stase kedua kami

Bagian ke dua koas adalah pulmonologi. Seperti yang sudah aku ceritakan, bahwa disetiap stase akan ada baca referat, jurnal atau kasus yang akan di akhiri oleh ujian. Nah, dibagian ini kami mengalami hal yang sama. Baca referat dan ujian. Bedanya di bagian ini, dokter yang membimbing baca referat juga akan menguji ketika ujian nanti.

Aku mendapat pembimbing referat dokter maimunah. Dokter cantik, imut imut dan tepat waktu. Berjodoh dengan maya. Pembimbing kami sama. Sedangkan teman sekelompok koas ku, leli dan pepe pembimbing referatnya adalah pak dekan. Dokter mulyani, dokter yang wanginya subhanaallah hingga aku sering mengekor dibelakangnya ketika visite.

Langsung saja kami menemui dokter maimunah selesai visite.

“maaf dokter, saya maya zammaira koas pulmo minggu 1. Pembimbing referat kami adalah dokter”, kata maya pelan.

“kamu?”, tanya dokter maimunah sambil menatap ku.

“saya mutia dokter, pembimbing saya juga dokter”, kataku.

“hmm, apa ya judul kalian”, beliau berhenti sejenak. “yasudah tentang farmakologi obat tb dan satu lagi farmakologi obat kanker paru. Terserah kalian mau yang mana”, kata dokter maimunah.

“terima kasih dokter”, kami mengucap terima kasih dan dokter maimunah berlalu. Hanya tinggal aku dan maya dengan secarik kertas bagi dua. Kami ingin mengundi siapa yang kena obat tbc dan siapa yang kena obat kanker. Dan aku mendapat tbc, sisanya maya.

Hingga minggu pertama usai aku belum menyentuh bahan referat. Beda dengan maya.

“udah sampek mana may referat qe?”tanya ku dari balik pintu.

“bab 2 tapi masih definisi mut”, katanya.

“qe?” tanyanya.

“belum may, capek x. Pulang jaga malam langsung tidur”, jawabku.

“buat terus mut. Awal minggu tiga kita baca kalau ngak, ngak bisa ujian”, jelasnya.

Aku terbakar. Harus, referat ini harus segera siap. Maya saya sudah kemana mana. Iyes, dialah panutanku. Yang selalu mengingatkan disaat aku sudah melenceng. You are the best may.

Selanjutnya di waktu waktu tanpa jaga, aku berjibaku dengan laptop dikamar dan maya juga melakukan hal yang sama di kamarnya.

“mut, hari ini kita konsul ya”, kata maya di hari rabu,

“hmmmm”,aku cuma bisa bergumam ragu.

“nanti kan di baca mut terus pasti ada yang harus kita revisi sama dokter mai, kalau bisa jumat udah acc naik baca referat kita”, jelasnya. Peraturannya memang begitu, baca dihari senin minggu ketiga setelah itu baru bisa ujian. Sabtu dan minggu hanya dokter jaga yang datang jadi tidak ada konsul referat di hari itu.

“oke may”, jawabku, padahal referat ku belum berbentuk. Bismillah saja.

xxxcc

Berjodoh, dokter maimunah visite hari itu. “nanti ke praktek saya saja ya”, katanya. Kami mengangguk.

Sore tiba, ketika banda aceh diguyur hujan rintik rintik aku dan maya dengan langkah tegap menuju tempat praktek dokter maimunah tercinta.

Begitu tidak ada pasien, kami masuk. Dokternya? Baik. Alhamdulillah.

“yasudah ini kalian perbaiki, kalau sudah siap emailkan ke saya ya”, katanya.

“baik dokter”, jawab kami. Lalu berpamitan.

“alhamdulillah ya may, dokternya baik”, kataku.

“iya mut, untung tadi kita nekat aja konsul padahal referat aku belom bagus bagus x”. Katanya.

“iya, yaudah masih ada waktu kita buat yang bagus, jangan kecewakan dokter maimunah may”, kataku.

“iyes”, dan kami tersenyum bersama. Walau langit mulai menggelap karena malam datang dan hujan turun tidak bereda, hati kami tetap bahagia malam itu.

xxxxx

Alhamdulillah setelah revisi, bolak balik mengirim email yang gagal, baca diundur hari selasa. Tapi akhirnya siang itu kami selesai baca.

Setelah membaca tampak gurat bahagia di wajah dokter may.

“bagus presentasi kawan kalian, ada yang mau bertanya?” kata dokter maimunah.

Hening.

“sepertinya sudah jelas semua tadi ya, yasudah jadi obat tb………… Dan obat kanker……”, dokter maimunah malah memberi penjelasan. Sesekali membenarkan apa yang telah kami sampaikan dan sesekali menambah informasi.

“baik saya tutup baca referat. Kalian ujian hari kamis ya. Assalamualaikum warrahmatullahiwabarakatu”. salam dokter maimunah dan beliau meninggalkan ruang baca referat.

“Waalaikum salam, baik dokter”, jawab kami hikmat.

xxxxxxx

“alhmadulillah may, usaha kita”, kataku saat ruang baca mulai sepi dan hanya tinggal aku dan maya disana. Membereskan perlengkapan baca tadi.

“iya mut, dokter maimunah senang”, kata maya sambil mengancungkan jempolnya. “tapi kita masih ada ujian mut”, sambungnya.

“iya may. Kita harus belajar giat”, kataku

“iyes”, dan kami akhirnya tersenyum bersama.

xxxx

Kamis tiba. Kami ujian selama 1 jam. Pertanyaan seperti bola di gilir. Dari aku ke maya lalu dari maya ke aku hingga kami lelah dan tidak bisa menjawab. Apa yang terjadi hari itu antara aku, maya dan dokter maimunah biarlah hanya kami dan allah yang tau.

Tapi apapun itu, siang setelah selesai ujian kami sama sama merasa bodoh , lucu, geli tapi alhamdulillah dan berjanji cerita ini hanya akan jadi milik kami berdua. Hanya kami berdua. Terima kasih dokter maimunah dan tima kasih ya Allah. esok lusa saat sesekali diantara kami mengingat kisah ini pasti akan berkomentar “aku gelik kali hari itu”. Hahahahahaha.

Semoga berkah. Amin

Advertisements

“selamat”

“Selamat”. Selamat wisuda dan selamat menjalani koas.

IMG_35619120426881MOmen paling ditunggu setelah kuliah adalah wisuda. Alhamdulillah akhirnya 10 mei 2012 kami diwisuda sarjana kedokteran. Dan itu artinya kami siap untuk menjadi dokter muda setelah wisuda selesai.

