siomay

“oh ini rasanya cilok”, kata ku kepada elin. Elin adalah salah satu pegawai di tempat ku bekerja.

“iya, tapi ini bukan cilok asli karena lebih banyak dagingnya.”, jelas elin.

“jadi, cilok asli gemana el?”

“lebih kenyal. Kan cilok kepanjangannya aci di colok. Nah aci itu tepung jadi rasanya lebih kenyal”.

“ooo”. Aku hanya ber “o” ria. Karena urusan ini elin lebih tau. Dia orang bogor asli.

Selama di bogor, salah satu makanan yang aku cari adalah cilok ini. Tapi ketika bekesempatan bertemu penjual, ada saja halangan. Mulai dari merasa was was, sedang sariawan hingga tidak membawa uang. Dan baru kali ini berkesempatan makan cilok walau cuma kw. Rasanya malah mirip bakso. Mungkin seperti elin katakan “ini lebih banyak dagingnya”.

“ibu aku suka juga membuat cilok. Tapi tidak begini. Mirip cilok biasa dan makannya dengan bumbu kacang. Jadi kacang tanah di goreng, terus di ulek dengan cabe, bawang, dan garam. Aku ngak bisa buat, ibu ku yang pinter bikinnya”. Cerita elin dengan bahasa sunda.

“oh iyess, iyess. Aku paham. Bumbu kacang yang di pecal kan?”. Tanya ku.

“iya”. Jawabnya. “lebih enak”.

Iyes. Aku langsung teringat “lelek” siomay kesayangan kami. Aku dan di mata ramah. Walau bukan cilok tetap saja aku teringat lelek siomay kami. Mungkin namanya lebih cocok bacok, bakso dicolok. Si lelek sering mangkal di depan rumah kami. Tepat di depan “spartan parfum”, disamping MIN 1 Banda Aceh. Siomaynya terdiri dari 3 bentuk. Bakso kecil, bakso besar di goreng dan tahu. Cara makannya seperti yang elin katakan. Di campur dengan bumbu kacang. Bagi yang suka saos dan kecap boleh di campur sesuka hati. Rasanya? Buat ketagihan.

Jika aku ada dirumah, maka nyaris setiap hari aku akan mengunjungi lelek siomay ini. Dan si lelek tidak akan pernah lelah bertanya “ngak kuliah mbak?”

Hahahahaha. Selalu. Dan beliau selalu ingat pembelinya. Padahal beliau sudah berjualan selama 16 tahun. mungkin lebih.

Pembelinya juga tidak abal abal. Dari yang jalan kaki hingga yang beroda 4. Malah beliau sering di cari cari. Pernah suatu sore saat membeli siomay, seorang pembeli datang.

“lek, udah lama saya cari ternyata mangkalnya disini”, kata pembeli. Mukanya tampak sumringah. Senang berjumpa dengan si lelek.

“iya mbak. Memang disini. Terakhir kita jumpa waktu mbak SMA kan?” tanya si lelek

“iya ya lek”.

Panjang mereka berbincang. Intinya si pembeli tadi awalnya sangat tidak suka siomay. “geli” katanya. Tapi sejak merasakan siomay lelek ini, dia langsung jatuh cinta. Begitu hingga dia tamat SMA. Lalu ketika kuliah, dia pergi merantau. Begitu kembali, si lelek ternyata sudah pindah lapak. Begitulah.

Belum lagi pembeli yang lelek tau jumlah anak pembelinya, kampung mereka, kuliahnya. Dll. Mantap. Jika dia buka warung bakso sendiri, aku rasa pasti akan penuh.

Wajar sih si lelek selalu di cari. Seperti yang aku katakan. Enak! Pas dan mantap. Bersih lagi. Makanya tidak hanya aku tapi maya juga suka. Bagiku enak sudah cukup, tapi bagi maya enak saja tidak memadai, makanan itu juga harus bersih

Jadi, saat aku asal saja memberhentikan honda saat membeli makanan, dia pasti akan kembali dan berkata.

“ini aku beli dikit ya, untuk qe aja. Aku ngak usah”. Katanya.

“kenapa may?” tanyaku,

“ih, qe gak lihat kukunya”, kata maya.

“hahahaha”, aku hanya tertawa. Tapi kadang kadang aku sepakat dengannya. “yaudah, ngak usah beli aja”.

Apalagi urusan siomay ini. Dia sangat teliti. Mulai dari kuku penjual, minyak goreng hingga saos. Perhatiannya sampai kesitu. Dari semua penjual siomay, hanya lelek ini yang dia percaya.

Hanya saja saat melihat ku setiap hari memakannya, dia pasti akan menasehati. “jangan tiap hari qe makan siomay mut. Walaupun siomay lelek itu, gak bagus untuk kesehatan. Kan ada saosnya”, katanya.

“yes madam”.

Begitulah dia.

ketika sore, saat kami sudah sangat jenuh di rumah dan tidak ada yang bisa dimakan atau sedang malas mencari kudapan maka siomay inilah tempat pelarian kami

.

“qe lapar may?”tanyaku di suatu sore.

“tau aja mut. Lapar lah”, jawabnya.

“beli siomay yok”, ajakku.

“yok”. Kami pun bersiap. Menyulap diri. Pakai jelab, jaket dan rok, lelek siomay. Iam coming.

Pesanannya selalu sama. Bakso besar dan tahu. Selalu. Hanya kadang kadang mau bakso kecil. Porsinya pun sedikit. Hanya 3000. Berbeda dengan ku yang bisa 10.000.

Itulah dia. Dia tau berapa ukuran lambungnya. Makannya sederhana. Dia tidak suka berada dalam kondisi kekenyangan. Ah may!

Setelah membeli bakso, kami akan memakannya di depan rumah. Sambil menikmati sore. Sambil bercanda dan aku sering menunggu siomaynya bersisa. Karena jika iya bersisa, maka lambung ku masih cukup menampungnya. Dan dia tidak pernah kikir dengan itu. Hahaha. Always lup u.

Itulah siomay kesukaan kami, siomay yang selalu kami agung agungkan ke semua orang. Makanan pelengkap disaat kami kelaparan, dan teman menghabiskan sore bersama.

Saat sampai ke aceh nanti, insyallah aku akan makan siomay ini banyak banyak. Aku yakin tidak akan ada cilok yang dapat menandingi rasanya. Walau aku tau, sekarang aku harus memakannya sendirian. Ah ada getir saat mengingatnya. Bangbarung 3/4/15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s