doa yang di himpun

Catatan 7 tahun silam, yes!
Catatan 7 tahun silam, yes!

Tulisan itu aku tulis berdasarkan catatan 7 tahun silam. Saat masih kelas 2 SMA. Sungguh fantastis mimpi ku saat itu bukan? Alhamdulillah. Karena di usia remaja target hidup ku sudah sebombastis itu. Walaupun 1 tahun setelah nya, impian itu menemukan muara berbeda.

Aku tidak mengantongi izin dari orang tua untuk sekolah diluar aceh. Jadi, sejak tangan ini mengisi formulir SPMB hingga akhirnya pengumuman lulus keluar, urusan cita cita itu aku lupakan. Hanya sesekali saat mendengar cerita teman yang kuliah di ITB dan IPB aku akan berdecak kagum atau sesekali berkenalan dengan temannya teman yang kuliah disana aku akan mengatakan “hebat”. Selebihnya aku sudah biasa saja.

Takdir menempatkan ku untuk ikhlas melanjutkan sekolah di universitas jantung hatinya orang Aceh, Universitas Syiah Kuala. Hingga akhirnya aku menyelesaikan pendidikan. Dan teman teman ku yang kuliah di ITB dan IPB juga sudah menjadi sarjana.

xxxxx

“itu ruang apa kak?” tanya ku pada kak dara. Dia teman kosnya mutia langsa. Mutia itu teman satu SMA ku. Nama kami memang sama, tapi kami adalah dua manusia yang sangat berbeda. Mutia langsa adalah seorang yang sabar, lembut, penuh kasih sayang dan charming. Sedangkan aku? Hahahahaha.

“itu ruang wisuda dan penerimaan mahasiswa baru”, jelas kak dara.

“kalau kampus mutia dimana kak?”tanya ku lagi.

“itu lurus aja, tapi agak masuk kedalam”, jelasnya.

“ooo”. Kataku. Iyes. Sekarang aku sedang berada di kampus IPB di kawasan dramaga bogor. Hanya numpang makan pagi sebenarnya. Awalnya mutia mau mengajak kami makan di kampusnya, tapi karena dia ada kuliah pagi maka niat itu diundurnya. “kapan kapan kalau kalian libur lagi, tia ajak ke kampus tia ya”, katanya.

Dan pagi itu kami berpamitan dengannya. Setelah 2 hari jalan jalan di kota bogor. Ah hidup. Setelah 6 tahun berpisah karena mutia memilih kuliah di IPB dan aku di UNSYIAH, baru kali ini kami dipertemukan lagi. Tidak di aceh tapi jauh disini, menyeberang selat sunda. Kami malah bertemu di bogor. Dia melanjutkan pendidikan S2 dan kami melanjutkan hidup kami dengan cara berbeda. Jadi teringat cerita tiga minggu lalu. Seperti yang sudah aku ceritakan di “pagi yang tidak lagi sama”. Tiba tiba saja kami memutuskan mencari pengalaman dan memilih bekerja di bogor.

Tak lama setelah berpamitan dengan mutia, kak dara masuk ke kamar kami “kalian buru buru ke klinik?”tanya nya.

“ngak sih kak”, jawab sinta.

“memangnya kenapa kak?”tanya ku.

“ngak sih, mau aja kalian makan di kampus kakak”, lanjutnya. Kak dara juga tamatan IPB. Seorang dokter hewan yang sangat menarik.

“boleh kak”, aku antusias.

“oke, kakak siap siap dulu”. Katanya.

Dan akhirnya kami berangkat ke kampus IPB. Aku, sinta, momo dan kak dara. Kami masuk dari pintu samping. Di pintu awal tampak mahasiswa yang berlalu lalang, beberapa bangunan kampus termasuk yang aku tunjuk tadi. Ternyata itu ruang wisuda dan tempat penerimaan mahasiswa baru. Selain itu juga tampak deretan ATM dan kantin.

Alhamdulillah aku sampai juga di IPB, walau hanya menumpang makan. Setidaknya aku sudah melihat kampus IPB sebagian dan merasakan nuansa kuliah disana. Tujuh tahun doa itu di simpan Allah. Doa yang aku gantungkan tinggi di langit sana. Bisa kuliah di IPB dulu. Hari ini, doa itu di jawab dengan cara berbeda, waktu berbeda dan keadaan yang berbeda. Tapi, seperti apapun itu, alhamdulillah. Terima kasih ya Allah untuk kesempatan ini.

Apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah takdir terindah. Jalani dan nikmati. Tapi apapun itu, tetaplah berdoa dan tetap lah bermimpi. Dari banyak mimpi dan doa itu, kita tidak pernah tau mana yang akan di kabulkan, mana yang akan di dihimpun untuk akhirnya di jawab dengan cara berbeda dan lebih baik, atau yang akan Allah luputkan karena itu memang bukan yang terbaik untuk kita. Terus, teruslah bermimpi, berdoa dan berusaha.

Yap, Karena tujuannya makan, maka kami langsung menuju deretan warung yang menjual banyak makanan. Kami memilih berhenti di waung masakan sunda pilihan kak dara. Setelah makan, kami pamitan dengan kak dara. “terima kasih kak dara yang baik hati, terima kasih juga untuk ajakan dan sambutan hangatnya”. dan “terima kasih mutia untuk jamuannya dan jalan jalannya”, dan “ya Allah terima kasih untuk kesempatannya dan untuk doa yang kau himpun untuk akhirnya terwujud dalam banyak bentuk. Tetapkan lah hati hamba untuk terus bersyukur dan terus berusaha untuk memantaskan diri mewujudkan banyak mimpi yang hamba lukiskan dalam doa selama ini, dan berkahilah perjalanan ini”. Amin. Bogor, 25 februari 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s