Ulang Tahun

Bagi banyak remaja, momen ulang tahun adalah hal yang spesial. Bagi kami yang tinggal diasrama, merayakan ulang tahun teman juga hal yang spesial, terutama untuk orang spesial. Ada yang diberi bunga, di beri kue, dilempari telur, disiram, atau di telpon abang abang dari radio. Ah, banyak sekali jenisnya.

 

Nah, waktu itu si mata ramah akan ulang tahun. Aku dan fikri pun mulai menyusun rencana.

 

“fik, jadi kita kasih kejutan untuk maya?”tanya ku.

 

“jadi mut”, jawab fikri.

 

“waktu dia masuk kamar mandi, kita siap siap diluar dengan ember masing masing ya”,kata ku lagi. Serius

 

“oke, oke. Oh ya handuk dia kita simpan dulu”, kata fikri.

 

“oh, boleh boleh fik”, jawab ku. Kami selesai dengan rencana yang sederhana ini. Ini hanya kejutan di ulang tahun maya. Niat kami hanya itu. Murni. Hanya ingin menyiram saja. Ide inipun terispirasi dari salah satu teman yang juga dapat kejutan serupa beberapa hari lalu.

 

Malam datang. dan sesuai prediksi, maya masuk kamar mandi. Begitu dia masuk, aku dan fikri langsung menyembunyikan handuk maya. Lalu bergegas mengambil ember masing masing dan mengisi air. Kami pun setia menunggu maya di luar kamar mandi. Begitu dia keluar “burrr, kejutan. Selamat ulang tahun maya”. Itu rencananya.

 

Namun, waktu berlalu dan maya tidak kunjung keluar kamar mandi.

 

“yaudah, aku matiin lampu barak ya”, kata ku. Ah, aku memang usil. aku pun keluar, mematikan sakelar listrik di ruang tamu.

 

berlahan. “tep”. Lampu barak mati. Aku, fikri dan ternyata teman teman lain juga muncul sangat menanti maya keluar. Namun, dia tidak kunjung muncul dari balik pintu kamar mandi.

 

ah, sepertinya dia tau ide kami.

 

“may, ngak keluar qe?” tanya ku.

 

“jangan siram siram aku, aku ngak mau mut”. Katanya. Iyes dia ternyata sudah bisa menebak langkah kami yang tidak seberapa ini. Sungguh pintar.

 

Akhirnya kami diam. Tidak mau mengalah. Tetap menunggu diluar tanpa suara hingga beberapa menit kemudian.

 

Berlahan maya mengambil langkah dan “krek” pintu kamar mandi terbuka dan “burrrr”. Dua ember air membasahi tubuh maya.

 

“selamat ulang tahun may”, kata ku dan fikri.

 

Namun maya menerima siraman tanpa penolakan, mengacuhkan kami dan langsung masuk kamar. Matanya seolah bercahaya.

 

Aku mulai gusar, mata itu tidak seperti biasa. Mata yang selalu ramah kini tidak berasa.

 

“mana handuk aku mut,”tanya nya.

 

Aku yang ketakutan langsung masuk kamar dan menyerahkan handuk curian kami padanya.

 

Maya langsung masuk kembali ke kamar mandi. Setelahnya dia masuk kamar dan tidur. Tanpa suara. Tanpa kata. Sunyi. Bahkan ucapan selamat ulang tahun kami pun tidak mendapat balasan.

 

Si mata ramah akhirnya marah.

 

aku gusar sekali. Tidak pernah dia seperti ini. Kami hanya ingin buat kejutan padanya. Kejutan di hari ulang tahunnya. namun berujung nestapa.

 

Pernah dengar pepatah bilang “marah yang paling mengerikan adalah marahnya orang yang tidak pernah marah dan marah yang paling mematikan adalah di diamkan”. Itu lah yang akhirnya aku dan fikri rasakan. Didiamkan oleh orang yang tidak pernah marah karena dia akhirnya marah. Kami diam diaman selama 1 hari.

 

Akhirnya aku minta maaf. aku salah. Sudah sejak awal dia katakan “jangan”, tapi aku tetap saja “iya”.

 

“May, maafin kamilah. Kami cuma bercanda”. Aku memulai percakapan. Mewakili diriku sendiri dan fikri.. Aku mencoba menatap mata yang sedang bergemuruh itu. Ada sendu disana. Mungkin dia juga tidak nyaman dengan suasana begini.

 

“iya may”, kata fikri lagi.

 

“padahal udah aku bilang jangan, kalian tetap aja. Padahal selama ini aku ngak pernah becandain kalian kan?” katanya.

 

Ah bagai di tikam. Semakin bersalah jadinya. Karena benar. Tidak pernah sekalipun dia usil. Jangankan usil merepotkan orang lain saja dia segan. Always on the right side. You, yes you.

 

“tapi yaudah, jangan diulang lagi ya”, lanjutnya.

 

“alhamdulillah”. Akhirnya dia memaafkan kami. Dan kami tertawa bersama lagi. Maafin kami ya may. Esok lusa kami tidak akan menjahili qe lagi. Dan yap, tepat setelah hari itu tidak ada perayaan aneh atau kejutan aneh di hari ulang tahunnya. Aku seram membayangkan mata yang selalu ramah itu berubah marah dan lebih tidak tahan jika orang yang tidak pernah marah justru mendiamkan ku karena dia sedang marah. Seram sekali rasanya.

 

Dan yap. Seperti katanya “mengapa mengganggu? Jika aku tidak pernah menganggu?”. Sekali lagi maaf, maaf maaf kan aku maya. Maafkan aku my best. Maafkan aku mata ramah. Dan maaf untuk semua hal yang mungkin aku luput menggapnya dosa padahal kau sakit hati karenanya. Maaf untuk semuanya. Aku takut jika maaf ini tidak tersampaikan. Peluk cium untuk mu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s