kudapan sore

Senja! Selalu saja indah. Apalagi senja di aceh. Selalu selalu menarik. Sayang jika dianggurin dan lewatkan begitu saja. Oleh karenanya, bagiku senja selalu punya cerita. Mulai dari hanya memandang langit langitnya yang mirip pelangi dari balik balik dedaunan di D. 15, atau lari lari kecil dengan motivasi diet di sekitaran sektor timur, mencari durian ke lapangan tugu hingga keliling banda aceh hanya untuk mencari kudapan sore.

Hampir setiap sore jika tidak ada kuliah atau aktivitas lain, aku dan si mata ramah alias maya akan mencari makan ringan. Kami adalah manusia yang tidak bisa kelaparan dan sering keroncongan si sore hari. Jika bosan dengan nasi goreng bang kari dan kios umi maka kami akan siap siap keliling simpang galon untuk mencari kudapan. Mencari makan sambil menikmati indahnya langit sore.

Abang yang selalu kami gerutui tapi selalau menarik kami kembali adalah abang burger di simpang galon darusaalam. Kami gerutui karena selalu saja lama menyiapkan burger atau roti bakar, tapi gayanya selangit. Namun tidak bisa di pungkiri, dari semua abang burger, inilah burger paling lembut sedarussalam yang kami tau.

Makanan kesukaan lain adalah sate. Bumbu kacangnya itu, subhanaallah. Pas. Gurih. Selalu. Abang ini biasanya mangkal tepat di depan kemilau ponsel. Dengan gerobak bertulis “Sate Padang”. Jika bosan makan di rumah, maka kami selalu lari kemari. Orang yang juga mengakui kelezatan sate abang satu ini adalah fikri. Pernah suatu hari dia rela pergi dari ule kareng ke darussalam hanya untuk membeli sate ini. Yes. Lezat.

entah lah. Entah sudah berapa macam kudapan yang kami sudah coba untuk menemani senja kami. Dan entah sudah berapa banyak cerita yang kami punya mengenai senja dan kudapan ini. Tapi ada satu cerita yang selalu kami kenang.

Nah waktu itu sore. Aku masuk kekamar maya dan mulai berdiskusi. Apapun itu, kami selalu berdiskusi. Diskusi yang pada akhirnya bisa berakhir dengan yes atau malah “makan dirumah saja”. Yang penting diskusi.

“makan apa kita sore ini may?” tanya ku. Ini pembuka diskusi.

“apa aja boleh mut, aku terserah qe”, jawab maya.

“aku juga terserah qe may”, jawab ku. Hahahaha. Begitu terus hingga kami lelah.

“yaudah beli pisang goreng aja”, kata may.

“oke, pakek baju terus may”, kataku. Aku langsung berganti pakaian. Pakaian ajaib yang aku punya. Rok, jaket dan jelbab. Lima menit urusan pakai baju ini selesai.

“may, jangan lama lama”, kataku. Iyes, aku sering tidak sabar.

“iya, jangan buru buru mut”, kata maya yang kepalanya muncul di balik tangga. “uang ada bawa kan? Aku ngak sempat ambil tadi, qe buru buru kali”. Jelas nya.

“beres may”, kataku.

Setelah siap, maka meluncurlah kami ke simpang galon. Ditemani matahari senja yang hangat. Melewati fakultas hukum, mesjid jami, lapangan tugu, fakultas ekonomi hinga akhirnya keluar gerbang UNSYIAH dan sampai di simpang galon. Tujuan kami pisang goreng BRI. Dibilang pisang goreng BRI karena tempat pisang goreng nya tepat di samping bank BRI. Aku sih sering menyebut pisang goreng seragam karena pegawainya pakai seragam semua.

Penjual pisang goreng ini bersungguh sungguh sekali dalam berjualan. Ada 3 kuali besar di depan toko dengan 2 orang yang menggoreng dan 2 orang yang memotong pisang, tempe dan tahu. Tampilannya tidak setengah setengah. Menyakinkan untuk urusan jual menjual pisang goreng. Dan rasanya memang tidak mengecewakan. Enak. Apalagi sambalnya. Maka tidak heran, tempat ini selalu ramai dan kami sering mengantri.

“berapa kita beli may?”tanya ku.

“15 ribu aja mut”, katanya.

Aku memesan pada abang yang stand by di dekat kuali. Sibuk dengan gorengannya. Si abang hanya mengangguk saat aku bilang “15 ribu, campur ya bang”.

Biasanya, yang beli membeli ini maya, tapi hari ini aku ingin saja turun. Ikut mengantri dengan maya. Sambil sesekali bercanda sambil ditemani matahari sore.

“ini dek, udah selesai”, kata abang pisang goreng berseragam orange hijau sambil memberikan sekantung plastik pisang goreng.

“oke bang, ini uangnya”, kataku sambil menyerahkan uang dari kantong. Polos saja.

Si abang bingung dan maya menyikut siku ku.

“mut, kasih uangnya”, katanya sambil berbisik.

“iya ini”, kata ku sambil mengulur tangan menyakinkan.

“itu kertas mut”, kata maya sambil tertawa.

Aku langsung sadar “ya allah bang, maaf maaf”. Memerah. Langsung aku merogoh kantong rok sekali lagi. Dan kosong. No money! Oh my god.

“may, aku salah ambil uang, kayaknya bukan uang uang tapi kertas”. Kataku. Pasi. Ingin tertawa tapi malu. Si abang melihat expresi kami yang mulai bodoh.

“kan aku udah tanya tadi, ada ambil uang”, katanya.

“iya salah aku”. Kataku.

“yaudah, ambil uang aja dulu. Aku tunggu disini”, solusi maya.Selalu. Si mata ramah yang tidak banyak bicaranya tapi banyak solusinya.

Iyes. Aku langsung pamitan dan minta maaf dengan si abang pisang goreng. Abangnya hanya tersenyum saja. Mungkin dia ingin tertawa tapi takut dibilang tidak sopan.. Aku Langsung meluncur dan kembali kerumah.

Hanya 5 menit. Aku sudah kembali lagi ke pisang goreng BRI. “bang ini uangnya, maaf ya”, kataku.

“iya, dek”, katanya.

Ah, malu malu sekali. Apa apan membayar pisang goreng dengan selembar kertas tanpa rasa bersalah.

“besok besok hati hati mut, jangan ceroboh dan buru buru, qe ngak lihat expresi muka abang itu. Dipikir kenapa adek ne, mau becanda? Kok garing ya”, kata maya sambil tertawa puas.

“yes madam”, kataku. Dan kami tertawa bersama. Lalu beranjak pulang. Bersama sekantong pisang goreng dan cerita uang kertas yang garing.

Ah senja, selalu saja punya cerita. Maka jika esok lusa aku dan maya duduk berdua bercerita tentang senja kami, maka berhari hari cerita itu tidak akan pernah ada habisnya. Ada saja.