Seperti semua wanita yang akan diwisuda, kami sibuk mencari perlengkapan wisuda. Apalagi kalau bukan masalah jahit baju. Sejujurnya moment ini tidak begitu aku sukai dari rangkaian wisuda. Mencari bekal baju dan mencari model baju. Ribet. Andai saja wisuda cukup dengan baju seragam dan ditutup toga. Betapa menyenangkan wisuda itu.

Oleh karenya, aku dan maya sibuk membuka internet, instagram, atau majalah hanya untuk mencari model baju. Akhirnya ketemu. Modelnya biasa saja. Blus biasa. Setelah menentukan model berangkatlah kami kepasar. Dan seperti biasa masalah beli membeli ini selesai.

“yang ini cantik may?”, tanya ku.

“gedek gedek kali bunga rendanya mu, nampak tua”, katanya.

“kalau yang ini?”, tanya ku. Sambil menunjuk kain renda warna mirabella penuh dengan bunga bunga. Sebenarnya kain renda itu tidak jauh berbeda, ujung ujungnya kembali kepada paduan model jahitannya dan siapa yang memakainya. Tapi tetap saja bingung ketika memilihnya.

“ngak ok mut”, kata maya. Seperti yang sudah aku katakan. Urusan yang satu ini aku tidak ahli, jadi aku serahkan kepada ahlinya. Maya. Dia yang selalu tampil modis dan selera matanya keren.

Akhirnya setelah keliling pasar dan geleng geleng kepala, kami menemukan kain renda pink berpadu biru. Dimataku itu sudah sangat keren.

“aku biasa aja mut sama kainnya, tapi kalau qe suka beli aja”, itu katanya.

Aku sudah lelah mencari, ah biarkan saja yang ini. “oke may”. Kataku.

xxxxxx

Hari H tiba. Sebernya untuk urusan wisuda ini tidak hanya selesai pada tahap menyiapkan baju tapi juga menyiapkan penata rias. Hahahaha. Ribet. Urusan ini bukan sekedar di dandan selesai. Tapi ini urusan bangun pukul 3 pagi untuk berangkat ke tempat rias. Kenapa? Karena mengantri dan siapa cepat dia yang akan di siapkan duluan. Terlambat datang? Terlambat di make up dan terlambat ke tempat wisuda. Ah.

Di pagi hari H kami mendapat telpon bahwa yang akan mendandani kami tidak bisa datang. Seperti kebakaran jenggot pagi itu. Telpon sana dan telpon sini. Hanya tinggal 3 jam lagi. Tapi alhamdulillah ada tempat rias yang tidak begitu jauh dari rumah yang masih kosong. Sekejap. Hanya sekitar 20 menit selesai. Dan wajah kami berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa aku katakan.

Kami akhirnya berangkat. karena mamakku sedang sakit dan tidak bisa pergi sedangkan ayah maya sedang dinas ke luar kota, maka hari itu kami adalah sisa kelurga yang sebenarnya sedih anggotanya tidak lengkap tapi bisa saling melengkapi. Iyes. Kami berangkat berempat ke tempat wisuda.

Adku suka momen wisuda. Bagiku itu moment yang sakral. Tapi karena harus pakai baju bling bling, di dandan dengan bulu mata yang mengalahkan kemampuan otot levator palpebra, belum lagi sanggul yang mengalahkan gunung selawah, beratnya itu bikin sakit kepala ditambah lagi dengan high heels. Oh my god. Aku sering lelah menjalaninya.

xxxx

Prosesi 3 jam itu, alhamdulillah selesai. Alhamdulillah 3,5 tahun masa kuliah telah kami lalui dengan banyak suka dan duka. Bersama maya dan bersama gang bebek. Ada aku, maya, fikri, momo, nona, nyanyak, pi, pes, chaha, uci. Sebenarnya bukan gang, tapi karena kami sering bersama kemana mana makanya kami mirip anak bebek belum lagi kami semua naik motor metik. Lengkap sudah.

Siapakah mereka? Bukan orang lain, mereka adalah teman teman satu SMA. Hahahaha. Sebenarnya hal ini lemah sekali, masak sudah kuliah temannya itu itu saja. Iyes. Tepat. Kami berasa kerdil. tapi disinilah kami mendapat kenyamanan.

Tapi setelah wisuda ini selesai dan kami menjadi adek koas, pertemanan ini mencari muaranya masing masing. Karena waktu tidak selamanya mengizinkan kami bersama selamanya dan terus berada dalam zona aman ini. Iyes, setelah memasuki koas gang bebek hanya tinggal nama. Tapi dimanapun kalian, we still bestfriends. Aku dan maya? Tetap. Dan akan tetap bersama selama kami bisa.

Selesai proses wisuda, kami berfoto foto bersama. Sejenak. Foto tidak terlalu banyak karena kami tau insyaallah 2 tahun lagi kami akan menjalani hal yang sama lagi. Selanjutnya semua kembali kepada orang tua dan keluarga masing masing. Melanjutkan acara syukuran wisuda ini dengan cara sendiri sendiri. Begitu juga dengan aku dan maya. Kami pulang ke rumah setelah makan.

xxxx

Wisuda selesai, dan proses menjadi dokter muda, menjani pendidikan profesi selama 2 tahun siap kami jalani. Bismillah.

“besok kita mulai koas mut”, kata maya sambil memasukkan baju kedalam tas ranselnya. Bagian pertama kami adalah anak, dan di hari pertama maya langsung jaga malam.

“iya may, hadapi aja”, kataku. Walau sejujurnya ada getir dari kata “hadapi” saja.

“iyes, bismillah”, katanya. Dan sekali lagi kami tersenyum bersama.

“kita pasti bisa mut”, tambah maya. Aku mengangguk dan untuk kesekian kali kami tersenyum bersama.

Terkadang dengan meilhat semangatnya aku jadi semangat. Dan untungnya dia adalah sosok yang jarang mengeluh. Selelah apapun dan sesulit apapun jarang sekali dia mendesah tentang dunia. Walau dia tidak energik dan menggebu gebu dalam melakukan sesuatu, tapi yang pasti apapun itu dia akan menyelesaikan apa yang telah dia mulai tanpa pernah menunda dan mengeluh tentang itu. Pasti.

Bismillahirrahmanirrahim kita pasti bisa. Tanah baru, bogor 12/3/15

selalu “romantis”

011220101697“may, cepat may”, kata ku yang sudah siap di atas motor.

