan sekali lagi kami memgandalkan google maps.

 

Weng…….! Kami mengarungi kota bandung. Pede sekali naik motor di kota besar. Sudah terlanjur percaya dengan google maps.

 

Kota ini hidup sekali tapi tidak rusuh dan tidak begitu macet. Selain itu banyak pepohonan besar, jadi kesannya ramah. Apalagi sebentar lagi akan di gelar KAA ke 60, sempurna kota ini meriah! alau disuruh tinggal disini aku mau.

 

Jarak dari jatos ke bandung lumayan lah, lumayan jauh. Apalagi bagi kami yang tidak tau jalan. Sekitar 1 jam ada. Kalau aku perkirakan, selama itu membawa motor jika di banda aceh aku sudah sampai ke sare. Hahahaha

 

Kami terus setia mengikuti google. Sampai melewati jembatan merah yang kalau tidak salah tampak kampus ITB dari sana dan kota bandung jauh di bawah. Tampak kerli kerlip kota dari sini. Tiba tiba hp sinta berbunyi. Ternyata dari puput.

 

“sin, kita salah jalan”, kata puput,

 

“jadi kemana ini put? “, tanya sinta.

 

“balek lagi. Jalan jembatan itu kan ada, balek lagi dan turun ke bawah ya”. Kata puput. Telpon mati.

 

“kita salah jalan mut, balek katanya.”, jelas sinta.

 

“sin, qe keluarkan juga google maps, jadi kita juga bisa ikutin itu”, kata ku sambil melihat lihat tempat belokan. Dan akhirnya dapat.

 

“oke”.

 

Aku berbelok dan akhirnya ketemu adit dan puput. Kami terus berjalan, mengikuti google maps.

 

“kok aneh ya sin, semacam ngak rame di jalan ne. Padahal seharusnya rame kan?” kata ku. Setelah kami melanjutkan perjalanan.

 

“iya mut”, kata sinta. Benar saja. Beberapa menit kemudian telpon sinta berbunyi lagi. Iyes, kami salah jalan lagi. Karena berdasarkan googl maps, kami sudah melenceng dari jalur.

 

Akhirnya kami berbalik sampai posisi kami sesuai dengan google maps. Pas sekali di depam ada persimpang. Dari pada salah jalan lagi, kami akhirnya bertanya.

 

Berdasarkan penduduk sekitar jika mau ke ciwalk “lurus saja, terus belok ke kanan terus lurus lagi. Jadi seperti liter U”. begitu jelas si bapak.

 

Setelah mengucapkan terima kasih, kami pamitan. Alih alih percaya si bapak, kami malah lebih percaya google maps. Tidak lurus tapi belok kiri. Itu sesuai dengan google maps.

 

Kami terus berjalan. Mengikuti petunjukgoogle maps. Sedikit lega karena sepanjang jalan ini kami tidak keluar arus.

 

“tapi kok perumahan penduduk ya sin?”

 

“iya mut, kecil kecil lagi rumahnya” , sambung sinta.

 

“itulah, ngak salah jalan ini?” aku mulai ragu.

 

“betol ne mut, sesuai google. Mungkin dia kasih jalan tikus untuk kita biar cepat sampek” sinta menenangkan. Aku ikut saja. Adit dan puput juga di depan kami.

 

Tapi pemandangan semakin aneh, rumah penduduk semakin kecil, sepetak sepetak tapi karena daerah pegungungan rumahnya jadi unik di lihat. Jalannya juga semakin sempit, mobil saja sepertinya susah lewat. Tapi, sekali lagi ini sesuai google. Dan kami terus ikut.

 

Hingga di penghujung jalan, adit berhenti. Kenapa? Mentok. Kami bertemu jalan buntu yang ujungnya tembok besar dan di sebelah kanan dan kiri adalah sungai. Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha! Tapi sekali lagi, google maps tidak mau mengakui kesalahan. Jarumnya masih disitu, masih menunjukkan sekitaran 5 menit lagi kami sampai ke ciwalk. Iya, lewat jalan itu. Mungkin dia tidak bisa mendeteksi tembok besar dan tembok itu tidak bisa dilewati, walaupun 5 menit dari situ kami akan sampai tujuan.

 

Ah, secanggih apapun teknologi akan lebih ampuh mandibula manusia. Akhirnya kami sekali lagi bertanya. Dan tepat sekali, bapak di persimpangan jalan tadi tidak berdusta. Kami akhirnya berbalik arah, kembali ke persimpangan lagi dan memilih lurus, sesuai perunjuk bapak. Alhamdulillah beberapa saat kemudian kami akhirnya menemukan bangunan yang bertuliskan ciwalk itu.

