kudapan sore

Senja! Selalu saja indah. Apalagi senja di aceh. Selalu selalu menarik. Sayang jika dianggurin dan lewatkan begitu saja. Oleh karenanya, bagiku senja selalu punya cerita. Mulai dari hanya memandang langit langitnya yang mirip pelangi dari balik balik dedaunan di D. 15, atau lari lari kecil dengan motivasi diet di sekitaran sektor timur, mencari durian ke lapangan tugu hingga keliling banda aceh hanya untuk mencari kudapan sore.

Hampir setiap sore jika tidak ada kuliah atau aktivitas lain, aku dan si mata ramah alias maya akan mencari makan ringan. Kami adalah manusia yang tidak bisa kelaparan dan sering keroncongan si sore hari. Jika bosan dengan nasi goreng bang kari dan kios umi maka kami akan siap siap keliling simpang galon untuk mencari kudapan. Mencari makan sambil menikmati indahnya langit sore.

Abang yang selalu kami gerutui tapi selalau menarik kami kembali adalah abang burger di simpang galon darusaalam. Kami gerutui karena selalu saja lama menyiapkan burger atau roti bakar, tapi gayanya selangit. Namun tidak bisa di pungkiri, dari semua abang burger, inilah burger paling lembut sedarussalam yang kami tau.

Makanan kesukaan lain adalah sate. Bumbu kacangnya itu, subhanaallah. Pas. Gurih. Selalu. Abang ini biasanya mangkal tepat di depan kemilau ponsel. Dengan gerobak bertulis “Sate Padang”. Jika bosan makan di rumah, maka kami selalu lari kemari. Orang yang juga mengakui kelezatan sate abang satu ini adalah fikri. Pernah suatu hari dia rela pergi dari ule kareng ke darussalam hanya untuk membeli sate ini. Yes. Lezat.

entah lah. Entah sudah berapa macam kudapan yang kami sudah coba untuk menemani senja kami. Dan entah sudah berapa banyak cerita yang kami punya mengenai senja dan kudapan ini. Tapi ada satu cerita yang selalu kami kenang.

Nah waktu itu sore. Aku masuk kekamar maya dan mulai berdiskusi. Apapun itu, kami selalu berdiskusi. Diskusi yang pada akhirnya bisa berakhir dengan yes atau malah “makan dirumah saja”. Yang penting diskusi.

“makan apa kita sore ini may?” tanya ku. Ini pembuka diskusi.

“apa aja boleh mut, aku terserah qe”, jawab maya.

“aku juga terserah qe may”, jawab ku. Hahahaha. Begitu terus hingga kami lelah.

“yaudah beli pisang goreng aja”, kata may.

“oke, pakek baju terus may”, kataku. Aku langsung berganti pakaian. Pakaian ajaib yang aku punya. Rok, jaket dan jelbab. Lima menit urusan pakai baju ini selesai.

“may, jangan lama lama”, kataku. Iyes, aku sering tidak sabar.

“iya, jangan buru buru mut”, kata maya yang kepalanya muncul di balik tangga. “uang ada bawa kan? Aku ngak sempat ambil tadi, qe buru buru kali”. Jelas nya.

“beres may”, kataku.

Setelah siap, maka meluncurlah kami ke simpang galon. Ditemani matahari senja yang hangat. Melewati fakultas hukum, mesjid jami, lapangan tugu, fakultas ekonomi hinga akhirnya keluar gerbang UNSYIAH dan sampai di simpang galon. Tujuan kami pisang goreng BRI. Dibilang pisang goreng BRI karena tempat pisang goreng nya tepat di samping bank BRI. Aku sih sering menyebut pisang goreng seragam karena pegawainya pakai seragam semua.

Penjual pisang goreng ini bersungguh sungguh sekali dalam berjualan. Ada 3 kuali besar di depan toko dengan 2 orang yang menggoreng dan 2 orang yang memotong pisang, tempe dan tahu. Tampilannya tidak setengah setengah. Menyakinkan untuk urusan jual menjual pisang goreng. Dan rasanya memang tidak mengecewakan. Enak. Apalagi sambalnya. Maka tidak heran, tempat ini selalu ramai dan kami sering mengantri.

“berapa kita beli may?”tanya ku.

“15 ribu aja mut”, katanya.

Aku memesan pada abang yang stand by di dekat kuali. Sibuk dengan gorengannya. Si abang hanya mengangguk saat aku bilang “15 ribu, campur ya bang”.

Biasanya, yang beli membeli ini maya, tapi hari ini aku ingin saja turun. Ikut mengantri dengan maya. Sambil sesekali bercanda sambil ditemani matahari sore.

“ini dek, udah selesai”, kata abang pisang goreng berseragam orange hijau sambil memberikan sekantung plastik pisang goreng.

“oke bang, ini uangnya”, kataku sambil menyerahkan uang dari kantong. Polos saja.

Si abang bingung dan maya menyikut siku ku.

“mut, kasih uangnya”, katanya sambil berbisik.

“iya ini”, kata ku sambil mengulur tangan menyakinkan.

“itu kertas mut”, kata maya sambil tertawa.

Aku langsung sadar “ya allah bang, maaf maaf”. Memerah. Langsung aku merogoh kantong rok sekali lagi. Dan kosong. No money! Oh my god.

“may, aku salah ambil uang, kayaknya bukan uang uang tapi kertas”. Kataku. Pasi. Ingin tertawa tapi malu. Si abang melihat expresi kami yang mulai bodoh.

“kan aku udah tanya tadi, ada ambil uang”, katanya.

“iya salah aku”. Kataku.

“yaudah, ambil uang aja dulu. Aku tunggu disini”, solusi maya.Selalu. Si mata ramah yang tidak banyak bicaranya tapi banyak solusinya.

Iyes. Aku langsung pamitan dan minta maaf dengan si abang pisang goreng. Abangnya hanya tersenyum saja. Mungkin dia ingin tertawa tapi takut dibilang tidak sopan.. Aku Langsung meluncur dan kembali kerumah.

Hanya 5 menit. Aku sudah kembali lagi ke pisang goreng BRI. “bang ini uangnya, maaf ya”, kataku.

“iya, dek”, katanya.

Ah, malu malu sekali. Apa apan membayar pisang goreng dengan selembar kertas tanpa rasa bersalah.

“besok besok hati hati mut, jangan ceroboh dan buru buru, qe ngak lihat expresi muka abang itu. Dipikir kenapa adek ne, mau becanda? Kok garing ya”, kata maya sambil tertawa puas.

“yes madam”, kataku. Dan kami tertawa bersama. Lalu beranjak pulang. Bersama sekantong pisang goreng dan cerita uang kertas yang garing.

Ah senja, selalu saja punya cerita. Maka jika esok lusa aku dan maya duduk berdua bercerita tentang senja kami, maka berhari hari cerita itu tidak akan pernah ada habisnya. Ada saja.

Kebiasaan ini, kebiasaan senja ini, kebiasaan mencari kudapan walau hanya sekesar pisang goreng selalu kami bawa. Bersama kebersamaan kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s