“iya mut, bentar”, terdengar suaranya dari balik pintu kamar. Beberapa saat kemudian dia muncul. Dengan baju cream, rok corakan hijau cream dan jelbab senada. Lengkap dengan tas coklatnya. Selalu cantik.

“qe selalu buru buru. Buku tutorial ada bawa? Buku blog ada bawa? Dan sejak kejadian pisang goreng itu, hal yang tidak pernah dia lupakan adalah “dompet” ada bawa?”, tanya nya. Sering sekali dia memastikan hal ini sebelum pergi. Dia tau aku sering tidak teliti.

“ada madam”, jawab ku. “cepat naik udah telat kita”, kataku.

“iya hai”. Dan kami pun melaju menuju kampus dengan motor bebek andalan. Butuh waktu sekitaran 15 menit untuk sampai kesana. Dan si mata ramah adalah penumpang setiaku. Entah sudah berapa km kami habiskan dijalan bersama.

Bagiku dia adalah teman boncengan yang sangat romantis. Ketika aku membawa motor dan memakai tas samping, dia selalu memeperhatikan detailnya. Begitu tas itu menjuntai kebawah, tak segan tangannya mengambil tas itu dan diletakkan kembali ke atas jok motor. Atau saat tali tas jatuh dari bahu ku, ringan saja dia meletakkannya kembali di atas bahu ini. Di teman boncengan yang paling perhatian. Dia tau apa yang kita butuhkan tanpa harus meminta terlebih dahulu.

Perasaannya lembut sekali dan matanya sangat jeli.

Atau saat aku membawa motor dengan sedikit kencang, begitu dilihatnya helm ku mulai lepas sedikit. Dengan lembut dia bilang.

“mut, sini biar aku ikat helm qe”. Katanya.

Aku memelankan motorku dan dia dari belakang menjulukan tanganya lalu mengikat ikatan tali helm. Setelah itu aku bisa cus kembali. Melaju kencang lagi. Ah romatis sekali wanita ini benakku. andai aku laki laki, maka aku akan jatuh cinta seribu kali dengan wanita imut ini.

Suatu hari saat aku hanya berdua dengan leli, entah mengapa pembicaraan kami menuju pada “maya si penumpang yang romantis”

“maya baik kali kan mut”, kataya membuka pembicaraan.

“iya lik, emank kenapa lik?” tanya ku.

“aku terharus kali waktu aku bonceng dia terus tas aku jatuh menjuntai, dia ambil tas aku. Terus waktu tali tas aku jatuh dari bahu, dia juga langsung ambil”, cerita leli.

“hahahaha, iya lik. Sama aku sering gitu. Qe sampe terharu lik?” tanya ku.

“”iya. Gak pernah ada yang gitu waktu aku bonceng”, jawabnya.

Dan kami tertawa bersama.

Suatu hari dompet ku jatuh karena aku letakkan di depan motor. Alhamdulilah ketemu. Sejak saat itu begitu dia melihat aku meletakkan dompet ditempat yang sama, dia akan menawarakan diri.

“sini dompet qe aku pegang”, katanya. “nanti jatuh lagi. Ngak pernah jera ya mut”, sambungnya sambil menengadah tangan meminta dompetku.

Aku hanya menyeringai. Memberikan dompet itu padanya. “makasih may”, kataku.

Dan kami siap melaju. Entah itu mencari kudapan sore, mencari swalayan untuk membeli handbody, kepasar, atau kemanapun. Selalu bersama selama kami bisa. Aku di depan dan dia belakang.

Satu hal yang paling dia tau mengenai aku adalah “aku tidak bisa kebut kebutan”. Tapi ketika suasana memaksa mau tidak mau aku harus berpacu dengan waktu. Dan saat itu aku harus mengencangkan kecepatan sepeda motor. Terpaksa di sepanjang jalan aku mengelakson siapa saja yang menghadang.

Saat dia sadar aku mulai mengebut, dia tidak pernah melarangku. Hanya pegangan tagannya yang mulai semakin erat di bajuku. Namun ketika dia sudah tidak tahan lagi dia baru mengeluarkan kata katanya.

“jangan ngebut mut, ngak apa lambat asal selamat”, katanya.

Tapi aku tetap saja. Menderu kencang. Saat itu, dia tidak akan mengucapkan hal yang sama untuk kedua kalinya. Hanya saja saat ada mobil yang menyelinap dari samping kanan atau ketika ada mobil yang jaraknya terlalu dekat dengan ku, dia akan menarik baju ku ke arah berlawanan, menjauh dari sumber kecelakaan sekencang yang dia bisa.

Karena gerakannya sering aku reflek menghindar. Dan alhamdulillah. Beberapa kali kami terhindar dari kecelakaan.

“jangan ngebut lagi mut” katanya.

“iyes may, tapi jangan kencang kali qe pegang baju aku”. Kataku.

“hahaha, aku takut mut”. Jawabnya.

Dan kami kembali melaju. Melaju dengan motor bebek kesayangan. Bersama selama kami bisa. Ah, dia sangat romantis. Apalagi dia Si mata ramah yang sedikit bicaranya. Terlihat cuek di luar karena diamnya. Tapi sesungguhnya dia amat luar biasa. Romantis tiada tara. Dan seperti yang selalu aku katakan, aksinya lebih banyak dari ucapankan. Sekali lagi, andai aku laki laki maka dia akan selalu membuatku jatuh cinta dengan sikapnya. Sekarang, saat motor ku terasa enteng ketika ku bawa, disitu aku sering merasa hampa. bogor 21/3/2015

hujan yang dinikmati dengan cara berbeda

“hujan lagi”, bisikku dalam hati sambil menatap langit bojong gede. Tapi aku tetap melanjutkan langkah mencari angkot diseberang jalan. Aku akan pindah ke klinik di pancasan hari ini.

Alhamdulillah tidak begitu lama angkot yang aku tunggu datang. Angkot ini membawa ku stasiun kereta.

Hujan masih turun rintik rintik saat aku naik kereta. Tidak begitu deras. Kalau ingin diterobos, insyaallah kita hanya basah sedikit saja. Tapi saat kereta berhenti di stasiun bogor, hujan mulai deras. Tampak semua orang mulai sibuk mencari payung dari tas bawaan mereka masing masing. Dan aku juga melakukan hal yang sama.