 

Tapi sayang, sekarang sudah jam sembilan malam. Hahahaha, tidak terasa sudah 3 jam kami di jalan di temani si google yang sedang bingung. Dia lelah mungkin. Akhirnya kami membatalkan nonton avenger hari itu, sudah terlanjur malam. Dan memilih berkeliling ciwalk! Kebetulan ada semacam pentas seni menyambut KAA ke 60. Anggap saja kami delegasi KAA dari aceh. Hahahahaha.

 

Sekali lagi, jangan terlalu percaya dengan teknologi. Kadang kadang dia juga bisa bingung seperti hari ini. Jangan gengsi menggerakkan mandibula. Apalagi di kota ini, orangnya ramah ramah. Ah, malas bertanya memang sesat di jalan. Google google. Bandung, 20 april, 2015.

Delegasi KAA aceh
Delegasi KAA aceh
Meet and great KAA 60
Meet and great KAA 60

pada zaman dahulu kala

Pada zaman dahulu di hutan yang entah berantah hidup seekor gagak putih dan bangau yang hitam. Mereka bersahabat. Suatu hari bangau bertanya pada gagak, apa rahasia dari kulitnya yang putih berkilat. Akhirnya gagak membuka rahasianya yang berupa ramuan ajaib.

Gagak berbaik hati memberikan ramuan tersebut dengan syarat di kembalikan. Bangau menyetujuinya. Setelah memakai ramuan tersebut, bangau yang hitam menjadi bangau putih yanhpg cantik. Namun tetap saja, bagi binatang hutan lainnya kulit putih gagak tetap jauh lebih cantik.

Setelah beberapa hari gagak datang menemui bangau, menagih janji untuk mengembalikan ramuan tadi. Tapi karena rasa iri nya dia malah menyiram ramuan tadi sekaligus ke arah gagak. Sontak gagak berubah menjadi hitam. Dia kesal sekali.

Nah, di lain kesempatan, bangau yang jahat juga ketauan mencuri banyak ikan di sungai. Oleh karenanya si kancil geram dan melemapri bangau dengan kayu. Prak! Sayap cantik bangau patah. Dan dia tidak bisa terbang lagi hingga sekarang. Jadi, itulah alasan mengapa gagak hitam dan bangau putih tapi tidak bisa terbang.

Benarkan cerita ini? Hahahaha. Aku tidak tau pasti. Tapi menyenangkan saja. Hikmahnya jangan sekali kali berbuat jahat pada orang lain, tapi sering seringlah berbuat baik.

Kisah ini aku dapat dari film kartun “pada zaman dahulu kala”. Film anak anak dari negeri seberang. film ini mengisahkan hidup 2 orang kakak beradik, aris dan ara. Hubungan mereka mirip cintani dengan fatir. Abang yang usil dan adik yang lugu. Jadi, ara dan aris tinggal dengan kakek dan neneknya. Jika ada hal yang menarik, si kakek akan memulai “pada zaman dahulu kala”….. Dan cerita film itu dimulai. Cerita tentang kehidupam hewan yang bisa berbicara dan penuh hikmah.

Ceritanya selalu seru! Ada dua hal yang menarik. Pertama hikmahnya dan kedua asal usulnya. Misalnya cerita di atas, hikmahnya jangan berbuat jahat tapi sering sering berbuat baik. Asal usulnya adalah di cerita ini, kita tau mengapa gagak hitam dan bangau putih tapi tidak bisa terbang. Hahahahaha.

Kisah lain adalah kisah ayam dan burung yang aku lupa namanya. Suatu hari ayam bertanya pada burung mengapa dia bisa terbang sedangkan ayam tidak. Padahal mereka sama sama memiliki sayap. Lalu burung memberi tahu rahasianya yang berupa jarum emas. Burung meminjankan jarum itu kepada ayam dengan syarat di kembalikan.

Begitu mendapat jarum emas, ayam langsung menjahit sayapnya. Dan taraaaa,,,, ayam bisa terbang tinggi. Sangking senangnya ayam menjatuhkan jarum emas milik gagak. Ayam lalu berusaha mencari jarum itu. Dia mematuk matuk tanah, mencari jarum. Tapi sayang, jarum tidak ketemu. Hingga burung datang dan menagih kembali jarumnya yang sudah hilang. Apa hendak di kata, jarum sudah terlanjur hilang dan burung marah. Burung berjanji akan terus memangsa ayam dimana pun berada.