Kebiasaan ini, kebiasaan senja ini, kebiasaan mencari kudapan walau hanya sekesar pisang goreng selalu kami bawa. Bersama kebersamaan kami.

Advertisements

second home

IMG_54796864490267
Jalan jalan ke bate iliek

Seperti yang pernah aku katakan, tawaran pulang kesigli amat sangat menggiurkan. Nah, setelah ujian berangkatlah aku, maya dan fikri ke sigli. Jaraknya sekitaran 2 jam dari banda aceh dengan bang wan. Pemilik l300 langganan maya.

Sampai disana sekitaran magrib. Setelah salat kami jalan jalan bersama mimi, ayah, haura dan agil. Haura dan agil adalah adik maya yang ke 4 dan ke 5. Mereka seperti tom and jerry tapi sesekali mereka seperti anna dan elsa di film frozen.

Kami hanya duduk santai di sebuah warung kopi sambil menikmati sepiring sate. Disekeliling banyak warung sejenis. Warung kopi. Iyes, semua tau kalau aceh adalah daerah dengan seribu warung kopi.

Keesokan harinya kami pergi ke bateliek. Sekitar 2 jam dari sigli. Aliran sungai yang dipenuhi bebatuan besar. Yang dijadikan objek wisata. Disana pertama kali aku bertemu asma dan yusniar. Teman satu kampus yang karena terlalu banyak mahasiswa kami bahkan tidak punya kesempatan berbicara. Baru disini, di bateliek ini untuk pertama kalinya kami bertegur sapa. Bertahun kemudian, merekalah teman seperjuangan kami selama 2 tahun dalam perkoasan. Ah, hidup.

Namun, sebelum sampai ke bateliek, kami singgah sebentar di kampung ayah maya. Di meredu. Sekitar 1 jam dari sigli. Kami mengunjungi nenek maya. Ayah maya punya banyak saudara. Namun yang aku kenal hanya

beberapa. Ada cek ros yang selalu diceritakan kebaikannya oleh maya, cek kakak, cek sri dan adik ayah yang terakhir. Namun, begitu sampai disana, hanya beberapa yang kami jumpai. Sedikit demi sedikit aku tau

beberapa saudara maya. Bisa melalui berkenalan langsung melalui acara kunjungan pulang kampung seperti ini, atau saat mereka mengunjungi maya ke banda aceh atau melalui cerita cerita maya yang selalu menarik untuk aku dengar. Tidak tau orangnya yang mana, yang penting tau namanya.

Satu tempat favorit di meredue yang tidak akan pernah aku lupakan adalah “mie caluk lapangan sepak bola”. Enak nya luar biasa. 4 jempol. Dulu aku selalu mendengar cerita “mie caluk meredu”. Alhamdulillah akhirnya bisa makan langsung di tempat. Dan iyess, tidak mengecewakan. Mie caluk nya pas, bumbunya gurih. Kalau kalian berkunjung ke meredue, jangan lupa ke mie caluk ini ya. Pasti ketagihan.

Selesai dari bateiliek dan meredeue kami kembali ke sigli. Besok harus kembali kebanda aceh. Liburan yang singkat memang. Tapi alhamdulillah menyenangkan. Untuk kunjungan singkat namun begitu hangat inilah, akhirnya aku selalu tergoda untuk kembali ke sigli. Hanya sekedar main main atau memang ada keperluan.

Esok lusa tempat favorit ku disigli adalah mie caluk alun alun. Iyes, kota sigli ternyata berbatasan dengan laut di salah satu sisi. Jadi di sepanjang pinggiran pantai, banyak yang menjual mie caluk. Tapi favorit ku adalah mie caluk kak eli. Mau menikmati mie caluk dan bakwan sambil mendengar deru ombak, merasakan tiupan angin dan dinginnya pasir laut, maka kemarilah. Ke alun alun kota sigli.

Tempat favorit lain adalah mie kocok awak awai. Tepat di kota sigli. Kuahnya kental, tidak begitu pedas. Pas.! Ah, jadi ngiler kalau dibayangkan. Tidak cukup satu piiring, harus 2 bahkan sampai hari ini, mie kocok ini masih terngiang ngiang.

Pasar sigli! Hahahaha, biasa wanita. Aku pernah 2 x sengaja singgah disigli untuk membeli bekal baju. Harganya murah, barangnya banyak dan yang pasti ada designernya. Maya dan mimi. Perpaduan designer yang sempurna. Dan aku selalu suka gaya mereka. Terima kasih mimi dan maya.

Iyes, sejak pulang kampung pertama hingga sekarang aku selalu senang jika di ajak ke sigli. Seperti yang aku bilang, second home. Pulang ke sigli seperti pulang ke rumah sendiri. Si mata ramah memperkenalkan ku dengan keluarganya lalu dengan saudaranya. Hingga akhirnya aku mirip bagian dari mereka. Menjadi anak mimi yang ke 6. Ya Allah untuk kesempatan ini terima kasih. Kesempatan untuk punya keluarga baru yang baik hati.

IMG_54796864490267

doa yang di himpun

Catatan 7 tahun silam, yes!
Catatan 7 tahun silam, yes!

Tulisan itu aku tulis berdasarkan catatan 7 tahun silam. Saat masih kelas 2 SMA. Sungguh fantastis mimpi ku saat itu bukan? Alhamdulillah. Karena di usia remaja target hidup ku sudah sebombastis itu. Walaupun 1 tahun setelah nya, impian itu menemukan muara berbeda.

Aku tidak mengantongi izin dari orang tua untuk sekolah diluar aceh. Jadi, sejak tangan ini mengisi formulir SPMB hingga akhirnya pengumuman lulus keluar, urusan cita cita itu aku lupakan. Hanya sesekali saat mendengar cerita teman yang kuliah di ITB dan IPB aku akan berdecak kagum atau sesekali berkenalan dengan temannya teman yang kuliah disana aku akan mengatakan “hebat”. Selebihnya aku sudah biasa saja.

Takdir menempatkan ku untuk ikhlas melanjutkan sekolah di universitas jantung hatinya orang Aceh, Universitas Syiah Kuala. Hingga akhirnya aku menyelesaikan pendidikan. Dan teman teman ku yang kuliah di ITB dan IPB juga sudah menjadi sarjana.

xxxxx

“itu ruang apa kak?” tanya ku pada kak dara. Dia teman kosnya mutia langsa. Mutia itu teman satu SMA ku. Nama kami memang sama, tapi kami adalah dua manusia yang sangat berbeda. Mutia langsa adalah seorang yang sabar, lembut, penuh kasih sayang dan charming. Sedangkan aku? Hahahahaha.

“itu ruang wisuda dan penerimaan mahasiswa baru”, jelas kak dara.

“kalau kampus mutia dimana kak?”tanya ku lagi.

“itu lurus aja, tapi agak masuk kedalam”, jelasnya.