Ini bukan pertama kalinya aku kehujanan di kota “hujan ” ini. Ini sudah yang kebeberapakalinya. Aku jadi teringat saat pertama sekali kehujanan disini. Saat itu hal yang pertama aku ingat adalah “rumah”. Tiba tiba aku rindu rumah. Rindu kehangatnnya. “hujan selalu mengoyak kenangan”, aku rasa benar adanya.

Dikota ini minimal 2 hari sekali hujan akan turun. Entah itu rintik rintik atau deras seperti ini. Suatu hari aku pernah bertanya pada kak putri, senior ku. Dia sudah lama tinggal di bogor.

“kak, disini hujan terus ya”. Kataku

“iya lah mut, kalau ngak siapa yang mau siram kebun raya bogor”. Jawabnya sambil tersenyum.

“hahaha”. Benar juga. Karena kebun raya bogor itu benar benar “raya”. Ah, cara Allah selalu lebih indah pikirku. Hujan dan kebun raya itu salah satunya.

Orang orang disini pun sudah maklum dengan hujan. Rata rata ketika berpergian mereka pasti membawa payung. Aku bahkan pernah melihat kakak kakak yang membawa tas se uprit dan rela menenteng payung kemanapun. Karena, hujan bisa datang kapan saja. Seperti hari ini. Tiba tiba hujan. Dan rata rata sudah siap sedia dengan payung masing masing.

Alhamdulillah hari ini hati ku tidak iba dengan “kehujanan di kota hujan ini” lagi. Begitu turun dari kereta, aku langsung menuju pintu keluar dan membentang payung bunga bunga warna ungu milikku. Ketika hendak keluar seorang bapak berdiri di depan ku.

Si bapak lalu mengayunkan tangannya memanggil anak kecil yang membawa payung. Lalu si anak mendekat, memberikan payung pada si bapak. Dan berjalan di depannya. Begitu di panggil si bapak untuk bergabung bersama, anak ini hanya tersenyum girang dan tetap berjalan di depan si bapak tanpa payung. Langkahnya berjingkrak dalam guyuran air hujan. Dari belakang aku tau dia bahagia. Dialah ojek payung.

Dulu ketika seumuran dengannya, aku juga suka jika diguyur hujan. Langkahku juga seriang itu jika diperbolehkan mandi hujan oleh mamak. Senyumku? Jangan tanyakan. Lebih lebar dari senyum anak tadi ketika bisa berguling guling di tanah liat ketika hujan.

Entah apa yang dirasakan anak tadi. Mungkin dia bahagia bisa mandi hujan sekalian bisa menambah uang jajan. Entahlah. Tapi senyum dan langkahnya menandakan dia bahagia dengan hujan yang turun hari ini. Sama sepertiku ketika aku seumuran dengannya. Senang ketika hujan turun apalagi jika boleh mandi hujan. Hanya saja aktivitas kami berbeda. Kami menikmati hujan dengan cara kami masing masing.

Dia tidak sendiri, ada banyak anak lain yang berkeliaran di sekitaran stasiun dengan payung mereka. Sampai aku naik ke angkot, aku masih melihat beberapa anak mengantar beberapa ibu dan bapak bapak hingga ke angkot. Lalu setelah diserahkan beberapa lembar uang, si anak pergi dengan senyum yang begitu indah.

Aku tersenyum melihat senyum itu. Walau sebenarnya ada sedikit “ngilu” ketika melihat bagaimana mereka menikmati hujan dengan cara mereka sendiri. Dengan badannya yang kurus, mereka berlari kesana kemari dengan payung, ketika mendapat penyewa beberapa berjalan bersama dalam satu payung dan beberapa malah mencuri kesempatan untuk mandi hujan. Setelah di beri uang mereka tersenyum kegirangan. Pergi dan melanjutkan aktivitasnya lagi. Sesuatu yang ketika aku seumuran mereka, aku bahkan tidak pernah membayangkan mampu melakukannya.

Saat itu aku bersyukur. Untuk masa kecil dimana hujan bagiku adalah waktunya bermain bukan untuk menambah uang jajan. Ya Allah, terima kasih untuk itu. Yah, setiap orang memang punya jalan hidup masing masing. Jalani dengan ikhlas saja dan terus tersenyum. Seperti anak anak ojek payung ini. Mereka menikmati hujan dengan cara “berbeda” tapi tetap tersenyum. Dan hari ini, aku mendapat senyum bukan dari mereka yang berpakain rapi dan bersih justru dari anak kecil yang sedang ngojek payung .

“Hujan yang dinikmati dengan cara berbeda” , Yang penting bahagia. Bisiku dalam hati. Seharusnya hidup juga begitu. Nikmati dia dengan cara kita agar kita tetap bahagia.

Untuk adek adek yang tetap menari ditengah hujan, terima kasih untuk senyum kalian hari ini. Semoga esok lusa senyum itu akan terganti dengan hal hal yang jauh lebih indah. Amin. Aku melanjutkan perjalanan menuju pancasan. Dan disepanjang jalan aku masih menemukan mereka yang menikmati hujan dengan cara yang berbeda. Sekali lagi semoga esok lusa, kalian bisa menikmati hujan dengan jauh lebih indah lagi. Amin. Bogor 20/3/15

marina

Malam ini tidak sengaja siku ku tergores. Setelah aku telaah sepertinya dia kekeringan sehingga mudah terluka. Langsung saja aku pakai handbody pinjaman. Dan Sesaat sebelum tidur, bau handbody ini menguap sehingga baunya tertangkap saraf di hidung sehingga aku bisa menciumnya. Bau ini mengingatkan ku tentang si mata ramah.

Iyes, dia si mata ramah teman ku adalah penggila handbody. Tiada kesan tanpa kehadiranmu hand body. Begitulah kira kira. Baginya hand body bukan gaya hidup tapi itu kebutuhan hidup. Tangan maya hiperhidrosis atau keringat berlebihan. Basahnya bisa kebangetan. Kertas ujian saja bisa keriting ditangannya. Buku juga, bahkan bekas tempat duduknya bisa basah jika dia sedang hiperhidrosis.

Namun hal ini tidak selalu muncul. Seperti malam, pasti ada siang, begitu juga maya. Ada fase hiperhidrosis ada fase kekeringan. Jika sudah dalam tahap ini maka tangannya akan tandus, kering kerontang. Nah, disaat seperti inilah dia butuh “handbody” mana.

“tangan aku kering, ambel hand body aku mut disamping qe”, kata maya.

Aku langsung lempar handbody itu. Dan dia pun memakainya. “ngak tahan aku kering”. Itu katanya.