Hikmahnya jangan ceroboh melakukan sesuatu, menyesalnya seumur hidup. Nah, itu juga alasan mengapa burung besar sering memangsa ayam dan mengapa ayam terus mematuk ke tanah, mencari jarum. Entah iya atau tidak, tapi lucu saja.

Banyak kisah lainnya, tentang semut, monyet yang mencuri, cerita siput yang lambat, dll. Yang selalu berakhir hikmah dan asal sesuatu.

Acara ini disiarkan setiap pagi dan sore. Teman menonton fatir dan cintani. Inilah film versi mereka selain upin dan ipin, marsha and the bear , jorsh si monyet pintar, dan kartun lainnya.

Aku lebih senang menonton kartun kartun ini (upin dan ipin, marsha dan pada zaman dahulu kala, josh di monyet pintar) dari pada film kartun indonesia. Padahal gambarnya sudah bagus tapi ide ceritanya menurut ku “konyol”. Diantara kita mungkin sering menontonnya.

Pernah suatu sore aku terpaksa menonton kartun ini. Awalnya aku tidak lihat, hanya ujungnya saja. Disana mengisahkan si sopo jarwo menyebarkan kabar bahwa ayah adit meninggal. Dia bahkan sudah mengumpulkan dana dari seluruh orang kampung. Tapi pada akhirnya ayah adit datang. Hikmahnya jangan menyebar kabar yang tidak pasti kebenarannya.

Hikmahnya sih oke. Tapi sayang, sosok yang membuat gaduh adalah orang tua. Disini yang kurang srek di hati. “orang tua” kok konyol. Tidak membimbing. Aneh saja. Tidak seru untuk di nonton. Mungkin mau memasukkan komedi, tapi menurut ku dunia anak anak sudah cukup lucu bagi mereka sendiri. Tidak usah di tambah komedi aneh aneh lagi. Atau mau alur beda dengan film luar sana, menurutku gagal.

Jauh lebih baik, cerita si bolang di kartunkan. Cerita anak anak desa yang berpetualang mengarungi kampung. Tidak usah aneh aneh idenya. Sederhana saja. Itu jauh lebih berkesan dari pada orang tua yang konyol di layar televisi. atau sopo dana jarwo dihilangkan. Biarlah adit cs berkelana mengejar mimpi masa anak anaknya. Ini menurut ku saja. Sekali lagi, semua sesuai selera.

Jadi, kalau fatir dan cinta sedang menonton film kartun tadi, aku sering bergabung bersama. Ikut nimbrung dan menikmati ceritanya. Lalu beradu senyum dengan cintani dan berdiskusi sedikit dengan fatir yang rasa ingin taunya besar. Malah menurutku “kepo” sekali.

Sesekali, nonton lah film ini. Disela sela kita menyaksikan “manusia yang bercita cita jadi binatang”yang intinya entah apa atau bosan menonton konser dangdut di televisi, film ini bisa memberi sedikit inspirasi indah, banda aceh 24 mei 2015.

naik kelas

Pulut dan keumamah
Pulut dan keumamah

Di rumah sedang ramai. Tidak ramai ramai sekali sebenarnya, tapi lebih dari biasanya. Karena ada beberapa tetangga yang datang. Ada acara apa? Acara masak masak.

Ada sekitar 3 orang tetangga datang ke rumah sore ini. Dua diantaranya sudah berumur, alias nenek nenek dan yang satunya lagi masih muda. Mereka sedang asik memasak pulut dan keumamah di dapur. Aku ikut nimbrung, walau tidak bisa memasak seberat ini, aku kan bisa membantu ambil ini itu dan bisa membantu “mencicipi” makanan.

Jadi, sepupu kece ku akan memulai membaca alquran perdana nanti malam di tempat ngajinya. “peu phon beut”. Itu istilah acehnya. nah, untuk itu ada sedekah sedikit dari orang rumah untuk tengku dan anak anak yang mengaji disana. Makanya sore ini, dirumah ibu ibu sedang asik memasak pulut dan keumamah untuk si fatir nanti malam.

Setelah pulut dan keumamah masak, keduanya di kemas dalam cup kecil. Cukup untuk anak anak. Jadi taruh pulut sedikit dan berikan beberapa potong keumamah dengan potongan kentang lalu eratkan dengan anak klip. Selesai. Baru kali ini aku melihat pulut disajikan dengan cara seperti ini. Biasanya pulut dimakan dengan kelapa bukan?

Selesai dengan itu, sisa pulut dan keumamah tadi di simpan untuk tengku, beberapa tetangga dekat dan keluarga. Sisanya di bagi bagikan untuk yang membantu masak tadi. Dan urusan selesai.