“ooo”. Kataku. Iyes. Sekarang aku sedang berada di kampus IPB di kawasan dramaga bogor. Hanya numpang makan pagi sebenarnya. Awalnya mutia mau mengajak kami makan di kampusnya, tapi karena dia ada kuliah pagi maka niat itu diundurnya. “kapan kapan kalau kalian libur lagi, tia ajak ke kampus tia ya”, katanya.

Dan pagi itu kami berpamitan dengannya. Setelah 2 hari jalan jalan di kota bogor. Ah hidup. Setelah 6 tahun berpisah karena mutia memilih kuliah di IPB dan aku di UNSYIAH, baru kali ini kami dipertemukan lagi. Tidak di aceh tapi jauh disini, menyeberang selat sunda. Kami malah bertemu di bogor. Dia melanjutkan pendidikan S2 dan kami melanjutkan hidup kami dengan cara berbeda. Jadi teringat cerita tiga minggu lalu. Seperti yang sudah aku ceritakan di “pagi yang tidak lagi sama”. Tiba tiba saja kami memutuskan mencari pengalaman dan memilih bekerja di bogor.

Tak lama setelah berpamitan dengan mutia, kak dara masuk ke kamar kami “kalian buru buru ke klinik?”tanya nya.

“ngak sih kak”, jawab sinta.

“memangnya kenapa kak?”tanya ku.

“ngak sih, mau aja kalian makan di kampus kakak”, lanjutnya. Kak dara juga tamatan IPB. Seorang dokter hewan yang sangat menarik.

“boleh kak”, aku antusias.

“oke, kakak siap siap dulu”. Katanya.

Dan akhirnya kami berangkat ke kampus IPB. Aku, sinta, momo dan kak dara. Kami masuk dari pintu samping. Di pintu awal tampak mahasiswa yang berlalu lalang, beberapa bangunan kampus termasuk yang aku tunjuk tadi. Ternyata itu ruang wisuda dan tempat penerimaan mahasiswa baru. Selain itu juga tampak deretan ATM dan kantin.

Alhamdulillah aku sampai juga di IPB, walau hanya menumpang makan. Setidaknya aku sudah melihat kampus IPB sebagian dan merasakan nuansa kuliah disana. Tujuh tahun doa itu di simpan Allah. Doa yang aku gantungkan tinggi di langit sana. Bisa kuliah di IPB dulu. Hari ini, doa itu di jawab dengan cara berbeda, waktu berbeda dan keadaan yang berbeda. Tapi, seperti apapun itu, alhamdulillah. Terima kasih ya Allah untuk kesempatan ini.

Apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah takdir terindah. Jalani dan nikmati. Tapi apapun itu, tetaplah berdoa dan tetap lah bermimpi. Dari banyak mimpi dan doa itu, kita tidak pernah tau mana yang akan di kabulkan, mana yang akan di dihimpun untuk akhirnya di jawab dengan cara berbeda dan lebih baik, atau yang akan Allah luputkan karena itu memang bukan yang terbaik untuk kita. Terus, teruslah bermimpi, berdoa dan berusaha.

Yap, Karena tujuannya makan, maka kami langsung menuju deretan warung yang menjual banyak makanan. Kami memilih berhenti di waung masakan sunda pilihan kak dara. Setelah makan, kami pamitan dengan kak dara. “terima kasih kak dara yang baik hati, terima kasih juga untuk ajakan dan sambutan hangatnya”. dan “terima kasih mutia untuk jamuannya dan jalan jalannya”, dan “ya Allah terima kasih untuk kesempatannya dan untuk doa yang kau himpun untuk akhirnya terwujud dalam banyak bentuk. Tetapkan lah hati hamba untuk terus bersyukur dan terus berusaha untuk memantaskan diri mewujudkan banyak mimpi yang hamba lukiskan dalam doa selama ini, dan berkahilah perjalanan ini”. Amin. Bogor, 25 februari 2015.

taman kencana

Tama kencana bogor
Taman kencana bogor

Tamannya tidak begitu luas, tapi lumayan lah. Letaknya tepat di tengah tengah lalu lintas kota. Dengan 4 pintu masuk disana. Ditengah taman ada menara dengan 3 buah kijang dengan berbagai macam posisi. Disekeliling taman ada bangku, bunga, dan pepohonan tua.

Yang datang beragam. Mulai dari anak anak, remaja hingga orang tua. Aktifitasnya juga beragam. Ada yang hanya sekedar lewat, berfoto selfie, main scatboard, dan ada juga yang seperti kami hanya duduk sambil bercerita. Sebenarnya kami sedang menunggu tia datang dari dramaga. Wilayah sekitaran IPB. Kami punya janji makan makan dengannya.

Nah, disekitaran taman kencana ini ada banyak tempat makan. Seperti makaroni panggang, warung gembira, rumah cup cake, dll. Taman ini mirip taman sarinya banda aceh.

Saat menunggu tia datang, tiba tiba datang 3 orang gadis datanh. Dari penampilannya umur mereka sekitar 15 atau 16 tahun. 2 orang tidak berjelbab dan 1 berjilbab. Gayanya tetap gaya anak gahol. Mereka memilih duduk tepat di depan kami, di sekitaran menara dengan 3 buah kijang di atasnya.

Awalnya aktivitas mereka sama seperti kami. Bercerita hingga bosan. Namun siapa sangka, tiba tiba si teman yang berjelbab memegang rambut salah satu temannya. Aku pikir hanya mengambil ketombe atau sekedar rumput kering. Ternyata tidak. Si gadis berjelbab kembali memegang rambut si teman lalu seperti menjepit sesuatu dengan ke dua jempolnya. Ah, sekali lagi aku berfikir mungkin hanya seekor kutu yang tersasar. Namun kembali lagi si gadis berjelbab melakukan aktivitas yang sama berulang ulang. Serius sekali.

“sin, qe lihat adek adek di depan kita?” tanya ku pada sinta. Takut berfikir negatif untuk orang lain.

“ada mut. Udah dari tadi aku lihat. Cari kutu kan?” jawab sinta serius.

“hahahaha, iya iya aku juga lihat mut”, sambung momo dia terkekeh. “serius kali. Kayaknya banyak kali kutu adek itu”. Hahahaha

“hahahaha, iya. Jauh jauh kemari kok cari kutu ya”, kata ku.

“udah terlalu mainstream cari kutu dirumah kadang mut”, kata sinta.

Alahai anak gahul. Kami sudah terkekeh, hingga sakit perut. Tapi mereka tetap dengan aktivitas sendiri. Mencari kutu di taman kencana. Tepat di tengah taman. Pusat pergerakan semua orang. abai dengan kami. Entah tidak sadar karena terlalau asik, atau sudah terlanjur ah “bodo teing” alias bodo amat.

“foto mut, foto”, kata momo.

Aku siap. Langsung mengabadikan moment itu. “pret”. Dapat foto fenomenal ini.