Dulu ketika SMA, fikrilah pelupur lara kering tangan itu. Mereka duduk berdua selama 2 tahun dan selama itu pula jika tangan maya kering, mereka akan berpegang tangan. “berbagi keringat”. Istilah mereka.9

Aku juga sering mendapat keberuntungan soal keringat ini. Jadi, jika tangannya terlalu banyak keringat, maya suka mengelapnya di tangan ku, maka setelahnya secara tidak langsung aku mendapat urut mengurut gratis. Tangan maya? “mantap kalau soal urut mengurut ini. Terima kasih maya.

Orang yang senasib dengan maya adalah nurlaily. Maka jika dua sejoli ini berkumpul dan membicarakan masalah “keringat” ini, sungguh klop.

“aku kalau udah kering may, susah kali buka plastik”, kata leli.

“aku juga lel”, sambung maya.

Atau sesekali saat aku usil. “ih maya ne, basah tempat dia duduk tadi laah”, kata ku.

“hahahaha, gemana jadi”, katanya.

“kami emang gitu e mut. Aku ngerti kali qe may”, jawab leli. Ah, aku mengalah.

Semua merk handbody sudah kami coba. Mana yang menarik hati saja. Itu yang kami pilih. Jika aku mampu menghabiskan handbody 3 bulan maka maya 1 bulan. Begitulah. Handbody bukan gaya hidup tapi itu kebutuhan baginya.

Hingga akhirnya suatu hari dia membeli handbody dengan merek marina. Waktu itu stok hand body ku masih ada, jadi aku tidak membeli marina.

Begitu sampai kerumah, langsung saja handbody itu di pakainya. Handbodynya wangi, tapi jika bercampur dengan keringat maya dari semua handbody ini yang paling “gak oke”. Baunya wangi tapi menyengat.

“ih may, menyengat kali”.kataku.

“gemana jadi, kering kali tangan aku”, kataya.

Atau sesekali.

“lempar handbody aku bentar mut”, katanya.

“marina?”, tanya ku.

“iya, lempar aja”, katanya

aku melemparkan marina yang tidak jauh dari ku. “bau x may”, kataku.

“wangi e”, jawabnya.

Akhirnya kami tertawa bersama.

Berkali kali aku selalu bilang “ngak oke”, hingga marina itu habis dia selalu bilang “biarin”. Dan akhirnya kami tertawa bersama. Iyes, maya dan handbody marinanya. Sampai hari ini aku masih ingat bau itu. Ah, begitu Banyak hal yang membuatku bisa teringat padanya. Bahkan bau hand body pun, bisa mengusik rindu ini. Baik baik disana best. Bogor 7/3/15

masakan perdana

Bye bye d.15 sektor timur, darussalam banda aceh dan welcome 15.d kuta alam, banda aceh. Setelah 3 tahun akhirnya kami pindah rumah. Rumah maya sudah selesai di bangun, dan begitu berat bagiku meninggalkan si mata ramah oleh karenanya aku memilih kos dirumahnya. Dialah ibu kos kedua ku. Ibu kos cantik.

Setelah pindah kami setutuhnya mandiri. Memasak, mencuci, menyapu, bayar listrik, bayar air, bahkan mengurus adik adik. Iyess, kami duo kakak yang sok sok an aja hebat. Hahahahaa. “belajar dikit dikit”, itu niat kami.

Dari semua hal, yang benar benar baru bagi kami adalah memasak. Seperti yang sudah aku katakan bahwa aku tidak pernah memasak. Maka urusan ini mayalah koordinator lapangannya. Mulai dari pergi ke pasar, membersihkan ikan, merapikan belanjaan, memasak bahkan menata mejapun, maya ahlinya. Aku? Mengekor saja.

Nah, hari ini hari pertama kami mencoba memasak sendiri. Waktu itu pagi sekali kami sudah berencana kepasar. Aku dan maya. Ke pasar penayong, ini pasar yang paling dekat dengan rumah. Kami suka memakai baju gembel jika kepasar karena sepulang dari sana pasti bau. Kasian bajunya. Hahahaha. Jadi cukup dengan jaket atau baju kaos, celana yang tidak jelas lagi warna dan jelbab kami sudah siap cus keliling pasar. Ini yang aku suka dari berbelanja di pasar. Tidak ada yang peduli gaya anda.

begitu sampai dipasar yang kami tuju langsung pasar ikan. Mulai dari sisi paling kanan, lalu menuju ke tempat ibu ibu yang menjual ikan kecil yang sudah dibersihkan di sisi sebelah sana lalu menuju ke sisi selanjutnya yang penuh ikan besar besar hingga labirin pasar ikan itu berakhir pada ikan potong seperti rambe, kakap dan tuna.

Pertanyaan di pasar selalu sama “beli ikan apa kita mut?”, tanya maya.

Dan selalu aku menjawab “suka hati qe”.

“yang makan aku atau kita?”, katanya.

“hahahaha”, atau saat kesal dia akan jawab “udah, selalu aku tentuin, gk usah beli ikan aja”. Dia ngambek tapi tangannya tetap bekerja. Langsung saja “buk, ikan merah ini berapa satu tumpuk?” katanya walau sedang ngambek.

“20 ribu nak”, jawab si ibu

“yaudah tarok ya buk, tambahin dikit lah”, sambungnya. Itulah dia, selalu mencari solusi.

Pada awalnya aku diam, mengekor dari belakang, tapi lama kelamaan sedikit demi sedikit aku juga bisa. Malah lebih keren “mak, nyoe padum saboh tumpok?” hahahaha. Tapi kalau soal tawar menawar hingga sekarang ilmunya belum turun juga,

Ikan yang biasa kami beli adalah ikan kecil kecil, lalu ikan besar seperti tongkol, bandeng, mujahir atau ikan yang tidak jelas namanya yang penting besar. Ikan yang selalu tidak pernah absen adalah ikan rambe atau kakap potong dan teri medan. Selalu. Dengan sedikit variasi. Kadang kadang udang, ayam, bileh, dll. Nah, di masak perdana ini kami memilih ikan rambe besar.

Setelah membeli ikan, kami akan membeli bumbu seperti cabe, bawang dan tomat. Tepat disebelah kiri pasar ikan. Sejak awal belanja kami disana hingga sekarang belanja bumbu juga disana.

Setelah dari sana kami akan memburu sayur di tempat abang ceko. Aku memanggilnya demikian karena suatu hari aku pernah bertanya “bang, sayur nya di beli dimana?tanya ku.