“yok, antar ke tengku dan tetangga”, kata kak lu.

Aku ikut saja, sekalian keliling kampung. Begitu pulut di berikan, jelas semua bertanya. Dan selalu di jawab sama oleh kak lu. “peu phon beut al quran si fatir”. Dan berkali kali si penerima pulut menjawab “beu trang hate fatir” yang artinya semoga hati si fatir terang benderang dan pintar ngajinya. Begitu hingga pulut di motor sudah habis di bagikan.

Si fatir sendiri sedang heboh di rumah dengn al-quran barunya, hadiah dari ayah. Dan cintani sibuk menceritakan pada siapapun yang datang ke rumah “kalau abang tercintanya di peuphon buet al-quran” nanti malam.

Magrib tiba, sesuai dengan jadwal harian fatir. Dia harus mengaji. Tapi sore sebelum pergi mengaji dia gaduh di rumah. Memastikan cup pulut cukup, aqua gelas sudah ada, pulut untuk tengku ada dan berkali kali mengingatkan mamaknya “jangan lupa ke bale beut setelah magrib”.

Setelah magrib, mamak dan ayahnya sudah siap. Bergerak ke bale tempat fatir mengaji yang hanya selemparan batu dari rumah.

Pulang mengaji, sekali lagi rumah gaduh. “jauh kan abang baca quran tadi kan mak?”, “abang bisa baca, ngak perlu di bacain sama tengku kan?”. Kata si fatir.

“iya”. Jawab mamaknya.

“ayah sampek merinding dengarnya”, kata ayahnya.

“rajin rajin ngaji ya fatir”, kata mamak dan ayahnya.

Sejak hari itu, fatir resmi naik kelas. Dia mengaji setelah salat dirumah hingga beberapa hari setelah hari penting itu.

Yah, begitulah. Menurutku kenduri kecil seperti ini perlu. Kalau dilihat dari sisi anak, ini suatu penghargaan baginya. Tidak hanya naik kelas, dapat peringkat, menang lomba, dll akan ada hajatan di rumah, tapi mengaji pun perlu di beri penghargaan. Malah seharusnya ini jauh lebih berharga dari semua hal itu. Dan semoga saja dengan penghargaan ini si anak bisa semakin semangat mengaji.

Dari sisi lain, kenduri adalah sedekah yang padahal terus mengalir. Selain itu bisa di bayangkan setiap di beri sedekah, ada banyak doa baik yang datang? Doa agar hati si anak terang benderang. Semoga doanya sampai. Amin.

Aku sudah bertanya pada kak lu, apakah harus begini. Jawabannya tidak harus. Sesuai kesanggupan. Kalau sanggup gak apa, kalau ngak sedekah aja untuk tengku sedikit, kalau ngak sanggup pun yaudah ngak apa.

Tidak ada paksaan, tapi alangkah lebih baik jika kita tetap memberikan penghargaan untuk si anak yang naik kelas mengaji. Karena itu bisa jadi motivasi untuknya dan menunjukkan berapa kita sangat mendukungnya untuk bisa terus mengaji. “belajar di waktu kecil lebih baik daripada belajar di waktu besar” bukan?banda aceh 24/5/15

musalla yang mirip mesjid di zaman andalusia

musalla SMA
Musalla tercinta

Musalla, letaknya di tengah tengah asrama. Itu bagunan kedua yang akan kita jumpai di kompleks ini. Dindingnya bercat putih, berbentuk petak dengan tiga buah pintu masuk. Dua pintu untuk laki laki dan 1 untuk perempuan. Musalla ini mampu menampung kami semua!

Disekeliling musalla disebelah kanan dan depannya banyak di tumbuhi pohon pinus. Sedangkan bagian belakang ada tempat wudhu pria, dan bagian kiri adalah jalan menanjak, menyeberang sedikit kita akan sampai ke barak wanita.

Nah, karena letaknya ditengah dan nyaris dikelilingi dengan pohon ditambah dengan musalla memiliki jendela diseluruh dindingnya, salat zuhur dan asar disini sangat menyenangkan. Apalagi bisa tidur siang. Tapi yang kedua tidak mungkin dilakukan kecuali musim ujian tiba.

Disinilah kami selalu salat. Sehari lima waktu. Jika absen salat, disemester awal kami pernah di razia ke barak oleh petugas asrama. Petugas asrama bertukar, sistem berubah. Tidak ada lagi razia langsung. Tapi sebelum pulang salat kami harus menghadap ketua barak, mengabsenkan diri. Tanda hadir salat. Tidak salat? Alamat di panggil kepala asrama.