Sampai tia datang dan kami sudah lelah berfoto ria disana, mereka masih dengan aktifitas asiknya, mencari kutu.Baru ketika matahari senja mulai hilang dan berganti malam, mereka berhenti lalu beranjak pergi seolah tidak terjadi sesuatu apapun saat itu. Dan sama seperti mereka. Kami juga pergi dengan perut terkekeh. Personel sudah lengkap dan kami siap makan makan terakhir hari ini.

“anak gahul, yang mencari kutupun di tengah taman kencana. Disitu terkadang saya merasa sedih”.

Tapi terima kasih untuk kesan pertamanya. Esok lusa saat kembali ke taman kencana akan selalu ada cerita yang bisa aku ceritakan.

pancasan!

C360_2015-02-21-17-55-28-479Alhamdulillah sampai juga ke bogor. Hey! Semoga menyenangkan dan bisa saling memberi manfaat ya. Bismillah. Itu salah satu niat saat aku melangkahkan kaki menuju ke klinik. Tempat aku akan mengaplikasikan ilmu.

Sistemnya, kami akan menjaga klinik 24 jam. Bisa 2×24 jam atau 3×24 jam. Terus pindah ke klinik lain. Untungnya aku dengan si cantik sinta amelia. Jadi, dunia tak sebosan yang dibayangkan. Nah, hari ini kami akan ke pancasan. Disana ada satu klinik beralamat di jalan pancasan no. 40, bogor barat.

Kalau di bandingkan dengan banda aceh, maka bogor adalah kuta raja dan pancasan adalah sibreh. Namun, jangan bayangkan tempat ini sesepi sibreh. Karena kalau urusan ramainya orang, banda aceh saja kalah dengan sibrehnya bogor. Iyes, mobilitas dan jumlah penduduk disini tinggi.

Pancasan itu bogor barat, terletak sekitaran 30 km dari kota bogor. Cukup 2 kali naik angkot dari stasiun bogor. Sepanjang jalan menuju pancasan dari stasiun, awal awalnya kita akan melihat banyak bagunan keren. Bangunan kota lah. Namun begitu turun di depan BTM (bogor trade mall) dan melanjutkan naik angkot menuju pancasan, maka yang terlihat adalah kumpulan ruko kecil. Sepanjang jalan. Entah itu menjual sepatu, warung padang, gorengan, pulsa, kios kecil, bengkel, dll. Penuh. Sehingga hanya tersisa sedikit badan jalan untuk mereka penjalan kaki. Menurut ku ini kejam. belum lagi mobilitas penduduk yang tinggi, jadi walau kota kecil disini sering macet. Aku sering kewalahan saat menyeberang. Apalagi hari libur.

Nah, biasanya kalau hari libur, jalan di pancasan atas ini akan lebih ramai dari biasanya. Maklum saja sekitaran 1 jam dari sini terdapat beberapa tempat pariwisata. Namun yang paling banyak pengunjungnya adalah pura agung parahyangan jagatkarta. Letaknya di kaki gunung salak. Yang merupakan pura terbesar di luar bali. Selain itu juga ada gong factory, yang merupakan pabrik gong paling terkenal se bogor. Umurnya sudah 200 tahun dengan 5 generasi penerus. Jadi, hari libur adalah hari tersibuk di jalan pancasan ini. Sibrehnya bogor di sebelah barat akan macet.

Selama beberapa hari disini aku bahkan tidak pernah melihat persawahan. Namun untungnya pancasan ini dekat gunung salak. Jadi walau tidak ada hamparan sawah, disini lumayan adem lah. Di depan klinik layaknya jalan sepanjang bogor, penuh dengan pertokoan. Ada toko kue, kios kecil, tukang gigi, mesjid, dan toko kosong. Lalu dikiri dan kanan klinik ada toko kosong, bengkel, tempat makan, penjual jus, apotik, dll. Intinya full dengan toko. Kota ini eksis sekali. dibelakang klinik ada sungai. Iyes sungai. Bendungan sungai tepatnya. Jadi ada deru air yang keras di belakang sana. Dan karena letaknya yang diperbukitan maka deru air sungai terdengar dan tampak jelas dari belakang klinik. Jadi, kalau di depan kita mendengar deru kendaraan makan ke belakang kita mendengar deru sungai. Alhamdulillah. Tidur malan disini menyenangkan.

Begitu sampai, aku dan sinta di sambut adik adik manis. Ada linda dan rika. Ternyata mereka bertiga. Satu lagi indi. Merekalah patner kami selanjutnya dalam urusan pekerjaan ini. Ketiga nya orang sunda. Ah, aku sering kewalahan saat mereka mengeluarkan bahasa daerah sendiri. Aku hanya bisa menjawab “bodo teing”. Yang artinya bodo amat. Hahaha. Mungkin karena bahasanya jarang aku dengar, jadi lebih susah bisanya dari pada bahasa jawa. Disini aku merasa”oh, begini rasanya jadi minoritas”. disini aku cuma bisa senyum senyum saja ketika mereka mengeluarkan senjata ampuh bahasanya.

Karena kota ini padat, maka jangan risaukan masalah makanan. Banyak. Di perempatan jalan ada warung nasi padang, tidak jauh dari sana ada semacam tempat makan gahul, ada juga warteg, kalau malam ada sate, bakso, bubur, gorengan. Ah, jangan takut kelaparan disini. Rasanya? Sesuai selera. Kalau nasi warteg aku sukanya yang di citayem. Mirip masakan rumah. Kalau disini hambar. Kalau bakso? biasanya tanpa mie kuning aceh, sambalnya juga beda. Sehingga rasanya beda. Jadi, kalau disini kami lebih suka makan nasi padang. Lebih berasa dilidah. Bukan karena makanan lain tidak enak tapi tidak sesuai lidah saja.

Hal yang sering membuat saya sedih adalah malam minggu disini. Anak mudanya sering balap balapan. Masih kecil, masih seumuran jagung. Tapi udah keren kerenan di jalan raya. Ujung ujungnya kecelakaan dan berakhir berdarah. “disitu saya sering merasa sedih”. Masih muda, tapi buang buang energi, ide, tenaga untuk hal yang sia sia. Kadang kadang teringat adik sendiri. Saat mereka datang ke klinik dengan badan penuh luka. Ya allah lindungi keluarga kami. Amin.

Tapi selebihnya, iyes. Alhamdulillah disini enak. Pasiennya lumayan banyak, baik baik, tindakan lumayan banyak, adik adiknya baik, makanannya banyak, ada suara azannya lagi. Yap, apapun kondisinya kita harus tetap menjalaninya dengan bahagia, syukuri. Agar semua kebaikan meresap kedalam dada. Semoga penuh berkah. Amiin. Dan lusa kami akan pindah ke citayem. Kembali naik angkot dan kembali naik kereta ke bogor utara. Semoga setiap langkah di beri kemudahan dan kebaikan. Amin. Bogor 21/2/15

blok digestive

Jadi mahasiwa kedokteran ngak seasik yang dibayangkan, kecuali bagi orang orang yang benar benar menyukai regulasi hidup yang itu itu aja. Tutorial, skillab, pratikum, kuliah dan diakhiri dengan ujian. Regulasi hidup yang selalu sama . Berulang setiap 2 bulan setelah kami selesai ujian. Karena dikampus menggunakan sistem blok, maka setiap habis blok yang biasanya 2 bulan sekali itu, kami ujian. Lalu mulai lagi. Tutorial, skillab, pratikum, kuliah dan ujian lagi.