Si abang menjawab “di ceko dek”.

Aku galau, “maksudnya?”.

“hahahaha, cot keuung. Tau dimana?”kata si abang.

“Hahahaha”, aku mengangguk. Ya taulah cot keung dimana. Sayur kesukaan kami adalah sayur campur dan yang tidak pernah alpa kami beli adalah tempe. Iyes kami penyuka tempe.

Nah, di hari pertama memasak ini, pulang dari pasar kami langsung membersihkan ikan yang kami beli. Yang aku ingat hanya ikan rambe besar. Selesai membersihkan ikan kami cus ke dapur.

“kita apakan ikan ini may?”tanya ku.

Berpandangan. Pandangan yang entah apa artinya.

“kita tumis aja”, katanya.

Akhirnya entah dari mana bumbu tumis itu didapat, asal saja potong bawang, cabe, dan blender dengan aweuh, asam sunti. Aduk aduk dan tumis.

“bismillah ya mut”? Katanya.

Aku mengangguk. Kalau memasak tumis menumis biasanya hanya butuh 15 menit tapi karena baru pemula kami butuh setengah jam. Tapi alhamdulillah akhirnya selesai.

“makan yok”, ajak maya. Inilah momen yang paling aku suka. Makan bersama. Apalagi kalau masakannya enak. Kami diam saat makan hanya keringat di dahi yang bicara atau gerakan hendak mencari tambahan yang berkata bahwa “masakan hari ini lezat”. Tapi sayang hari itu di hari pertama kami memasak. Setelah mencoba masakannya. Kami diam seribu bahasa.

Bukan karena lezat. Bukan. Buktinya tidak ada keringat yang keluar dan tidak ada gerakan yang bergerak ke rice cooker untuk mencari nasi tambah. Malahan nasi tadi saja masih tersisa banyak. Iyap. Karena masakan pertama kami gagal total. Ikannya terlalu lama dimasak, bumbunya tidak pas dan terlebih lagi masih bau amis. Kami salah membersihkan ikannya. Hahahahahahaha

Akhirnya sore itu kami membeli makan diluar. Huft. Menyerah? Tidak lah. Esok lusa saat nenek maya datang, saat nek mu maya datang, saat mimi maya datang kami belajar memasak dengan tetua tetua ini. Masakan mereka? Bagiku tidak ada duanya.

Yah, dari mereka kami belajar banyak. Tapi bagiku, aku juga belajar banyak dari maya. Si mata ramah. Walau sering di omeli karena sering asal asalan. “jangan banyak kali tarok garam, kira kira mut. Airnya dikit aja kalau tumis tempe, kecapnya jangan kebanyakan mut, palanya di rasa dulu”dll. Tapi aku selalu suka masak bersamanya. Selain 3 orang tadi di tambah ibu ku menjadi 4 maka yang kelima mengajarkan ku masaka adalah maya zammaira.

Kegiatan ini akan sangat aku rindukan. Semuanya. Mulai dari kepasar, membersihkan ikan dan bergosip hingga selesai, memasak walau sering kabur diujung ujung sesaat sebelum makanan kita masak, apalagi moment makan bersama. Ah, aku rindu sangat rindu.

Dari semua proses ini satu yang sangat aku ingat pesannya adalah “memasak itu harus sabar mut, kalau qe gak sabar ngak usah masak”. Dan iyes, saat aku tidak sabar maka ikan sering gosong, kuah kering, sambil manis, dll. Hahahaha. Tapi sedikit demi sedikit, walau masakan ku tidak enak si lidah orang, setidaknya aku sanggup memakannya. Dan hey you, terima kasih guru masakku maya zammaira.

naik commuter

Stasiun bojong gede
Stasiun bojong gede

“ini gemana dil?” tanya ku pada fadil sambil menunjukkan kartu kereta multi trip yang baru kami beli seharga 50.000 ribu di stasiun bogor.

“nanti tempelin aja mut di pintu masuk itu, ntar baru bisa lewatin palangnya”, kata fadil menjelaskan. Dia teman satu kuliahku. Dia dan nce lah yang mengantarkan kami ke stasiun kereta untuk menuju ke bojong baru. Ini sekaligus perpisahan karena nanti siang mereka akan kembali ke aceh dan berangkat lagi untuk intership.

Akhirnya sesuai arahan fadil dan nce, kami menempelkan kartu di mesin masuk dan pintu palang bisa dilewati. Lalu nce menginstruksikan kami untuk naik kereta arah jakarta kota.

“nanti turun di stasiun ke dua ya. Ntar dibilang kok stasiun bojong gede”, jelas nce.

“oke nce, makasih ya”, kata sinta.

“hati hati kalian”, kata nce lagi sambil melambaikan tangan.

Entah kenapa disitu saya merasa sedih. Mungkin karena baru berpisah dengan keluarga dan berduka, jadi suasana perpisahan sedikit menyayat hati.

“oke, makasih ya. Sukses inship nya”, kataku. Dan nce berlalu bersama fadil. Berbalik arah. Mereka melanjutkan hidup. Dan kami melanjutkan perjalan hidup kami. Aku, momo dan sinta. Karena kita punya garis hidup masing masing bukan? Bismillah. Semoga semuanya berkah amin.

DAN NAIK KERETA!

Wow! Wajar ya aku bilang wow. Karena nyaris seperempat abad aku belum pernah naik kereta. Ini untuk pertama kalinya. Bukan kereta api tapi kereta listrik. Disana tertulis commuter.

Commuter ini punya banyak gerbong. Yang paling depan dan paling belakang khusus untuk wanita. Didalamnya ada kursi sepanjang kereta. Berhadap hadapan. Dan di atas langit langit ada tempat untuk bergelantungan. Oh ya, commuter ini juga di dilengkapi air conditioner, jadi tidak ada asap rokok. Aku senang.

“dreeeeet. Dreeet”. Kereta melaju pelan. Di sepanjang jalan terlihat perumahan, bagian belakang rumah orang, perkantoran, jemuran baju, sekolah, mesjid, pertokoan hingga semak belukar. Tidak seperti yang ku bayangkan. Akan melihat hamparan persawahan yang hijau dengan sinaran matahari. Hahahahahaha. Aku terlalu banyak berimaginasi sepertinya. Dan inilah kenyataannya. Sepanjang perjalanan rel kereta, aku hanya melihat bangunan bangunan tadi. Karena tidak beraturan jadi terlihat berantakan. Namun, dari banyak hal yang tidak sesuai harapan, ada satu yang akhirnya “alhamdulillah”. Karena ternyata ada hamparan gunung yang menjulang tinggi tampak sesekali selama perjalanan. Kalau bukan gunung salak itu gungung situ gede. Aku suka saja melihatnya.

