nasi goreng kami

“Masih hujan May”, kata ku pada Maya sambil mengintip air hujan yang terus turun dari balik jendela.

“yaudah, kita tunggu aja mut”, kata Maya. Menoleh ke arahku sesaat lalu kembali pada bukunya dengan posisi khas menungging. Buku yang berisi soal soal untuk masuk perguruan tinggi. Waktu itu namanya SNMPTN (seleksi nasional masukperguruan tinggi negeri). Dan aku pun beranjak kembali ketempat semula mengambil buku dan kami pun larut kedalamnya sambil menahan lapar yang sangat.

Sekarang kami sedang masa bimbingan belajar untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Untuk sementara waktu aku tinggal di rumah saudara Maya, sahabat yang kukenal sejak 3 tahun lalu. Tidak terasa sudah 3 tahun saja aku mengenal si mata ramah. Rumah saudara maya tidak begitu jauh dari tempat bimbel dan bagi kami yang belum bisa naik kendaraan pribadi, rumah ini adalah rumah idaman karena dengan beberapa langkahan kaki kami sudah sampai ke tempat bimbel. Tapi sayang, karena isinya para mahasiswa semua maka kami harus mengurus diri sendiri termasuk urusan makan. Sialnya hari ini kami terkuring di rumah karena hujan dan tidak ada makanan.

Krek..krek.,krek…suara bunyi perut seseorang. Mataku langsing awas, mencari sumber bunyi. Tiada lain dan tiada bukan itu adalah suara perut Maya.”suara perutmu May, sampai kemari bunyinya”. Maya duduk sekitar 3 langkah dari ku.

“hahahaha, tau aja Mut. Aku kelaparan, jujur tidak bisa fokus mengerjakan soal matematika ini”. Jelasnya. Yap, sebenarnya sejak awal saat maya mengatakan tunggu saja hujan reda aku ragu. Aku kenal betul siapa dia. Tiga tahun cukup untukku tau. Dia bisa saja belajar dalam kondisi setengah tidur tapi dia tidak akan bisa tahan belajar dalam kondisi lapar. Apalagi sekarang , sejak tadi pagi kami belum makan dan sekarang sudah pukul empat sore. Harus aku akui, sejak lulus dari SMA semangat belajar kami bukannya malah turun tapi semakin menjadi jadi. Kami mirip orang yang terobsesi dengan soal soal. Aktivitas kami hanya selain makan dan tidur tidak lain dan tidak bukan adalah melahap semua soal. Tapi untuk kali ini kami tidak akan kenyang hanya dengan mengerjakan soal soal ini.

Aku bangkit. Kondisi ini tidak layak dipertahankan, kami bisa pingsan karena hipoglikemi nanti. “Ke dapur yok May, mungkin ada sisa makanan”, ajakku.

Maya bangkit dan langsung ke dapur. Sayang berjuta sayang, sesuai dugaan tidak ada apa apa disana.

“Mut, cuma ada ini. Tapi aku tidak yakin basi atau tidak”, kata maya sambil menunjuk nasi di dalam rice cooker. Aku mendekat dan mencium nasi tersebut untuk menyakinkan.

“nyaris basi may, tapi belum”, jawabku yakin. Aku tidak tau apa yang ada di pikirannya saat ini. Yang aku tau dua anak manusia setengah remaja setengah dewasa ini sedang kelaparan dikurung hujan dengan semangkung nasi nyaris basi.

“kita goreng aja mut, biar baunya hilang. Pasti kita tidak akan sanggup makan nasi yang nyaris basi itukan?” maya menjelaskan mantap. Tanpa memikirkan jawabanku dia langsung mengambil bawang dan cabai.

Aku terdiam. Pikiran ku berputar. Tapi aku kelaparan. “memangnya kamu bisa masak may?”

Maya menggeleng tapi tangannya terus mengupas bawang, “kita coba saja”. Katanya. Itulah dia. Selalu. Sedikit bicara banyak kerjanya.

“baiklah”. aku tidak mengerti masalah masak memasak. Ibu jarang mengizinkan ku mengacaukan dapurnya dulu. Terlebih lagi tiga tahun sisa hidupku, aku habiskan di asrama. Sehingga bisa apa aku. Berbeda dengan maya. Ibunya selalu mengabsen dia dan adiknya untuk memasak bersama. Soal masak memasak walau tidak mahir Maya bisa.

Jadi, ketika maya katakan “coba saja”, aku yakin setengah dari dirinya yakin bisa. Aku langsung membantunya membersihkan cabai dan menyiapkan blender. Untungnya rumah ini masih punya bumbu masak dan kompor gas.

Kami masak sesuka hati, berexperimen sesuka jiwa dengan cabai, bawang, tomat dan kecap. Tujuan utama nasi goreng dari nasi yang nyaris basi.

“harum mut”, kata maya setelah memasukkan kecap kedalamnya adukan nasi dan bumbu ala kami.

“iya may. Sekarang kita tinggal beri garam dan masak ini selesai”. Aku beranjak mengambil garam di sudut meja. Dan setelah beberapa kali dirasa, akhirnya pedas dan asinnya pas. Nasi goreng kami siap untuk disantap.

“ayo kita makan may, biar konsen belajar”, kataku. Senangnya bisa makn walau dengan nasi nyaris basi.

Kami makan bersama, tanpa suara. Melahap semuanya secepat yang kami bisa walau tanpa lauk. Alasannya hanya dua. Pertama agar tidak menimang nimang apakah nasinya masih berbau atau tidak dan yang kedua agar tidak meneteskan air mata ketika memakannya.

“akhirnya habjs juga Mut. Aku kenyang, yah, walau nasinya nyaris basi tapi tadi tidak terciumkan baunya?” Maya sumringah sekali. Urusan makanan baginya memang tidak ada tawar menawar. Padahal badannya langsing, mirip penyanyi korea dengan kaki seukuran pensil anak taman kanak kanak. Seperti kataku. Always on the right side. Selalu harus makan walau sedikit.

“iya ya may. Besok-besok kita harus punya penyimpanan makanan may biar tidak terjebak dalam kondisi ini lagi”. Kata ku serius.

“iya, mari salat ashar”. Kami bangkit dan pergi salat. Diluar masih hujan, makin lebat malah tapi tak apa karena perut kami sudah terisi. Dan wahai kau soal soal kami siap menghadangmu lagi. Untuk cita cita kami, cita cita yang sudah kami ukir sejak jauh hari.

Tahun pun berlalu. Kami sekarang bukan anak remaja tanggung lagi. Umur kami nyaris akan seperempat abad dan selama 6 tahun setelahnya kami selalu bersama menjadi duo Maya dan Mutia. Dimana ada Maya disitu ada Mutia. Kami melewati rintangan bersama, sedih berdua, dengan sekali tertawa dan sering kali adu bicara. Dia sahabatku malah menurutku dia saudaraku. “saudara itu bukan masalah darah, tapi siapa yang menyanyangimu dan yang kau sayangi”. Menurutku itulah kami.

samakah sifat kami? Tidak, kami bagai langit dan bumi. Bagai air dan api. Tapi justru karenanya kami saling melengkapi dan saling menjaga. Karena kau saudaraku maka tidak ada kata mantan saudara, oleh karenanya selama kau akan menjadi bagian dalam hidupku. 17/7/14

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s