Dan kali ini, tidak terasa sudah ujian yang ke 9 saja. Ujian blok digestif. Sistem belajar kami masih sama seperti dulu. Masih setengah gila. 2 minggu sebelum ujian, kami sudah mempersiapkan bahan untuk di baca. Lalu sedikit demi sedikit mempelajarinya. Targetnya bisa baca dua kali. Dengan bahan yang seabrek itu, sekali baca saya rasa tidak lengket. Maka setiap ada waktu luang kami belajar. Aku dan maya tentunya.

Kami sudah mempersiapkan makanan. Ah, sulit belajar ketika perut lapar. Jadi jauh hari kami sudah ke swalayan tanjung untuk membeli makanan ringan.

“bahan dokter fauzi udah baca may?”, tanya ku.

“udah mut”, jawab maya.

“EH, aku belom. Gk bisa, aku harus kejar qe”. Kata ku.

“tenang mut, aku belum baca bahan dokter hendra jufri”, katanya.

Hahahahaha. Begitu selalu. Hingga kami tua mungkin. Kalau urusan hafal menghafal, maya tidak ada duanya. Dia mampu menghafal hingga titik dan koma.

“may, coba qe jelaskan dulu definisi gasrtritis”, kata ku.

“jadikan mut gastritis itu…………….. …”, jelasnya. Persis di bahan kuliah. Kata dan saja tidak pernah alpa. Kalau urusan ini memang keahliannya sejak SMA. “aku ngak enak hati hafal setengah setengah mut”, katanya. Iyes may, i know. Always on the right side.

Sesekali saat aku tidak bisa anatomi, mayalah yang menjelaskan. “jelaskan may anatomi sirkulus wilisi itu”, kataku.

“gampang e mut. Anggap aja lingkaran, tapi ada pintu depan samping dan belakang. Ingat aja arteri utamanya apa, terus tinggal hapal cabang pintu pintunya”, jelas maya. Maya suka anatomi. Lecek buku sobotaku tak sebanding dengan leceknya buku sobota maya.

Belajar dengannya juga akan sering membuat kita mengenal jembatan keledai. Ada saja singkatan nya. Padahal dia tidak pernah membaca buku yang judulnya mind map atau buku sejenisnya. Tapi urusan membuat jembatan keledai, dia ahlinya. Terkadang saat aku sulit menghafal sesuatu aku selalu minta bantuannya.

“may, cara qe hafal sirosis gemana maya?”, tanya ku.

“aku singkat jadi NRF mut, nekrosis, regenerasi dan fibrosis mut. Itu kan satu proses yang berkelanjutan mut”. Katanya.

“iyes may”. Ah so inspiring girl. penyemangat belajar yang tidak pernah pudar. Selalu. Cukup melihatnya berkutat dengan bahan kuliah, dapat membakar semangat dan membuang semua kemalasan yang datang. “terbakar”. Aku tidak tau dari mana energi secontinue itu datang. Sebelum jam 23.00 dia masih sanggup belajar. Lalu, apapun cerita tetap tidur dan esok pagi bangun dan belajar lagi. Akhirnya aku tau, semuanya berasal dari

Pembiasaan diri yang kita sebut disiplin. Always on the righ side may.

Alhamdulilah 2 jam ujian dan selesai. Selesai satu blok lagi. Kami mirip seperti orang yang sedang menyusun anak tangga. Setiap dua bulan 1 anak tangga hingga lengkap 21 anak tangga. Setelah ujian kami selalu makan makan. Kami disini adalah aku, maya, fikri, nona, momo, uci, cha cha, nyanyak. Masih teman teman mosa juga. Kami mirip anak bebek. Nanti akan aku ceritakan tentang geng bebek kami ini.

Nah, karena akhir blok digestif dekat dengan libur tahun baru, maka libur blok di perpanjang. Alhamdulillah. We need vocation. Selalu. Bahkan haus liburan.

“seminggu libur. Kalau pulang ke kampung sebentar kali”, kataku pada maya di beranda atas.

” pulang ke sigli aja yok mut, ajak fikri juga”, kata nya.

“betol may?” tanya ku tidak percaya.

“betol lah, itu kan rumah qe juga mut. Nti kita buat kue dirumah aku”. Jawabnya.

Ah aku tidak akan menolak untuk urusan ini. Jalan jalan. Melihat kota sigli. Maya, dia selalu hangat. Selalu menerima ku apa adanya dan menjadikan ku bagian dari keluarganya. Mayaaa, i loup u. Nah, libur ujian digestive ini aku liburan ke sigli. Yang esok lusa, bertahun berlalu, sigli sudah menjadi kampung kedua. Karena terlalu sering pulang ke sigli aku bahkan merasa sigli adalah kampung sendiri. Always feel like home. Terima kasih maya.

D. 15, sektor timur

Kos. Masalah utama mahasiswa. Dan akhirnya setelah pencarian kami, aku dan maya memilih untuk tinggal di d. 15 sektor timur darusalam. Masih sekitaran kampus dan karena belum bisa bawa kendaraan sendiri, maka saban pagi kami selalu berjalan ke kampus.

Kamarnya tidak begitu besar. Tapi bolehlah untuk di tinggali berdua. Di rumah itu ada kak sulas, kak deska, kak yana, desi, fajriah, rifka, icha dan yuni. Semuanya dari fakultas berbeda kecuali desi. Tidak hanya satu kampus kami juga satu angkatan.

satu hal yang aku suka disini adalah senjanya. Cantik saja. Didepan rumah sepanjang jalannya tertanam pohon asam berbaris yang usianya sudah lama. Jadi, cahaya mataharinya terlihat dari balik balik dedaunan. Apalagi kami di tingkat dua. Jadi senja semakin indah dari sini. Maka saban senja aku sering duduk duduk cantik di beranda depan. Sesekali maya ikut, sesekali kami bercanda, sesekali berantam, atau sekedar belajar saat musim ujian disana. Suasananya tenang.

Nah, karena hari pertama kuliah di bulan puasa, maka dengan kos yang menyediakan makan disana, aku merasa sangat terbantu. Jika makan sahur sudah selesai, kak jumi biasanya membangunkan semua anak kos. kami tinggal turun dan makan. Lalu mencuci piring dan kembali kekamar. Masih ingat cerita khatam alquran? Nah, ini ramadhan. Maka selesai sahur maya tidak pernah tidur. Dia mengambil wudhu dan mengaji hingga azan magrib berkumandang. Jarang sekali tergoda. Dan aku ikut kebiasaan itu. Ya Allah terima kasih untuk nikmat MU yaitu sahabat yang baik. Yang selalu mengingatkan pada kebaikan.

