pancasan!

C360_2015-02-21-17-55-28-479Alhamdulillah sampai juga ke bogor. Hey! Semoga menyenangkan dan bisa saling memberi manfaat ya. Bismillah. Itu salah satu niat saat aku melangkahkan kaki menuju ke klinik. Tempat aku akan mengaplikasikan ilmu.

Sistemnya, kami akan menjaga klinik 24 jam. Bisa 2×24 jam atau 3×24 jam. Terus pindah ke klinik lain. Untungnya aku dengan si cantik sinta amelia. Jadi, dunia tak sebosan yang dibayangkan. Nah, hari ini kami akan ke pancasan. Disana ada satu klinik beralamat di jalan pancasan no. 40, bogor barat.

Kalau di bandingkan dengan banda aceh, maka bogor adalah kuta raja dan pancasan adalah sibreh. Namun, jangan bayangkan tempat ini sesepi sibreh. Karena kalau urusan ramainya orang, banda aceh saja kalah dengan sibrehnya bogor. Iyes, mobilitas dan jumlah penduduk disini tinggi.

Pancasan itu bogor barat, terletak sekitaran 30 km dari kota bogor. Cukup 2 kali naik angkot dari stasiun bogor. Sepanjang jalan menuju pancasan dari stasiun, awal awalnya kita akan melihat banyak bagunan keren. Bangunan kota lah. Namun begitu turun di depan BTM (bogor trade mall) dan melanjutkan naik angkot menuju pancasan, maka yang terlihat adalah kumpulan ruko kecil. Sepanjang jalan. Entah itu menjual sepatu, warung padang, gorengan, pulsa, kios kecil, bengkel, dll. Penuh. Sehingga hanya tersisa sedikit badan jalan untuk mereka penjalan kaki. Menurut ku ini kejam. belum lagi mobilitas penduduk yang tinggi, jadi walau kota kecil disini sering macet. Aku sering kewalahan saat menyeberang. Apalagi hari libur.

Nah, biasanya kalau hari libur, jalan di pancasan atas ini akan lebih ramai dari biasanya. Maklum saja sekitaran 1 jam dari sini terdapat beberapa tempat pariwisata. Namun yang paling banyak pengunjungnya adalah pura agung parahyangan jagatkarta. Letaknya di kaki gunung salak. Yang merupakan pura terbesar di luar bali. Selain itu juga ada gong factory, yang merupakan pabrik gong paling terkenal se bogor. Umurnya sudah 200 tahun dengan 5 generasi penerus. Jadi, hari libur adalah hari tersibuk di jalan pancasan ini. Sibrehnya bogor di sebelah barat akan macet.

Selama beberapa hari disini aku bahkan tidak pernah melihat persawahan. Namun untungnya pancasan ini dekat gunung salak. Jadi walau tidak ada hamparan sawah, disini lumayan adem lah. Di depan klinik layaknya jalan sepanjang bogor, penuh dengan pertokoan. Ada toko kue, kios kecil, tukang gigi, mesjid, dan toko kosong. Lalu dikiri dan kanan klinik ada toko kosong, bengkel, tempat makan, penjual jus, apotik, dll. Intinya full dengan toko. Kota ini eksis sekali. dibelakang klinik ada sungai. Iyes sungai. Bendungan sungai tepatnya. Jadi ada deru air yang keras di belakang sana. Dan karena letaknya yang diperbukitan maka deru air sungai terdengar dan tampak jelas dari belakang klinik. Jadi, kalau di depan kita mendengar deru kendaraan makan ke belakang kita mendengar deru sungai. Alhamdulillah. Tidur malan disini menyenangkan.

Begitu sampai, aku dan sinta di sambut adik adik manis. Ada linda dan rika. Ternyata mereka bertiga. Satu lagi indi. Merekalah patner kami selanjutnya dalam urusan pekerjaan ini. Ketiga nya orang sunda. Ah, aku sering kewalahan saat mereka mengeluarkan bahasa daerah sendiri. Aku hanya bisa menjawab “bodo teing”. Yang artinya bodo amat. Hahaha. Mungkin karena bahasanya jarang aku dengar, jadi lebih susah bisanya dari pada bahasa jawa. Disini aku merasa”oh, begini rasanya jadi minoritas”. disini aku cuma bisa senyum senyum saja ketika mereka mengeluarkan senjata ampuh bahasanya.

Karena kota ini padat, maka jangan risaukan masalah makanan. Banyak. Di perempatan jalan ada warung nasi padang, tidak jauh dari sana ada semacam tempat makan gahul, ada juga warteg, kalau malam ada sate, bakso, bubur, gorengan. Ah, jangan takut kelaparan disini. Rasanya? Sesuai selera. Kalau nasi warteg aku sukanya yang di citayem. Mirip masakan rumah. Kalau disini hambar. Kalau bakso? biasanya tanpa mie kuning aceh, sambalnya juga beda. Sehingga rasanya beda. Jadi, kalau disini kami lebih suka makan nasi padang. Lebih berasa dilidah. Bukan karena makanan lain tidak enak tapi tidak sesuai lidah saja.

Hal yang sering membuat saya sedih adalah malam minggu disini. Anak mudanya sering balap balapan. Masih kecil, masih seumuran jagung. Tapi udah keren kerenan di jalan raya. Ujung ujungnya kecelakaan dan berakhir berdarah. “disitu saya sering merasa sedih”. Masih muda, tapi buang buang energi, ide, tenaga untuk hal yang sia sia. Kadang kadang teringat adik sendiri. Saat mereka datang ke klinik dengan badan penuh luka. Ya allah lindungi keluarga kami. Amin.

Tapi selebihnya, iyes. Alhamdulillah disini enak. Pasiennya lumayan banyak, baik baik, tindakan lumayan banyak, adik adiknya baik, makanannya banyak, ada suara azannya lagi. Yap, apapun kondisinya kita harus tetap menjalaninya dengan bahagia, syukuri. Agar semua kebaikan meresap kedalam dada. Semoga penuh berkah. Amiin. Dan lusa kami akan pindah ke citayem. Kembali naik angkot dan kembali naik kereta ke bogor utara. Semoga setiap langkah di beri kemudahan dan kebaikan. Amin. Bogor 21/2/15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s