Penumpang nya beragam. Karena waktu itu masih siang, maka sebagian besar yang aku lihat adalah ibu ibu dengan anaknya, anak anak berseragam sekolah, bapak bapak dan wanita muda seumuran ku. aktifitas mereka beragam. Ada yang tidur, ada yang bercanda dengan teman temannya, ada yang asik dengan gadget masing masing lengkap dengan headset di kuping mungkin mereka sedang menonton, main game, mendengarkan musik atau sekedar membalas bbm, entahlah. Ada juga yang seperti ku. Asik mengamati sekitar sambil sesekali berdoa.

Sekitar 10 menit sudah terdengar “stasiun cilebut”. Iyes. Kami sudah sampai di stasiun pertama. Orang orang yang akan turun di stasiun ini sudah berdiri di depan pintu dari tadi. Bersiap turun. Lalu kereta kosong sesaat dan penuh sesaat kemudian digantikan dengan orang yang baru naik dari stasiun cilebut. Karena masih siang maka tempat duduk masih banyak yang kosong.

Sungguh mobilitas masyarakat disini sangat tinggi. Terlihat dari mereka yang bisa menikmati “menonton korea” di kereta sambil berdiri. Hanya mereka yang sudah sering dengan rutinitas ini yang bisa survive dengan aktivitas ini menurutku.

Lima menit kemudian “stasiun bojong gede”. “udah sampe cin”, kata ku pada sinta.

“iya mut”, katanya. Kami pun bergegas. Siap siap dengan tas ransel besar masing masing. Mirip pemudik lah. Pintu di buka. “streeet”. Semua juga bergegas. Berjalan dengan cepat mirip tergesa gesa. Mungkin ada banyak hal yang harus mereka segera selesaikan. Entahlah. “bahagia itu punya nilai yang berbeda bagi masing masing orang, bagi ku bisa berjalan di stasiun sambil menikmati  hari sore dan melihat gunung salak saja sudah oke”. Hahahahaha.

Dan kami melangkah pelan keluar. “oh ini stasiun bojong gede”. Kata ku dalam hati. Terlihat dua buah tempat menunggu kereta disisi kanan dan kiri dengan beberapa tempat duduk berwarna merah. Lalu terlihat tulisan exit. Langsung saja kami kesana, menempelkan kartu di palang pintu “registrasi selesai, saldo anda Rp. 48.000”. Iyes, hanya 2000 perjalanan naik commuter ini. Pintu palang terbuka, dan kami berburu angkot. Tujuan ku bojong baru dan momo bajong lama. Kami berpisah. Dan sekali lagi hari itu “saya merasa sedih”. Semoga kita bisa berjumpa lagi esok lusa ya mo.

Selanjutnya, commuter ini adalah sahabat kami. Jadwal jaga kami selalu begitu. Bolak balik stasiun dan naik commuter. Sejujurnya aku suka naik kereta, asal tidak bergelantungan saja. Walaupun pemandangan sekitar tidak seperti bayangan ku. Tapi tidak mengapa. Tetap asik. Esok lusa semoga perjalanan naik kereta ini bisa lebih lama. Dan semoga esok lusa Allah mengizinkan ku melihat pemandangan indah dan menakjubkan dari balik jendela kereta listrik. Tidak di indonesia, semoga jauh, jauh menyebang hingga ke benua lain. Amin. Bogor 4/2/15.

sambal kecap

Bagi ku dan sinta “makan ikan bakar atau ayam bakar harus dengan kecap”. Harus. Kenapaa?. Karena memang begitu hari hari kami. Bahkan menurutku, begitulah gaya orang aceh maka ikan atau ayam bakar. Dengan kecap di campur potongan cabe rawit, tomat, bawang, jeruk nipis. jika pun beda, bedanya cuma sedikit. Ada yang bumbunya di potong atau di blender. Tapi apapun itu, tetap dengan kecap.

Hampir 1/4 abad kami dihadapkan makan dengan cara demikian, maka ini lah yang kami pikir selalu terjadi dimana mana. Hingga ahirnya kami sampai ke sini. Ke bogor. Karena menjadi seorang bag packer, maka makanan kami pun campur sari. Mulai dari nasi warteg, nasi sunda, soto bogor, sate madura atau sesekali jika ada nasi padang. Satu tempat yang belum pernah aku lihat di sini adalah “wong solo”, entah mengapa.

Nah, suatu hari kami membeli ikan bakar di warteg citayam, bogor utara. Bosan makan ayam terus terusan. Setelah di bungkus, kami kebingungan “kecap nya mana mas?”tanya ku.

“tidak ada kecap mbak, yang ada sambal. Mau?”katanya.

Kami menggeleng dan pergi. Ah, ikan bakar kali ini terasa hambar tanpa kecap.

Untung ketika ke pancasan, bogor barat kami menemukan warung padang, mungkin disini ada kecapnya. Langsung saja aku memesan “ayam bakar”, tetap setia. Tapi sekali lagi aku kecewa “tidak ada kecapnya neng”. Oh my god. Aku rindu kecap.

Lain aku, lain lagi sinta. Waktu itu kami di klinik galaxy. Bogor tengah. Di dekat klinik ada warung padang “empang” namanya. “aku bosan makan ayam mut”, kata sinta. Akhirnya dia memilih ikan bakar. Coba coba saja. Siapa tau berbeda. Hingga akhirnya makanan di antar.

Semangat sekali sinta membuka bungkusan nasi padang. Berharap dapat makan ikan bakar dengan kecap. Tapi untuk kesekian kalian nihil. Tidak ada kecap disana. “kok ngak ada kecap ya mut?”, tanya sinta.

“mungkin memang disini ngak pakek kecap cin”, jawab ku.

“mungkin abang itu lupa kasih”, katanya.

“hmmmm, bisa jadi cin”, kata ku.

“kita balek lagi aja yok”,ajak nya.

Akhirnya kami kembali ke warung nasi padang yang tidak begitu jauh dari klinik. Gagah gagahan saja. ” bang, kami yang tadi beli nasi disini pakek ikan bakar”, kata sinta.

“iya, kenapa neng?”,tanya si abang heran.