Musalla disana juga tidak jauh. Hanya perlu berjalan beberapa ratus langkah maka sudah sampai kita ke musalla sektor timur, disanalah kami salat tarawih pertama sekali di negeri orang. Di musala itu pula aku dan maya memberanikan diri berkenalan dengan anak kos lain.

“may, qe tanya dulu nama kakak tu siapa”, kata ku.

“kok harus aku, qe kenapa ngak?”, jawab nya. Blekkk!

Akhirnya kami berkenalan.

Tidak jauh dari rumah kami juga ada kios ummi. Kios kecil yang lengkap. Berhubung kami bukanlah orang yang bisa menahan lapar, maka kios ini adalah penolong perut kami saat kelaparan. ” qe lapar may?”tanya ku.

“tau aja mut”, jawabnya dengan senyum khas.

“ke tempat umi yok”, kata ku.

“yok”. Maka dengan gaya gembel yang kami pertahankan selama 3 tahun, kami melaju ke kios umi. Cukup dengan rok, jaket dan jelbab kurung. Hahahaha, malah kadang kadang, kalau aku sedang malas, bisa dengan mukena aku kesana. Malam hari biasanya.

“ih si amut ne, ada ada aja dia”, kata maya.

“alah may, gak sanggup pikir aku”, jawab ku. Dan langsung melaju.

Jika ingin makan besar, tidak jauh dari rumah kami juga ada swalayan besar, tanjung namanya. Jika ingin nasi goreng juga ada. Masakan aceh juga ada, perlu foto kopi juga ada, toko jelbab ada, dan toko aksesoris juga ada, lengkap. D. 15 cukup stategis untuk dijadikan tempat tinggal bagi mahasiswa.

Tiga tahun aku dan maya menghabiskan waktu kami disana. Bersama, seiya sekata, dan selangkah. Hahahaha. Iyes selangkah. Sejak tinggal bersama, dia mirip kembaran ku dan aku kembarannya, dimana ada maya pasti ada mutia.

“may, foto kopi lah bahan kuliahnya”, kata ku.

“enak aja, gk mau aku pergi sendiri”, jawabnya. Maka apapun urusannya kami selalu bersama. Ke kampus, ke musala, turun makan, ke tempat umi, beli nasi goreng, foto kopi, mencuci, belajar. Ah semua. Kebersamaan yang jarang membuat ku bosan, entah mengapa. Mungkin karena saat bosan aku bisa mengusilinya. Dan hanya di balas “mut, jangan ganggu aku. Kalau bosan nonton tv sana atau ke kios umi aja”. Dan urusan selesai.

Yes, bagi ku d. 15 tetap asik. Senjanya, semua fasilitas jajanannya, foto kopinya dan karena aku bersama si mata ramah. Yang hangat matanya lebih hangat dari matahari senja di d15, sektor timur, darussalam, banda aceh.

UNIVERSITAS

“Ikut umb kita may?”tanya ku pada maya. Umb itu ujian masuk bersama beberapa universitas yang dilakukan sebelum SNMPTN. Kalau aku tidak salah ada usu, umj, uij, dan 2 lagi aku lupa.

 

“ikut aja, kalau ngak ikot dan gak lulus SNMPTN kita mau kuliah dimana mut?” jawab maya.

 

Selalu. Kami selalau galau urusan pilihan hidup. Dan bagi ku, dialah salah satu orang yang paling sering aku minta pendapat mengenai keputusan hidup setelah orang tua. Namun pada akhirnya kami malah sering menggalau berdua.

 

“emank kita udah pasti lulus may?”, tanya ku lagi. Dan akhirnya hening. Aku dan maya larut dalam pertimbangan kami sendiri.

 

XXXXXXX

 

“hati hati ya”, itu suara perpisahan beberapa orang yang mengantar kami pergi ke medan untuk ikut UMB. Akhirnya kami memilih yes untuk ikut. “yaudah mut, kita coba coba aja”. Itu kata maya. Berangkatlah kami bersama. Aku, maya, sali, ipi, mumun, nujul. Itu yang aku ingat.

 

Kami menginap di rumah uja. Setelah tamat SMA, uja dan keluarganya pindah ke medan. Alhamdulillah uja juga ikut UMB. Jadi setelah beres beres, kami tepatnya aku, maya, sali dan uja berangkat ke USU untuk mendaftar.

 

Rame! Bukan ratusan, tapi aku rasa ribuan orang berada disana. Sesekali aku ciut. Tapi bismillah. “kita coba aja mut”, itu kata maya. Dan setengah hari urusan daftar mendaftar itu selesai. Sayangnya nomor urut aku dengan yang lain berbeda jauh. Jadi, tempat ujian aku berbeda sendiri. It’s oke lah.

 

Akhirnya hari tes datang. Bismillah aku menyontek pilihan maya. Pilihan pertama kedokteran usu dan kedua farmasi usu. Uja memilih farmasi usu juga. Dan hari itu dengan baju putih dan rok kotak kotak pink aku masuk ruang ujian. Memperjuangkan yang aku sendiri tidak tau. Tapi bismillah saja.

 

Sebulan kemudian, alhamdulillah kami lulus. Satu fakulatas yang sama. Aku, uja dan maya. Farmasi usu. Jauh terpisah. Tetap saja di koran serambi pada kolom pengumuman, namaku berada tepat setelah nama maya. Ah, terkadang jodoh memang tidak jauh jauh perginya.

 

“alhamdulillah ya maya,kita lulus”, kata ku.

 

“iya mut. Tapi ambil ini atau kita ikut SNMPTN lagi? “, pertanyaan maya sekali lagi mengundang galau.

 

“gak tau may, ini udah lulus. Itu ujian aja belom”, kata ku. Dan untuk kesekian kalinya kami galau bersama.

 

Xxxxxxx

 

Pilih fakultas apa kita may? “tanya ku. Dengan formulir SNMPTN di tangan. Sebentar lagi ujian akan berlangsung tapi sebelumnya kami harus mengisi lembar formulir dulu. Again. Aku bingung. UMB untuk sementara kami lupakan.

 

“suka hati qe mut”, katanya.

 

Ah aku galau. Sejujurnya keinginan ku bisa kuliah di luar aceh. Tapi apa daya, tidak dapat izin dari orang tua. Akhirnya dengan menyontek pilihan maya untuk kedua kalinya, bismillah aku memilih masuk kedokteran sebagai pilihan pertama sekali lagi setelah gagal di UMB, kedua aku memilih kedokteran gigi dan yang ketiga aku memilih ekonomi. Semuanya di aceh. Aku dan maya punya pilihan yang sama. Jelaslah. Aku saja menyontek pilihannya. Tujuan kami masuk kedokteran. Bagi ku pilihan ini adalah ikut ikut teman. Tapi jika temannya maya tidak masalah.

