naik commuter

Stasiun bojong gede
Stasiun bojong gede

“ini gemana dil?” tanya ku pada fadil sambil menunjukkan kartu kereta multi trip yang baru kami beli seharga 50.000 ribu di stasiun bogor.

“nanti tempelin aja mut di pintu masuk itu, ntar baru bisa lewatin palangnya”, kata fadil menjelaskan. Dia teman satu kuliahku. Dia dan nce lah yang mengantarkan kami ke stasiun kereta untuk menuju ke bojong baru. Ini sekaligus perpisahan karena nanti siang mereka akan kembali ke aceh dan berangkat lagi untuk intership.

Akhirnya sesuai arahan fadil dan nce, kami menempelkan kartu di mesin masuk dan pintu palang bisa dilewati. Lalu nce menginstruksikan kami untuk naik kereta arah jakarta kota.

“nanti turun di stasiun ke dua ya. Ntar dibilang kok stasiun bojong gede”, jelas nce.

“oke nce, makasih ya”, kata sinta.

“hati hati kalian”, kata nce lagi sambil melambaikan tangan.

Entah kenapa disitu saya merasa sedih. Mungkin karena baru berpisah dengan keluarga dan berduka, jadi suasana perpisahan sedikit menyayat hati.

“oke, makasih ya. Sukses inship nya”, kataku. Dan nce berlalu bersama fadil. Berbalik arah. Mereka melanjutkan hidup. Dan kami melanjutkan perjalan hidup kami. Aku, momo dan sinta. Karena kita punya garis hidup masing masing bukan? Bismillah. Semoga semuanya berkah amin.

DAN NAIK KERETA!

Wow! Wajar ya aku bilang wow. Karena nyaris seperempat abad aku belum pernah naik kereta. Ini untuk pertama kalinya. Bukan kereta api tapi kereta listrik. Disana tertulis commuter.

Commuter ini punya banyak gerbong. Yang paling depan dan paling belakang khusus untuk wanita. Didalamnya ada kursi sepanjang kereta. Berhadap hadapan. Dan di atas langit langit ada tempat untuk bergelantungan. Oh ya, commuter ini juga di dilengkapi air conditioner, jadi tidak ada asap rokok. Aku senang.

“dreeeeet. Dreeet”. Kereta melaju pelan. Di sepanjang jalan terlihat perumahan, bagian belakang rumah orang, perkantoran, jemuran baju, sekolah, mesjid, pertokoan hingga semak belukar. Tidak seperti yang ku bayangkan. Akan melihat hamparan persawahan yang hijau dengan sinaran matahari. Hahahahahaha. Aku terlalu banyak berimaginasi sepertinya. Dan inilah kenyataannya. Sepanjang perjalanan rel kereta, aku hanya melihat bangunan bangunan tadi. Karena tidak beraturan jadi terlihat berantakan. Namun, dari banyak hal yang tidak sesuai harapan, ada satu yang akhirnya “alhamdulillah”. Karena ternyata ada hamparan gunung yang menjulang tinggi tampak sesekali selama perjalanan. Kalau bukan gunung salak itu gungung situ gede. Aku suka saja melihatnya.

Penumpang nya beragam. Karena waktu itu masih siang, maka sebagian besar yang aku lihat adalah ibu ibu dengan anaknya, anak anak berseragam sekolah, bapak bapak dan wanita muda seumuran ku. aktifitas mereka beragam. Ada yang tidur, ada yang bercanda dengan teman temannya, ada yang asik dengan gadget masing masing lengkap dengan headset di kuping mungkin mereka sedang menonton, main game, mendengarkan musik atau sekedar membalas bbm, entahlah. Ada juga yang seperti ku. Asik mengamati sekitar sambil sesekali berdoa.

Sekitar 10 menit sudah terdengar “stasiun cilebut”. Iyes. Kami sudah sampai di stasiun pertama. Orang orang yang akan turun di stasiun ini sudah berdiri di depan pintu dari tadi. Bersiap turun. Lalu kereta kosong sesaat dan penuh sesaat kemudian digantikan dengan orang yang baru naik dari stasiun cilebut. Karena masih siang maka tempat duduk masih banyak yang kosong.

Sungguh mobilitas masyarakat disini sangat tinggi. Terlihat dari mereka yang bisa menikmati “menonton korea” di kereta sambil berdiri. Hanya mereka yang sudah sering dengan rutinitas ini yang bisa survive dengan aktivitas ini menurutku.

Lima menit kemudian “stasiun bojong gede”. “udah sampe cin”, kata ku pada sinta.

“iya mut”, katanya. Kami pun bergegas. Siap siap dengan tas ransel besar masing masing. Mirip pemudik lah. Pintu di buka. “streeet”. Semua juga bergegas. Berjalan dengan cepat mirip tergesa gesa. Mungkin ada banyak hal yang harus mereka segera selesaikan. Entahlah. “bahagia itu punya nilai yang berbeda bagi masing masing orang, bagi ku bisa berjalan di stasiun sambil menikmati  hari sore dan melihat gunung salak saja sudah oke”. Hahahahaha.

Dan kami melangkah pelan keluar. “oh ini stasiun bojong gede”. Kata ku dalam hati. Terlihat dua buah tempat menunggu kereta disisi kanan dan kiri dengan beberapa tempat duduk berwarna merah. Lalu terlihat tulisan exit. Langsung saja kami kesana, menempelkan kartu di palang pintu “registrasi selesai, saldo anda Rp. 48.000”. Iyes, hanya 2000 perjalanan naik commuter ini. Pintu palang terbuka, dan kami berburu angkot. Tujuan ku bojong baru dan momo bajong lama. Kami berpisah. Dan sekali lagi hari itu “saya merasa sedih”. Semoga kita bisa berjumpa lagi esok lusa ya mo.

Selanjutnya, commuter ini adalah sahabat kami. Jadwal jaga kami selalu begitu. Bolak balik stasiun dan naik commuter. Sejujurnya aku suka naik kereta, asal tidak bergelantungan saja. Walaupun pemandangan sekitar tidak seperti bayangan ku. Tapi tidak mengapa. Tetap asik. Esok lusa semoga perjalanan naik kereta ini bisa lebih lama. Dan semoga esok lusa Allah mengizinkan ku melihat pemandangan indah dan menakjubkan dari balik jendela kereta listrik. Tidak di indonesia, semoga jauh, jauh menyebang hingga ke benua lain. Amin. Bogor 4/2/15.

Advertisements

One thought on “naik commuter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s