blok digestive

Jadi mahasiwa kedokteran ngak seasik yang dibayangkan, kecuali bagi orang orang yang benar benar menyukai regulasi hidup yang itu itu aja. Tutorial, skillab, pratikum, kuliah dan diakhiri dengan ujian. Regulasi hidup yang selalu sama . Berulang setiap 2 bulan setelah kami selesai ujian. Karena dikampus menggunakan sistem blok, maka setiap habis blok yang biasanya 2 bulan sekali itu, kami ujian. Lalu mulai lagi. Tutorial, skillab, pratikum, kuliah dan ujian lagi.

Dan kali ini, tidak terasa sudah ujian yang ke 9 saja. Ujian blok digestif. Sistem belajar kami masih sama seperti dulu. Masih setengah gila. 2 minggu sebelum ujian, kami sudah mempersiapkan bahan untuk di baca. Lalu sedikit demi sedikit mempelajarinya. Targetnya bisa baca dua kali. Dengan bahan yang seabrek itu, sekali baca saya rasa tidak lengket. Maka setiap ada waktu luang kami belajar. Aku dan maya tentunya.

Kami sudah mempersiapkan makanan. Ah, sulit belajar ketika perut lapar. Jadi jauh hari kami sudah ke swalayan tanjung untuk membeli makanan ringan.

“bahan dokter fauzi udah baca may?”, tanya ku.

“udah mut”, jawab maya.

“EH, aku belom. Gk bisa, aku harus kejar qe”. Kata ku.

“tenang mut, aku belum baca bahan dokter hendra jufri”, katanya.

Hahahahaha. Begitu selalu. Hingga kami tua mungkin. Kalau urusan hafal menghafal, maya tidak ada duanya. Dia mampu menghafal hingga titik dan koma.

“may, coba qe jelaskan dulu definisi gasrtritis”, kata ku.

“jadikan mut gastritis itu…………….. …”, jelasnya. Persis di bahan kuliah. Kata dan saja tidak pernah alpa. Kalau urusan ini memang keahliannya sejak SMA. “aku ngak enak hati hafal setengah setengah mut”, katanya. Iyes may, i know. Always on the right side.

Sesekali saat aku tidak bisa anatomi, mayalah yang menjelaskan. “jelaskan may anatomi sirkulus wilisi itu”, kataku.

“gampang e mut. Anggap aja lingkaran, tapi ada pintu depan samping dan belakang. Ingat aja arteri utamanya apa, terus tinggal hapal cabang pintu pintunya”, jelas maya. Maya suka anatomi. Lecek buku sobotaku tak sebanding dengan leceknya buku sobota maya.

Belajar dengannya juga akan sering membuat kita mengenal jembatan keledai. Ada saja singkatan nya. Padahal dia tidak pernah membaca buku yang judulnya mind map atau buku sejenisnya. Tapi urusan membuat jembatan keledai, dia ahlinya. Terkadang saat aku sulit menghafal sesuatu aku selalu minta bantuannya.

“may, cara qe hafal sirosis gemana maya?”, tanya ku.

“aku singkat jadi NRF mut, nekrosis, regenerasi dan fibrosis mut. Itu kan satu proses yang berkelanjutan mut”. Katanya.

“iyes may”. Ah so inspiring girl. penyemangat belajar yang tidak pernah pudar. Selalu. Cukup melihatnya berkutat dengan bahan kuliah, dapat membakar semangat dan membuang semua kemalasan yang datang. “terbakar”. Aku tidak tau dari mana energi secontinue itu datang. Sebelum jam 23.00 dia masih sanggup belajar. Lalu, apapun cerita tetap tidur dan esok pagi bangun dan belajar lagi. Akhirnya aku tau, semuanya berasal dari

Pembiasaan diri yang kita sebut disiplin. Always on the righ side may.

Alhamdulilah 2 jam ujian dan selesai. Selesai satu blok lagi. Kami mirip seperti orang yang sedang menyusun anak tangga. Setiap dua bulan 1 anak tangga hingga lengkap 21 anak tangga. Setelah ujian kami selalu makan makan. Kami disini adalah aku, maya, fikri, nona, momo, uci, cha cha, nyanyak. Masih teman teman mosa juga. Kami mirip anak bebek. Nanti akan aku ceritakan tentang geng bebek kami ini.

Nah, karena akhir blok digestif dekat dengan libur tahun baru, maka libur blok di perpanjang. Alhamdulillah. We need vocation. Selalu. Bahkan haus liburan.

“seminggu libur. Kalau pulang ke kampung sebentar kali”, kataku pada maya di beranda atas.

” pulang ke sigli aja yok mut, ajak fikri juga”, kata nya.

“betol may?” tanya ku tidak percaya.

“betol lah, itu kan rumah qe juga mut. Nti kita buat kue dirumah aku”. Jawabnya.

Ah aku tidak akan menolak untuk urusan ini. Jalan jalan. Melihat kota sigli. Maya, dia selalu hangat. Selalu menerima ku apa adanya dan menjadikan ku bagian dari keluarganya. Mayaaa, i loup u. Nah, libur ujian digestive ini aku liburan ke sigli. Yang esok lusa, bertahun berlalu, sigli sudah menjadi kampung kedua. Karena terlalu sering pulang ke sigli aku bahkan merasa sigli adalah kampung sendiri. Always feel like home. Terima kasih maya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s