Aku punya cerita tentang salat. Nah, waktu itu subuh. Aku masbuk dengan siti maisarah. Sebenarnya tidak telat telat sekali. Tapi tetap saja tidak dapat rukuk dengan imam. Sesampai di musalla aku bertegur sapa dengan siti sebentar sambil menunggu imam bangun. Begitu imam bangun, kami takbir. Siti tepat berdiri disampingku.

Salat berlangsung seperti biasa hingga imam salam. “assalamualaikum warahmatulah”, kata imam. Dan aku ikut gerakan imam “assalamualaikum warahmatullah”.

Kemudian imam mengucapkan salam kedua. Dan aku ikut juga. Begitu salam kedua ini aku terperanjat, kaget dan kecewa saat melihat siti disebelah kiriku. Iyes. Siti maisarah berdiri kembali, melanjutkan satu rakaat tertinggal tadi. Ya Allah, aku lalai dalam salat. Lupa Harus bangun lagi. Ya Allah. Aku duduk sebentar. Tidak enak langsung pulang setelah salat.

“hahahahahahaha, qe lupa bangun. gak khuyuk salat ya?” bisik siti setelah dia selesai salat.

“alah, kok tau pula qe. Iya, ne bentar lagi mau pulang. Salat ulang di barak”, jawab ku,

“hahahahaha, pulang terus. Habis subuh nanti”, katanya.. Dia tertawa geli

Aku pun bergegas. Pulang ke barak dan salat subuh kembali.

Selain sebagai tempat salat, musalla bagi kami juga difungsikan sebagai tempat mengaji. Mengaji pribadi setelah salat. Atau mengaji yasin di malam jumat. Mengaji berjamah. Pemimpin mengaji paling favorit lagi lagi pak AR dan Robi.

Pengajian malam juga dilaksanakan disini. Biasanya setelah salat magrib menunggu isya datang. P1 namanya, Mulai mengaji kitab, bacaan alquran hingga tata cara salat. Gurunya dari pasantren terdekat. Kalau yang mengajar tata cara salat tetap guru kesayangan pak “AR”. “saya tidak mau keluar dari sini kalian masih salah dalam tatalaksana salat”, itu kata beliau. Jadi, kami diajarkan secara esklusif perkelas oleh pak AR tentang praktek salat.

Jika malam minggu tiba, maka kami akan “muhadarah disini”. Ada 3 bahasa. Indonesia, arab dan inggris. Pilih sesuka hati mau bahasa apa. Tapi harus hati hati. Salah salah bisa kena timah cair. Ahahahaha (aku bercanda).

Setelah makan malam, lagi lagi musalla ini digunakan. Sebagai tempat rapat acara acara yang akan digelar. Karena letaknya ditengah, luas dan angin akan sangat sepoi sepoi masuk. Entah berapa banyak ide keluar disana. Termasuk nama acara akbar mosa “FLASH”, juga bermula disana.

Musim ujian tiba. musalla juga tempat idaman untuk belajar. Penuh. Tak ada sisa ruang untuk yang telat datang. Salah salah, jika terlena dengan anginnya kita bisa mengantuk disana. Hati -hati.

Beberapa perlombaan tertentu juga biasanya diadakan di musalla! Bahkan penyampaian visi dan misi ketua osis juga disampakan melalui mimbar musalla. Biasanya setelah salat magrib. Eits, penerimaan siswa baru oleh anggota osis juga disini dulu, aku ingat sekali. Hahaha.

Musalla juga sering digunakan sebagai tempat acara hari besar agama. Seperti memperingati maulid nabi, isra’ mi’raj, muharam, dll. Biasanya acaranya setelah makan. Selain ada ceramah agama juga akan ada “muhasabah”. Ah, moment ini paling aku nanti dan paling membuat tidak tahan. Tidak tahan menahan air mata. Apalagi ketika ustadnya mengatakan “bayangkan orang tua kalian……………” deras saja jatuh air mata.

Yah, namanya juga ceramah, tidak selamanya selalu berkenan di hati. Ada moment moment dimana dia begitu membosankan. Nah, disaat inilah banyak godaan. Apalagi kami yang wanita. Posisi tepat di belakang. Disaat itulah terkadang mau tidak mau kami banyak yang akhirnya tergoda tidur.

Jadi, waktu itu aku lupa acara apa. Mungkin si adik lelah, entahlah. Dan dia tertidur pulas. Tiba tiba saja “prum”. Dan sesaat kemudian bau tidak sedap merebak. Iyes, si adik kentut. Kami gaduh. Dan aku yang duduk di pojok sana, jauh dari TKP juga gaduh.

