hujan yang dinikmati dengan cara berbeda

“hujan lagi”, bisikku dalam hati sambil menatap langit bojong gede. Tapi aku tetap melanjutkan langkah mencari angkot diseberang jalan. Aku akan pindah ke klinik di pancasan hari ini.

Alhamdulillah tidak begitu lama angkot yang aku tunggu datang. Angkot ini membawa ku stasiun kereta.

Hujan masih turun rintik rintik saat aku naik kereta. Tidak begitu deras. Kalau ingin diterobos, insyaallah kita hanya basah sedikit saja. Tapi saat kereta berhenti di stasiun bogor, hujan mulai deras. Tampak semua orang mulai sibuk mencari payung dari tas bawaan mereka masing masing. Dan aku juga melakukan hal yang sama.

Ini bukan pertama kalinya aku kehujanan di kota “hujan ” ini. Ini sudah yang kebeberapakalinya. Aku jadi teringat saat pertama sekali kehujanan disini. Saat itu hal yang pertama aku ingat adalah “rumah”. Tiba tiba aku rindu rumah. Rindu kehangatnnya. “hujan selalu mengoyak kenangan”, aku rasa benar adanya.

Dikota ini minimal 2 hari sekali hujan akan turun. Entah itu rintik rintik atau deras seperti ini. Suatu hari aku pernah bertanya pada kak putri, senior ku. Dia sudah lama tinggal di bogor.

“kak, disini hujan terus ya”. Kataku

“iya lah mut, kalau ngak siapa yang mau siram kebun raya bogor”. Jawabnya sambil tersenyum.

“hahaha”. Benar juga. Karena kebun raya bogor itu benar benar “raya”. Ah, cara Allah selalu lebih indah pikirku. Hujan dan kebun raya itu salah satunya.

Orang orang disini pun sudah maklum dengan hujan. Rata rata ketika berpergian mereka pasti membawa payung. Aku bahkan pernah melihat kakak kakak yang membawa tas se uprit dan rela menenteng payung kemanapun. Karena, hujan bisa datang kapan saja. Seperti hari ini. Tiba tiba hujan. Dan rata rata sudah siap sedia dengan payung masing masing.

Alhamdulillah hari ini hati ku tidak iba dengan “kehujanan di kota hujan ini” lagi. Begitu turun dari kereta, aku langsung menuju pintu keluar dan membentang payung bunga bunga warna ungu milikku. Ketika hendak keluar seorang bapak berdiri di depan ku.

Si bapak lalu mengayunkan tangannya memanggil anak kecil yang membawa payung. Lalu si anak mendekat, memberikan payung pada si bapak. Dan berjalan di depannya. Begitu di panggil si bapak untuk bergabung bersama, anak ini hanya tersenyum girang dan tetap berjalan di depan si bapak tanpa payung. Langkahnya berjingkrak dalam guyuran air hujan. Dari belakang aku tau dia bahagia. Dialah ojek payung.

Dulu ketika seumuran dengannya, aku juga suka jika diguyur hujan. Langkahku juga seriang itu jika diperbolehkan mandi hujan oleh mamak. Senyumku? Jangan tanyakan. Lebih lebar dari senyum anak tadi ketika bisa berguling guling di tanah liat ketika hujan.

Entah apa yang dirasakan anak tadi. Mungkin dia bahagia bisa mandi hujan sekalian bisa menambah uang jajan. Entahlah. Tapi senyum dan langkahnya menandakan dia bahagia dengan hujan yang turun hari ini. Sama sepertiku ketika aku seumuran dengannya. Senang ketika hujan turun apalagi jika boleh mandi hujan. Hanya saja aktivitas kami berbeda. Kami menikmati hujan dengan cara kami masing masing.

Dia tidak sendiri, ada banyak anak lain yang berkeliaran di sekitaran stasiun dengan payung mereka. Sampai aku naik ke angkot, aku masih melihat beberapa anak mengantar beberapa ibu dan bapak bapak hingga ke angkot. Lalu setelah diserahkan beberapa lembar uang, si anak pergi dengan senyum yang begitu indah.

Aku tersenyum melihat senyum itu. Walau sebenarnya ada sedikit “ngilu” ketika melihat bagaimana mereka menikmati hujan dengan cara mereka sendiri. Dengan badannya yang kurus, mereka berlari kesana kemari dengan payung, ketika mendapat penyewa beberapa berjalan bersama dalam satu payung dan beberapa malah mencuri kesempatan untuk mandi hujan. Setelah di beri uang mereka tersenyum kegirangan. Pergi dan melanjutkan aktivitasnya lagi. Sesuatu yang ketika aku seumuran mereka, aku bahkan tidak pernah membayangkan mampu melakukannya.

Saat itu aku bersyukur. Untuk masa kecil dimana hujan bagiku adalah waktunya bermain bukan untuk menambah uang jajan. Ya Allah, terima kasih untuk itu. Yah, setiap orang memang punya jalan hidup masing masing. Jalani dengan ikhlas saja dan terus tersenyum. Seperti anak anak ojek payung ini. Mereka menikmati hujan dengan cara “berbeda” tapi tetap tersenyum. Dan hari ini, aku mendapat senyum bukan dari mereka yang berpakain rapi dan bersih justru dari anak kecil yang sedang ngojek payung .

“Hujan yang dinikmati dengan cara berbeda” , Yang penting bahagia. Bisiku dalam hati. Seharusnya hidup juga begitu. Nikmati dia dengan cara kita agar kita tetap bahagia.

Untuk adek adek yang tetap menari ditengah hujan, terima kasih untuk senyum kalian hari ini. Semoga esok lusa senyum itu akan terganti dengan hal hal yang jauh lebih indah. Amin. Aku melanjutkan perjalanan menuju pancasan. Dan disepanjang jalan aku masih menemukan mereka yang menikmati hujan dengan cara yang berbeda. Sekali lagi semoga esok lusa, kalian bisa menikmati hujan dengan jauh lebih indah lagi. Amin. Bogor 20/3/15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s