“kok ngak ada kecapnya ya?”, tanya sinta lagi.

“memang tidak ada kecapnya neng”, si abang senyum saja.

“makasih bang”, “yok mut”, ajak sinta. Sepanjang jalan kami tertawa. Membayangkan expresi si abang dan wajah polos kami. Hahahahaha. Ah, kami sungguh rindu kecap.

Tapi untuk kesekian kalinya kami tidak putus asa. Klinik permata di bojong gede, kembali ke bogor timur. Sekali lagi sinta membeli ikan bakar dan aku ayam bakar.

“bang, ada sambal kecapnya kan?” tanya sinta.

“oh, ada neng”, jawab si abang.

“akhirnya mut”, kata sinta. Ada pancaran bahagia dimatanya.

“kita, satu kecap berdua atau pisah pisah cin?”tanya ku pada sinta.

“aku ngak cukup sebijik mut, pisah aja”, katanya.

“oke”. Aku langsung saja mengabari si abang “bang, kecapnya pisah ya”, kata ku.

“duh neng, kecapnya di belakang”, kata si abang,

“lho”. Aku mulai bodoh sendiri. Tadi katanya ada kecap, sekarang kok udah di belakang. Maksudnya apa. Aku dan sinta saling melempar pandangan.

“jadi yang tadi sambal kecap apa bang?”, tanya ku.

“ini neng”, jelas si abang. Sambil menunjuk “sambal kecap” maksudnya. Berisi potongan cabe rawit dan air cuka.

“ini udah ada kecapnya neng, udah menyatu sendiri”, jelas si abang lagi.

“iyes bang”, jawab kami serentak.

“hahahahahaha”. Kami tertawa. “berarti jangan harapkan ada kecap pendamping ikan atau ayam bakar di bogor”. Itu kesimpulan kami untuk sementara.

“aku kepingin x makan kecap mut” kata sinta.

“aku juga”. Jawab ku sambil menghabiskan ayam bakar tanpa kecap itu. Hambar. Seperti makan sayur tanpa garam. Mungkin seperti yang sudah aku katakan. 1/4 abad kami habiskan dengan gaya makan ayam atau ikan bakar dengan kecap.

Baiklah, besok kami akan pindah ke kota bogor. Semoga disana ada warung padang dengan sambal kecap lezat, atau warung makanan apapun yang ada sambal kecapnya. Amin. Sesekali juga jika begini aku rindu aceh dan sambal kecapnya.

morning report terakhir

7 februari 2014

ruang mr tercinta.

Selesai MR
Selesai MR

hellllo, ini mr terakhir kami di penyakit dalam. Aku duduk disudut ruangan, ditemami matahari pagi dari balik jendelanya. Hangat sehangat suasana di dalam sini. Ada banyak teman disini, mulai dari teman seleting, adek leting, hingga kakak leting yang bentar lagi mau jadi dokter sejawat alias mau tamat.

Mr, alias morning report, adalah aktivitas rutin setiap pagi seminggu 5 hari. Disini kami mempresentasikan kasus semalam. Mulai dari pasien igd hingga pasien ruangan. Disinilah kebodohan kami muncul. Tapi inilah proses belajar, belajar dari ketidak benaran, agar kali depan bisa lebih pintar.

mr pertama mengerikan, di buka dengan dokter hendra yang marah marah karena slide mr gk siap. Sebenarnya slidenya udah siap tapi karena yang buat tiba tiba sakit maka terhentilah semua. Mr pertama kesannya seram. Namun itu hanya awalnya saja, karena setelahnya mr adalah hal biasa, dokter nya baik, lebih banyak mengayom dari pada marah marah.

Seperti dr riswan bilang “BUAT APA SAYA MARAH MARAH, ILMU UNTUK KALIAN GK ADA”. Love you dokter.

Mr paling terkesan itu, mr bersama dokter kurnia. Helllo mr kami 3 jam. Ilmunya memang gk banyak, tapi motivasinya luar biasa. Aku rasa beliau satu satu nya dokter yang tau semua kisah klise hidup kami.

Mulai dari kisah cito, tidur sepulang jaga, dan retetan keluhan kami. Misalnya “SAYA TAU KALIAN CAPEK, BELUM PUN PULANG UDAH DI TELPON ADA CITO. Kapan belajar nya?”. Kami sontak ketawa. Itulah adanya kami terlalu sering mengeluh dari pada berusaha, dan lebih sering bicara dari pada belajarnya. Oh mahasiswa yang penuh dilema.

Diakhir mr yang menggebu itu beliau berpesan, tetap semangat tetap belajar, hidup tidak seberat yang kalian pikirkan. Huft siang itu aku jaga malam, tapi semua kantuk memguap.

mr selanjutnya yang paling asik itu dengan dokter zaki mubarak. Dokter idola sejuta umat. “BERAPA SEDIAAN METFORMIN?”, kami terdiam. Oh helllllo, ngapain aja selama ini. Aku terpukur di atas sejadah. Oh waktu tu ku, oh perhatian ku oh oh oh. “belajarlah dari kasus, kami sama seperti kalian, tapi tetap sempat belajar. Tetap belajar, jangan cuma dapat capeknya aja”, BELAJAR DARI KASUS, KALAU UDAH TAMAT KALIAN GK BISA BALEK LAGI UNTUK BELAJAR DISINI, kecuali jadi PPDS”. Katannya. Wah, menusuk hingga ke tulang. Dan kami mulai terbakar.

Namun, Tetap pahlawan yang asik untuk di dengar itu dr hendra zufri. Hmm, terlepas dari semua yang udah terjadi, kalau dengar mr sama beliau dan fisit sama beliau pasti menyenangkan. Asal jangan kena tanya jawab aja. Hahahahaha

Kalau dokter nya gk datang inilah saat nya kami berekspresi, terutama yang jaga semalam, ini lah waktu yang paling tepat untuk tidur. Semuanya. Dengan semua gaya yang kami punya. Ini keahlian alam yang tidak perlu di pelajari sungguh sungguh. Ada yang bisa tidur sambil menunduk, ada yang menengadah kepala keatas, menutup wajah ke atas meja kursi, atau bersandar di dinding. Ada ada saja.

Nah, MR terakhir ini di bimbing oleh dokter kurnia, dan sekali lagi kami terbakar. Terima kasih penyakit dalam, terima kasih dokter pembimbing yang baik hati, para ppds, perawat, PDP, PDW, IGD. Terima kasih ya Allah untuk kesempatannya, semoga ilmunya berkah. Amin.