“kenapa ribut x e”, tanya ku.

“si adik yang namanya tidak boleh di sebutkan kentut mut, bau lagi”, jawab teman ku.

“hahahaha, bangunin aja”, kataku.

“udah, udah di bangunin tapi di ngak peduli”. Jawabnya. Huft. Ada ada saja….

“Hahahaha, untung tidak besar”, aku tertawa geli. Teringat diri sendiri.

Ketika hari jumat, musalla juga kami jadikan sebagai tempat kajian jumat wanita wanita chantik. Hahahaha. Biasanya yang datang sebagai mentor juga kakak alumni kami.

Dan sekali lagi karena letaknya ditengah dan satu satunya bangunan yang memiliki mikrofon, sering pengumuman pun disini. Mikrofon musalla ini sering di andalkan. Mulai dari pengumuman kumpul rapat, panggilan acara acara, panggilan piket, panggilan pergi prosus, pemberitahuan untuk mematikan “radio, kipas angin, lampu” sebelum kesekolah bahkan pengumuman celana pramuka tertukaar pun di umumkan disini karena sudah kepepet pergi sekolah.

Begitulah musalla bagi kami. Letaknya di tengah, central sekali bagi kehidupan kami. Difungsikan untuk banyak kegiatan yang bermanfaat. Mirip mesjid di zaman kebesaran islam dulu yang menjadi tempat salat, dakwah, pendidikan, perpustakaan, dll. Begitu juga disini. Bedanya ini musalla. Tapi tak apa. Mirip juga. Semoga terus bisa bermanfaat, menjadi besar dan tetap menjadi salah satu central kehidupan anak anak yang sedang tumbuh besar disana. Amin. Banda aceh 19 mei 2015.

fatir vs cintani

Kembali dengan cerita “fatir dan cintani”. Kenapa? Karena seperti kebanyakan anak anak, cerita mereka selalu menarik untuk diceritakan.

Seperti kebanyakan anak laki laki, menurut ku fatir ini adalah abang yang “usil” dan cintani adalah adik perempuan yang “lugu”.

Salah satu kebahagian mereka adalah “jajan”. sebanyak apapun makanan dirumah, tawaran jajan jauh lebih menggiurkan. Apakah hanya sebungkus coklat, sanck yang besar bungkusnya saja, permes,eskream, apapun itu, mereka akan tetap bahagia.

Nah, lugu nya cintani disini. Dia anak bungsu. Perempuan dan sedikit manja. Jadi, jika ayahnya mau pergi bekerja, kadang kadang sifat manjanya muncul. Aku sebut “meuheng heng”. Hmmm. seperti meringis ringis. dia sering begitu. Cara menghentikan “heng hengan” itu adalah dengan beli “jajan” tadi. Diantara cintani vs fatir, cinta lebih sering mendapatkan momen ini. Dan disetiap kesempatan dia tidak pernah melupakan abangnya.

Jika beli snack, biasanya dua. Jika beli permen biasanya pas untuk di bagi dua. Atau jika dia beli sesuatu pasti akan ada yang akan di bagi dengan abangnya. Sedangkan abangnya? “sering tidak”. Jadi momen ini sering memicu perkelahian jika yang “jajan” adalah abangnya.

Suatu hari mereka di beli es kream oleh ayahnya. Bentuk dan ukuranya sama. Mereka makan bersama.

“yok makan dek”, kata si fatir.

Cintani dengan lugu memakan es creamnya. “makan lagi yok”. Ajaknya. Suap demi suap. Hingga es cream di mangkuk cintani tinggal seperempatnya.

“jeh, abang kok belum habis”, kata cintani setelah mengintip mangkuk escream abangnya.

“hahahahahaha”. Fatir tertawa licik.

Dan heng hengan itu berbunyi.

“mak, abang jahat kali. Tadi dia ajak makan es cream sama sama. Tapi waktu adek makan dia ngak makan. Jadi punya adek udah mau habis punya dia masih banyak”, cerita cintani sambil meuheng heng.

Hahaha, aku tertawa saja dalam hati, usil sekali anak 8 tahun itu. Teganya mengadali adiknya yang baik hati

Walau begitu, setelah urusan ec cream itu selesai, mereka kembali main bersama. Akur sesekali lagi lalu gaduh lagi.

Nah, waktu itu aku mau pergi. “mau ke mana anda?” tanya cintani.