 

xxxx

 

Hari ujian dimulai. Kami ujian selama 2 hari. Bertarung untuk ke dua kalinya. Setelah ujian maya langsung ke medan, mendaftar ulang Farmasi usu. Sedangkan aku sudah bulat menunggu SNMPTN. Mungkin kami akan terpisah, aku pasrah.

 

Tapi alhamdulillah satu bulan kemudian kami lulus ujian dan sah jadi mahasiswa universitas syiah kuala, jurusan kedokteran. Aku, maya dan fikri. Dan maya, akhirnya memilih tetal di aceh saja. Teman teman lain yang juga lulus adalah leli, pepe, pees, peie, chacha, nyanyak, sali, uci, nona, momo. Alhamdulillah. Syukur tak berkira. Menjadi anak kedokteran bukan cita cita dan bukan suatu kebanggaan bagi aku dan maya. Tapi saat mengingat kembali apa yang sudah kami lakukan untuk sampai pada titik ini, ya Allah terima kasih untuk semua.

 

Untuk bertahun tahun setelahnya aku tinggal bersama si mata ramah. Di teman pertama ku 3 tahun lalu dan akan tetap menjadi begitu sekarang, nanti dan selamanya. Dari sinilah perjalanan hidup kami di luar penjara suci dimulai. Perjalanan menjadi anak kos, mahasiswa kedokteran, menjadi kakak, menjadi adek koas, hingga akhirnya kami menjadi dokter nanti., amiin. Disinilah aku menemukan dia. Dia yang tidak hanya memuji kelebihan ku tapi tetap ada dengan semua kekurangan yang aku punya. Dia si mata ramah. Maya zammaira.

Ya Allah, untuk kesempatan ini terima kasih.

nasi goreng kami

“Masih hujan May”, kata ku pada Maya sambil mengintip air hujan yang terus turun dari balik jendela.

“yaudah, kita tunggu aja mut”, kata Maya. Menoleh ke arahku sesaat lalu kembali pada bukunya dengan posisi khas menungging. Buku yang berisi soal soal untuk masuk perguruan tinggi. Waktu itu namanya SNMPTN (seleksi nasional masukperguruan tinggi negeri). Dan aku pun beranjak kembali ketempat semula mengambil buku dan kami pun larut kedalamnya sambil menahan lapar yang sangat.

Sekarang kami sedang masa bimbingan belajar untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Untuk sementara waktu aku tinggal di rumah saudara Maya, sahabat yang kukenal sejak 3 tahun lalu. Tidak terasa sudah 3 tahun saja aku mengenal si mata ramah. Rumah saudara maya tidak begitu jauh dari tempat bimbel dan bagi kami yang belum bisa naik kendaraan pribadi, rumah ini adalah rumah idaman karena dengan beberapa langkahan kaki kami sudah sampai ke tempat bimbel. Tapi sayang, karena isinya para mahasiswa semua maka kami harus mengurus diri sendiri termasuk urusan makan. Sialnya hari ini kami terkuring di rumah karena hujan dan tidak ada makanan.

Krek..krek.,krek…suara bunyi perut seseorang. Mataku langsing awas, mencari sumber bunyi. Tiada lain dan tiada bukan itu adalah suara perut Maya.”suara perutmu May, sampai kemari bunyinya”. Maya duduk sekitar 3 langkah dari ku.

“hahahaha, tau aja Mut. Aku kelaparan, jujur tidak bisa fokus mengerjakan soal matematika ini”. Jelasnya. Yap, sebenarnya sejak awal saat maya mengatakan tunggu saja hujan reda aku ragu. Aku kenal betul siapa dia. Tiga tahun cukup untukku tau. Dia bisa saja belajar dalam kondisi setengah tidur tapi dia tidak akan bisa tahan belajar dalam kondisi lapar. Apalagi sekarang , sejak tadi pagi kami belum makan dan sekarang sudah pukul empat sore. Harus aku akui, sejak lulus dari SMA semangat belajar kami bukannya malah turun tapi semakin menjadi jadi. Kami mirip orang yang terobsesi dengan soal soal. Aktivitas kami hanya selain makan dan tidur tidak lain dan tidak bukan adalah melahap semua soal. Tapi untuk kali ini kami tidak akan kenyang hanya dengan mengerjakan soal soal ini.

Aku bangkit. Kondisi ini tidak layak dipertahankan, kami bisa pingsan karena hipoglikemi nanti. “Ke dapur yok May, mungkin ada sisa makanan”, ajakku.

Maya bangkit dan langsung ke dapur. Sayang berjuta sayang, sesuai dugaan tidak ada apa apa disana.

“Mut, cuma ada ini. Tapi aku tidak yakin basi atau tidak”, kata maya sambil menunjuk nasi di dalam rice cooker. Aku mendekat dan mencium nasi tersebut untuk menyakinkan.

“nyaris basi may, tapi belum”, jawabku yakin. Aku tidak tau apa yang ada di pikirannya saat ini. Yang aku tau dua anak manusia setengah remaja setengah dewasa ini sedang kelaparan dikurung hujan dengan semangkung nasi nyaris basi.

“kita goreng aja mut, biar baunya hilang. Pasti kita tidak akan sanggup makan nasi yang nyaris basi itukan?” maya menjelaskan mantap. Tanpa memikirkan jawabanku dia langsung mengambil bawang dan cabai.

Aku terdiam. Pikiran ku berputar. Tapi aku kelaparan. “memangnya kamu bisa masak may?”

Maya menggeleng tapi tangannya terus mengupas bawang, “kita coba saja”. Katanya. Itulah dia. Selalu. Sedikit bicara banyak kerjanya.

“baiklah”. aku tidak mengerti masalah masak memasak. Ibu jarang mengizinkan ku mengacaukan dapurnya dulu. Terlebih lagi tiga tahun sisa hidupku, aku habiskan di asrama. Sehingga bisa apa aku. Berbeda dengan maya. Ibunya selalu mengabsen dia dan adiknya untuk memasak bersama. Soal masak memasak walau tidak mahir Maya bisa.

Jadi, ketika maya katakan “coba saja”, aku yakin setengah dari dirinya yakin bisa. Aku langsung membantunya membersihkan cabai dan menyiapkan blender. Untungnya rumah ini masih punya bumbu masak dan kompor gas.

Kami masak sesuka hati, berexperimen sesuka jiwa dengan cabai, bawang, tomat dan kecap. Tujuan utama nasi goreng dari nasi yang nyaris basi.

“harum mut”, kata maya setelah memasukkan kecap kedalamnya adukan nasi dan bumbu ala kami.

“iya may. Sekarang kita tinggal beri garam dan masak ini selesai”. Aku beranjak mengambil garam di sudut meja. Dan setelah beberapa kali dirasa, akhirnya pedas dan asinnya pas. Nasi goreng kami siap untuk disantap.

“ayo kita makan may, biar konsen belajar”, kataku. Senangnya bisa makn walau dengan nasi nyaris basi.

