stase kedua kami

Bagian ke dua koas adalah pulmonologi. Seperti yang sudah aku ceritakan, bahwa disetiap stase akan ada baca referat, jurnal atau kasus yang akan di akhiri oleh ujian. Nah, dibagian ini kami mengalami hal yang sama. Baca referat dan ujian. Bedanya di bagian ini, dokter yang membimbing baca referat juga akan menguji ketika ujian nanti.

Aku mendapat pembimbing referat dokter maimunah. Dokter cantik, imut imut dan tepat waktu. Berjodoh dengan maya. Pembimbing kami sama. Sedangkan teman sekelompok koas ku, leli dan pepe pembimbing referatnya adalah pak dekan. Dokter mulyani, dokter yang wanginya subhanaallah hingga aku sering mengekor dibelakangnya ketika visite.

Langsung saja kami menemui dokter maimunah selesai visite.

“maaf dokter, saya maya zammaira koas pulmo minggu 1. Pembimbing referat kami adalah dokter”, kata maya pelan.

“kamu?”, tanya dokter maimunah sambil menatap ku.

“saya mutia dokter, pembimbing saya juga dokter”, kataku.

“hmm, apa ya judul kalian”, beliau berhenti sejenak. “yasudah tentang farmakologi obat tb dan satu lagi farmakologi obat kanker paru. Terserah kalian mau yang mana”, kata dokter maimunah.

“terima kasih dokter”, kami mengucap terima kasih dan dokter maimunah berlalu. Hanya tinggal aku dan maya dengan secarik kertas bagi dua. Kami ingin mengundi siapa yang kena obat tbc dan siapa yang kena obat kanker. Dan aku mendapat tbc, sisanya maya.

Hingga minggu pertama usai aku belum menyentuh bahan referat. Beda dengan maya.

“udah sampek mana may referat qe?”tanya ku dari balik pintu.

“bab 2 tapi masih definisi mut”, katanya.

“qe?” tanyanya.

“belum may, capek x. Pulang jaga malam langsung tidur”, jawabku.

“buat terus mut. Awal minggu tiga kita baca kalau ngak, ngak bisa ujian”, jelasnya.

Aku terbakar. Harus, referat ini harus segera siap. Maya saya sudah kemana mana. Iyes, dialah panutanku. Yang selalu mengingatkan disaat aku sudah melenceng. You are the best may.

Selanjutnya di waktu waktu tanpa jaga, aku berjibaku dengan laptop dikamar dan maya juga melakukan hal yang sama di kamarnya.

“mut, hari ini kita konsul ya”, kata maya di hari rabu,

“hmmmm”,aku cuma bisa bergumam ragu.

“nanti kan di baca mut terus pasti ada yang harus kita revisi sama dokter mai, kalau bisa jumat udah acc naik baca referat kita”, jelasnya. Peraturannya memang begitu, baca dihari senin minggu ketiga setelah itu baru bisa ujian. Sabtu dan minggu hanya dokter jaga yang datang jadi tidak ada konsul referat di hari itu.

“oke may”, jawabku, padahal referat ku belum berbentuk. Bismillah saja.

xxxcc

Berjodoh, dokter maimunah visite hari itu. “nanti ke praktek saya saja ya”, katanya. Kami mengangguk.

Sore tiba, ketika banda aceh diguyur hujan rintik rintik aku dan maya dengan langkah tegap menuju tempat praktek dokter maimunah tercinta.

Begitu tidak ada pasien, kami masuk. Dokternya? Baik. Alhamdulillah.

“yasudah ini kalian perbaiki, kalau sudah siap emailkan ke saya ya”, katanya.

“baik dokter”, jawab kami. Lalu berpamitan.

“alhamdulillah ya may, dokternya baik”, kataku.

“iya mut, untung tadi kita nekat aja konsul padahal referat aku belom bagus bagus x”. Katanya.

“iya, yaudah masih ada waktu kita buat yang bagus, jangan kecewakan dokter maimunah may”, kataku.

“iyes”, dan kami tersenyum bersama. Walau langit mulai menggelap karena malam datang dan hujan turun tidak bereda, hati kami tetap bahagia malam itu.

xxxxx

Alhamdulillah setelah revisi, bolak balik mengirim email yang gagal, baca diundur hari selasa. Tapi akhirnya siang itu kami selesai baca.

Setelah membaca tampak gurat bahagia di wajah dokter may.

“bagus presentasi kawan kalian, ada yang mau bertanya?” kata dokter maimunah.

Hening.

“sepertinya sudah jelas semua tadi ya, yasudah jadi obat tb………… Dan obat kanker……”, dokter maimunah malah memberi penjelasan. Sesekali membenarkan apa yang telah kami sampaikan dan sesekali menambah informasi.

“baik saya tutup baca referat. Kalian ujian hari kamis ya. Assalamualaikum warrahmatullahiwabarakatu”. salam dokter maimunah dan beliau meninggalkan ruang baca referat.

“Waalaikum salam, baik dokter”, jawab kami hikmat.

xxxxxxx

“alhmadulillah may, usaha kita”, kataku saat ruang baca mulai sepi dan hanya tinggal aku dan maya disana. Membereskan perlengkapan baca tadi.

“iya mut, dokter maimunah senang”, kata maya sambil mengancungkan jempolnya. “tapi kita masih ada ujian mut”, sambungnya.

“iya may. Kita harus belajar giat”, kataku

“iyes”, dan kami akhirnya tersenyum bersama.

xxxx

Kamis tiba. Kami ujian selama 1 jam. Pertanyaan seperti bola di gilir. Dari aku ke maya lalu dari maya ke aku hingga kami lelah dan tidak bisa menjawab. Apa yang terjadi hari itu antara aku, maya dan dokter maimunah biarlah hanya kami dan allah yang tau.

Tapi apapun itu, siang setelah selesai ujian kami sama sama merasa bodoh , lucu, geli tapi alhamdulillah dan berjanji cerita ini hanya akan jadi milik kami berdua. Hanya kami berdua. Terima kasih dokter maimunah dan tima kasih ya Allah. esok lusa saat sesekali diantara kami mengingat kisah ini pasti akan berkomentar “aku gelik kali hari itu”. Hahahahahaha.

Semoga berkah. Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s