masakan perdana

Bye bye d.15 sektor timur, darussalam banda aceh dan welcome 15.d kuta alam, banda aceh. Setelah 3 tahun akhirnya kami pindah rumah. Rumah maya sudah selesai di bangun, dan begitu berat bagiku meninggalkan si mata ramah oleh karenanya aku memilih kos dirumahnya. Dialah ibu kos kedua ku. Ibu kos cantik.

Setelah pindah kami setutuhnya mandiri. Memasak, mencuci, menyapu, bayar listrik, bayar air, bahkan mengurus adik adik. Iyess, kami duo kakak yang sok sok an aja hebat. Hahahahaa. “belajar dikit dikit”, itu niat kami.

Dari semua hal, yang benar benar baru bagi kami adalah memasak. Seperti yang sudah aku katakan bahwa aku tidak pernah memasak. Maka urusan ini mayalah koordinator lapangannya. Mulai dari pergi ke pasar, membersihkan ikan, merapikan belanjaan, memasak bahkan menata mejapun, maya ahlinya. Aku? Mengekor saja.

Nah, hari ini hari pertama kami mencoba memasak sendiri. Waktu itu pagi sekali kami sudah berencana kepasar. Aku dan maya. Ke pasar penayong, ini pasar yang paling dekat dengan rumah. Kami suka memakai baju gembel jika kepasar karena sepulang dari sana pasti bau. Kasian bajunya. Hahahaha. Jadi cukup dengan jaket atau baju kaos, celana yang tidak jelas lagi warna dan jelbab kami sudah siap cus keliling pasar. Ini yang aku suka dari berbelanja di pasar. Tidak ada yang peduli gaya anda.

begitu sampai dipasar yang kami tuju langsung pasar ikan. Mulai dari sisi paling kanan, lalu menuju ke tempat ibu ibu yang menjual ikan kecil yang sudah dibersihkan di sisi sebelah sana lalu menuju ke sisi selanjutnya yang penuh ikan besar besar hingga labirin pasar ikan itu berakhir pada ikan potong seperti rambe, kakap dan tuna.

Pertanyaan di pasar selalu sama “beli ikan apa kita mut?”, tanya maya.

Dan selalu aku menjawab “suka hati qe”.

“yang makan aku atau kita?”, katanya.

“hahahaha”, atau saat kesal dia akan jawab “udah, selalu aku tentuin, gk usah beli ikan aja”. Dia ngambek tapi tangannya tetap bekerja. Langsung saja “buk, ikan merah ini berapa satu tumpuk?” katanya walau sedang ngambek.

“20 ribu nak”, jawab si ibu

“yaudah tarok ya buk, tambahin dikit lah”, sambungnya. Itulah dia, selalu mencari solusi.

Pada awalnya aku diam, mengekor dari belakang, tapi lama kelamaan sedikit demi sedikit aku juga bisa. Malah lebih keren “mak, nyoe padum saboh tumpok?” hahahaha. Tapi kalau soal tawar menawar hingga sekarang ilmunya belum turun juga,

Ikan yang biasa kami beli adalah ikan kecil kecil, lalu ikan besar seperti tongkol, bandeng, mujahir atau ikan yang tidak jelas namanya yang penting besar. Ikan yang selalu tidak pernah absen adalah ikan rambe atau kakap potong dan teri medan. Selalu. Dengan sedikit variasi. Kadang kadang udang, ayam, bileh, dll. Nah, di masak perdana ini kami memilih ikan rambe besar.

Setelah membeli ikan, kami akan membeli bumbu seperti cabe, bawang dan tomat. Tepat disebelah kiri pasar ikan. Sejak awal belanja kami disana hingga sekarang belanja bumbu juga disana.

Setelah dari sana kami akan memburu sayur di tempat abang ceko. Aku memanggilnya demikian karena suatu hari aku pernah bertanya “bang, sayur nya di beli dimana?tanya ku.

Si abang menjawab “di ceko dek”.

Aku galau, “maksudnya?”.

“hahahaha, cot keuung. Tau dimana?”kata si abang.

“Hahahaha”, aku mengangguk. Ya taulah cot keung dimana. Sayur kesukaan kami adalah sayur campur dan yang tidak pernah alpa kami beli adalah tempe. Iyes kami penyuka tempe.

Nah, di hari pertama memasak ini, pulang dari pasar kami langsung membersihkan ikan yang kami beli. Yang aku ingat hanya ikan rambe besar. Selesai membersihkan ikan kami cus ke dapur.

“kita apakan ikan ini may?”tanya ku.

Berpandangan. Pandangan yang entah apa artinya.

“kita tumis aja”, katanya.

Akhirnya entah dari mana bumbu tumis itu didapat, asal saja potong bawang, cabe, dan blender dengan aweuh, asam sunti. Aduk aduk dan tumis.

“bismillah ya mut”? Katanya.

Aku mengangguk. Kalau memasak tumis menumis biasanya hanya butuh 15 menit tapi karena baru pemula kami butuh setengah jam. Tapi alhamdulillah akhirnya selesai.

“makan yok”, ajak maya. Inilah momen yang paling aku suka. Makan bersama. Apalagi kalau masakannya enak. Kami diam saat makan hanya keringat di dahi yang bicara atau gerakan hendak mencari tambahan yang berkata bahwa “masakan hari ini lezat”. Tapi sayang hari itu di hari pertama kami memasak. Setelah mencoba masakannya. Kami diam seribu bahasa.

Bukan karena lezat. Bukan. Buktinya tidak ada keringat yang keluar dan tidak ada gerakan yang bergerak ke rice cooker untuk mencari nasi tambah. Malahan nasi tadi saja masih tersisa banyak. Iyap. Karena masakan pertama kami gagal total. Ikannya terlalu lama dimasak, bumbunya tidak pas dan terlebih lagi masih bau amis. Kami salah membersihkan ikannya. Hahahahahahaha

Akhirnya sore itu kami membeli makan diluar. Huft. Menyerah? Tidak lah. Esok lusa saat nenek maya datang, saat nek mu maya datang, saat mimi maya datang kami belajar memasak dengan tetua tetua ini. Masakan mereka? Bagiku tidak ada duanya.

Yah, dari mereka kami belajar banyak. Tapi bagiku, aku juga belajar banyak dari maya. Si mata ramah. Walau sering di omeli karena sering asal asalan. “jangan banyak kali tarok garam, kira kira mut. Airnya dikit aja kalau tumis tempe, kecapnya jangan kebanyakan mut, palanya di rasa dulu”dll. Tapi aku selalu suka masak bersamanya. Selain 3 orang tadi di tambah ibu ku menjadi 4 maka yang kelima mengajarkan ku masaka adalah maya zammaira.

Kegiatan ini akan sangat aku rindukan. Semuanya. Mulai dari kepasar, membersihkan ikan dan bergosip hingga selesai, memasak walau sering kabur diujung ujung sesaat sebelum makanan kita masak, apalagi moment makan bersama. Ah, aku rindu sangat rindu.

Dari semua proses ini satu yang sangat aku ingat pesannya adalah “memasak itu harus sabar mut, kalau qe gak sabar ngak usah masak”. Dan iyes, saat aku tidak sabar maka ikan sering gosong, kuah kering, sambil manis, dll. Hahahaha. Tapi sedikit demi sedikit, walau masakan ku tidak enak si lidah orang, setidaknya aku sanggup memakannya. Dan hey you, terima kasih guru masakku maya zammaira.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s