Kami makan bersama, tanpa suara. Melahap semuanya secepat yang kami bisa walau tanpa lauk. Alasannya hanya dua. Pertama agar tidak menimang nimang apakah nasinya masih berbau atau tidak dan yang kedua agar tidak meneteskan air mata ketika memakannya.

“akhirnya habjs juga Mut. Aku kenyang, yah, walau nasinya nyaris basi tapi tadi tidak terciumkan baunya?” Maya sumringah sekali. Urusan makanan baginya memang tidak ada tawar menawar. Padahal badannya langsing, mirip penyanyi korea dengan kaki seukuran pensil anak taman kanak kanak. Seperti kataku. Always on the right side. Selalu harus makan walau sedikit.

“iya ya may. Besok-besok kita harus punya penyimpanan makanan may biar tidak terjebak dalam kondisi ini lagi”. Kata ku serius.

“iya, mari salat ashar”. Kami bangkit dan pergi salat. Diluar masih hujan, makin lebat malah tapi tak apa karena perut kami sudah terisi. Dan wahai kau soal soal kami siap menghadangmu lagi. Untuk cita cita kami, cita cita yang sudah kami ukir sejak jauh hari.

Tahun pun berlalu. Kami sekarang bukan anak remaja tanggung lagi. Umur kami nyaris akan seperempat abad dan selama 6 tahun setelahnya kami selalu bersama menjadi duo Maya dan Mutia. Dimana ada Maya disitu ada Mutia. Kami melewati rintangan bersama, sedih berdua, dengan sekali tertawa dan sering kali adu bicara. Dia sahabatku malah menurutku dia saudaraku. “saudara itu bukan masalah darah, tapi siapa yang menyanyangimu dan yang kau sayangi”. Menurutku itulah kami.

samakah sifat kami? Tidak, kami bagai langit dan bumi. Bagai air dan api. Tapi justru karenanya kami saling melengkapi dan saling menjaga. Karena kau saudaraku maka tidak ada kata mantan saudara, oleh karenanya selama kau akan menjadi bagian dalam hidupku. 17/7/14

khatam al-quran

20150303_194028

“akhirnya sebentar lagi pulang” kata ku sore itu sambil menatap langit sore yang terlihat melalui jendela kamar.

“iya, akhirnya bisa pulang juga”, kata fikri. Kami sedang tiduran santai saja. Moment pulang kampung memang selalu kami tunggu. Berasa bebas dari penjara suci ini. Alhamdulillah sebentar lagi ramadhan. Selalu ketika ramadhan datang sekolah sekolah di aceh di liburkan hingga idul fitri selesai. Maka dari semua libur, liburan ramadhan adalah libur yang paling ditunggu. Karena lama nya dan karena suasananya. Tidak terbayangkan jika harus puasa dan lebaran di kampung orang.

“kalau bisa aku khatam alquran puasa ini”, kata fikri. “biasanya selalu semangat di awal, pas udah akhir dah ngak semangat lagi. Jadi sering ngak khatam”. Lanjutnya.

“aku alhamdulillah bisa fik”, sahut maya dari lantai atas. Iyes, ranjang di tiap kamar ada 2, masing masing nya bertingkat. Jadi ada 2 ranjang dengan 4 kasur. Aku dan fikri di bawah, sedangkan uja dan maya di atas. Kami mendekor ruang sempit di sekitar kami dengan berbagai bentuk sesuai kepribadian. Aku suka menempel gambar gambar atau sekeder tulisan tulisan motifasi di kertas origami warna warni. Sekitar kasur uja ada tulisan selamat ulang tahun dan karton kuning yang bertuliskan cita citanya. Maya dan fikri? Bersih. Sekitar tempat tidur mereka tidak ada coretan.

“mantap kali may”, kataku. Khatam alquran di bulan ramadhan masih menjadi hal baru bagiku.

“mudah mut, kan alquran 30 juz, puasa 30 hari, jadi sehari sejuz”, jelas maya

“halangan may?”? Tanya ku.

“karena kita halangan jadi harus kejar sekitar 8 juz lebih banyak, jadi sehari harus 1 setengah juz, 1 juz kalau ngak salah aku 10 lembar, kan salat sehari 5x, siap salat ngaji 2 lembar, ada 5 waktu pas jadi 10 lembar. Lebih dikit lah mut”, katanya.

“iyes mut”, fikri menyahut.

Iyes, mantap sekali. Kataku dalam hati. “insyaallah ya, puasa ini akan aku laksanakan”. Kata ku.

“amiiin”, jawab kami serentak.

xxxxxx

Hari ditunggu tiba. Kami semua senang bukan kepalang. Akhirnya! Pulang. Biasanya kalau anak daerah jika tidak dijemput orang tua maka mereka di jemput bus atau l300. Nah aku yang kedua. Naik l300, dan berasa naik mobil sendiri. Maya, uja dan fikri dijemput orang tua masing masing.

Kami bersalaman dengan satu persatu anak barak yang pamitan. Barak sepi perlahan. Lengang.

“aku pulang ya mut”, kata maya. Kami saling bersalaman di kamar. Orang tuanya sudah menunggu diluar.

“iyes may”, kataku

“ingat projek khatam alquran kita ya mut”, katanya lagi sambil menebar senyum.

“insyaallah may”. Kataku. Saat itu yang tinggal dikamar hanya aku. Fikri dan uja sudah terlebih dahulu dijemput.

Akhirnya kami berpisah dan aku sendiri. Tapi alhamdulillah beberapa saat kemudian l300 kesayangan datang dan membawa ku pulang, sama seperti yang lain.

Ramadhan ini aku punya target. Khatam alquran. Insyaallah trik maya akan aku terapkan. Terima kasih mata ramahku. Dan alhamdulillah sah 30 hari setelah sekian tahun , aku bisa menamatkan alquran dalam 1 bulan. Ah, kau mata ramah.

Bertahun setelahnya, saat aku tinggal bersamanya. Aku sering beradu cepat saat ramadhan tiba.

“juz berapa udah may?” tanya ku.

“juz 7 mut”, jawabnya.

“ih, cepat kali kok. Aku masih juz 5”. Kataku lagi.. Sebenarnya aku tidak boleh heran. Dia, wanita yang always on the right side. Selalu disiplin dalam semua hal termasuk mengaji. Selesai sahur dia tidak tidur, ambil wudhu lalu mengaji hingga azan tubuh tiba. Lalu setelah salat 4 waktu lainnya, tidak pernah alpa membaca alquran. disiplin sekali,

“kerjar lah mut”.Kata. Licik sekali mendengarnya.

“iyes may. Pasti”, dan kami tertawa. Walau kadang kadang pada akhirnya kami tidak bisa menyelesaikan misi kami. Setidaknya bacaan alquran itu akan dilanjutkan di hari biasa. Dan sekali lagi kau pasti lebih teratur membacanya dari ku. Ah, may, aku rindu membaca quran bersama