marina

Malam ini tidak sengaja siku ku tergores. Setelah aku telaah sepertinya dia kekeringan sehingga mudah terluka. Langsung saja aku pakai handbody pinjaman. Dan Sesaat sebelum tidur, bau handbody ini menguap sehingga baunya tertangkap saraf di hidung sehingga aku bisa menciumnya. Bau ini mengingatkan ku tentang si mata ramah.

Iyes, dia si mata ramah teman ku adalah penggila handbody. Tiada kesan tanpa kehadiranmu hand body. Begitulah kira kira. Baginya hand body bukan gaya hidup tapi itu kebutuhan hidup. Tangan maya hiperhidrosis atau keringat berlebihan. Basahnya bisa kebangetan. Kertas ujian saja bisa keriting ditangannya. Buku juga, bahkan bekas tempat duduknya bisa basah jika dia sedang hiperhidrosis.

Namun hal ini tidak selalu muncul. Seperti malam, pasti ada siang, begitu juga maya. Ada fase hiperhidrosis ada fase kekeringan. Jika sudah dalam tahap ini maka tangannya akan tandus, kering kerontang. Nah, disaat seperti inilah dia butuh “handbody” mana.

“tangan aku kering, ambel hand body aku mut disamping qe”, kata maya.

Aku langsung lempar handbody itu. Dan dia pun memakainya. “ngak tahan aku kering”. Itu katanya.

Dulu ketika SMA, fikrilah pelupur lara kering tangan itu. Mereka duduk berdua selama 2 tahun dan selama itu pula jika tangan maya kering, mereka akan berpegang tangan. “berbagi keringat”. Istilah mereka.9

Aku juga sering mendapat keberuntungan soal keringat ini. Jadi, jika tangannya terlalu banyak keringat, maya suka mengelapnya di tangan ku, maka setelahnya secara tidak langsung aku mendapat urut mengurut gratis. Tangan maya? “mantap kalau soal urut mengurut ini. Terima kasih maya.

Orang yang senasib dengan maya adalah nurlaily. Maka jika dua sejoli ini berkumpul dan membicarakan masalah “keringat” ini, sungguh klop.

“aku kalau udah kering may, susah kali buka plastik”, kata leli.

“aku juga lel”, sambung maya.

Atau sesekali saat aku usil. “ih maya ne, basah tempat dia duduk tadi laah”, kata ku.

“hahahaha, gemana jadi”, katanya.

“kami emang gitu e mut. Aku ngerti kali qe may”, jawab leli. Ah, aku mengalah.

Semua merk handbody sudah kami coba. Mana yang menarik hati saja. Itu yang kami pilih. Jika aku mampu menghabiskan handbody 3 bulan maka maya 1 bulan. Begitulah. Handbody bukan gaya hidup tapi itu kebutuhan baginya.

Hingga akhirnya suatu hari dia membeli handbody dengan merek marina. Waktu itu stok hand body ku masih ada, jadi aku tidak membeli marina.

Begitu sampai kerumah, langsung saja handbody itu di pakainya. Handbodynya wangi, tapi jika bercampur dengan keringat maya dari semua handbody ini yang paling “gak oke”. Baunya wangi tapi menyengat.

“ih may, menyengat kali”.kataku.

“gemana jadi, kering kali tangan aku”, kataya.

Atau sesekali.

“lempar handbody aku bentar mut”, katanya.

“marina?”, tanya ku.

“iya, lempar aja”, katanya

aku melemparkan marina yang tidak jauh dari ku. “bau x may”, kataku.

“wangi e”, jawabnya.

Akhirnya kami tertawa bersama.

Berkali kali aku selalu bilang “ngak oke”, hingga marina itu habis dia selalu bilang “biarin”. Dan akhirnya kami tertawa bersama. Iyes, maya dan handbody marinanya. Sampai hari ini aku masih ingat bau itu. Ah, begitu Banyak hal yang membuatku bisa teringat padanya. Bahkan bau hand body pun, bisa mengusik rindu ini. Baik baik disana best. Bogor 7/3/15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s