Santai aku menjawab, “kepasar”. Sesaat heng hengan muncul. “adek ikot juga”, kata cintani.

“ngak bisa”, jawab ku. Susah bawa anak anak ke pasar.

“kalau ngak kasih uang untuk adek”, kata cintani.

“kok udah mirip preman adek?”, kataku. Tapi aku tetap memberikan uang pada nya. Lalu bersiap pergi. Belum selangkah aku beranjak. Bunyi heng hengan terdengar. Buru buru aku masuk.

“kenapa?”. Tanyaku.

“abang pukul adek”, jawab cintani.

“kenapa fatir, pukul adek?”. Dan fatir menjelaskan. “dia ambel uang abang. Jadi uang yang anda kasih untuk dia, dia kasih untuk abang. udah dia kasih dia ambel lagi”.

Hutf. “cintani, kenapa kasih uangnya untuk abang?”, tanyaku. Dan cintani diam seribu bahasa. Mungkin dia “sayang” abangnya tapi sesaat kemudian berubah pikiran. Ah! Akhirnya aku memberikan lagi uang kepada cintani. Jadi seri. Si abang dapat dan si adek juga.

Begitulah cintani. Adek perempuan yang lugu.

Suatu hari pernah si abang request padaku membuat es batangan.

“fatir cari karet gelang biar anda ikat plastik es nya”, kataku.

Fatir langsung mencari karet gelang kemana mana. Hingga akhirnya dia memanjat lemari yang berisi gelas. Dia anak laki laki kampung, geraknya sudah pasti gesit. Tapi, cintani mengomel. “jeh abang ini, jangan manjat manjat”, katanya.

Diambilnya kursi makan dan diletakkan di bawah lemari tadi agar abangnya bisa mendarat dengan tenang. Ah anak kecil yang imut sekali.

Tapi abangnya ya begitu. Suatu hari aku pernah menyusuh fatir mengambil air minum untuk adiknya.

“ini air adek”, katanya dan pergi sambil tersenyum lebar sekali.

Si adek langsung minum. “aaaaak, apa abang ini”. Katanya sambil menjerit.

“kenapa?”tanyaku.

“air yang dikasih abang panas”, katanya.

Hahahahahahahaha. Fatir!!!!! Aku segera mencampurkan air itu agar panasnya hilang. Usilnya tidak pernah usai. kasian adik kecil yang masih 5 tahun itu.

Tapi sekalai lagi, walau selalui di usili tetap saja cintani tidak pernah lelah berbuat baik pada abangnya. Dia sayang abangnya. Padahal saat mereka akur, mereka bisa tertawa seperti ada 6 orang bersama. Seru saja melihatnya. Tertawa yang entah karena alasan besar apa. Terus ribut lagi, heng heng lagi, kena timah panas mamaknya, kabur bermain, pulang dan akrab lagi. Tidak terbayang jika posisi di ubah, cintani yang menjadi kakak dan fatir yang menjadi adik. Hahahahahahaha. Terus tumbuh jadi anak baik ya sepupu kece. Semoga semakin besar, fatir bisa menjadi abang yang terus melindungi adik lugunya. Amin. Banda aceh 23 mei 2015.

lale (lalai)

Sepupu kece, fatir dan cintani.
            Sepupu kece, fatir dan cintani.

“hoe ka si cinta ngen fatir?” tanya ku ke pada kak lu. Kak lu itu sepupu ayah ku. Dan cinta anaknya.

“bak rumoh kak epi, na moto beko”, jawab kak lu.

“hahahaha, aneuk miet. Ngen moto beko pih lale”. Kataku. Ada ada saja anak anak itu. Dengan mobil yang menggerok tanah pun sudah oke untuk bermain. Pulang hingga sore sudah larut. Dengan baju berlumuran tanah.

Kadang mereka asik sekali dengan kertas. Kertas itu di lipat dan dijadikan pesawat terbang mainan. Lalu berlomba pesawat siapa yang paling jauh terbang dan paling cantik terbangnya. Dengan itu saja sudah lalai. Lupa pulang dan lupa makan. sampai kerumah sibukmbertanya pada ku “anda, di dalam pesawat seperti apa?”.

Itulah mereka. Sepupu kecil ku. Kakak beradik. Fatir dan cintani. Kerjanya? Pulang sekolah mereka duduk sebentar dirumah. Lalu pergi bermain, pulang ketika sore sudah larut. Mandi sore lalu berangkat mengaji. Setelahnya duduk sebentar, belajar jika dia ingin, lalu pergi tidur setelah mengatakan “tidak ada film” di televisi.

Aku selalu tertarik dengan sesuatu yang membuat mereka “lale”. Karena kebanyakan adalah hal yang sangat sederhana. Cintani bisa saja lale dengan “bunga”. Iyes. Dirumahnya ada “bate”, tempat meletakkan sirih milik almarhum neneknya. Jadi di kumpulkan bunga bunga di sekitar rumahnya dan di masukkan ke dalam bate, di bawa keliling kampung. Apa maknanya? Hanya dia yang tau.

Ketika berjumpa dengan lativa temannya, mereka akan lale dengan mengumpulkan barang ke dalam tas. Semua, mulai dari minyak kayu putih, buku, cat, pensil, tempat tisue. Semua. Jika dirumah kehilangan barang, tas cintai patut di curigai. Mereka akan bermain “rumah-rumahan” dengan tas itu.

Kalau suasana sedang baik, mereka akan masuk ke kamar. “main boneka”. Tida gaduh sedikit pun.. Atau main rumah rumahan dengan daun sebagai uang.

Jika bosan dengan permainan yang terlalu sederhana itu, mereka akan mengambil batu bata dan mencari kayu bekas. Lalu main jungkitan dengan itu. Cukup dengan bata dan kayu bekas mereka sudah lale.

Tapi terkadang permainan “anak laki-laki”, sering lebih menggiurkan. Jadi, bosan bermain dengan lativa. Mereka akan “mengekor” abang masing masing. Dan bermain bersama jika di izinkan, jika tidak? Cukup menikmati dan mengikuti apa yang dikatakan abang mereka.

Waktu itu si abang, fatir sedang bermain bola. Bola yang warnanya sudah tidak jelas. Yang penting bulat dan bisa di tendang. Dia bermain dengan temannya, tengah siang. Dan nasib cintani sedang tidak baik saat itu. “nonton aja ya”, katanya pada cintani. Dan cintani menurut. Mengamati. Tapi saat dia bosan, sesekali dia masuk arena dan berlari lari juga, berlari saja.

“dek, ambel air untuk abang”, kata si fatir. Tidak pikir panjang, cintani lari ke rumah. Mengambil air untuk abangnya. Lalu kembali “lari-lari” ditengah anak laki laki yang sedang main bola. Mereka cukup lalai dengan itu.

Saat abangnya bermain bulu tangkis. Lagi lagi cintani hanya bisa jadi penonton. Ikut tertawa saat semua tertawa. Yang penting sama sama. Yah, walau kadang abangnya sering usil. Tetap saja sering di ekori.

Begitulah mereka. Semua hal bisa jadi menarik. Menarik untuk di jadikan permainan. Bahkan dengan belalang pun mereka bila lale alias lalai. Kebetulan banyak padang rumput di depan rumah cintani. Mereka memburu belalang belalang tidak berdosa. Menangkapnya seorang satu. Lalu menjadikannya permainan. Membuat belalang itu berjalan di tangan, memberi rumput, atau mengurungnya di botol.

“jangan siksa binantang, kalau kalian di siksa gitu mau?” kata ayah fatir. Sekejap, binatang itu di lepas dan mereka juga hilang. Mencari lapak lain untuk bermain.

Apa lagi? Sendal. Iyes. Diapakan sendal itu? Di jadikan bola. Sendal itu di lempar dan di tangkap. “maen rom rom siloP”. Itu judulnya. Sebagian besar permainan sebenarnya hanya tertawa. Haha hihi. Kalau dilihat apa asiknya permaianan itu. Tapi bagi mereka luar biasa.

apa lagi yang bisa membuat mereka lalai? kotak rokok. Diapakan? Dilipat dua. Lalu ditekan ujungnya. Dan lihat lipatan rokok siapa yang melaju paling jauh. Hahahahahaha. Dengan itu sudah cukup memadai dan membuat lupa pulang ke rumah.

Belum lagi kalau main pek pong (sembunyi sembunyi) dan mau cok kring. Berkeringat, bau matahari, lelah pun jadi. Main main. Iyes.

Ah anak anak. Hidup sebagian besar habis dengan main main. Main yang sederhana. dan bisa lale dengan apapun! Iya, itulah anak anak disini. Anak anak yang tumbuh dan belum tercemar hal hal aneh.

Menurutku lebih baik main hal yang sesederhana itu, tertawa, berimajinasi dengan apa yang ada . Sekali lagi, aku selalu tertarik dengan apa yang membuat mereka lalai. Yah, semoga bisa tumbuh menjadi anak yang baik dan menjadi anak yang soleh dan solehah. Banda aceh. 23 mei 2015.